
Lesya terbangun dari alam mimpinya mendengar notifikasi ponsel yang berbunyi dari ponselnya. Dengan cepat dia mengambil ponselnya dan mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
đ©Ketbok kutubâ
Liat jam!
(read)
Lesya melihat jam digital yang ada di ponselnya. Dirinya terbelak lebar saat melihat jam 2 pagi tertulis jelas di layar ponselnya. Dengan cepat dia berlari kecil menuju walk in closet dan memakai hoodie saja. Dirinya juga membawa ponsel dan dompet kecilnya.
Tangan dan kakinya berjalan membuka knop pintu dengan hati-hati takut membangunkan Letha yang masih tertidur pulas. "Maaf Tha, gw harus pergi! Ini udah tugas gw sekarang! " kata Lesya bergumam lalu keluar dari kamarnya.
Lesya berjalan kecil menuju kamar Elvan dan membuka knop pintu dengan hati-hati. Di saat hendak membuka pintu, dirinya terkejut dengan keberadaan Elvan yang lebih dahulu berada di balik pintu. "Anj*r, ngagetin! " latah Lesya mengelus dadanya.
Dengan cepat Elvan menariknya ke dalam kamar sebelum ada seseorang yang menyadari keberadaan mereka berdua. Sementara Lesya hanya terkejut saja dan memukul lengan Elvan. "Ngangetin bae lo! Untung gw cuman kaget bukan jantungan! " kesal Lesya.
Elvan hanya diam menanggapinya dan kembali membuka pintu mendengar suara pintu kamarnya yang diketuk. "Loh, Sya? Disini? " tanya Mayang. Lesya menoleh dan mengangguk saja. "Baru dateng kok bun! " jawabnya.
"Yaudah, sekarang kita tinggal berangkat! Keburu pesawatnya pergi! " kata Mayang diangguki oleh mereka. Kebetulan saja Alam dan Elena baru saja keluar dari dalam kamar dengan menyeret koper.
Elena hanya menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Alam. Mereka masih ingat persis kejadian semalam yang membuat Lesya hingga sedikit berteriak dengan menggedor-gedor pintu mereka. "Lain kali jangan asal main! " pesan Lesya.
Elvan juga ikut menimpali ucapan Lesya. "Pastiin pintu ketutup! " tambahnya. Alam hanya mengangguk singkat saja. Malu rasanya saat ditegur oleh seseorang yang umurnya berada di bawahnya.
Sementara Mayang yang tak paham hanya menyimak saja tanpa niat bertanya. Akhirnya mereka pergi dengan langkah kecil menuju bandara. Mereka sengaja tak mengajak Lisa ataupun Letha karena tak ingin membuat keributan subuh ini.
~o0o~
__ADS_1
Mayang memeluk putra bungsunya dan beralih menepuk-nepuk pundak Alam. "Kalau urusannya udah beres, langsung balik! Ada banyak urusan di sini! " pesan Mayang diangguki kompak oleh Alam dan Elvan bersamaan.
Giliran Angga yang memeluk putra dan menantu sulungnya dengan gaya lelaki. "Semoga lancar di sana! " ucap Angga dibalas anggukan kompak Alam dan Elvan lagi.
Kini giliran Elena yang terus memeluk Alam seolah tak ingin berpisah sejenak dengan lelaki itu. "Aaa.. Gak mau pisah huweee... " kata Elena melengkungkan bibirnya kebawah. Alam hanya tersenyum dan mengelus rambut panjang Elena.
"Gak lama kok, cuman sebentar doang hon! " kata Alam. Elena menghentak-hentakkan kakinya tanpa melepaskan pelukannya. "Sama aja! Lama tauukk! " cebik Elena bagaikan anak kecil.
Mayang menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara Angga hanya terkekeh kecil melihatnya. "Elen, udah ihh! Malu tau sama Lesya sama adik kamu! Inget umurmu sekarang ih! " kata Mayang.
Lesya yang menutup mulutnya karena menguap hanya menunjuk dirinya sendiri bagai orang linglung. "Hah? Oh, santai ae kak! Lanjutin, Lesya gak liat kok! " enteng Lesya. Berbeda Elvan yang merangkul pundak Lesya bagaikan teman hanya memutar bola matanya malas.
Elena perlahan mulai melepaskan pelukannya dan beralih pada sang adik. "Walau lo orangnya kutub sama gw, gw sebagai kakak yang baik nyuruh lo cepet balik setelah urusannya selesai! Jaga pola makan lo di sana! " pesan Elena.
