
Di saat seperti ini, Elena membutuhkan bimbingan saran dari ibunya. Mayang yang tak tega melihat anak sulungnya terus menangis, menyuruh salah satu ART mengambilkan minuman untuk Elena.
"Bi, tolong ambil air putih ya! " Tak lama salah satu ART membawakan air minum untuk nona mudanya. Elena menerima dan dituntun duduk di sofa yang ada di antara Angga dan Mayang.
"Ayah paham kenapa kamu bisa se-emosional ini! Bukan karena nurun dari ayah doang! Tapi bunda mu juga gitu saat tau kalau ayah ketua TW dulu! "
Mayang mengangguk dan ikut menimpali perkataan sang suami untuk menasehati putri sulung nya. "Kamu harusnya berpikir dulu Len sebelum kasih pilihan sama Alam! Kalau kamu diposisi dia, apa kamu pilih Alam dibandingkan markasnya? "
Elena mengangguk polos. "Yaiyalah bun! Apaan masuk dunia gelap tapi gak utamain keluarga?! " ketus Elena asal. Mayang geleng-geleng kepala. "Contohnya sekarang! Kamu pilih Alam atau adik kamu, Elvan? " tanya Mayang.
Elena terdiam tak tahu harus memilih apa diantara keduanya. Dia menyayangi Alam walau saat ini membuat sakit hatinya dan dia juga menyayangi Elvan, adiknya walau sikapnya dingin padanya. "Enggak tau, bun! Elen gak bisa milih! " lirih Elena.
Mayang tersenyum simpul. Setidaknya Elena menjawab perumpamaan nya. "Nah, sama! Alam juga menghargai perjuangan gengster nya yang berhasil membuatnya berada di atas! Bunda paham perasaan kamu sekarang tapi, kamu gak boleh gegabah begini! " ucap Mayang bijak.
Angga tersenyum simpul dan mengelus pucuk kepala anak sulungnya memberikan pengertian. "Gak cuman kamu yang butuh diberikan pemahaman Len! Gak cuman kamu yang harus di pahamin sama Alam! Tapi kamu harus tau gimana perasaan Alam sekarang! Ayah yakin sekarang dia lagi bingung milih kamu atau markasnya! " tutur Angga.
Elena terdiam dan mencerna maksud dari tuturan kedua orang tuanya. "Ayah sama bunda bukan membela Alam! Tapi kita kasih saran supaya kali ini kamu yang mengerti perasaan Alam nak! Pernikahan bukan sekedar menikah, punya anak dan membesarkan anak! Kamu sekarang sudah dewasa dan harusnya lebih bijaklah menghadapi masalah di saat rumah tanggamu terguncang seperti ini! Selama ini Alam lah yang selalu memahamimu! Sekarang giliran kamu yang harus menurunkan ego dan memahami perasaan Alam! Jangan egois! " lanjut Mayang.
Elena mulai paham dan mengerti. Dirinya menunduk menutupi matanya yang mulai berkaca-kaca kembali. Pilihannya untuk mencari kedua orang tuanya untuk mensupport dirinya sekarang tak salah.
"Makasih bun, yah buat nasehatnya! Elen bakal berusaha nerima Alam kok! Tapi Elen mau nginap di sini 2 hari! " rengek Elena seperti anak kecil. Angga dan Mayang menepuk jidat mereka. "Baru aja di bilang, udah mulai cosplay jadi anak kecil! " gumam Angga geleng-geleng.
Mayang menghela nafasnya. "Yaudah! Kopernya biar bi Lilis yang bawa soalnya bunda sama ayah mau jemput Lesya di sekolah! Kamu mau ikut gak? " ucap Mayang. Elena mengangguk antusias.
"Mau bun! Emang waktu berangkat, Lesya ke sekolah naik apa? " kata Elena. Angga teringat akan hal itu. "Naik motor! Buat apa dong ya kita jemput tapi malah gak naik mobil? " ujar Angga. Mayang menggaruk tenguk lehernya karena baru menyadari. "Iya juga ya! " molognya.
Drrrttt!
__ADS_1
Mereka menoleh dan melirik ke arah ponsel Mayang yang berdering. Di saat seperti ini, mereka menerima panggilan dari nomor yang tak dikenal mereka. Betapa terkejutnya mereka saat mendengar jika pihak rumah sakit mengabarkan jika Lesya masuk ke sana.
