Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
371: Plan D'attaque


__ADS_3

"Lo tau? Adik lo yang meninggal, yang punya anak, dan anaknya justru pengen nyusul dia ke surga! Karena perlakuan orang-orang keji yang di depan matanya, KARENA DUNIA GAK ADIL SAMA DIA! Dan lo tau? ORANG ITU GW! GW SENDIRI! " berontak Lesya meminta dilepaskan dari tangan Sella.


"Dan adik kalian yang hilang itu adalah papi! Sadar gak? Pernah baikan gak sama papi? Pernah tau papi dimana dan ngapain? ENGGAK KAN?!! Memang pantes kata-kata orang tua kalian buat kalian berdua! KALIAN GAK PANTES DISEBUT ABANG SAMA PAPI! "


Hah?


Hanya satu kata tak percaya itu membuat Mily, Sella, Galang dan Gilang terkejut. Namun yang lebih terkejutnya adalah dimana Gilang justru menampar Lesya. Namun pandangan mata lelaki itu seperti orang yang sama sekali tak sadar.


Plaaakkk!


Wah?!


Lesya reflek memegang pipinya yang terasa panas. Hatinya bergelojak merasakannya. Gilang, lelaki itu memegang tangannya. Sedetik dia sadar dan seolah menolak semua informasi yang lesya bicarakan. Wajar saja dia menolak karena Lesya berbicara tanpa bukti.


Lesya terkekeh sinis dibuatnya. Tamparan itu sama sekali tak membuatnya sakit. Lebih besar sakit hatinya untuk menerima semuanya dibandingkan fisiknya. Bahkan Galang pun dibuat terkejut dengan bunyi tamparan yang nyaring itu.


"Gilang?! "


"Apa? Mau bela dia? Dia tuh bohong Lang, jangan percaya sama penipu handal kayak dia! Bocah prikk tau infonya gak bener! Pasti Gatara masih hidup di dunia Lang! Gak mungkin dia pergi, nanti apa kata mama sama papa waktu kita sama-sama kumpul?! Yang ada kita dicaci maki Lang, mikir pake otak! Kita tuh udah nyari segini lamanya terus cuman dikasih tau tanpa bukti fakta kalau Gatara udah pergi? Sorry, gw gak gampang ditipu kayak lo! " ucap Gilang menolak semua fakta yang diucapkan oleh Lesya barusan.


"Ohhh? Lo mau bukti? Okey, karena gw gak bawa buktinya jadi wajar dong lo gak percaya sama gw. Tapi tunggu di rumah lo nanti, gw kirim anak buah gw buat nganter bukti itu ke rumah! Udah kan? " ucap Lesya datar.


"Oh iya, gw gak perlu lagi kan di sini? Secara lo sendiri yang gak percaya sama semua ucapan gw. So, pourquoi(untuk apa) gw di sini? Sorry yah, by the way pipi gw gak sakit walaupun lo tampar! " sinis Lesya lalu berjalan meninggalkan mereka di sana. Bahkan niatnya tak ingin ke ruang dagangnya, melainkan rooftop.


Luna yang ingin menyusul Lesya tertahan karena cegahan seseorang. Jika tadi Leon, maka sekarang Alam. Ya, mereka samar-samar mendengar bentakan Lesya yang cukup keras. Tak jarang mereka dengar, namun semenjak kelas 12 ini, Lesya mulai jarang membentak.


"Dekkk, jangan! Kasih waktu dulu buat dia." ucap Alam mencegah Luna. Sang empu yang hendak menyusul akhirnya mengerucutkan bibirnya manyun dan duduk di satu bangku di sana saja.


"Tau lah! Lagian salah sendiri bocor-bocor masalah om Arga, kena kan! " dumel Luna menggerutu. Lisa yang ikut duduk di sebelah Luna tampak bingung dengan maksud ucapan temannya itu. "Emang apaan sih yang bocor? Heran gw nyampe bokap-bokapnya dateng ke sini." tanya Lisa yang masih belum paham.


"Ituuu... Apa ya? Susah jelasinnya, terlalu rumit masalahnya." ucap Luna menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. Lisa hanya mencibir pelan saja. Leon yang masih sibuk mendekorasi hanya tersenyum pelan melihat interaksi kedua temannya itu. Ah ya, dia ingin masuk dan menimpali namun keadaan kurang baik.


"Dih, gak jelas lo! Oh iya, papa paham gak maksudnya tadi? Katanya dulu tuh papa pernah satu sekolah sama tuh dua orgil? " tanya Lisa ceplas-ceplos menunjuk ke arah Galang dan Gilang. Arya yang mendengarnya melotot kaget dengan ceplosan sang anak yang di luar nalar.


"Heh?! "


Lisa menyengir mendengarnya.


"Ya gak tau sih, tapi yang jelas denger-denger kalau mereka punya adik tapi hilang dan gak tau kemana." ucap Arya menjawab jujur. Lisa hanya mengangguk paham saja. Dia menoleh saat mendengar gumaman Luna yang sangat jelas didengarnya.


