Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
168: Go to Camp!


__ADS_3

Elvan mengangguk. Dirinya baru tahu jika ke empat temannya juga berada di bus yang sama. Perdebatan kecil dari Luna dan Lisa kembali terdengar hanya masalah perebutan kursi hingga anggota OSIS menoleh.


"Gw di sini ya! "


"Enggak! Pokoknya gw yang di sini! "


"Gw duluan nemuin! "


"Gw duluan liat! "


"Lo sono gek sama siapa! "


"Ogah! Lo aja sono sama yang lain! "


Valen berdiri dengan sigap melerai perdebatan tersebut namun justru dirinya yang terkena imbasnya. "Udah diem! Nanti juga ditentuin sama pak Rio atau gak bu bunga! Biar adil! "


"DIEM LO! " kompak mereka ngegas secara bersamaan.


Baik Luna dan Lisa memberikan tatapan saling membenci mereka. Sejak kejadian tadi, mereka mulai kesal satu sama lain. Lesya yang masih memantau dari samping supir bus masih belum berniat melerai.


"Heh! Gw yang nemu duluan ya gw dulu lah! " Lisa menatap sinis Luna yang tetap kekeh. "Banyak bangku kenapa milih yang ini?! " ucapnya. Luna menyunggingkan senyum miringnya. "Gak nyadar? Banyak bangku kenapa lo milih yang ini? "


Leon dan Valen hanya dapat menelan saliva mereka mendengar keributan itu. Letha yang berada di samping depan Leon menongolkan kepalanya. "Bisa diem gak sih?! " ucap Letha sedikit membentak.


Bukannya mereda, justru semakin memanas. Leon dan Valen saja tak dapat memisahkan kedua gadis yang beradu mulut itu. Frans, Ken, dan Farel juga tak mampu menghentikan debatan tersebut.


"Brisik! " omel Amel yang mendengarkan musik namun merasakan kebisingan. Begitu juga dengan Nayla yang merasa tak nyaman. "Woy! Berisik dibilang! Kalian cari perhatian ya buat orang bisa perhatiin kalian? "

__ADS_1


Luna dan Lisa masih tak berhenti saling menyalahkan. Bahkan tanpa mereka sadari mereka kembali mengungkit masalah tadi yang membuat Lesya mendelik akhirnya berjalan dengan lengan panjang yang sudah tergulung.


"Lo pikir gw takut sama lo hanya karena pangkat lo yang lebih tinggi dari gw? Gw sih kasian gak punya bokap ya? " remeh Lisa. Luna tertawa sinis. "Masih mending gw! Lo? Punya bokap aja lo sia-siain! Kalo gak punya? Nangis kejer lo! "


Blakkk!


Hening!


Baik Luna dan Lisa terdiam melihat Lesya yang menendang kursi yang mereka rebutkan. Bukan apa-apa namun letak kursi tersebut cocok untuk pribadi mereka hingga rela berdebat. Dekat dengan jendela, kursi dua, dan terdapat sedikit AC mobil. "Brisik! Cuman karena kursi bawa masalah pribadi? " tanya Lesya tajam.


Luna berdecak dan akhirnya memilih mengalah dan duduk di bangku yang masih kosong. Beruntung kursi yang sempat merasakan tendangan Lesya tak rusak ataupun patah. Leon mengusap dadanya kaget sejenak. "Sabar! "


Lesya akhirnya duduk di belakang Luna dan dekat dengan jendela. Memang masih banyak tempat yang dekat dengan jendela. Namun Luna entah mengapa lebih suka ditempat yang tadi.


Lesya meletakkan tas ranselnya yang lumayan besar di bawahnya dan mengeluarkan beberapa snack yang ada. Beranjak berdiri, Lesya dapat melihat jika wajah bete Luna terlihat. Bahkan rambut Luna sedikit acak-acakkan. "Nah! " tawar Lesya.


"Masih bete lo? " heran Lesya. Luna berdecak malas. "Ya iyalah! Bawa masalah mulu dia! " ucapnya. Lesya geleng-geleng kepala saja mendengarnya. "Serah dah! "


Beberapa menit sudah berlalu dan bus akan segera berangkat. Lesya yang kembali dari toilet sejenak, berlari dan akhirnya dapat kembali naik dan berjalan menuju tempatnya. "Gak ada lagi kan? " tanya bu bunga mengawasi.