📞 Halo,
📞 Dengan ibu dari pasien Aleesya Michella?
📞 Iya saya sendiri,
📞 Ibu silahkan datang ke rumah sakit RS LC. lyzya sekarang! Beliau sudah dipindahkan ke rumah sakit tersebut baru saja!
Jdarrr!
Bagai di sambar petir di siang bolong, Mayang tak dapat berkata-kata lagi. Tanpa sadar pihak rumah sakit menutup panggilan mereka. "Kenapa bun? " tanya Elena bingung melihat raut wajah Mayang saat ini yang sedikit pucat.
Mayang menyimpan ponselnya. "Sekarang kita ke RS LC. lyzya sekarang! " panik Mayang. Angga dan Elena semakin bingung dibuatnya. "Tunggu, siapa yang sakit? " tanya Angga berusaha menenangkan Mayang yang panik.
Mayang mengatur nafasnya dan mencoba menjelaskan. "Gak usah banyak tanya sekarang! Intinya, Lesya masuk rumah sakit enggak tau kenapa! " jelas Mayang.
_______
Sementara Lesya yang berada di rumah sakit miliknya terbaring tak sadar di atas brankar yang dia tempati. "Lo tunggu di sini dulu! " ucap Candra kepada Elvan yang membawa Lesya ke sini. Elvan mengangguk saja sebagai jawaban.
Ting!
Lampu operasi menyala dan Elvan duduk di kursi tunggu yang ada menunggu lampu operasi kembali tutup. Dirinya mengusap wajahnya dan mengambil ponselnya menghubungi Revan, sahabat di dalam gengster nya.
📞 Halo bos? Eh Vano?
__ADS_1
📞 Cari tau pelaku dari kecelakaan yang terjadi di jalan ******** sekarang!
📞 Eeh bentar!! Itu.. Penyusup di markas kita udah ketangkep siapa yang handle nih?
📞 Tunggu pelaku yang gw bilang ketemu!
📞 Maksud lo barengan gitu ngurusnya nanti?
📞 Hem!
📞 Yaudah, gw cari sekarang nanti gw kirim ke email lo ya Va---- *kepotong
Tuuuttt!
Mata Revan diujung sana membulat melotot. Belum sempat dirinya selesai berbicara, Elvan sudah menutup terlebih dahulu sambungan telepon mereka. "Yang nelpon siapa? Yang matiin siapa? Udahlah markicar! Mari kita cari! " ucap Revan sedikit kesal dengan sikap Elvan.
Kembali dengan Elvan yang asik berperang dengan pikirannya. Dia masih menerka tebak apa semua ini berkaitan dengan amanda sesuai dengan pesan Cakra?
Elvan masih asik berpikir hingga suara banyaknya langkahan kaki terdengar. "Van, gimana? " tanya Valen. Elvan menunjuk arah ruang operasi. "Nunggu dulu! Gimana Luna? " tanya balik Elvan.
Yah, Valen dan Elvan tanpa sengaja mengikuti Luna dan Lesya setelah pulang dari camping. Dan mereka melihat jika kedua gadis tersebut sudah tergeletak di tanah dengan darah yang mengalir.
Alhasil mereka membawa ke rumah sakit terdekat namun sayang alat-alat yang diperlukan tak ada. Dan mereka mencari kembali ke rumah sakit terdekat yaitu RS LC. lyzya tak lain milik Lesya sendiri.
Kebetulan mereka bertemu dengan Candra dan Sarah saat berada di koridor rumah sakit dan akhirnya mereka membawa ke ruang UGD untuk di operasi. Mereka membagi tugas dengan Sarah yang memeriksa kondisi Luna dan Candra menangani keadaan Lesya.
Cakra, Leon dan Alam yang mendengar berita tersebut dengan segera menghampiri Elvan dan Valen di kursi tunggu. "Gimana keadaan Luna dan Lesya? " tanya Alam saat tiba di sana.
__ADS_1
"Tunggu dokter yang nanganin! " jawab Valen. Leon terduduk berusaha tenang di kondisi sekarang. "Gw salah! Harusnya gw sama mereka bang! " lirih Leon dengan wajahnya yang menunduk.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