Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
354: Hotel


__ADS_3

Ketenangan seseorang dapat di dapatkan dari sebuah tempat yang tenang. Biasanya pantai adalah salah satu tempat seseorang menenangkan pikirannya. Begitu juga dengan seorang gadis yang berjalan santai tanpa alas di kedua kaki jenjangnya. Gadis itu adalah Aleesya. Sebelum dia tiba di pantai yang sepi ini, Lesya teringat dengan perkataan Elvan di sekolah.


—Flashback on—


"Yakin gak mau gw dianter? " tanya Elvan memastikan lagi. Lesya mengangguk pelan. Jam pelajaran sudah berbunyi sejak tadi. Itu artinya baik Letha dkk dan Elvan dkk sama-sama tak memasuki jam pelajaran berikutnya setelah istirahat.


"Hem, gw masih kuat kok! Kalau nanti gw butuh sesuatu, nanti gw telepon deh elo! " balas Lesya menyakinkan Elvan agar membiarkannya pergi sendirian tanpa pengawasan. Elvan hanya berpikir dan menangkup kedua pipi Lesya.


Cup!


Cup!


Mengencup kedua pipi gadisnya, Elvan menatap lekat manik cokelat hazelnut milik sang istri. Berbeda dengan Lesya sedikit terkejut namun masih dapat menetralkan wajahnya. Mungkin saja dia sudah terbiasa dengan sikap Elvan yang terkadang memberi serangan dadakan tanpa permisi sama sekali padanya.


Suasana di mobil hanya hening. Mobil Lesya, itu tempat mereka berada sekarang. Lesya yang sudah duduk di kursi pengemudi dan Elvan di kursi samping kemudi. Rasanya tak rela membiarkan gadisnya pergi begitu saja tanpa pengawasan dengan kondisi hati yang buruk. Jika terjadi sesuatu bagaimana? Elvan tak mau itu terjadi.


"Janji kalau ada apa-apa langsung bilang ya? " kata Elvan dengan serius setelah sejenak terdiam. Eitts, ralat! Memang sejak kapan Elvan tak pernah serius? Dari zaman dinosaurus juga dia selalu serius kali, wkwk..


Lesya hanya terkekeh pelan mendengar kekhawatiran Elvan padanya. Tentu saja dia mengangguk pelan sebagai jawaban dari perkataan Elvan yang sedang berada pada mode sangat serius itu.


"Bukan langsung bilang papaann..., tapi langsung telepon! Emang kalau gw dalam bahaya, gw bisa balik ke sini buat bilang sama lo? " koreksi Lesya membenarkan.


Elvan hanya berdehem pelan saja. Melepaskan tangannya, justru jarinya itu asik memainkan anak rambut sang istri. Dia kembali angkat suara dan dimana hal itu membuat Lesya terdiam sejenak.


"Jangan pergi! Entah ini feeling gw atau rencana yang lo pikirin, gw cuman bilang sama lo, jangan pernah tinggalin gw. Karena selamanya, Ero punya Ziel dan Lele punya Papan! Gak boleh ada yang pisahin kita apalagi adik lo. " ucap Elvan.


"Gw tau pasti adek lo itu sebelumnya nguncapin kata-kata yang bikin mood lo hancur kan? Jangan dengerin karena percuma! Kita udah nikah dan mau seberapa kuatnya dia kejar gw, gak akan pernah kesampean kalau lo bersikap tegas ke dia sama seperti lo sedang melawan ulet keket. Paham? " lanjut Elvan.


Lesya tersenyum tipis mendengarnya. Dia tak menyangka jika seorang lelaki kaku yang selalu tak berekspresi di depannya ini dapat mengungkapkan perasaannya begini. Sederhana, hanya melalui perkataannya saja namun membuat dirinya terharu. Sejenak dia berpikir dan mengangguk saja sebagai jawaban.


