Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
381: Skizofrenia


__ADS_3

"Pertama, janin pasien dinyatakan keguguran! "


"Kedua, karena benturan keras dikepalanya tak sengaja mengenai matanya, pasien mengalami kebutaan! Dan itu artinya, butuh donor yang tepat karena mata pasien yang cerah harus sesuai dengan kemampuan mata cerah pasien. Jika pihak keluarga bersedia dan ada yang sama berkemampuan, kita dapat melakukan operasi setelah persetujuan dari kedua belah pihak."


"Ketiga, "


Semua orang terdiam menunggu ucapan Sarah yang sengaja di jeda kembali terlanjut. Tampak Sarah yang menghembuskan nafasnya entah kenapa sebelum melanjutkan ucapannya.


"Skizofrenia Lesya kambuh lagi."


Hening!


Braakkk!


Cakra benar-benar meninju tembok dinding di sampingnya. Lelaki itu tampak menahan amarah. Terlihat jelas tenaga yang digunakan sangat besar. Temboknya saja sudah sedikit retak. Elena yang berdiri di samping Alam tersentak kaget dan mengelus dadanya.


"Cakra tenang dulu napa! " kesal Alam memindahkan Cakra agar tak dekat dengan tembok. Dapat bahaya jika lelaki itu kembali geram dan berimbas pada tembok dinding rumah sakit.


"Gimana gw mau tenang Lam?! Lesya tuh udah dinyatain sembuh dari skizofrenia dan sekarang kambuh lagi! " kata Cakra sedikit emosi. Alam menoyor kepala Cakra pelan dan mengisyaratkan agar lelaki itu diam saja dibanding bersuara.


"Shutt! Udah mending lo diem, sekali lo ngomong cuman manasin suasana doang! " ucap Alam sedikit galak. Cakra hanya berdecak pelan saja dan menutup mulutnya sesuai ucapan Alam.


"Kambuh? Memang sebelumnya Lesya ngalemin skizofrenia ya? Sedari kapan? Kok selama ini dia biasa aja? " tanya Mayang secara beruntun. Suasana tampak hening. Tak ada yang ingin menjawab pertanyaan Mayang itu. Hingga suara Felicia lah yang angkat suara dan menjawab pertanyaan Mayang.


"Lesya pengidap skizofrenia sejak kelas 2 SD! Vion yang kasih tau ke gw kalau Lesya lebih suka nyakitin dirinya sendiri dan berhalusinasi. Walaupun kita kenalnya bukan dari kelas 2 SD, tetap aja Lesya pernah ngomong gitu sama Vion. Dan kalau tadi kata Sarah penyakit ini kambuh lagi, berarti belakangan terakhir ini dia sudah lama terlihat layaknya orang normal." ucap Felicia.


"True! Semenjak kelas 11 dia udah gak pernah ngeluh minta obatnya lagi. Lagian kalian gak ada yang ngasih obatnya apa?! Kena imbas nih gw, dilempar kaca! " omel Sarah beralih menatap tajam Alam dan Cakra.


"Ya maap, gw gak tau waktu perang gini dia kambuh lagi." kata Alam menutup mulut Cakra yang hendak berbicara.


"Expired, " jawab Felicia.


Pyaaarr!


Sarah bergegas masuk dan tak menanggapi jawaban Alam dan Felicia. Suara gebrakan yang berasal dari ruangan Lesya membuat suara orang menoleh. Memasuki ruangan putih itu secara bersamaan, mereka terkejut karena melihat pecahan kaca yang disebabkan pukulan dari Lesya tentunya.


"Lesya?! Aduhh, lo ngapain jalan-jalan ke sini sih? Ngancurin kaca jendela lagi! Nanti luka lo kebuka, mau lo? " omel Sarah lalu menarik pelan Lesya dari serpihan beling akibat ulah Lesya.


