Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
305: With Mily pt. 2


__ADS_3

Di sisi Elvan dkk, mereka saat ini sedang berada di ruangan Elvan. Memang tadi mereka sempat berada di meja depan Lesya. Namun saat Lesya pergi membuat susu bumil untuk Mily, mereka kembali ke ruangan Elvan yang sudah bersih guna membahas hal-hal pribadi mereka.


Saat mereka asik berbincang tiba-tiba saja pintu ruangan di ketuk. Mereka menoleh dan ternyata mendapati Lesya yang sudah menyembulkan wajahnya di balik pintu. Rupanya gadis itu toh, dikira siapa!


"Oalah, bu boss mau nemuin boss rupanya nih? Gak sekalian nemuin gw? " goda Revan menaik-turunkan alisnya. Tentu saja hal itu mendapatkan lemparan pulpen dari Elvan. Dan itu tepat sasaran di kening Revan hingga lelaki itu meringis kecil mengusap keningnya.


"Hayoloh Repaannn.. Ngamok noh pawangnya! " ledek Ken dibalas tawa kecil dari mereka yang lain. Revan hanya mendengus sebal saja dengan ledekan Ken yang mengundang gelak tawa.


Elvan geleng-geleng kepala saja melihatnya. Dia tahu jika Revan hanya bercanda saja. Namun dia tak suka itu terlebih godaan maut buaya dari Revandri Alaska alias Revan—orang kepercayaannya selain Valen.


"Ngapain masih di situ? " tanya Elvan.


Lesya cengengesan kecil dan berjalan masuk dan meletakkan kunci mobilnya di atas meja Elvan. "Nitip kunci mobil gw dong! Soalnya gw mau pergi keluar bentar sama aunty. " izin Lesya.


Elvan menerima saja. Lesya beralih berjongkok dan mengangkat tangannya seolah meminta sesuatu kepada Elvan. Namun sepertinya lelaki itu tak tahu maksud Lesya. "Ngapain lagi? " tanya Elvan bingung. 


"Bagi duit! " bisik Lesya kecil.


Elvan mengangkat satu alisnya heran. Tangannya terulur mengambil dompetnya dan memberikan satu kartu lagi untuk Lesya. Sebenarnya Lesya lupa membawa blackcard pemberian Elvan makanya meminta lagi. Niatnya adalah memborong satu mall nanti dengan aunty nya.


"Nah, jangan boros! " peringat Elvan diangguki antusias oleh Lesya. "Siap boss!" girang Lesya patuh. Setelah mengambil kartu pemberian Mily, Lesya pamit melangkah pergi meninggalkan kumpulan teman-teman Elvan di sana.


"Jangan kemaleman pulangnya! "


"Iyaaa.. "

__ADS_1


...~o0o~...


Lesya dan Mily saat ini berkendara menuju mall terbesar di sana. Mereka pergi menggunakan mobil Mily tentunya. Lesya yang mengemudi saat ini beralih menatap aunty nya itu. "Aunty mau keluar dari Sakh ya? " tanya Lesya.


Mily menoleh dan mengangguk kecil. "Iya, tapi kayaknya bakalan susah! Makanya gw kabur keluar negeri! Lo malah ngelarang gw lagi, gagalkan rencana gw?! " kesal Mily menatap sebal keponakannya.


Lesya hanya menggedikkan bahunya acuh saja. "Lagian ya gw juga bisa bantu lo keluar kali tanpa kabur! " ucap Lesya enteng. Mily mengangkat satu alisnya. Mudah sekali cara bicara Lesya saat ini! Namun dia tahu banyak cara licik di kepala keponakannya yang satu ini.


Lesya memberikan tahukan caranya kepada Mily yang disetujui oleh wanita setengah abad itu. Jangan ragukan dipastikan memiliki penjagaan ketat untuk Mily nanti. Dan lebih utamanya, tetap tinggal di Indonesia bukan Eropa.


Setibanya di mall terbesar, Lesya memarkirkan mobil Mily lalu berjalan masuk dengan aunty nya itu. Pertama, mereka pergi ke toko baju khusus wanita hamil. Lesya ingin kehamilan Mily tak diketahui oleh siapapun, termasuk ayah kandungnya yang entah itu siapa.


Setelah membeli beberapa yang cocok, mereka beralih ke toko ponsel dan mengganti nomor Mily dengan nomor baru. Hal itu digunakan agar tak sembarang orang yang menghubungi Mily. Lalu mereka beralih membeli perhiasan atas kehendak Mily tentunya. Mily mempersilahkan Lesya membeli perhiasan apapun dan akan dibayar olehnya. Why? Karena ini bentuk hutang budi Mily saja padahal wanita itu ingin Lesya tak kekurangan perhiasan.


