
Lesya berjalan santai menuju lapangan sekolah. Baju yang dikeluarkan, rambut acak-acakkan, tas hanya dirangkul di satu pundaknya, tampang songongnya menambah kesan bad girl Lesya.
Lapangan tampang ramai di kerumuni siswa-siswi lainnya. Entah apa itu, entah kenapa Lesya sangat penasaran alasan mengapa lapangan tampak ramai.
Luna yang baru datang dengan cepat berdiri di samping Lesya dan menepuk pundak sahabatnya itu. "Wey! Baru nyampe? Ada apaan sih? " Lesya menggedik-kan bahunya tak tahu.
*"Letha kok begini ya gays? "
"Jelek gak sih? Kayak kesan cabe weh! Gimana ya reaksi Lesya nanti? "
"Mukanya juga putih bener! Gw kasian sama dua temennya weh" *
Banyak sekali sindiran yang dikeluarkan secara terang-terangan untuk Letha yang dikerumuni siswa-siswi di tengah-tengah. Dia meremas rok pendeknya seraya menahan amarahnya.
Menangis? Tentu! Bahkan cairan bening sudah terjun lolos tiga kali di pipi mulus Letha. Lesya yang mendengar nama adiknya di sebut dengan cepat memandang Luna. Begitu juga Luna!
"Lun? Denger gak? " Luna mengangguk kecil. "Nama Letha disebut kan? Gw denger! Jangan-jangan... Terobos Sya! "
Dengan cepat Lesya menerobos kerumunan diikuti Luna di sampingnya. "Minggir! " Sontak seluruh siswa-siswi memberikan jalan untuk Lesya yang ingin lepas dari kerumunan.
Lesya menatap tajam orang di sekitarnya lalu beralih kepada Letha dkk yang berada di depannya. Dia sendiri terkejut dengan penampilan Letha yang berbeda hari ini.
Bukan hanya Lesya saja! Namun Luna yang berada di sampingnya sama terkejutnya. Bahkan dengan reflek Luna mencubit pipinya sendiri. "Aw! Sakit! Bukan mimpi?! "
Hanya Letha saja yang berpenampilan beda. Amel dan Nayla berpenampilan seperti biasanya. Mengapa tidak terkejut? Jika penampilan Letha jauh dari kata sifatnya.
Rambut panjang di gerai walau hanya sepunggung, bajunya yang ketat, make up yang sangatlah menor, bahkan rok di atas lutut bahkan seoahanya. Lesya berdiam diri sejenak melihatnya.
Dengan cepat Lesya mengkode Luna agar membubarkan siswa-siswi yang ada dan dibalas anggukan oleh Luna. Geram, Lesya menarik Letha kasar menuju taman agar jauh dari keramaian. "Woy bubar lo pada! "
__ADS_1
* "Ah Luna mah gak seru weh! "
"Lagi streaming malah berhenti! Seru kayaknya yah! "
"Nanti kita lanjut waktu di kantin aje ye kan! "
"Bagus tuh! Kayaknya bakal perang saudara tuh! "
"Lo dukung siapa? Lesya atau Letha? Klo gw sih Lesya, my bebeb, eak! " *
Masih banyak celotehan tak jelas yang terdengar oleh Luna di telinga manisnya. Tiba-tiba saja Elvan dkk datang dan menghampiri Luna berniat bertanya. "Alun-alun! Ada apaan nih? "
"Kebetulan lo semua pada udah datang! Bantu bubarin nih semua orang pada dong! " Dengan cepat mereka membubarkan walau sedikit sulit karena Elvan tak ikut membantu mereka.
Beberapa menit berlalu, akhirnya siswa-siswi sudah bubar dan kembali ke kelasnya masing-masing. Nayla dan Amel juga sudah pergi menyusul Letha yang entah kemana di bawa Lesya.
Kembali kepada Lesya yang masih menyeret Luna ke area taman samping. "Awh! Lepasss kakk! " Lesya menghempaskan tangannya yang menarik Letha dan menatap Letha tajam.
Lesya hanya bisa sabar saja saat ini. Dia menatap datar ke arah Letha, adiknya itu. "Kenapa lo pake seragam yang kebuka gini hah?! "
Letha kali ini tak takut terhadap suara Lesya yang mengandung sedikit bentakkan terhadap dirinya. "Semua karena kakak! " Lesya melotot tak terima.