Ya, Lesya yang tak percaya jika dia tak dapat melihat dunia ingin membuktikan jika itu sekedar mimpi atau bukan. Berjalan tertatih-tatih dengan langkah pelan, lesya meraba dan sekelilingnya hingga menemukan jendela kaca di ruangannya. Sejenak ide gilaa muncul di benak Lesya hingga berniat menghancurkan kaca jendela itu.


Pyaaarr!

__ADS_1


Lesya membeku. Dia dapat merasakan darah dari tangannya keluar. Dan itu artinya, semua benar-benar nyata. Dia keguguran. Dia tak dapat puas melihat dunia. Karena tak terima, akhirnya Lesya hanya dapat berdiri dan terdiam saat Sarah menariknya jauh dari serpihan kaca yang dihancurkannya.


"Ya ampun, tangan lo juga berdarah!" cemas Sarah lalu meletakkan Lesya di brankarnya yang tak jauh dari sana.


Lesya yang sudah dalam posisi duduk di tepian brankar hanya diam saja. Rasa sakit ditangan dan perutnya seolah hanya sekedar angin. Dia benar-benar mati rasa sekarang. Dengan segera Lesya menepis tangan Sarah yang hendak mengobati lukanya. Dia enggan!


"Gw gak mimpi? " tanyanya.


Sarah terdiam. Mayang di sana beralih mencoba mendekati menantunya. Namun karena pendengaran yang dapat berfungsi, Lesya menepis tangan Mayang yang hendak memegang dirinya dari samping. Wajah datar yang kurang percaya, itulah ekspresi Lesya saat ini.


"Jawab kalau ini cuman delusi gw doang kak! " ucap Lesya dengan nada lirih. Sarah hanya dapat diam saja. Saat hendak memegang tangan Lesya, sang empu langsung menepis tangannya.


"Van, sini! "


Mayang yang berucap tanpa suara pada putranya, meminta agar sang pemilik nama dapat membantu. Elvan yang tanggap hanya menurut dan berganti posisi dengan Mayang. Sarah yang berada di depan Lesya mengkode yang lainnya agar menjauh. Setelah semua menjauh, hanya ada Elvan dan Sarah yang di depan belakang Lesya.


"Sya denger gw ya, kali ini lo sama sekali gak halusinasi ataupun delusi! Ini semua nyata, fakta Sya! " kata Sarah akhirnya setelah menarik nafas panjang. Lesya hanya diam saja mencerna dan sejenak mengacak-acak rambut panjangnya.


"Keluar! " titah Lesya.


"Tapi tangan lo be--- "


"KELUAR GW BILANG?!! " bentak Lesya membuat Sarah memejamkan matanya.


"Gak perlu! Mending lo keluar?! " dingin Lesya. Sarah lagi-lagi menghembuskan nafasnya. Mengkode Candra yang menatapnya, seolah tahu lelaki yang dikode itu keluar dan mengambil tali.


"Yakin? " tanya Candra ragu.


"Mau gimana lagi? " balas Sarah.


"Harus banget ya? " ragu Mayang.


"Biasa harus diginiin dulu baru mempan Tan, takutnya ngelukain diri makin parah! " kata Sarah tak enak. Mayang menatap sendu ke arah Lesya dan mengangguk pasrah saja.


"Kenapa gak benda tajam aja yang dikeluarin? Gak perlu nyampe diiket kan bisa? Takutnya tangannya yang membiru makin bengkak." kata Sella angkat suara.


"Bener, kenapa gak benda tajamnya yang dikeluarin? " timpal Mily yang setuju dengan pemikiran Sella. Alam menggelengkan kepalanya. "Kita pernah coba tapi kukunya sendiri yang dipake buat ngelukain diri! " kata Alam.


"Kalau dibiarin sendiri keadaannya makin parah, jadi kita perlu ekstra sabar kalau kena amuk dia." ucap Cakra lagi.


"Lakuin yang terbaik asalkan bisa kembali normal lagi! " kata Galang angkat suara. Semua mengangguk serempak dan mulai menjauh di kala Cakra dan Candra akan memulai aksi mereka untuk mengikat tangan Lesya.