"Bukan hilang tapi udah pergi! Namanya juga adiknya tuh papinya echa." gumam Luna tanpa sadar. Arya pun dapat mendengar jelas gumaman Luna. Pandangan matanya beralih mengernyit bingung dengan maksudnya.


"Hah maksudnya? Hubungan ke papi Lesya apaan dah? " tanya Lisa tak mengerti. Luna tersadar dan menggeleng pelan saja. Bisa gawat jika Lesya tahu bahwa dia membuka kartunya. "Hah? Enggak kok, bukan apa-apa! " elak Luna.


"Gak mau kasih tau gak masalah sih! Bentar nih gw pikir, kalau lo bilang ada hubungannya sama papinya Lesya, berarti tadi Lesya ngebentak gini: KALIAN GAK PANTES DISEBUT ABANG SAMA PAPI!" ucap Lisa menirukan gaya bicara Lesya tadi. Sedetik mereka terdiam dan tersadar.


"Eh? " kompak mereka.

__ADS_1


* Lisa prik! * batin Luna.


"Wahhh?! Jangan-jangan maksudnya, papinya Lesya adiknya mereka? " ucap Elena yang tiba-tiba menyahut dan duduk di depan Luna dan Lisa. Luna yang mendengar hanya mengalihkan pandangannya dan berpura tak tahu saja. Ini harusnya bukan urusan nya kan?


"Waahhh, bisa jadi sih kak! Bentar deh kalau papinya Lesya adik tuh duo orgil, berarti bokapnya Lesya ada 3 dong? Kan papinya, bokap tirinya(Gilang), sama bokap kandungnya(Galang). Iya gak sih? Rumit bener! " ucap Lisa bingung.


"Iya juga sih, " ucap Elena yang setuju dengan pemikiran Lisa. Diam-diam Luna menatap belakang seolah memberi kode pada Leon. Dan Leon sendiri menggeleng karena tak tahu harus berbuat apa jika semua sudah dijelaskan detail oleh Lisa.


"Gimana? " tanya Luna tanpa suara.


"Mana gw tau bungsul! " balas Leon juga tanpa suara. Luna berdecak malas mengetahui gerak-gerik bibir Leon. Dia beralih menatap Alam yang di depannya dan menanyakan sama seperti dia bertanya pada Leon. Namun hasilnya tetap. Alam juga tak tahu bagaimana.


"Kenapa komuk lo Lun? " tanya Lisa menepuk pundak Luna hingga sang empu yang medumel dalam hatinya tersadar.


"Hah? Gak papa kok." ucap Luna.


Drrttt...


Leon merogoh sakunya setelah sibuk memasangkan meja dan kursi di sana. Dia mengernyit bingung saat nama 'Vayleen' kembali tertera di layar ponsel nya. Tiba-tiba saja perasaannya tak karuan sekarang. Tadi pagi dia sempat membicarakan mengenai rencananya dengan Lesya. Bukan hanya itu, Luna dan Vay yang disuruh menjauh tadi itu pun ikut serta dalam rencana mereka.


📞 Halo, kenapa Vay?


Mendengar nama Vayleen yang disebut, Luna menoleh ke arah Leon. Bahkan dia dapat melihat raut wajah Leon yang mendadak membulatkan matanya setelah menerima panggilan telepon dari sang pemilik nama. Luna terpikir dengan rencana dia, Lesya, Vay, dan juga Leon tadi pagi. Hanya mereka berempat yang tahu selain dari mereka tidak.


📞 Rencana papa dimulai


📞 Iya uncle.


Tuttt..


Leon mengkode Luna dengan tatapan matanya. Luna yang ditatap yang mengernyit bingung karena tak paham maksud dari tatapan Leon. Lelaki remaja itu berdecak karena Luna sedang dalam mode lola di situasi begini. Setelah berpikir sejenak Luna menggebrak meja kuat karena terlalu paham dengan maksud tatapan Leon.


"Ohh?!! Udah mulai? " polos Luna bertanya. Leon mengangguk pelan. Pandangan mata Luna menajam. Bukan apa-apa namun rencana mereka cukup membahayakan nyawa mereka masing-masing. Namun ingin bagaimana lagi? Rencana ini tetap akan terlaksana hingga penyelesaian masalah keluar.


"Otw! " datar Luna.


"Mau kemana Lun? " tanya Lisa.


"Ayah, Vano pergi dulu! " ucap Elvan tiba-tiba. Angga yang mendengar nada bicara sang putra dengan cepat menahan tangan lelaki remaja yang hendak pergi.


"Mau kemana? Acara pergantian pemilik sekolah belum mulai." ucap Angga. Ya, nama pemilik sekolah belum berganti menjadi milik Elvan. Karena tadi hanya pengenalan para pemegang saham dan acara voting ketua OSIS baru saja.


Elvan terhenti dan akhirnya memberikan ponselnya pada sang ayah. Angga menautkan alisnya bingung. Setelah melihat layar ponsel Elvan yang menampilkan satu gadis sedang disekap membuatnya paham maksud sang putra.


"Lesya diculik?! " kaget Angga.