Benar juga perkataan Elvan. Dengan cepat dia memeluk sang suami di depannya sedikit lama sebelum pergi dari sekolah tanpa pengawasan. Sebenarnya sangat biasa bagi Lesya pergi tanpa pengawasan seseorang. Toh di mobilnya sudah tersedia pistol, pisau lipat dan ketana versi mini.

__ADS_1


Namun bukan itulah yang membuat Elvan resah. Hanya saja setelah mendengar kabar dari Revan jika Ice Blue mulai sigap membuatnya harus membatasi kegiatan berpergian ke sana-sini kepada Lesya.


Belum lagi ditimpali oleh kabar Vayleen yang memberikan informasi kecil jika waktu penyerangan akan segera tiba. Entah itu benar kebenarannya atau tidak, setidaknya Elvan mempersiapkan waktu dan tenaganya. Hal yang dia resahkan adalah incaran pertama Vion adalah keluarganya. Sedari dahulu Vion sering kali mengincar sang kakak—Elena ataupun juga sang bunda—Mayang.


—Flashback off—


Lesya hanya menghela nafasnya setelah sibuk membandingkan ucapan Letha dengan ucapan Elvan. Pandangan Lesya beralih pada sakunya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Saat dia melihat siapa nama kontak penelepon, keningnya berkerut bingung. Sepertinya dia merasa familiar dengan sang pemilik nomor asing ini. Ahh, dia ingat sekarang, Galang!


Tentu saja Lesya menggeser tombol hijau pada layar ponselnya. Seharusnya dia sering kali merijeck panggilan sang ayah kandungnya. Namun untuk kali ini, entah dari mana datangnya sebuah dorongan dan membuat dirinya harus mengangkat sambungan telepon itu.


📞 Apa?


📞 Sesuai janji saya, adik saya akan bertanggung jawab dengan kehadiran anak di rahim auntymu.


📞 Seriously?


📞 Ya, kalau mau liat langsng kamu bisa datang ke hotel Ertx sekarang.


📞 Yang ada di kota ini.


📞 OTW, lagian gw bolos gini.


📞 Heh, jangan bolos sekolah! Na---


📞 Udah ya, byee-byee


Tuttt!


Lesya yang tak ingin mendengar Galang hendak berceramah dengan cepat menyela ucapan lelaki itu dari sambungan telepon. Huft, sudahlah lagi pula dia tak mau perasaannya terlalu dalam. Tahu kan jika Galang adalah ayah kandungnya dan dia berharap jika lelaki itu datang memperlakukan dirinya layaknya seorang anak. Namun mengingat bagaimana hubungan dengan papinya dan bagaimana hubungannya, membuat Lesya berusaha menghindari perasaan yang terlalu dalam kepada Galang. Dia tak mau kembali merasakan sakit saat ditinggal nanti sama seperti dia merasakan ditinggal selamanya oleh mendiang papinya—Arga.


"Oke, let's go ke hotel! " semangat Lesya mengepalkan tangannya dan menyakinkan dirinya untuk datang ke tempat yang dimaksud oleh Galang.

__ADS_1


...— — —...


Hotel Ertx selalu ramai pengunjung. Dapat dibilang jika penghasilan Erthan adalah penghasil millions. Hal yang pertama kali yang dilihat dalam hotel ini adalah interiornya yang memberi kesan dingin namun elegant.


Dan kini seorang gadis yang ditunggu sang pemilik hotel hampir terbengang kaget. Interior sekelilingnya adalah salah satu desain kesukaannya. Pantas saja tangan Lesya lincah dalam menggambar bangunan rumah, ternyata hobby ayah kandungnya juga turun padanya.


Namun dirinya salah fokus akibat sebuah pemandangan yang membuatnya bingung. Gadis bernama Aleesya itu tanpa sengaja menangkap satu pemandangan yang dia yakini adalah saling makan memakan. Lesya geleng-geleng kepala melihatnya. Apalagi scene kiss secara umum itu membuat dirinya merasa j*jik.


