
Sudah beberapa menit Elvan dibuat kebingungan dengan sikap Lesya yang berubah padanya. Cuek! Selama dirinya dan Lesya tiba dikamar, Lesya lebih banyak memikirkan maksud Luna.
Menghela nafas, akhirnya Elvan memutuskan untuk bertanya saja. Elvan menutup tugasnya dan laptopnya lalu menghampiri Lesya yang masih melamun. "Le! Lele! "
"Ha? Kenapa? " tanya Lesya tersadar.
Elvan menaikkan satu alisnya menyadari jika Lesya tersadar dari lamunannya. "Lamunin apa? " Lesya menggaruk tenguk lehernya bingung hendak menjawab apa. "Em.. "
"Jujur! " datar Elvan melihat kejanggalan di raut wajah Lesya. Lesya terkisap dan meletakkan tangannya terdiam di atas bantal kasur. "Em, gimana ya ngomongnya! " balas Lesya menggaruk tenguk lehernya.
Menghela nafas, Elvan terduduk dan menyingkirkan anak rambut Lesya yang menutupi sedikit bagian matanya. "Ngomong aja! "
Terdengar helaan di ruangan itu. "Hufftttt! " Akhirnya Lesya menjawab pertanyaan Elvan itu. "Em.. Apa harus ya kalo gw buka hati gitu buat lo? " jawabnya dengan nada cepat.
Hening!
Lesya masih menunggu jawaban dari Elvan saat ini. Elvan terhenti dan menatap manik Lesya sejenak. "Terserah lo sendirilah. " jawabnya setelah keheningan tercipta beberapa menit.
Lesya menggaruk tenguk lehernya tak gatal. Dia bingung harus menyikapi seperti apa. Bilang saja jika Lesya sangatlah lemah dalam permasalahan percintaan. "Ya kalo gw gak tau! " jujurnya.
Elvan menyenderkan tubuhnya duduk berselonjor dan memejamkan matanya sejenak. "Ikutin apa hati lo aja! " santai Elvan. Lesya duduk berselonjor di samping Elvan dan menatap lelaki itu dari samping. "Kalo kata hati gw enggak? "
Mata Elvan terbuka dan menatap gadis yang menyandang status nyonya muda dari anak bungsu keluarga Grey di sebelahnya. "Gw bakal buat lo nyampe buka hati! "
Lesya terbengang melotot tak percaya. "Kenapa gak sekarang aja? " tanya Lesya. Elvan mengangkat bahunya acuh. "Kalo gw tulus, gw mau dapetin orang yang tulus lah! "
Lesya mangut-mangut mengerti saja. "Jadi, kalo lo nemuin yang tulus, berarti.. Kita pisah dong? " Elvan menatap tajam Lesya yang asal menyeplos saja. "Kalo kita pisah.. Kenapa gak dari dulu? Itu artinya lo pertahanin dong! " molog Lesya.
Elvan menganggukkan kepalanya. "Gw gak mau jadi lelaki yang keseringan berhubungan dengan wanita! " ucap Elvan tegas. Lesya tersenyum simpul mendengarnya. "Janji ya? "
Elvan yang melirik arah balkon berbalik menoleh ke arah Lesya yang menyodorkan nya jari kelingking. "Hem! " Lesya berdecak malas. "Janji dulu lah! "
Lesya mengangkat tangan Elvan agar menyatukan sesama kelingking mereka. "Buat apa? " Lesya memutar bola matanya malas. "Janji dulu sama prinsip lo ish! "
__ADS_1
"Iya janji! "
"Kelingking dulu! "
"Iya-iya! Nih! "
Akhirnya Elvan menyatukan kelingking nya dengan jari kelingking yang lebih kecil jarinya dibandingkan dirinya. Lesya tersenyum simpul melihatnya. "Janji gak boleh ingkar! " Elvan mengangguk. "Udah sono hus hus! " usir Lesya.
Elvan beranjak dan melangkah menuju balkon dimana buku dan laptopnya berada. Entah sejak kapan, Elvan lebih sering mengerjakan tugas di balkon akhir ini.
...~o0o~...
Lesya menyendokkan bubur ke dalam mangkok Mayang yang berada di kamar. Pagi-pagi lebih tepatnya saat Lesya hendak berangkat sekolah dengan Elvan, terdapat suara tembakkan yang terdengar kembali.
Alhasil Lesya yang menemani Mayang dirumah dan Elvan berangkat. Tak mungkin dia meninggalkan tugas OSIS yang memang harus dia kerjakan ditambah dengan pertandingan saat ini.