Elvan berdehem dan mengambil kembali ponselnya. Mereka yang mendengar sontak menoleh dan terkejut dengan penuturan Angga. Bahkan Sella, Mily, Galang dan Gilang juga sama terkejutnya dengan ucapan Angga. Tadi baik-baik saja kok. Mengapa tiba-tiba diculik?!

__ADS_1


"Kok bisa? " kaget Mayang angkat suara.


"Gak tau, pelakunya ngirim alamat ke handphone Elvan. Jalan ***x** kalian tau kan? Itu jalanan bahaya, jadi yang perempuan lebih baik kembali ke rumah, satuin dan jangan ke mana-mana takutnya target berubah ke kalian." tutur Angga dengan tanggap memberi perintah.


"Lisa ikut! " ucap Lisa.


"Gak bisa Lisa, kamu sama mama aja ya? " kata Arya menolak ucapan sang putri yang meminta untuk ikut. Lisa menggeleng cepat dan menolak keras larangan sang papa. Bagaimana pun juga dia salah satu anggota Tiger Wong. Dan dia juga tak mau Lesya, seseorang yang dianggap temannya terluka. Jika Luna boleh, dia juga!


"Kalau Luna boleh, Lisa juga dong! " ucap Lisa. Luna melotot mendengarnya. Berbeda dengan Arya yang paham maksud putrinya akhirnya tak dapat melarang keinginan Lisa yang susah ditukar.


"Saya juga ikut! "


Suara bariton itu membuat mereka menoleh. Arya yang melihat Galang angkat suara dan mendekat kepada mereka tampak tak suka. Dari zaman masa putih abu-abu, Galang lebih sering membuat ulah dan memanasi mereka untuk ikut berulah. Jadi, jangan salahkan Arya jika dia tampak tak suka.


"Gak perlu lo di sini gak dibutuhin! " ucap Arya menolak. Galang mengangkat satu alisnya menantang. Melihat wajah Arya dan Angga membuatnya merasa kembali pada masa abu-abu mereka.


"Ini bukan waktunya ribut Arya, dari dulu lo gak berubah! Dan lagipula gw kenal dimana tempatnya. Di sini juga gw dibutuhin bagi anggota IB, tapi kayaknya gw bakal berkhianat deh sama IB! " ucap Galang menantang dengan tenang. Gilang menajamkan pandangannya. Maksud sang kembaran, mereka memihak Lesya begitu? Lalu selama ini rasa benci dan perlakuan buruk kepada Lesya apa?


"Lang?! " kata Gilang.


"Oke, lo bakal ikut! Lagipula Lesya anak lo kan? " ucap Angga setuju. Arya menatap sang adik ipar tak percaya. Namun setelah dipikir, Angga ada benarnya juga. Bagaimanapun Lesya anak dari Galang. Walaupun mereka tak memiliki bukti karena Lesya belum menunjukkannya.


"Kalian hati-hati ya! " ucap Mayang sebelum mereka akan bersiap pergi. Mereka semua mengangguk serempak. Alam juga sudah menghubungi Cakra melalui pesan aplikasi jika mereka juga membutuhkan team Lion Claws.


"Bang, gimana bang Cakra? " tanya Luna.


"Dia lagi otw sana yang lain! Lo di sini jangan gegabah, gw yakin Vion punya rencana licik" ucap Alam menasehati dan dibalas anggukan kepala Luna. "Lo juga Yon, setelah berubah karena alasan gak jelas lo jangan sampai kayak Vion! " lanjut Alam beralih pada Leon. Sang empu hanya mengangguk paham saja dengan ucapan Alam. Cukup sadar Leon memang.


Kelima teman Elvan pun juga sudah berkumpul di sana. Revan juga sudah mengubungi team Tiger Wong agar bergabung dengan pihak Lion Claws saat hendak pergi ke tempat yang dimaksud.


"Kalian yang lain biar saya antar ke rumah, takutnya jadi bahan sandera." ucap Mily yang tanggap mengambil bagian. Sebelum pergi dengan Mily, mereka mengingatkan untuk mereka semua tetap hati-hati karena mereka yakin jika kali ini tak akan mudah.


"Kamu hati-hati ya Yang" ucap Elena yang diangguki oleh Alam. Alam mengacak rambut panjang Elena. "Kamu baik-baik sama anak kita." ucap Alam menasehati dan dibalas anggukan kepala Elena.


"Udah elah kasian yang lain ngiri nanti! " kata Luna menengahi. Alam mengangkat satu alisnya mendengar perkataan Luna. "Dih? Lo kali yang ngiri! ' balas Alam yang dibalas pelototan oleh Luna.


"Idih, gw iri? Kagak yaa, seorang Aluna Margaretha tak pernah iri dengan orang lain, catatt broo.. " ucap Luna dengan gaya songongnya. Alam hanya memutar bola matanya jengah saja mendengarnya.


"Udah elah jangan ribut sekarang mending go out deh daripada ngobrol gak jelas." lerai Lisa.


"Okeyy, mudah-mudahan hari ini hari terakhir penyerangan, cape gw liat muka tuh bocah(Vion) kek **** " ucap Luna gamblang secara terang-terangan.


"Heh?! "


"I'm sorry! "


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2