"Iyuuhhh, anj*r ternyata ulet keket ada yang mau rupanya ya? Ckck, tapi sayang seleranya om-om pedo! " gumam Lesya.


Lesya tak habis pikir dengan sebuah pemandangan di depannya ini. Ya, yang dia lihat adalah dimana Chatrin dan seorang lelaki yang berusia tak muda dengan postur tubuh yang sedikit lebar. Ahh, rupanya perempuan itu tak berada di sekolah melainkan berada di hotel ini dengan seorang lelaki berumur? Itulah yang membuat Lesya merasa j*jik dengan tingkah Chatrin, salah satu musuhnya.


Tanpa sengaja saat sejenak dia berdiri di sana pandangan mata Chatrin dan dia bertemu. Saling menatap sengit satu sama lain, Lesya memutuskan kontak mata mereka saat seseorang lelaki datang dan memanggil namanya. Lelaki yang datang padanya adalah asisten Galang, Ronald.


"Nona muda, silahkan tuan sedang menunggu di sebelah sana! " ucap Ronald sopan. Lesya mengangguk dan menatap sekilas Chatrin yang masih menatapnya sebelum benar-benar pergi dari sana.


Kepergian Lesya itu justru membuat Chatrin tersenyum sinis dan mengambil ponselnya. Pria yang di sampingnya sedang memesan kamar untuk mereka nanti. Secara diam-diam Chatrin mengambil potret dimana Lesya sedang berjalan dengan Ronald. Bahkan tanpa sengaja Ronald memegang tangan Lesya karena hampir menabrak seseorang.


Mungkin saja hari ini sang dewi Fortuna sedang berada di pihaknya. Dengan jepretan yang bagus mengundang kecurigaan, Chatrin tersenyum bangga sekaligus meremehkan Lesya. Hasil jepretannya kali ini sangat bagus.


"Mamp*s lo kali ini Sya! " gumam Chatrin menyunggingkan senyumnya sinis.


"Kenapa? Kurang kah? " tanya satu pria di sampingnya. Chatrin terhenyak dan menggeleng saja. Ponselnya dia matikan dan disimpan di dalam tas ransel mininya.


"Eh, enggak kok om, cuman ngecek handphone doang kok! " ramah Chatrin tersenyum simpul. Pria itu mengangguk paham dan menggandeng Chatrin dengan sebuah kartu room mereka yang berada di tangannya. Chatrin hanya bergelayut manja di lengan kekar pria di sampingnya. Ini sudah sangat biasa bagi dirinya.


"Om, Chatrin mau keluar dulu ya ambil jam Chatrin yang ketinggalan tadi di mobil om! Nanti janji deh, Chatrin bakal puasin om sepuas mungkin! " rayu Chatrin mencari alasan. Pria yang dipanggil dengan sebutan 'om' itu hanya mengangguk antusias saja tanpa curiga.


"Oke, tapi beneran janji loh ya! Nih kuncinya. " ucap pria itu memberikan kunci mobilnya pada Chatrin. Wanita itu hanya mengangguk dan mengedipkan matanya genit. "Iya om janji deh, nih jaminannya tas Chatrin ada handphone, alat make up, dan buku Chatrin. " ucapnya menyerahkan tas ransel mininya.


Chatrin berjalan keluar dari hotel dan mendekati satu mobil hitam dengan senyuman smirk nya. Dengan langkah cepat dia berjalan ke arah mobil itu dan sedikit berjongkok. Kebetulan saja area parkiran di bagian sana sepi karena berada di pojokan. Entah apa itu yang dia lakukan, rasanya Chatrin tak bersalah dan tergesa-gesa lari dari sana setelah melakukan aksinya. Tanpa dia sadari pula, sebuah CCTV tersembunyi yang ada di hotel itu terus memantau perlakuannya.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2