"ASAL KAKAK TAU YAH! AKU ITU PENGEN KAYAK NAYLA YANG DI SAYANG SAMA ORANGTUA BAHKAN ABANGNYA-!! Sedangkan aku? Disayang sama lo aja enggak! "
Lesya terdiam karena dia memang menyadari jika dirinya dan Letha jauh dari kata dekat. Bukan hanya itu saja! Sejak SD bahkan SMA saat ini, mereka sama sekali tak pernah akur.
Satu alasan dari Letha karena dia merasa semua kasih sayang diberikan kepada Lesya, kakaknya. Nyatanya tidak bagi Lesya!
Sekedar datang mengambil raport nya saja tidak! Mila lebih sering datang ke sekolah hanya karena Letha bukan Lesya. Hanya saja Letha yang salah mengartikan semua itu.
__ADS_1
Jangankan datang ke sekolah! Sekedar meniup lilin tanpa kue saja tak pernah. Sementara Letha dibelikan kue walau Mila harus rela mengorbankan dirinya yang disiksa oleh Gilang. Padahal mereka kembar!
Boleh tidak Lesya jujur mengatakan semua unek-uneknya yang tersimpan di lubuk hatinya yang paling dalam? Di saat SD, Letha pernah sekali masuk ruang BK karena ulahnya yang tak sengaja memecahkan pot bunga sekolah.
Mila yang dipanggil dengan sigap datang ke sekolah. Sementara Lesya? Mengangkat teleponnya saja tak pernah. Sebenci itukah Mila terhadapnya?
"Tha! Lo kalau tau semua soal gw apa lo bakal nyesel? APA LO BAKAL SADAR HAH?! Gak pantes Tha! Sekarang gw mau tanya! Kalo lo penampilan kayak gini, apa yang lo terima? Pujian? Enggak Tha! Yang ada LO DI HINA TERUS-TERUSAN KAYAK TADI! Lo mau hah? "
"Kalo lo bisa tampil sesuka lo, kenapa gw enggak coba? HARUSNYA LO SADAR TAU GAK SIH-!! Gw yang keluar rumah tuh gak gampang kak! Gw harus hemat seluruh kebutuhan gw, walau gw sering buang dikit! "
Sedikit? Lesya boleh tidak menampar Letha saat ini? Dia saja setiap harinya dapat melihat berapa besar uang yang keluar dari blackcard miliknya dari Arga dahulu.
"Sedikit? Lo gak tau apa yang gw jalanin selama ini Sya! Jadi lo gak pantes gw sebut sebagai seorang kakak! Gw kadang iri yah sama sahabat gw sendiri yang harta nya berlimpah dan sesuka hati keluar masuk mall! " lirih Letha.
Lesya tertawa kecil. "Uang? Uang lagi yang lo perlu hah?! Tuh! Makan tuh uang! " Lesya melemparkan tujuh lembar uang bewarna merah tepat di depan Letha. "Gak cukup segini! " sinis Letha.
Lesya melotot kan matanya. Hanya itu saja sisa uang hasil kerjanya. Apa belum cukupkah? Pikir Lesya. "Mau lo berapa? 50 juta? 100 juta hah?! "
"700 juta! Segitu doang yang gw perlu! Lo kan anak mami ya, jadi bisalah minta sama mami kalo enggak papa" sindir Letha pedas.
Lesya terkekeh kecil menertawakan bagaimana adiknya menyindir dirinya sendiri. Menyebut diri sendiri sebagai anak mami bahkan papa bukanlah lucu? Pikir Lesya terkekeh kecil.
"Ck! Minta sendiri sono! " Lesya melangkahkan kakinya berjalan beberapa langkah lalu terhenti mendengar ucapan Letha. "Ya sudah kalo enggak mau! Gw gak akan pernah anggap lo kakak gw! Lihat lo hidup aja gw gak sudi! "
Memori dimana Mila dan Mily bertengkar terlintas jelas dibenak Lesya. Kejadian yang membuat dirinya tak dapat berkata-kata apapun tentang itu.
Dengan cepat dia berbalik menghadap Letha. "Heh! Gw juga gak suka punya kembaran yang niru sebagian muka gw! Gw juga gak peduli kalo lo anggep gw ada atau gak ada! "
Lesya kali ini benar-benar pergi meninggalkan Letha yang mengepalkan tangannya erat.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