
"Ya ibuk nyuruh kita diem! Harusnya suruh kita jangan diem biar dijawab! " Bu Lina tercengang dengan jawaban nyeleneh sepasang sahabat yang kompak itu. "Kalian?! Haiss... "
"Sekarang keluarkan buku kalian dan kumpulkan di sini! Kalo satu belom selesai tugasnya, satu tim tidak akan saya nilai! "
Sontak empat kawan, Letha dkk, Lisa, Leon, Luna mengarah kepada Lesya. "Kenapa? Gw cantik yah?! "
Luna memasang tampang eneg-nya. "Iya! Cantiknya nyampe lupa kalo ada tugas! " Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal.
Satu per satu buku sudah terkumpul dan tersisa Lesya saja yang belum. "Sya, lo kerjain kagak? " Lesya mengangguk lalu menggeleng.
Tangan Lesya terulur guna mengambil bukunya. "Kemaren gw kerja-in ta tapi sebagian! " cicit Lesya terkejut jika tugasnya sudah selesai.
Reflek Lesya menatap bukunya melotot terkagum seperti ada sihir. "I-ini? " Elvan melirik kecil Lesya yang membolak-balikan bukunya tak percaya. "Aaa.. Gil* demi apa woy! Gw kelar dong! "
Dengan reflek semua orang yang ada di ruang guru menatap Lesya bingung dan menghentikan pekerjaan mereka. Termasuk guru-guru yang berada di sana terutama bu bunga. "Ha? Gimana? " molog Luna.
Lesya yang dipandang berasa menjadi narapidana tersendiri. "Kenapa sih liatnya kayak gitu?! Mau lepas matanya dari sarangnya! "
Plakk!
Bu bunga menampar pipinya sendiri. "Aduh! " Rintisan bu bunga terdengar hingga Lesya aneh sendirinya. "Ibuk ngapain mukul diri sendiri? "
"Ha? Nyata? Kamu beneran ngerjain tugas? Saya gak mimpi? " Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. "Kemaren bukannya cuman sebagian ya? " lirihnya.
Luna dengan cepat mengambil alih buku Lesya. "Omaigad! Ini bukan tulisan lo kan Sya? " Bu Lina mengambil alih buku Lesya. "Ini persis kayak tulisan.. "
Bu Lina mengambil buku Elvan dan membandingkannya. Dengan cepat Lesya mengambil alih bukunya dan menatap Elvan tak percaya. "I-ini? "
Lesya memutar otaknya mengingat kejadian kemarin. Sontak setelah mengingat dirinya yang tidur di meja berpindah di ranjang saat bangun, Lesya menjatuhkan bukunya. "Gw inget! " gumamnya kecil.
Bu Lina mengambil buku Lesya yang terjatuh dan membandingkan kembali dengan buku Elvan. Tulisan yang sama! Bu Lina menatap Elvan intimidasi. "Kamu kerjain tugas dia ya? Dibayar berapa? "
Mereka semua menyimak dan sedikit terkejut. Elvan menggedik-kan bahunya acuh dengan pertanyaan bu Lina padanya. "Haiiiss.. Sudahlah! Semua tugas kalian akan saya nilai! Namun Elvan dan Lesya dihukum! "
__ADS_1
Uhuk!
Lesya tersedak salivanya sendiri. "Ibu apa-apaan sih! Masih mending saya kerjain! Kalo saya bakar buku saya gimana? "
"Udah baik saya terima! Cuman ini satu-satunya tugas yang kamu kerjakan! Mau nilai kamu kosong semua hah?! Kalo tinggal kelas jangan salahkan saya yah! " ancam bu Lina.
Lesya justru tersenyum meremehkan. "Masih mending saya kerjain walau satu! Kalo pun nilai saya kosong, sama sekali bukan masalah buat saya! Dan kalopun saya tinggal kelas, berarti ibuk repot sendiri uhuy! "
"Yakk! Bisa-bisanya kamu jawab! Udah saya sebagai wali kelas yang baik hati dan tak sombong, kamu saya berikan guru privat! " Bukan bu Lina kali ini yang menyahut tapi bu bunga.