Sementara Angga yang sudah dihubungi Elvan, sudah berjalan kembali ke rumah. Mayang terduduk melamun di sofa kamarnya. "Bun, " panggil Lesya.
Mayang menghela nafas. "Sya, denger bunda! Bunda gak papa kok serius! Yang lebih utama sekarang, kamu sekolah yang bener dulu! Pendidikan kamu jauh lebih penting sekarang! " jelas Mayang memegang tangan Lesya.
Lesya menggeleng. "No! Menurut echa, pendidikan Lesya gak sebanding dengan bunda! Lagipula, aku udah pinter! Cuman malas dapet nilai doang bun! " Mayang mengelus pundak Lesya.
"Bunda paham, kamu mau dengar cerita? " Lesya mengangguk antusias. Mayang beralih menatap jendela kamarnya yang berada di depan lurusnya.
"Dahulu, ada tiga sahabat yang sangat dekat! Sama sekali gak ada kebohongan yang hadir hingga.. Dimana salah satu sahabat menutup kondisinya! " jeda Mayang terhenti.
Lesya terdiam. Jelas sangat tahu dia apa maksud dari cerita Mayang. "Mami, tante Mily, dan bunda! " Mayang mengangguk. "Iya! Itu kami! "
"Dulu, mami kamu menuruti permintaan Mily! Apapun itu! Hingga.. Dimana kamu dan Letha mulai hadir di dalam rahim Mila, tanpa sengaja Mily mendengar pengakuan Mila, yang bilang kalo dia dilecehkan oleh... "
Dada Mayang sesak mengingat itu semua. Lesya memberikan pelukan agar Mayang lebih terasa tenang. "Aku gak papa kok bun, "
Mayang menggeleng. "Enggak! Mereka tega sama kamu yang sama sekali gak bersalah! Mereka harus tahu kalo kamu itu istimewa! Jadi, bunda minta kamu sekolah yang benar! Banggain bunda sama ayah! "
__ADS_1
Lesya terdiam mendengarnya. "Lesya gak bisa janji! " jawabnya jujur. Mayang mengangguk. "Bunda gak tau gimana kondisi papi kamu yang baru tau saat setelah satu tahun berlalu. "
Lesya tersenyum kecil mendengarnya. "Papi gak papa kok bun! Mending sekarang kita makan dulu ya. " saran Lesya.
Angga yang sudah lama berada di situ terhenti dan menyimak pembicaraan mereka tanpa niat menghampiri. Akhirnya dia berpura tak tahu saja dan menghampiri Mayang. "Kalian gak papa kan? "
Melihat Angga sudah kembali, Mayang menyuruh Lesya kembali ke sekolah. "Nah, ayah udah datang, kamu sekolah aja! " Lesya mengangguk dan akhirnya pamit menuju sekolah.
Setibanya, Lesya asal masuk dengan motor sportnya melalui pagar sekolah yang terbuka menyambut siswa-siswi Flondey. Banyak ricuhan yang terdengar di telinganya namun diabaikan nya.
Bruuummm! Ckkiitt!
Tiba-tiba saja Luna dan Leon datang menghampiri Lesya karena mereka berada tak jauh dari sana. "Gw kira lo gak masuk Sya! " ucap Leon.
Lesya mengacak rambutnya dan menoleh. "Hum, gak tau dua hari akhir ini ada kejadian aneh! " Luna melotot. "Kejadian aneh? Dan tadi gw denger suara tembakkan loh! " Lesya mengangguk. "Kami kecolongan! Dan gw sama Elvan waspada penyerangan! "
Leon mengangguk. "Butuh bantuan kah? " Lesya menggeleng dan turun dari motornya. "Sejauh ini belum! Kalo butuh, gw pasti kabarin lo! " Leon mengangguk.
Berjalan menuju lapangan basket, Luna menatap Lesya dan meminta maaf atas kejadian kemarin. "Sya.. Sorry! " Lesya mengangguk dan tersenyum simpul. "No problem and thank! "
Kening Luna berkerut. "Hah? Thank? For? " Lesya mengangguk pelan. "Gw tau jawabannya! " Mata Luna berbinar mendengarnya. "Seriously? " Lesya mengangguk. "Apa jawabannya? "
"Kepo! "
"Serius Sya! "
"Kepo lo Lun! "
"Makanya kasih tau lah Sya! "
Mereka berjalan masuk ke dalam lapangan dan mendengar suara panggilan dari belakang mereka. "Aleesya! "
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1