
Melihat kepergian Alam, satu per satu orang mulai pergi dari sana. Termasuk Lisa yang pamit pergi dengan keluarganya. Saat ini Mayang membujuk Letha agar kembali pulang di jalanan penuh darah itu. Pasalnya, banyak mayat yang masih terjejer di jalanan itu. Dan aroma darahnya sangatlah amis.
"Tha, ayo pulang! " ajak Mayang.
Letha menggeleng kuat menolak ajakan Mayang. "Tapi tan . . . " jeda Letha. Mayang menghela nafasnya panjang. "Mendingan kamu ikut tante pulang terus tanya sama Lesya maksud ucapan dia apa oke? Tante juga bingung karena mendiang mami kamu juga gak pernah bilang soal ini! " tawar Mayang lembut. Dia tahu betapa bingung dan syoknya Letha mengetahui kenyataan itu.
Akhirnya dengan terpaksa Letha ikut pergi dan menyisakan Leon dan Cakra di sana. Tiba-tiba saja Leon angkat suara memecahkan keheningan. "Kalau gw jadi Letha beneran syok gw mah! Apalagi Queen nyembunyiin hal beginian, kasian gw! " ucap Leon.
Cakra hanya menatap Leon sekilas dan menepuk-nepuk pundak lelaki yang dia anggap adiknya itu. "Gw juga tapi dibalik sikap Lesya yang tertutup, dia punya alasan besar yang gak mau buat orang sekitarnya sedih" ujar Cakra.
"Gw penasaran jadinya, apa kalau gw minta tolong sama Lesya dia bisa nemuin kakak kandung gw? " menolog Leon bingung. Cakra hanya diam tanpa menjawab saja. Biarkan semua jawaban dari pertanyaan Leon semua keluar dari mulut Lesya suatu hari nanti.
Jika kalian bertanya tentang keberadaan Vayleen, anak kecil polos mungil itu memanglah masih di sana. Dengan cepat dia datang dan mengajak Leon berkenalan. "Hai om, " ucapnya.
Leon menoleh ke arah sampingnya. Dia sedetik terkejut dan mendatarkan wajahnya. Cakra tertawa terbahak-bahak mendengar panggilan ‘om’ yang terlontar dari malut polos Vayleen untuk Leon.
"Gw masih muda ya, panggil kak aja! Mana orangtua kamu? " tanya Leon tanpa sadar jika di depannya ini adalah anak Vion dan Felicia. Vayleen hanya menggeleng kecil menjawab pertanyaan Leon. "Papa sama mama pergi ninggalin Vay sendiri di sini! "
"Beg* lo Yon, anak Vion sama Felicia itu bah! Gak sadar atau emang lo lupa sih? " kata Cakra menepuk kecil tenguk leher Leon. Leon hanya mangut-mangut paham saja. "Yaudah sekarang adek ngapain di sini? Sepi loh, bau mayat! " ucap Leon.
"Vay udah biasa uncle! Oh iya, Vay boleh tanya gak, kenapa kakak cantik itu musuhan sama papa mama Vay? "
__ADS_1
Vay bertanya dan menyebut nama Lesya dengan kata ‘kakak cantik’ dengan polosnya. Leon hanya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Dia merasa aneh dan senang mendengar Vayleen mengatakan jika dirinya adalah uncle. Biarkan saja deh jika Leon di sebut uncle oleh Vayleen. Dia juga senang kok!
"Em, kakak cantiknya yang mana? Yang nabrak kepala papa kamu? " tanya Cakra ikut menyahut dan dibalas anggukan kepala Vayleen. Leon dan Cakra berpandangan lalu beralih menatap Vayleen.
"Kalau soal itu kamu yakin mau tau? " tanya Cakra lagi lalu berjongkok menyerupai tinggi Vayleen. Anak kecil itu hanya membalas anggukan kepalanya dari pertanyaan Cakra. Leon pun menghela nafasnya panjang sebelum memulai cerita.
