
Luna duduk saja dan melahap makanannya. Leon tersenyum mengejek ke arah Luna hingga membuat Luna kesal, "Gw aduin ke bang Alam mamp*s lo! "
"Weess.. jangan dong! Kalo mau telfon aja bang caklit sono" Luna memasang wajah malasnya. Lesya menyodorkan nasgor buatan Mayang, "Mamam noh! Berisik sump*h"
Mereka melanjutkan acara makan mereka. Luna memakan bekalnya seraya mencicipi masakan Mayang, "Enak! Pantes lo tadi pelit" bisiknya kecil.
Lesya tersenyum kecil, "Kagak ya! Tadi tuh gw cuman belom nyobain Lun! Ya kali lo yang cobain padahal yang dikasih belom ngerasain"
"Eh iya ya" sadar Luna. Luna melanjutkan ucapannya, "Gw ngapa jadi iri sama lo sih sya! " Lesya melotot, "Ngapain iri sama gw? "
"Gak baek iri ama sahabat sendiri" sahut Valen nimbrung ke dalam percakapan Luna dan lesya. "Lah petir lo! " ketus Luna.
Lesya bingung sendiri, "Gw heran ngapa kalian gak akur? Padahal nih ya, biasanya orang benci bisa jadi cinta! "
Luna mengelus dadanya sabar, "Lo juga harus sadar sya! Kalo lo benci sama seseorang, bisa jadi cinta! " Lesya melotot, "No! Gw tetap mau jalanin rekor gw"
"Rekor emang dijalanin tapi kalo emang lo harus berjodoh, ya mau gimana lagi? " timpal Frans. Lesya menunjuk dirinya sendiri, "Dih, kok jadi gw dipojokin? "
Amel menyahut seraya melahap makanannya, "Ya elo ada-ada aja bikin rekor kayak gitu-an" Lesya mencibir, "Ya gak papa, secara gw maunya bebas"
"Trus tipe idaman lo kayak mana? " Lesya berpikir sejenak, "Yang bisa terbang, bisa nafas, em.. Udah kayaknya itu aja" ngawur Lesya.
Amel mendelik, "Ya kali bisa terbang! Di kira burung" Luna juga ikut menyahut, "Ya kali kagak nafas! Ya pasti nafas lah sya"
"Bod* amat lah gw gak ada tipe idaman! " jujur Lesya meminum minuman yang dia bawa dari rumah.
Nayla terpana dan sadar, "Sejak kapan lo bawa tas, bekal, botol minum ke sekolah Sya? " Mereka menoleh ke arah Lesya dan tersadar. "Eh iya ya, sejak kapan? "
Lesya memutar bola matanya malas, "Sejak. . . tadi" jawabnya. Benar adanya jika Lesya sejak tadi membawanya bukan? Hanya merekanya saja yang tak sadar.
Valen menatap tak percaya Lesya, "Serius ini trouble maker sekolah nih? " Lesya mengangkat bogemannya tepat di wajah Valen, "Pengen gw gampar lo? "
Valen menelan ludahnya kasar, "Ya kagak! Sensi amat lo" Luna menahan tawa nya.
__ADS_1
"Ya gw Lesya lah! Zelyra Aleesya Michella Fyo! Ngapa? Iri bener gw ke sekolah bawa buku, tas, sepatu, botol minum, sama bekal ke sekolah?! " kesal Lesya.
Berbeda dengan Letha yang terlihat murung. Nayla yang tak tega melihat Letha yang mengaduk-aduk nasinya saja angkat suara, "Di makan tha"
Letha menoleh dan menggeleng. Mereka juga melirik Letha yang tampak murung. Lesya menghela nafas panjang, "Klo gak mau makan, buat gw aja dah"
Letha dengan cepat langsung memberikan bekalnya yang masih utuh namun sudah terlihat aduk-aduk kepada Lesya. Lesya dengan cepat melahap bekal Letha.
Kriinggg...
Farel yang menatap Letha, tersenyum kecut. Dia tersadar dari lamunannya tentang kakak beradik ini, "Udah bell, ayok balik! "
Elvan yang selesai meneguk minuman-nya santai angkat suara, "Duluan! " Letha dkk, Lisa, teman-teman Elvan sudah kembali ke kelas mereka masing-masing.