Lesya meragah tak percaya. "Palingan juga guru privat yang ibuk kasih kewalahan sama saya! " Bu bunga berpikir ancaman apa yang pantas untuk Lesya. "Apa saya panggil orangtua kamu! "
"Jangan! Kalo ibu panggil gak masalah sih! Tapi jangan pake hape saya kayak pak Rio kemaren! " Bu bunga terdiam karena tak memiliki nomor Mayang. "Gak punya kan bu? Udah bu jangan dipanggil! "
"Mau saya kasih bu? " tawar Letha sok manis. Lesya menoleh ke arah adiknya itu. Pakaian yang masih sama seperti tadi membuat emosinya kembali naik namun dia mencoba agar tetap bersabar.
"Kamu? Letha! Kenapa kamu pake rok yang diatas lutut? Ini sekolah! " Letha menunduk bersalah. Dia tak biasa dibentak ataupun ditegaskan oleh orang lain selama ini. "Maaf bu" cicitnya.
"Panggil orangtua kamu ke sini! " Lesya terdiam sejenak berbeda dengan Letha yang dengan cepat mengambil ponselnya dan menelepon Gilang.
Benar saja! Gilang yang berada di seberang sana mengangkat telepon dari Letha dengan senang hati. Lesya menetralkan kembali mimik wajahnya seperti biasanya.
📞 Halo Ar? Kenapa hm? Butuh apa?
📞 Pah, papah bisa dateng gak ke sekolah aku sekarang?
📞 Oke, bisa kok! Kebetulan ini jam istirahat.
📞 Aku tunggu ya pah!
📞Iya,
tuttttt!
__ADS_1
"Sudah bukan? Sono pergi hus hus.. " sinis bu Lina. Bu bunga menatap Letha aneh. "Kenapa saat kita telepon pake nomor Lesya gak di angkat? "
Lesya mengangkat bahunya acuh. "Sibuk ibuuukkk bunggaaa... " Bu bunga segera pergi sendiri tanpa membalas ucapan Lesya. "Bumil s*nting! "
"Apaa?! " Lesya tercekat. Ternyata cibirannya terdengar oleh bu bunga. "Kenapa bu? " polos Lesya.
"Udah Sya! Kasian bumil emosinya naek turun! " Lesya mengangguk menyetujui ucapan Luna. "Kalian berdua awas aja! Hoekk! "
Lesya dan Luna tertawa geli melihat bu bunga yang pergi karena ingin muntah. "Udah puas ketawanya? Sekarang kamu sama Elvan bersihin lapangan basket sekarang! "
Lesya melotot tak terima. "Mana mungkin dua orang beresin lapangan basket! " Bu Lina meletakkan jarinya di dagunya seolah berpikir hukuman yang lebih pantas didapatkan mereka. "Bersihin gudang no debat! "
"What the fck?! " Luna menepuk-nepuk pundak Lesya seolah menyalurkan kesabaran. "Sabar Sya! Gw tau ini gak gampang! "
"Udah! Yang lain bisa pergi ke kelas masing-masing sekarang! Ketauan bolos saya hukum! "
Letha mengepalkan tangannya erat. Dia berbalik dan sengaja mendorong pundak Lesya keras lalu keluar dari ruang guru.
Lesya hanya menatap kepergian adiknya yang disusul kedua teman dia, Nayla dan Amel. "Sya, gw pamit! Byee... Selamat menjalani hukuman echaa.. " Lesya menatap malas sahabatnya itu yang pergi dengan Lisa dan Leon.
Keempat kawan Elvan juga sudah pergi ke kelas mereka. Dengan berat Lesya melangkah terlebih dahulu tanpa menatap Elvan. Tak lupa menyambar tas ranselnya dan meletakkannya di pundak kanannya.
...~o0o~...
Matahari sudah berada tepat di atas. Sepasang pasutri masih mengerjakan hukuman mereka di gudang. "Huufftt! " Deruan nafas Lesya yang tak teratur terus terdengar karena lelah membersihkan gudang.
Lesya duduk dan membuka ranselnya. Dengan cepat dia mengulurkan tangannya menyambar botol minum yang dia bawa dan meneguk nya. "Hah! Seger! "
Elvan yang melihat itu berjalan dan duduk di sebelah Lesya. "Capek? " Lesya mengangguk malas. "Enggak! Pake nanya lagi! Iya lah! Gara-gara elo yang kerjain tugas gw jadi gini kan?! "
"Kalo gak selesai emang gak dihukum juga? " Lesya terdiam sejenak. Dia yang sudah tiga tahun bersekolah di sana tahu, benar-benar sudah tahu bagaimana sikap bu Lina dan guru lainnya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1