Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
41: Rooftop 2


__ADS_3

"Rencana lo apa dek? " tanya Alam. Suasana mulai serius. Tak ada yang bercanda lagi.


Lesya menjeda ucapannya, "Jadi gini . . . " jedanya. Mereka bertiga sontak membuka lebar telinga mereka dan penasaran rencana Lesya selanjutnya.


"Ada deh! Rencana gw masih blom ada yang tau. Karna gw gak mau kejadian waktu itu terulang" Mereka menghela nafas sabar.


Mereka tak masalah sebenarnya. Namun, mereka juga ingin siap siaga saat dibutuhkan. Lesya terkekeh melihat wajah masam mereka.


"Serah lo dah Sya! Gw boleh balik dulu kagak? Ada kelas nih" Alam melirik jam tangannya yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Cakra mengangguk setuju dengan ucapan Alam, "Iya nih, kita sama kelas" Lesya memutar bola matanya malas.


"Lo mah ketemu pacar lo dulu baru masuk kelas" Cakra menyengir tanpa dosa, "Tuh tau, gw balik ya sama si Alam"


Alam menoyor kepala Cakra, "Heh! Abang woy! A.B.A.N.G! " tekannya. Cakra mengaduh kecil.


"Iya maksudnya bareng bang Alam" Lesya mengangguk, "Lewat tebing ono aja" Lesya menunjuk tebing dekat rooftop dengan jari telunjuk nya.


Cakra dan Alam mengiyakan arahan Lesya. Setelah mereka sudah tak terlihat, kini di rooftop tersisa Lesya dan Leon saja.


Leon kagum akan sikap Lesya yang dapat menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, teliti, detail tak sepertinya yang ceroboh.


Dia juga kagum dengan sosok pribadi Lesya. Cantik natural, baik, tegas, berwibawa, mandiri, kuat dan tegar.


Lesya menatap langit biru yang terlihat jelas karena dirinya berada di rooftop.


"Sya, maafin gw ya! Karna gw, lo kecolongan" Lesya menepuk bahu Leon berisyarat tak apa, "No problem! It's oke"


"Sya, gw mau jujur sama lo" ucapnya tiba-tiba. Bertepatan ada orang yang menguping pembicaraan mereka di belakang pintu.


Karena pintu tak tertutup rapat, dia bisa mendengar ucapan Leon barusan.


Lesya menoleh dan tersenyum tipis, "Gw udah tau kok" sahut Lesya tiba-tiba.


"T-tau dari mana? " tanya Leon tak percaya. Lesya tak menjawab ucapan Leon. Dia menikmati semilar angin yang menerpa wajahnya seraya memejamkan matanya.

__ADS_1


"L-lo tau apa? " Lesya membuka matanya perlahan dan menatap Leon lekat, "Gw tau lo suka sama gw kan? " tanyanya sambil memiringkan kepalanya sedikit.


Leon terdiam. Melihat tingkah Leon yang terdiam membuat Lesya ikut terdiam. Hening! Hanya itu yang ada saat ini.


Tiba-tiba, Leon memecahkan keheningan tersebut dengan kata-katanya. Lesya mendengarkan baik-baik satu per satu kata yang terlontar.


Orang yang menguping diam dan menyimak pembicaraan kedua orang berbeda gender tersebut. Bahkan dia sempat terkejut dengan pengajuan Leon yang berani mengungkapkan perasaannya.


"Gw suka sama lo yang selalu mengutamakan keluarga dibandingkan nyawa lo sendiri, selalu sayang walau mereka kadang ngabai-in lo, lo selalu kuat dengan semua masalah yang lo hadapi dan selalu berusaha tersenyum di hadapan mereka" ucap Leon memandang langit biru di atasnya.


"Gw juga kagum sama sikap lo yang dewasa, tegas, mandiri, tegar dan selalu bijak ngambil keputusan" lanjutnya lagi.


Leon terkekeh menerima kenyataan saat ini. Lesya menatap heran Leon yang tiba-tiba saja terkekeh.


"Gw sempet gak nyangka lo udah punya pawang! Dan dari situ gw belajar kalo gw harus ikhlas ngelepasin lo. Dan gw berharap lo sama pawang lo bahagia"


Lesya tersenyum. Dia mengangguk mengerti ucapan Leon untuk bahagia.