Leon pamit karena ingin menemui orang yang dia suka entah siapa itu, "Sya, Lun, gw duluan ya" Mereka mengangguk sebagai jawaban, "Lo balik gih Lun"
Luna menggeleng, "No! " Lesya mengeluarkan aura nya, "Luna! " Dengan berat Luna kembali ke kelasnya karena dia melihat Elvan yang berjalan ke arah Lesya.
Lesya sudah selesai melahap makanan yang Letha berikan tadi. Kini sisa melahap makanan dari Mayang. Jujur saja dia sudah kenyang sejak tadi.
Elvan datang dan duduk di samping Lesya. Dia mengambil alih bekal dari Mayang, "Kalo gak kuat gak usah! "
Lesya mengambil bekal dari Mayang kembali, "Sayang kalo di buang" Lesya langsung lari terbirit-birit begitu sadar dirinya ingin muntah.
Beruntung di perpustakaan terdapat toilet khusus yang disediakan pemilik sekolah, Angga. Kebetulan Elvan diperintahkan bu bunga untuk menjaga perpustakaan.
Elvan dengan spontan mengikuti langkah Lesya ke dalam toilet. Karena hanya mereka berdua di sana, Elvan langsung masuk ke dalam toilet wanita.
"Hoekk.. Ah lega gw! " Lesya langsung terduduk lemas di sandaran pintu yang tertutup setelah puas memuntahkan isi perutnya di wastafel.
Elvan memberikan botol minumnya kepada Lesya. Lesya langsung menerima dan meneguk minuman yang diberikan oleh Elvan, "Jangan makan lagi! "
Dengan cepat Lesya menggeleng, "No! Orang capek masak jadi hargain hasil kerja mereka! "
__ADS_1
Elvan menyentil kening Lesya pelan hingga Lesya meringis kecil, "Gak gini caranya! " Lesya memayunkan bibirnya dan kembali meneguk minuman dari botol milik Elvan.
Mereka kembali ke meja yang mereka tinggalkan tadi. Lesya kembali melahap satu suap sendok ke mulutnya.
Elvan dengan cepat mengambil alih bekal dari tangan Lesya, "Jangan dimakan! " Lesya menggeleng, "Gak! Cape ya bunda masaknya tadi! "
"Oke! Gw yang makan! " Elvan dengan cepat melahap bekal dari Mayang untuk Lesya ke dalam mulutnya.
Setelah selesai, Elvan merasakan dirinya terlalu banyak makan hingga perutnya sedikit kembung. Dengan cepat Elvan berlari ke arah toilet setelah merasa dirinya ingin muntah.
Lesya mengikuti langkah Elvan, dia merasa sedikit bersalah dengan Elvan. Tak lupa dia membawa botol miliknya juga karena botol milik Elvan sudah habis sebab ulahnya.
Setelah puas memuntahkan isi perutnya di wastafel, Elvan memegang pinggir wastafel dan menunduk. Lesya menyodorkan botol miliknya begitu masuk ke dalam toilet.
Elvan meneguk minuman yang disodorkan Lesya seraya tersenyum tipis. Dia terus mendengar ocehan yang dilontarkan Lesya kepada dirinya.
"Katanya gak usah dimakan padahal lo juga yang makan kan?! Dan kalo memang lo gak kuat gak usah dimakan Pan! Kan jadi gini akhirnya! Bilang aja kalo lo gak kuat! Gak usah sok-sokan ganti-in gw buat makan! Pan, ma-mau apa lo?! "
Lesya terkejut di saat Elvan mendekatinya hingga mentok tembok. Elvan sengaja melakukan itu agar mulut Lesya diam.
Dirinya pusing mendengar ocehan yang terlontar dari mulut sang istri. Cara satu-satunya yang ampuh hanya mendekati Lesya dengan seperti ini.
brruuukk!
Lesya kini bisa merasakan aroma maskulin mint khas dari tubuh Elvan. Begitu juga dengan Elvan yang bisa menghirup aroma bayi dari tubuh Lesya.
Yap! Lesya memang tak mengunakan parfum, bedak, dan lainnya. Dia hanya menggunakan sabun bayi saja jika mandi. Sementara untuk keramas, Lesya menggunakan aroma mint milik Elvan.
Namun, pandangan mereka teralihkan dengan dering notifikasi ponsel Elvan. Elvan menoleh dan mengecup kening Lesya sekilas lalu pergi keluar toilet.
Tubuh Lesya perlahan kaku menerima-nya. Ini adalah pertama kali tanpa ada nya kejadian jatuh lagi. Dia menyadarkan dirinya dengan rekor yang dia buat, "Inget rekor Sya! "
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1