
Tujuh bulan berlalu dengan begitu cepatnya. Perut yang semula kecil kini sudah menjelma besar hingga membuat orang yang melihatnya dibuat meringis. Terkadang Lesya juga meminta dipijit secara langsung oleh Elvan. Beruntung setiap tengah malam Elvan terjaga dan tetap siaga menjaga ibu hamil itu.
Luna juga sudah melahirkan dengan normal tanpa hambatan apapun. Luna dan Valen sudah dikaruniakan seorang putri cantik dengan kulit putih, alis tebal, hidung mancung dan bibir tipis. Keduanya menamakan Kaileen Safira Isabella Clarence, anak kedua mereka setelah kehadiran Vayleen.
Tak jauh beda, begitu juga dengan masing-masing teman-teman Elvan. Letha, adik kembar Lesya itu sudah dikaruniai anak laki-laki dengan Farel yang dinamai Sean Fedrick Vlorans. Anak kedua bagi Letha, tetapi berbeda bagi Farel yang merupakan anak pertama.
Sementara Nayla dan Ken dikaruniai anak lelaki, sama seperti Letha dan Farel. Keduanya menamakan putra mereka Keano Fleur Dayfino. Berbanding balik pada kedua teman perempuannya, Amel dan Frans justru dikaruniai anak perempuan yang memiliki nama Priscilla Serrie Aboriza. Untuk saat ini, hanya tersisa Lesya yang masih mengandung.
Lalu diakhiri dengan Lisa dan Revan yang sudah memiliki anak perempuan. Revani Leonia Wrezakha, itulah namanya. Nama pertama adalah Revan, kata kedua di nama adalah nama mendiang Leon. Diakhiri nama marga Revan, anak Lisa dan Revan ini memiliki pipi yang lebih gembul dibandingkan yang lainnya.
Matahari siang hari ini membuat Lesya celingukan ke kanan kiri mencari keberadaan sahabatnya yang belum kunjung datang. Dia berada di rumah Luna sekarang karena dia bosan di rumah sendirian. Tadinya Luna izin pamit ke toilet, tetapi masih belum kembali saat ini. Padahal sudah sekitar setengah jam berlalu.
"Pei," panggil Lesya.
Sang empu yang sedang belajar di ruang keluarga menoleh. Alisnya terangkat dan berjalan mendekati Lesya. Keduanya cukup tersentak kaget karena tangisan yang berasal dari stroller yang ada.
"Astaga, Pei panggil Mamsy kamu ke sini!"
"Iya Kak- eh Aun,"
Lesya mendengus kesal dengan panggilan baru yang diperintahkan oleh Luna. Tante? Dia tak setua itu kali. Usianya baru menginjak dua puluh tahun saja. Katanya, karena Vay sudah menjadi anak Luna, sebutan juga dirubah jadi Aunty. Ck, kesal Lesya mengingat itu!
Lesya yang melihat kepergian Vay yang berlari kecil ke arah kamar mandi kembali mengelus dada. Suara tangisan putri dari sahabatnya cukup menggema. Menurut Lesya, suara tangisan itu sama seperti suara Luna berteriak. Sama-sama memekakkan gendang telinganya.
"Aduh cup-cup, yang sabar ya Ica. Aduh ini mamaknya mana sih?" ucap Lesya sedikit panik karena tangisan Ica—anak Luna dan Valen tak kunjung berhenti.
"Aduh, cup-cup anak Mamsy haus ya? Pai tolong ambilin dot di kamar Mam dong!"
__ADS_1
Luna yang baru datang terlihat mencoba menenangkan putrinya yang lebih rewel saat kehausan. Mendengar perintah Luna, Vay hanya mengangguk saja dan segera melangkah pergi melakukannya.
"Lo dari mana sih? Anak lo nangis dari tadi, lo belum keluar dari kamar mandi? Ngapain sih?" cecar Lesya curiga.
Luna menghela nafasnya. "Gw tadi mijit punya gw dulu, sakit soalnya. Tau aja si Ica orangnya gampang lapar," ucap Luna jujur dengan rasa penuh bersalah. Tak biasanya dia akan meninggalkan hingga sang anak akan menangis sekencang ini.
"Mam, ini botolnya,"
Vay yang baru datang sudah membawa satu tas perlengkapan bayi yang dibutuhkan. Luna dan Lesya menoleh mendengar suara bocah lelaki itu. Setelah mengucapkan 'terimakasih' Luna segera memberikan botol yang diisi ΑSΙ miliknya yang sudah dia pompa tadi.
"Vay pamit ya, mau ke kamar,"
Lesya dan Luna mengangguk dan mengiyakan pamitan Vay. Kini ruang keluarga hanya diisi oleh sepasang sahabat dan Ica—anak Luna juga Valen. Hanya terdapat dua pembantu saja yang bekerja di rumah Luna. Itupun hanya dibidang dapur dan beberapa kebersihan rumah. Selain itu, Luna semua yang mengerjakan. Katanya, kewajiban.