"Tapi lo tetap keluarga gw kok! Sama kayak Luna" Leon mengangguk., "Sisa gw sama Luna yang jomblo"


"Gimana pun juga, gw tetap abang lo yang ke tiga! " Lesya memutar bola matanya malas, "Beda 3 bulan doang elah! "


"Sama aja! " Lesya mencibir malas, "Serah lo aja! " Leon merangkul Lesya gemes.


"Lepas or multilasi? " dingin Lesya. Leon melepaskan rangkulan nya. Lesya memang tak suka disentuh oleh orang asing. Termasuk Leon, Luna, Alam dan Cakra!


Leon mencibir, "Hilih! Galak lo Sya! Emang mau si ketos sama lo? " Lesya membanggakan dirinya, "Jelas! Gw cantik"


"Ta--- " ucapan Leon terhenti dan melihat pintu yang terbuka karena ulah seseorang. Lesya yang bingung, mengikuti arah pandang Leon.


Mereka menelan saliva susah payah. Habis sudah mereka kali ini! Rupanya Elvan yang membuka pintu dan berdiri menatap tajam dua manusia di depannya.


Takut? Tidak! Mereka hanya malas mengerjakan hukuman mereka. Apalagi Lesya! Hukuman yang Lesya jalani selalu saja banyak.


Mau kabur? Tidak bisa! Aneh saja jika Lesya kabur, dia pasti selalu tertangkap oleh Elvan. Mana dibelakang mereka disusul ke-empat teman Elvan.

__ADS_1


Mamp*s? Jelas! Lesya lega karena disana sudah tak ada Alam dan Cakra. Jika ada? Habislah semua!


Elvan menatap tajam kedua manusia yang menyusahkan dirinya. Guru? Tentu saja! Dia harus mencari keberadaan dua manusia yang membuatnya harus membolos juga.


Begitu juga dengan ke-empat temannya. Bahkan seluruh isi sekolah sudah mereka cari. Ternyata ada di rooftop!


"Masukkin baju lo! Pasang dasi lo! " ucap Elvan dingin menunjuk Leon. Jika Lesya? Dia tak mungkin menyuruh Lesya memasukkan bajunya di sini bukan?


Leon mengangkat tangannya ke atas dan memasukkan bajunya. Tak lupa memasang dasinya di lehernya. Elvan menyuruh Valen, sebagai wakilnya menangani Leon.


Valen membawa Leon ke ruang OSIS. Ketiga temannya mengikuti Valen ke ruang OSIS. Sisa Lesya dan Elvan yang berada di rooftop.


Suasana tampak hening. Tak ada suara yang keluar. Pintu rooftop sudah tertutup rapat-rapat.


"Masukkin baju lo! " Lesya melotot, "Di sini? " Elvan mengangguk malas. Menurutnya, itu pertanyaan yang tak masuk akal bukan?


"Kagak! Enak lo! " tolak nya mentah-mentah.


"Masukkin atau. . . " Elvan mendekatkan dirinya kepada Lesya. Lesya mundur perlahan-lahan hingga terbentur tembok rooftop.


Lesya berusaha untuk tenang di situasi kali ini. Bahkan dirinya waspada takut Elvan melakukan yang tidak-tidak.


"Ma-mau apa lo? " tanya Lesya sedikit ketakutan. Ini bukan pertama kali baginya.


Banyak orang yang mendekati dirinya saat dia dan Luna bekerja di bar sebagai betender. Tapi, kali ini Lesya benar-benar merasakan waspada yang berat.


Elvan memiringkan wajahnya. Posisi mereka sudah dekat. Bahkan, sangat dekat! Lesya bisa merasakan aroma mint khas Elvan.


Begitu pula dengan Elvan yang bisa menghirup aroma khas bayi Lesya. Tangan Elvan memasuki area saku celana Lesya.


Dia mengambil dasi Lesya yang berada di saku dan mengeluarkannya. Mata Lesya menoleh ke samping. Dimana tangan Elvan memegang dasi Lesya di samping wajahnya.


"Pasang atau. . . " Lesya langsung mengambil dasi. Namun, tak sampai karena tubuh Elvan lebih tinggi.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2