
Kedua wanita berjalan ke arah taman bermain sekitaran rumah. Setelah membalas pesan dari Elvan, Lesya sebelumnya melakukan protes karena hanya diizinkan berkeliaran di sekitaran rumah. Katanya, Lesya itu liar sampai bisa nekat berkeliaran hingga luar negeri.
Karena larangan dari Elvan, Lesya akhirnya mengiyakan saja dibandingkan ancaman tak boleh keluar. Sangat sulit jika ingin melakukan protes pada Elvan. Jadilah mereka di taman kompleks seraya menunggu kedatangan suami-suami mereka yang katanya akan datang menyusuli mereka di sana.
"Lebai banget sih laki lo! Mau ini gak boleh, mau itu gak boleh, kalau gw jadi lo bakal gw jadiin samsek! Kok lo betah?"
Lesya hanya menggedikan bahunya saja. Sejujurnya dia juga merasa terkekang, tetapi alasan Elvan juga memang cukup logis. Bisa saja dia berpergian hingga ke luar negeri hanya karena gabut. Bayangkan saja alasannya, GABUT!
"Makan cilok yuk!" ajak Lesya.
Lisa menggeleng pelan. Sedari kecil dia membatasi alias mengurangi jajanan yang dijual dari luar. Biasa dia akan memesan, masak sendiri, ataupun dari restoran. Keluarganya juga melarangnya mencicipi makanan pinggir jalan karena kurang bagus untuk kesehatan tubuh.
"Gw lagi hamidun, lo gak usah ngajarin yang sesat deh!" kesal Lisa saat mendengar rengekan Lesya yang meminta agar ditemani ke tukang cilok.
"Lisaaa ayokkk ihh, nemenin doang juga gak papa kok!" rengek Lesya menarik-narik tangan sahabatnya.
Sang empu berdecak kesal dan berdehem saja. Lebih baik dituruti kalau tidak ingin menjadi pusat perhatian warga yang ada. Agak lebai memang akhir ini sahabatnya. Sangat berbeda dengan ciri khas Lesya yang dulu.
"Bang beli dua puluh ribu tapi disatuin ya," ucap Lesya memesan setelah tiba di tukang cilok yang dia pinta. Mata Lisa tergelak lebar mendengar pesanan Lesya. Ingin membatalkan tapi abang tersebut sudah mengiyakan.
Tapi- di sisi lain Lisa sedikit gencar akan berimbas padanya. Terlebih kedua lelaki yang mereka tunggu mulai jalan mendekat dari belakang. Lisa cukup takut menghadapi kemarahan Elvan, walaupun mereka adalah sepupu.
"Sya, pergi yuk?" bujuk Lisa.
"Bang, jangan lupa pedes super ya!" antusias Lesya yang sama sekali tak menanggapi ucapan Lisa. Sang lawan bicara Lesya hanya mengangguk-angguk paham dan melakukan sesuai yang diminta oleh pelanggannya.
Langkah Elvan semakin cepat melihat kedua wanita yang asik berdiri di gerobak cilok. Beberapa kali matanya melotot tajam kepada Lisa, sayangnya usaha Lisa membujuk Lesya gagal. Elvan lebih dahulu menyuruh Revan tetap diam tanpa suara hingga mereka berdiri di belakang Lesya tanpa disadari empunya.
"Sya, pergi yuk?" bujuk Lisa lagi.
"Abang bule ya? Kok putih, tinggi, padahal jual cilok panas-panasan," ujar Lesya mengalihkan pembicaraan. Lawan bicara yang diajak hanya tersenyum canggung. Terlebih mata Elvan yang menatapnya dengan pandangan super menusuk.
"Saya asli Indo, Neng. Cuman bapak saya asli Amerika, jadinya fisik saya ikut blasteran dia," jawab abang cilok tersebut dengan tawa canggung.
"Bang cilok ganteng!"
"Anj*r si Lesya ga waras!"
__ADS_1
Lisa mengumpat keras di kala dia mendengar ucapan yang tak masuk akal dari Lesya. Sementara sang pelaku menatap Lisa dengan kedipan lucunya.
"Tapi masih gantengan suami saya, Bang! Udah ganteng, tinggi, putih, penyabar, beuh the best lah pokoknya walau minus karena suka ngatur ini-itu!" lanjut Lesya seraya mengambil cilok yang disodorkan oleh lawan bicaranya.
Penjual cilok tersebut hanya tersenyum canggung saja. Di sini Lesya curhat atau beli pesanannya sih? Lisa saja ingin menyelam di samudra Pasifik mendengar curhatan sahabatnya.