"Jadi gini dek, dulu tuh orangtua kamu temenan baik sama Lesya. Nah mereka tuh putus hubungan pertemanan karena Lesya udah tau kalau pembunuh papinya itu papa kamu. Nah, sementara mama kamu dia putus hubungan sama Lesya karena mama kamu dulu suka sama papa kamu. Dan mama kamu juga gak suka waktu papa kamu deket sama Lesya. Nah jadi mulai dari situ mereka musuhan nyampe sekarang! " jelas Leon yang jujur dengan alur cerita.
Takkk!
Cakra menyentil kening Leon keras hingga lelaki itu meringis kecil. Sementara Vayleen hanya mengangguk paham saja. "Ouch, kenapa sih bang?! " protes Leon tak terima.
"Ya lo sih?! Kalau Lesya tau kalau lo ember, mamp*s lo! " ucap Cakra. Leon menepuk jidatnya pelan. Dia melirik ke arah Vayleen dan memegang kedua pundak anak kecil itu. "Plis dek, jangan bocorin ke orang lain ya, pliss! " pinta Leon memelas.
~o0o~
Berbeda di sisi Lesya yang sudah berada di kediaman Grey. Dia masih fokus memberi obat di sekitar luka yang di dapatkan Elvan tadi. Walau Elvan sangat ahli, tak dipungkiri dia adalah manusia biasa yang pastinya memiliki kekurangan.
"Sstt, " ringis Elvan merasakan sakit di sudut bibirnya. Lesya menghela nafasnya dan meletakkan satu kapas yang dia pegang di nakas. Pikirannya saat ini perlu direndam agar tak melampiaskan emosionalnya di hadapan orang lain.
"Lagian lo ngapain sih ikutan tawuran gitu?! Itu urusan Ice Blue sama Lion Claws bukan Tiger Wong! " tanya Lesya dengan nadanya yang tak bersahabat. Mungkin karena gadis itu masih mengingat kejadian dimana dia membentak ayah kandungnya.
__ADS_1
"Mereka bawa bunda sama ayah, mau gak mau gw harus maju! " jawab Elvan.
Lesya menatap lelaki yang dihadapannya serius. Dia baru menyadari keberadaan Mayang dan Elena di sana. Bahkan dia berpikir keras apa penglihatannya itu benar atau salah. Karena dia tak mempedulikan siapapun yang ada di sana tadi. Melirik saja sudah tak peduli apalagi lihat! Namun dia samar-samar mengingat jika Elena dan Mayang berada di sana.
"B-bunda ada? "
Elvan mengangguk saja membalasnya. Dia meringis kecil saat merasakan perih di bagian perutnya. Karena pasalnya tadi saat tawuran Elvan juga mendapatkan luka gores dari Vion. Begitu juga dengan Vion yang mendapat luka gores juga dari Elvan di jidat Vion sendiri.
Lesya tersadar dan kembali mengambil peralatan P3K yang ada di atas nakas kamar. Sementara saat Lesya berbalik, gadis itu terkejut melihat Elvan yang bertel*njang dada. Dan yang menjadi permasalahan Lesya adalah gizi mata yang mendapatkan penglihatan cerah tentang roti sobek milik lelaki secara langsung. Saat di club malam memang dia sudah biasa melihat namun yang kali ini luar biasa! Menutup matanya dengan reflek, Elvan menoleh ke arah Lesya dan menautkan alisnya bingung.
"Ada yang salah? " tanya Elvan.
"Kenapa lo gak pake baju lo sihh.. " cicit Lesya kecil seraya menggigit bibirnya. Elvan tersadar dan tangannya bergerak hendak membuka mata Lesya. "See me! " ucap Elvan dibalas gelengan kepala Lesya.
"Open your eyes Le! "
"No! "
"Yaudah, gw obatin sendiri aja! " final Elvan pasrah melihat Lesya yang terus menolak membuka matanya.
Lesya sontak membuka matanya dan menahan tangan Elvan. Akhirnya dengan pasrah dia mengobati sekitar luka Elvan. Bagaimanapun juga, Elvan begini untuk dirinya dan Lion Claws. Hingga Elvan yang terus menatapnya akhirnya angkat suara membuat keheningan pecah dengan aura yang dingin di sekitarnya. Namun Elvan tak peduli akan aura yang dipancarkan Lesya. "Do you hate your dad? "
__ADS_1
"Yeah! I hate him. . . But, " jeda Lesya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