"Iya! Lo bebas milih apa aja karena gw gak mau hutang budi sama lo! " alasan Mily. Lesya terkikik kecil dan mengangguk percaya saja. Matanya melihat ke arah banyaknya perhiasan hingga satu cincin kecil mungil terlihat di box sana.


"Aunty, liat deh! Kalau dedek bayinya pake cincin ini bagus kan? " tanya Lesya menyenggol sikut Mily. Wanita itu hanya mengangguk dan membayangkan betapa menawannya calon anaknya menggunakan cincin pilihan Lesya itu.



...(Anggap kecil bisa muat buat bayi)...


"Boy, anak yang gw kandung boy! "


Lesya melotot dan tersenyum senang. Dia menantikan hal itu sedari dahulu. Sangat ingin mempunyai adik laki-laki dari aunty nya. Dan saat ini keinginannya terkabul. Bahagia, girang, dan senang bercampur menjadi satu. Namun di satu sisi dia kecewa, marah, dan tak menyangka jika Mily mengalami hal yang sama dengan mendiang maminya—Mila. Yaitu, hamil diluar nikah! Kembar bernasib sama.

__ADS_1


"Yeyyy, dapet adek laki-laki! " girang Lesya. Mily melirik ke arah Lesya yang sama sekali tak memancarkan aura kecewanya terhadap dia. Mily tahu selama ini Lesya berjuang sendiri melewati geng Sakh. Namun setelah dia mengalami hal yang sama dengan mendiang kakaknya—Mila, membuat dia sadar jika Lesya dan Letha bukanlah anak haram sama seperti anak yang dia kandungi saat ini.


"Kayak cewek gak sih cincinnya? " tanya Mily bermolog. Lesya memutar bola matanya malas. Menurutnya jika perempuan ataupun lelaki, bebas saja memilih bukan? Lagipula bayi tak akan tahu bukan jika dia menggunakan cincin seperti lawan gender atau bukan?


"Aelah emang bayi lo tau apa nanti dia make cincin kayak cewek? Beli aja kali, jangan liat dari cincinnya! " malas Lesya.


Akhirnya Mily mengangguk saja. Setelah membeli, mereka pergi ke toko jam tangan saja karena tak ada perhiasan yang cocok untuk Lesya di sana. Eum, ralat namun karena memang Lesya tak ingin membeli perhiasan dikarenakan jiwa feminimnya masih terlelap di sana, alias ogah. Dia juga sudah memiliki banyak perhiasan dari Mayang namun di abaikan saja karena malas dia gunakan ke mana-mana, terasa berat rasanya!


Di toko jam Lesya tanpa sengaja lagi melihat jam tangan untuk lelaki yang cocok digunakan untuk Elvan. Teringat dengan lelaki itu, dia ingin memberikan sesuatu barang berharga untuk Elvan yang banyak sekali merubah warna hari-harinya. Hem, sepertinya ini barang pertama yang dia berikan untuk Elvan.



...(Anggap begitu kira-kira gambar jamnya)...


"Mba, boleh lihat yang ini? " tanya Lesya memanggil satu pelayan yang berada di depannya. Tentu saja pelayan itu mengangguk menuruti keinginan pembeli. "Boleh kak, " katanya.


"Kebetulan jam tangan ini dapat digunakan untuk perempuan dan lelaki secara bergantian. Ini barang terakhir di toko kami, kak. Terbuat dari bahan berkualitas tinggi, kami jamin--- "


"Stop mbak, terlalu ribet saya pusing mikirnya! Langsung bayar aja oke? " tawar Lesya menyela ucapan pelayan tersebut karena malas mendengarkan ocehan yang akan terlontar dan memakan waktunya.


Pelayan itu mengangguk saja dan mulai membungkus pesanan Lesya. Lesya kali ini tak membayar dengan kartu pemberian Elvan namun menggunakan kartu kredit miliknya. Dia tak sengaja tersadar jika kartu kreditnya terbawa. Kalau begitu tak perlu dia repot-repot meminta blackcard dari Elvan. Memang dasar dia aneh!


Setelah membungkus, Lesya mengajak Mily pergi ke toko lainnya saja. Jangan pernah memberikan Lesya harta yang sangat banyak untuk sekedar digunakan berbelanja. Karena gadis itu memilih barang bagus namun berkualitas tinggi bukan murah. Lagi pula Lesya juga heran kapan habisnya harta keluarga Grey? Padahal dia, Mayang, dan Elena jika berbelanja akan menguras banyak nominal uang! Inilah dinamakan keturunan sultan nyata dengan hastag #BUKANMAEN, wkwk...


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2