Tak hanya Lisa, Revan pun juga. Berbeda dengan Elvan yang berusaha agar tak tertawa. Dibuat marah tapi diterbangkan, bagaimana Elvan dapat marah kalau begini cara Lesya? Elvan juga bingung, di sini Lesya memujinya atau penjual cilok?
"Lisa bayar gih!" titah Lesya.
"Idih, bayar sendiri lah! Gw gak bawa duit ke sini," ucap Lisa. Lesya melotot tajam. Pandangan berbinar pada ciloknya yang sudah jadi berubah menjadi layaknya harimau hendak melahap mangsanya.
"Gw juga gak bawa," lirih Lesya.
Lisa meneguk salivanya susah payah. Lesya bahkan sudah memakan satu cilok di depan penjualnya langsung. Seribu saja tak punya, apalagi dua puluh ribu? Nyebelin memang kerjaannya Lesya!
"Bang, bayar dia!"
Elvan yang tanggap dari belakang, segera menyodorkan selembar uang biru pada penjual cilok. Lesya yang mendengar suara yang sangat familiar itu hanya melotot dan membalikkan badannya ke arah belakang. Satu tangan Lesya melambai dengan canggung seolah mengajak damai Elvan.
"H-halo?"
Setelah membayar dan menyelesaikan drama tukang cilok, Lesya hanya berjalan di belakang ketiga manusia yang memijit kepalanya pening. Tanpa peduli, Lesya hanya sibuk menundukkan kepala karena begitu menikmati makanannya.
"Gw sama Lisa balik ya, kelas juga udah kelar 'kan?" pamit Revan seraya merangkul Lisa. Elvan mengangguk pelan saja mendengarnya.
"Tas aku gimana?" tanya Lisa.
"Udah, nanti biar diambil supir. Lagian kamu gak boleh banyak keluar rumah takutnya nanti anak kita item, gosong!" ngawur Revan dibalas pelototan dari Lisa. "Canda Yang," lanjutnya.
Keduanya berpamitan dan menyisakan Lesya juga Elvan yang masih terdiam. Jika yang satu asik makan, maka yang satu lagi asik memandangi. Mereka berdua sudah duduk di kursi panjang yang berada di bawah pohon rindang.
"Jangan keseringan ya? Kurang bagus,"
"Iyaaa ... tapi kok tadi udah di belakang aja? Kenapa enggak manggil?" tanya Lesya beralih menatap Elvan.
"Baru nyampe kok," bohong Elvan.
__ADS_1
"Pan, ke rumah Aunty yuk? Bosan di rumah sendirian," ajak Lesya setelah menghabiskan ciloknya dalam waktu singkat. Elvan berpikir sejenak dan menganggukkan kepalanya pelan seraya membersihkan sudut bibir sang istri dengan tangannya. Jadwalnya cukup senggang untuk hari ini saja.
"Pan, kalau gw minta sesuatu boleh?"
"Boleh, boleh banget. Mau apa?"
Lesya tersenyum samar dan mendekatkan diri. Wajahnya dia condongkan ke depan karena hendak berbisik di telinga lawan bicaranya. Elvan terdiam dan menatap Lesya ragu.
"Emang gak papa?" tanya Elvan.
Lesya mengangguk-angguk cepat. "Biarin aja, anggap pembalasan dulu walau gak setimpal. Mau ya-ya?" pinta Lesya menyatukan kedua telapak tangannya seolah memohon pada Elvan.
"Yaudah, tapi jangan sampai kelewat batas pembalasannya. Bukannya tenang jadi runyam kayak dulu, ok?"
"Siap Boss!"
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Sesuai janji, Lesya dan Elvan kini sudah berada di rumah Mily. Tak hanya Mily yang berada di sana, Galang dan Sella juga ada. Lesya sendiri heboh karena kedua adik lelakinya berada di sana.
"Dad, kok Mommy gak ngandung kembar? Uncle juga, padahal kalian punya keturunan kembar," tanya Lesya.
Galang menoleh. "Kata kakek dulu, katanya bakal ngandung kembar cuman sekali. Jadi salah satu antara kamu sama Letha yang punya keturunan kembar," jawab Galang menjelaskan.
"Really? Terus kok Letha cuman lahirin anak satu doang bukan kembar?" tanya Lesya lagi cukup penasaran.
"Ya mungkin aja kamu," ucap Galang.
"Masa?"
"Liat aja nanti gimana!"
Lesya memicingkan matanya curiga pada Galang. Namun, keduanya sama-sama menoleh ke arah Gilang yang berlari ketakutan. Mily dan Sella juga dibuat bingung oleh pekikan Gilang yang secara tiba-tiba. Lesya mencoba menahan tawanya di kala tahu apa penyebab Gilang berteriak histeris.
Galang takut kecoak!
Namun, ini karena ulahnya.
__ADS_1
"AAAA KECOAKKK!"
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