Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
128: Balapan 3


__ADS_3

Vion berusaha sekuat tenaga agar dapat kabur dari Lesya. Lesya yang melihat Vion kembali berdiri dan berlari walau pincang menggertakkan rahangnya keras. Tangannya terkepal dan bayang-bayang dimana Arga dibunuh di hadapannya oleh Vion terlintas.


Dengan tangan terkepal kuat Lesya berjalan cepat menghampiri Vion seraya dengan santai menembak tanah agar Vion merasa gencar. Itulah alasan Lesya!


Dalam kamusnya, jangan takut untuk membuat musuh menderita! Karena dirinya sudah terusik walau sedikit. Buat apa dia akan tiada di tangannya jika tak menderita terlebih dahulu? Itulah pedoman jiwa pemberontak Lesya.


Luna yang menemukan Lesya namun tidak dengan Vion segera menghampiri Lesya. "Queen! Mana Vion? "  Lesya menunjuk ke arah depannya yang ternyata sudah kosong.


Geram, Lesya menembaki seluruh dahan pohon hingga satu pohon tumbang. "ARGGHH!!! " Lesya mengacak frustasi rambutnya. "BANGS***!! " Luna yang menyadari jika dirinya yang membuat Vion kabur menunduk dan mengalihkan pandangannya.


Elvan yang baru saja tiba diikuti Valen sebagai tangan kanannya mencari keberadaan Vion, musuh terbesar mereka. Dapat dilihat sorot mata Elvan yang tajam dan rahangnya yang sudah ketat menandakan emosinya sudah naik. "Mana Vion? " tanya Valen.


Lesya berhenti menembak dan melirik kedua lelaki itu tanpa berbalik badan. "Maaf! " Satu kata dari Luna membuat Lesya memeluk Luna dan menunduk.


Tepat dengan Elvan yang menembak satu dahan yang berada di sekitar Lesya dan Luna. Alhasil pohon tersebut tumbang hingga terdengar rintisan kecil. "Argh! "


Yap! Itu Vion! Dia berusaha mati-matian agar tak meringis akibat lemparan batu kecil dan dahan pohon besar yang jatuh menimpa dirinya. Dia mengepalkan tangannya erat merasakan kesakitan yang dia terima.


Lesya dan Luna mendongkak menatap Elvan. Mereka bergantian melirik pohon yang tumbang hingga mengeluarkan suara. Elvan menyunggingkan senyum miringnya. "Apa itu... "


"Pergi! " Satu kata yang dapat dipahami Valen menyuruh agar Lesya dan Luna menurut. "Ayo pergi! " Kedua gadis tersebut menggeleng cepat dengan kompak. "Sebelum Vion ketemu gw gak balik! " tegas Lesya.


Valen menghela nafasnya panjang. Dia mengkode agar Luna menurut padanya kali ini. Luna sedikit berbisik dengan Lesya melihat kode dari Valen. "Queen gw ngerasa kita turutin permintaan mereka kali ini! " bisik Luna kecil.


"Balik! " Lesya yang tetap kekeh membuat Elvan menghela nafas hingga dirinya harus menarik Lesya dan mengangkatnya ke dalam gendongannya. "Arhh! Lepas Pan! " bantah Lesya.

__ADS_1


Valen sedikit tak percaya melihat tingkah laku Elvan. "Gak usah lebay! Itu juga biar nurut! " bisik Luna kecil kepada Valen. Valen mengangguk saja mendengarnya.


"Nurut atau... " Lesya mengangguk saja seraya kekeh memberontak. "Iya iya tapi turunin ih! " Elvan menurunkan Lesya dari angkatan gendongan nya.


Lesya mencebik lalu pergi terlebih dahulu menatap tajam dahan pohon yang jatuh ulah Elvan tadi. Luna, Valen, dan Elvan hanya mengikut saja tak lupa menatap datar ke arah dahan pohon yang jatuh tadi.


...~o0o~...


Lesya berdecak malas mendengar alasan Elvan baru saja keluar. "Kenapa sih harusnya gw bantai tuh anak! " gerutu Lesya menendangi batu kecil di depannya.


