
Tawa mereka mengundang rasa penasaran bagi siswa-siswi entah itu dari pihak Flondey ataupun Gregus. Mereka bingung apa yang ditertawakan oleh Lesya, Lisa dan Leon. "Bener! Tapi, njer! Ngakak! " tawa Lesya.
"Terussin ketawa aja teross nyampe puass! Lupain gw yang terbully dengan kata-kata buahaha saja! " ngegas Luna menyindir. Leon menghentikan tawanya. "Ululu! Bontot MLC (Markas Lion Claws) ngambek Sya! " ledek Leon.
Lesya perlahan menghentikan tawanya. "Nanti minta traktir Leon! " Mata Leon membulat mendengar suara enteng Lesya. "Lah? "
Mata Luna berbinar mendengar kata 'traktiran' dari mulut Lesya. "SIAP 45! Inget Yon! " Leon mendengus pasrah mendengarnya. "Selamat anda kual*t! " bisik Lisa terkikik kecil.
Leon menghela nafasnya panjang. Biarkan saja lah! Asalkan Luna kembali ceria sudah cukup baginya. Pikir Leon.
* Biarin lah! Yang penting bocil kagak ngambek lagi! Bisa berabe nanti kalo bang Alam tau! Abis gw! Tapi.. Dompet gw woy lah! Mana bawanya cuman uang biru doang pula! Sksk, miris! Siap-siap pemakaman dompet ini mah! * batin Leon kecil.
Tawa mereka tadi pecah dan samar-samar terdengar hingga dimana keberadaan Rio dkk dan Elvan dkk. "Mereka semua sehat gak sih? " molog Ken heran.
Frans tak habis pikir dengan Ken yang sering mengurusi sekitarnya. "Biarin aja! Kalo mereka seneng kek gitu, biarin lah! Dahlah noh mau mulai! "
* Gw harap senyum yang terukir gak akan pernah luntur walau nanti lo akan ngalamin dimana semua yang lo sembunyi-in akan terungkap! Gw tau kalo bokap kandung lo sering merhatiin lo diam-diam tanpa lo sadari! * batin Elvan kecil dan menyimpan ponselnya.
* Gw pengen gw yang menjadi pelengkap senyum yang lo ukir Sya! Gw tau gw salah! Tapi gw bener-bener gak tahu harus memihak siapa saat itu! Makanya gw melampiskan ke elo! Gw harap juga lo mau maafin gw Sya! * batin Rio yang berada bersebrangan dengan Elvan.
Berbeda dengan Letha dkk yang mengabaikan tawa yang pecah meletus berasal dari Lesya dkk. Mereka tadi disamperi oleh Rio di area taman tadi saat Lesya belum tiba.
Flashback on
__ADS_1
Bosan di dalam kelas, akhirnya ketiga sahabat itu memutuskan berjalan-jalan menuju taman sekolah. Namun, mereka terhenti saat Rio memanggil nama Letha. "Tha, Letha! "
Mereka menoleh dan melihat bagaimana Rio datang menghampiri mereka. "R-rio kan? " tanya Letha bingung. Namun tidak dengan Amel dan Nayla yang tak mengenali sosok Rio.
Letha saat SMP memang bersekolah di sekolah Flondey. Sementara Nayla dengan Amel sama sekali tak mengenali Rio. Namun mereka kenal dengan sosok kapten basket yang diidolakan oleh sekolah Flondey.
"Iya, aku Rio! Apa kabar? " Letha membalas uluran jabatan tangan Rio. "Baik kok, oh iya ada apa? " Melepaskan jabatan mereka, Rio menggaruk tenguk lehernya. "Itu.. Boleh minta tolong? "
Tanpa banyak berpikir, Letha hanya mengangguk kecil saja. "Kalo gw bisa, gw bantu kok! " Rio menghela nafas lega. "Boleh ajak Lesya nanti ke taman ini setelah akhir pertandingan nanti? "
Letha tak menjawab. Dia menatap kedua teman-temannya seolah meminta jawaban. Nayla mengangguk sedangkan Amel tak menjawab. Karena kasihan melihat tatapan memohon Rio, Letha mengangguk saja. "Bisa kok! " jawabnya sedikit tersenyum.