__ADS_1


Namun sayangnya saat Cakra hendak memegang lengan Lesya, dengan segera dipelintir hingga Cakra yang membungkuk menahan sakit dibuat Lesya. Sepertinya gerakan Cakra terdengar di telinga Lesya.


"Jangan kira gw tuli ya! Gw denger dan gw gak mau diiket! " tanggap Lesya datar lalu menepis tangan Cakra hingga tersungkur ke bawah. Cakra meringis pelan dan beranjak berdiri.


"Lo aja Lam! "


"Serem woee, takut kena cakar gw! " bisik Alam pelan. Cakra mendengus sebal. Lalu apa bedanya dengan dia? Menatap Elvan yang masih diam dengan memperhatikan gerak-gerik Lesya sedari tadi, akhirnya ide muncul dalam benak Cakra. Mungkin dengan Elvan sebagai tameng, Queennya itu dapat luluh.


Takk! Ckerrr!


Lesya menepis kasar tangan Elvan yang hendak memegangnya. Tatapan matanya beralih menatap nyalang tanpa takut. Bahkan Elvan yang tanpa sengaja dicakar oleh Lesya meringis pelan saja di dalam hatinya. Benar kata Cakra, sangat tajam!


Sarah yang tak tahu bagaimana akhirnya berniat mengambil sebuah kain dan sebelumnya diberikan obat bius dengan dosis sedikit tinggi. Catattt, ini hanya sedikit tinggi. Sebenarnya bukan apa-apa namun Sarah tahu lebih parah jika Lesya sadar dibandingkan tertidur. Apalagi pada saat hari pertama setelah sekian lamanya kambuh. Pasti sulit nantinya!


"Eemmm!!! "


Lesya terus memberontak di saat mulutnya hendak dibekap dengan kain yang sedikit basah. Hidungnya yang masih berfungsi dapat menghirup jelas obat pengaruh tidur itu. Menggelengkan kepalanya terus dan mencoba berontak, entah mengapa arah duduk Lesya berubah menjadi menghadap Elvan. Menutup seluruh wajahnya di perut lelaki itu, aroma darah yang tercium sama sekali tak mengganggu dirinya.


Tes!


Elvan membalas pelukan Lesya dan mengusap pucuk rambut istrinya. Isakan kecil mulai terdengar dan bahkan tubuh yang dia peluk sedikit bergetar. Mengkode yang lainnya agar tak terlalu keras, akhirnya semua memilih menjauh saja dan membiarkan kedua pasutri itu saling melengkapi satu sama lain. Di saat satunya butuh, yang lainnya harus dapat menguatkan. Itu melengkapi bukan?


"Hikss, sakit! " racau Lesya.


"Apanya yang sakit? " bingung Elvan.


"Gak tau, sakit aja! " jawab Lesya jujur.


Oh Tuhan, ini gimana maksudnya?


Sakit tapi gak tau dimana!


Oke sabar :)


Crekkk!


Isakan kecil yang keluar di bibir Lesya terhenti. Justru kembali tertawa merasakan tangannya yang dia cakar kembali mengeluarkan darah di balik tubuh Elvan. Mily yang melihat Lesya mencakar tangannya sendiri melotot kaget.


"Lesya, aduhh lo ngapain sih nyakar diri sendiri?! " omel Mily yang langsung menghentikan aksi peluk memeluk itu. Bahkan Mily melupakan panggilan formal mereka dan berganti dengan logat lo-gw saat berbicara dengan Lesya.


Melihat tangan Lesya yang berdarah tentunya mereka terkejut termasuk Elvan. Dengan sigap mengambil alih kotak P3K, Sarah menyerahkan pada Elvan saja. Selanjutnya dokter perempuan itu menarik Mily agar mmenjauh dari kedua pasangan itu.

__ADS_1


"Semuanya dimohon bubar yah, saya mau bicarain penting soal keadaan pasien." ucap Sarah yang bersikap layaknya dokter profesional. Semua saling menatap dan menurut keluar saja kecuali Elvan yang mengobati luka Lesya tanpa bantahan dari sang empu.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2