"Blom saatnya! " jawab Elvan dingin. Valen mengangguk setuju mendengarnya. "Lo kira cuman kalian doang yang pengen dia dead?! Kita juga kali! "


Luna dan Lesya berbalik dan menatap kedua lelaki yang berada di belakang mereka. "Maksud lo? " tanya Luna. Valen menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal karena membocorkan rahasia mereka. "Dia punya penyakit! "


"Yeah! Gw tau! Penyakit asma bukan? Itu bawaan dari keluarganya! " Valen menggeleng cepat. "Selain itu dia punya penyakit obsesi terhadap wanita yang memiliki postur yang... "


Elvan hanya menyimak dan mendengarkan satu per satu obrolan mereka. Lesya merasa tak asing dengan nama tersebut menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. "Kek gak asing! " gumamnya pelan.


Valen melanjutkan penjelasannya membuat Lesya dan Luna tercekat. "Dulu dia juga pernah ngalamin ini! Dia pernah temenan sekali doang sama kami dan dia cerita kalo dia punya dua sahabat cantik bener! "


"Dan sahabatnya itu katanya bakal dia nikahin dua-duanya! Gil* gak tuh! " Lesya dan Luna saling menatap bergantian. Mereka memasang tampang eneg-nya mendengar kalimat terakhir Valen. "Hoekkk! Gak akan! "


Luna yang berpura muntah dan Lesya yang menyakinkan dirinya tak akan bersatu dengan Vion membuat Valen mengerutkan keningnya bingung. "Kalian kenapa sih? Gw serius! "


"Gak akan gw biarin pembunuh bersatu dengan gw dan Luna! Sekedar bersahabat baik juga gak akan pernah! " tekad Lesya. Luna mengangguk setuju. "Gw gak sudi merasa kasian dengan pembunuh sekaligus orang yang lupa kulit! "

__ADS_1


Valen semakin tak paham dengan arah pembicaraan. Pembunuh? Apa maksudnya? Pikir Valen. Berbeda dengan Elvan yang tahu jika Vion adalah seorang pembunuh yang membunuh Arga di hadapan Lesya karena hal tersebut terdapat di data-data Lesya saat itu.


"Bentar! Maksud kalian itu apa? Kalian kenal kah sama dia? " Lesya dan Luna mengangguk kemudian menggeleng. "Dulu kenal! Sekarang mungkin enggak karena sikapnya yang berubah! " ucap Luna.


Lesya ikut menimpali ucapan Luna saja dengan nada yang jauh tak bersahabat dibandingkan Luna. "Dan yang lo bicarain tadi, itu kita! " Valen membentuk mulutnya berbentuk huruf 'O'. "Yang sahabat itu? "


Kedua gadis itu mengangguk lalu berjalan pergi dari sana. Valen menyeret Elvan yang hanya berjalan santai saja. "Oy tunggu! "


Lesya yang sudah tiba di pusat penyerangan anak buah Vion terkejut melihat salah satu anak buah Vion hendak menarik pelatuk ke arah Leon. "Leon! "


Dengan cepat Lesya mengambil pistol Luna dan membidik tepat sasaran hingga Leon berbalik dan mengelus dadanya lega. "Thanks Queen! " Lesya mengangguk dan berlari menghampiri mereka semua diikuti Luna.


"Bang bagi peluru! Peluru gw udah mau abis! " Alam melempar satu kantung peluru dari sakunya ke arah Luna. Lesya mengambil sebagian dan memasukkannya ke dalam pistolnya.


Dor! Dor! Dor!


Luna dan Lesya segera ikut menghabisi anak buah Vion agar berkurang sedikit demi sedikit. "Yon, sorry soal tadi! " Leon yang berada di samping Lesya mengangguk dan tersenyum.


"Gak papa! Gw tau lo gak suka sama orang yang gak nepatin janji kan? "Lesya mengangguk dan tersenyum tipis mendengarnya. " Fokus! " tegas Lesya diangguki oleh Leon.


Leon dan Lesya kembali fokus membidik dan sesekali menyerang dengan tangan mereka hingga tanpa sengaja balutan perban di tangan Lesya terbuka. Tak ada rasa bagi Lesya karena dia sudah terbiasa.


Dorr! Argh!


Rintihan kecil yang di dapat oleh Lesya di saat satu pelatuk bersarang di lengannya. Luna menoleh ke arah sahabatnya. "Queen! " Dengan cepat Lesya menghentikan Luna yang ingin menghampiri dia. "Fokus! "

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2