Elvan hanya mengangguk singkat saja menanggapinya. Dia melirik arah jam tangannya dan menarik Lesya menjauh dari mereka yang berkumpul. "Eeh? Mau kemana? " tanya Lesya.
Elena dan Alam geleng-geleng kepala melihatnya. Mereka berbincang kecil dengan Mayang dan Angga selama waktu masih tersisa sejenak.
Elvan melepaskan tarikannya setelah durinya merasa jauh dari keluarganya. Lesya hanya memainkan anak rambutnya dan bersikap santai menatap Elvan.
Mendesis kecil, akhirnya Lesya berdecak dan bertanya. "Ngapain sih bawa gw ke sini? Udah tau pesawatnya mau berangkat? Kalau lo telat gimana? Mending kita balik aja ke tempat tadi aja gih! " ucap Lesya.
Dengan cepat Elvan menahan pergelangan tangan Lesya agar tak pergi. "Gak mau pamitan sama gw? " tanya Elvan menaikkan satu alisnya.
Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal itu. Dia bingung bagaimana cara berpamitan. Dia itu kan tak sama dengan Elena yang mudah berpamitan dengan gayanya.
"Ya mau gimana pamitan nya? Kan yang harusnya pamitan elo, karena yang pergi itu elo! " kata Lesya. Elvan hanya menghela nafasnya panjang. Sulit menghadapi cobaan ini! Apalagi, cobaan nya adalah Lesya!
__ADS_1
Lesya yang melihat raut wajah pasrah Elvan hanya memiringkan kepalanya bingung. Tiba-tiba saja, Lesya memeluk Elvan sama seperti yang Elena lakukan. "Udah kan? " tanyanya mendongak.
Elvan hanya mengangguk pelan saja. Dia juga tak menyangka sekakunya Lesya terhadap kata yang berbau âromanticâ akan berbuat begini. Mengacak rambut Lesya, dia kembali dibuat bingung dengan nada bicara Lesya yang kembali seperti semula.
"Aaa.. Berantakan jadinya kan?! Hobi bener ngacak-ngacak rambut gw! Mahal taukk! " kesal Lesya melantur. Elvan hanya geleng kepala dan merapikan kembali rambut Lesya. "Udah, ayo balik! " kata Elvan diangguki Lesya.
Mereka kembali dan itu tepat pada waktu pesawat hampir lepas landas. Dengan cepat Alam dan Elvan berjalan melangkah meninggalkan keluarga mereka. Sementara Mayang, Angga, Elena dan Lesya hanya melambaikan tangan mereka melihat kepergian kedua lelaki itu.
Mereka kembali pulang ke rumah dan kembali berjalan menuju kamar mereka masing-masing. Lesya dapat melihat wajah Letha yang masih pulas tertidur di alam mimpinya.
"Sorry kalau nantinya gw lukain perasaan lo Tha! Gw emang bukan kakak ataupun kembaran yang baik buat lo! " gumam Lesya mengelus anak rambut Letha yang tertidur di sampingnya.
~o0o~
Pagi dimana matahari pagi telah bersinar cerah. Setelah melakukan sarapan pagi, penghuni rumah keluarga Grey melakukan aktivitas mereka saat ini. Letha yang berada di ruang keluarga heran, dimana lelaki pujaan hatinya?
Dia melirik Elena yang sibuk memainkan ponselnya sedari tadi. Canggung rasanya jika dia bertanya hal itu kepada Elena. Namun mau tak mau, dia akhirnya memberanikan dirinya untuk bertanya. "Kak Elena, Elvan mana? Kok dari tadi gak keliatan? " tanyanya.
Elena menoleh dan berhenti tersenyum melihat layar ponselnya. Dia sedang berkomunikasi dengan Alam melalui benda pipih canggih kekinian. "Oh itu, Elvan lagi pergi ke Amerika! " jawabnya.
"Amerika? Ngapain? " molog Letha.
Lisa yang berada di samping Letha menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi yang dia tonton. "Perusahaan Grey ada masalah dan Elvan harus ke sana gantiin om Angga! Gak mungkin dong kan om Angga pergi ke sana? Siapa yang jaga perusahaan di sini? " jawab Lisa.
Letha hanya mengangguk paham saja. Sementara Lesya yang memakan cemilan di ruang keluarga seraya menonton televisi hanya melirik sekilas Letha yang tampak kecewa.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gifđ€
__ADS_1