Rio mengembangkan senyumnya sumigrah. "Makasih ya, ditunggu nanti di sini! " Letha mengangguk dan menatap kepergian Rio dari sana. "Lo yakin Tha? " tanya Amel.
Nayla dan Amel mengangguk paham. "Emang lo bisa bawa kakak lo ke sini selesai tanding nanti? " Letha terdiam memikirkan cara agar Lesya dapat pergi ke taman yang dirinya tempati saat ini.
Flashback off
Amel mengangkat suaranya. "Tha, gimana kalo lo jujur aja kalo si ro eh Rio, mau ketemu sama dia! " Letha menggeleng cepat. "Gw tau! Gw bakal minta Rio buat segera pacaran sama kakak gw dan akhirnya, terus gw bisa deket deh sama Elvan! " bisik Letha kecil dan mengukir senyum manisnya.
Nayla geleng-geleng kepala saja. "Kalo gw nih ya terserah lo aja dah Tha! " Letha mengangguk dan meminta saran dari Amel. "Kalo menurut lo gimana Mel? "
Amel menghela nafasnya. "Gw tau maksud lo Tha! Tapi, lo gak boleh nyampe manfaatin Lesya buat pacaran sama Rio! Lo tau? Cinta tuh gak bisa dipaksain! " Letha mengangguk. "Tau lah! Tapi, gw yakin kalo seiring berjalannya waktu, kakak pasti dijamin udah klepek-klepek sama Rio! " antusiasnya.
__ADS_1
Amel menghela nafasnya panjang. "Iya gw paham, tapi untuk sekarang lo gak mungkin kan? " Letha berdecak malas. "Trus lo maunya gimana? Kok gw perhatiin setiap gw bahas masalah gw sama kak Lesya lo lebih berpihak sama kakak gw sih?! " decaknya.
Nayla memijit keningnya pusing. Sudah kesekian kalinya perdebatan antara Amel dan Letha terjadi karena Amel memihak Lesya. Letha tak suka dengan seorang teman yang seperti itu. Apalagi yang dibela Amel adalah kakaknya sendiri. "Udah-udah! Noh udah mau mulai! "
Akhirnya mereka menyaksikan bagaimana awal pertandingan antara sekolah Flondey dan sekolah mereka, Gregus. Bahkan tanpa mereka sadari, Lesya dapat mendengar pertengkaran Amel dan Letha dari samping. Catat! Hanya pertengkaran nya saja!
Kini pertandingan sudah berada di puncak ketegangan. Dengan skor yang sama dari kedua belah pihak, tim dari sekolah Flondey dan Gregus sama-sama mencetak gol sebanyak 6 kali.
Banyak sorakkan menggema di lapangan itu termasuk Letha. "AYOO ELVAN KAMU PASTI MENANGG! KALO GAK MENANG GAK PAPA NANTI AKU KASIH BUNGA YANG BESAR! " teriak Letha heboh.
Luna yang berada di samping Nayla dan Nayla berada di sebelah Letha memutar bola matanya malas. "Heboh bener! " gumamnya.
Lesya berdecak malas entah kenapa. Dia sedikit terbawa oleh suasana pertandingan. "Ck! Gedeg gw lama-lama! Seri lagi! " decaknya.
Luna tertawa kecil. "Kalo mereka kalah, traktir ya Sya! " Lesya mengangguk cepat lalu menggeleng. "Enggak! Pokoknya mereka harus menang! Ogah gw nanti! Kalo si Teh Rio menang, dia pasti mamer ke gw! "
Luna dan Leon dengan cepat mengangguk setuju. "Semangatin aja noh! " saran Lisa. Luna melotot. "Teriak gitu nih? " Leon memutar bola matanya malas. "Enggak! Ya iyalah! "
Luna menghela nafasnya lalu berteriak. "BUAT PERWAKILAN DARI SMA GREGUS AYO MENANG! KALO GAK MENANG KU TIMPUK PAKE BATU! " Lesya menutup kupingnya yang mulai pengang.
"BRISIK UNAAA! " decak Lisa berteriak. Leon menghela nafas panjang merasakan kuping yang pengang. "Gw sabar dah! Sya.. Lo gak teriak kan? " lesu Leon. Lesya menyunggingkan senyum miringnya membuat bulu kuduk Leon berdiri.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1