GAK ADA BU!


Bu bunga mendelik melihat Lesya yang baru saja naik ke dalam bus. "Buruan duduk mau berangkat!" Lesya mengangguk malas. "Bentar buk! " kesal Lesya.


Bruumm! Nguengg!


Lesya yang masih berjalan menuju tempatnya, melotot saat bus dengan cepat melaju lalu kembali normal. Merasa tak seimbang, Lesya terjatuh di pangkuan Elvan yang berada di sebelah bangkunya. "Ouch! " ringisnya kecil.

__ADS_1


Beruntung saja Elvan dapat menangkap Lesya. Beberapa detik pandangan mereka bertemu hingga Letha yang berada di samping bangku mereka berdehem keras pertanda tak suka. "Ekhem! "


Lesya segera berdiri dan duduk di bangkunya tadi. Dirinya sedikit bingung dengan adanya Elvan yang berada di sampingnya. "L-lo ngapain di sini? Bukannya ini tempat gw? " tanya Lesya bingung sedikit salah tingkah.


"Penuh! " Lesya menatap malas Elvan yang kembali dengan nada irit bicara nya. "Nyebelin lo! " kesalnya. Elvan mengangkat satu alisnya. "Gak tuh! " Lesya ingin sekali mencakar wajah Elvan yang tanpa dosanya.


Terdiam beberapa saat, Elvan menawarkan snack kentang goreng kesukaan Lesya. "Mau? " Lesya mengangguk kecil dan mengambil beberapa kentang dan melahap nya dengan cepat. "Btw ini masih lama Pan? " tanya Lesya.


Elvan menggedikkan tak tahu. "Gak tau! " Lesya menatap malas Elvan saja mendengarnya. Tak terasa beberapa saat setelah menghabiskan snack kentang tersebut Lesya kembali menguap. "Tidur aja! Sini! "


Elvan merentangkan tangannya. Perlahan Lesya masuk ke dalam pelukkan Elvan dan meletakkan kepalanya di pangkuan lelaki idaman kaum hawa tersebut.


Merasakan Lesya yang sudah tertidur dalam pelukkan nya, perlahan menc*umi pucuk kepala Lesya. Tak merasa terganggu, Lesya justru semakin pulas tertidur tak memperhatikan sekitarnya.


Anak rambut gadis cantik itu menutupi wajahnya yang tertidur. Elvan membiarkan itu karena merasa hanya dirinya saja yang pantas melihat wajah menggemaskan Lesya saat tidur.


Berbeda Letha yang melihat interaksi mereka mengepalkan tangannya erat. Yah, sejak tadi, Letha terus mencuri pandangan terhadap Elvan. "Sial*n! " gumamnya kecil menghapus lelehan bening yang lolos jatuh di pipinya.


Amel dan Nayla yang berada di sampingnya tertidur hingga tak dapat mendengar gumaman Letha yang kecil. Kedua gadis itu tidur berpelukkan satu sama lain.


Sedangkan di depan Lesya dan Elvan, terdapat Luna dan Valen yang sedari tadi melahap makanan yang dibawa masing-masing dari mereka. "Lo kok di sini?! " Valen menghela nafas. "Gak muat di tempatnya si Farel alun-aluunn! "


Luna menganggukkan kepalanya menatap jendela luar yang masih tampak gelap karena jam masih menunjukkan pukul 5.25 di ponselnya. Luna kembali menoleh ke arah Valen yang bertanya hal yang tak suka di dengarnya. "Lo ngapa sih tadi acara ribut sama si Lisa? Perkara tempat duduk doang jadi besar! "


"Salah dia sendiri bawa nama bokap gw! Lagian lo ngapa sih nanya kek gitu? " tanya Luna balik dengan nada tak suka. Valen menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. "Lo broken home ya? Atau bokap lo udah gak ada? " cicit Valen dengan nada pelan.


Sontak Luna menatap Valen dengan tatapan tajamnya. "Bukan gitu maksud gw.. Gw cuman nanya doang! Matanya tolong kondisikan! " lanjut Valen cepat. Luna menghela dan menatap jendela luar. "Bokap gw gak ada! Dan gw gak terima aja nama bokap gw diseret! Padahal bokap gw gak ada salah! "

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2