"Kenapa gak sewa pengasuh aja sih Lun? Lo 'kan harus nyiapin makan, minum, beresin rumah, urus butik Mama juga," ucap Lesya bertanya.
"Why not?" tanya Lesya.
"Kalau gw sewa pengasuh, anak-anak gw lebih deket sama pengasuh bukan sama gw. Kalau sewa pembantu, artinya gw gak bisa jadi ibu sekaligus istri yang baik. Itu kata-kata Mama dulu. Valen sih udah sering nawarin begitu, tapi gw nolak," bijak Luna menjelaskan panjang lebar.
"Woah, sama deh! Cuman lo lebih beruntung Lun, gw gak bisa nolak kalau sama KetBok. Kalau dia bilang pakai, ya pakai. Makanya ART di rumah masih banyak. Sekedar ke dapur aja gw gak boleh," curhat Lesya seraya melengkungkan bibirnya ke bawah.
Elvan memang sangat posesif mengenai hal yang berkaitan dengan istri dan calon buah hatinya. Namun, semua itu Lesya sukai. Itu tandanya lelaki itu sayang padanya bukan? Lesya beruntung mendapatkan perhatian semacam itu.
"Terus biasa di rumah ngapain dah?" tanya Luna seraya membenarkan posisi botol agar lebih nyaman. Lesya bersandar ke sandaran sofa.
"Paling mandi, makan, ngemil, nonton, main handphone, tidur, udah. Gitu mulu hidup gw semenjak hamil," jawab Lesya.
__ADS_1
"Ya emang sih harusnya gak boleh ngerjain dapur sama masalah kerjaan. Gw dulu juga begitu. Paling cuman ikut kelas yoga biar lahiran nanti lancar,"
"Nah! Itu doang selama ini. Kayak gabut gw selain ngunjungin Liger, Lion, Tiger, Coco, Baba. Lagian gw juga mager ke mana-mana, sakit pinggang gw,"
"Biasa sih kalau sakit pinggang. Minta dipijit aja sama Pak ketu biar mendingan! Tinggal hitungan minggu lo lahiran 'kan? Gw do'ain lahiran sahabat gw ini nanti lancar, amin sejuta kali!" ucap Luna tulus seraya mengulurkan satu tangannya untuk mengusap satu tangan Lesya.
"Amin ya Tuhan, amin. Btw, sakit gak sih Lun? Gw sempet lihat prosedurnya di browser, nyampe ada yang meninggαl loh cuman lahirin satu anak doang. Kaget gw lihatnya," lirih Lesya was-was.
"Emang itu kodratnya perempuan, Sya! Percaya sama gw, lo udah koma beberapa kali, lo dioperasi sambil buka mata juga udah berkali-kali. Gw yakin nanti lo bisa lewatin semuanya kok. Lo mau 'kan jadi orang tua buat anak lo nanti? Lihat senyum, tawa, nilai, wajah, tumbuh kembang anak lo nanti?"
"Ya mau lah!" cepat Lesya menjawab.
"Yaudah, lo tanam aja pikiran positif lo. Dulu sebelum Mama pergi juga, dia bilang gw begitu. Padahal 'kan gw belom hamil, tapi intinya lo kuat kok, Sya! Lihat gw, Lisa, Nayla, Amel, bahkan adek lo! Kita bisa kok hidup nyampe sekarang. Gak usah takut Queen nya Lion!"
Mata Lesya tampak berkaca-kaca mendengar hiburan sahabatnya. Dia memang mengkhawatirkan akan apa yang terjadi di kehidupan selanjutnya.
Namun, mendengar kata-kata bijak sahabatnya yang menampilkan sisi dewasa membuat dirinya merasa kuat kembali. Tak salah dia memilih tempat curhat sekaligus refresing karena Luna memiliki hiburan tersendiri sesuai dengan caranya. Menjadi pelawak juga ibu di satu tubuh? Luna pemiliknya.
"Thanks you Mamsy nya Pei juga Ica! Lope kebiji semangka umumu... haha..."
Lesya tertawa mendengar cibiran kecil dari Luna. Suasana haru kembali layaknya suasana rusuh mereka. Suasana yang jarang mereka lakukan karena sudah berfokus pada keluarga. Setiap pertemuan pasti ada perpisahannya tersendiri. Baik pisah dengan baik ataupun dengan paksa.
"Gw banyak belajar dari sini. Ternyata gak selamanya kita bakal sedih, Tuhan pasti buat matahari yang bakal nyinarin kehidupan kita. Lo udah punya Ica juga Pei dan gw pasti bakal balik ke rumah lo setelah punya calon anak gw nanti," ucap Lesya tiba-tiba dengan senyum tulusnya.
"Ikhlas, tabah, jalanin aja. Hidup gak selamanya indah. Pasti ada lika-liku di dalamnya. Kalau rencana Tuhan itu, ya itu. Kita cuman numpang di dunia, mau lawan pakai apa coba? Walaupun kita bisa bela diri, ya gak, Sya?" timpal Luna ikut-ikutan membuat Lesya tersenyum mengangguk setuju dengan ucapannya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1