
Elvan tak menanggapi dan duduk di salah satu kursi kosong yang masih tersedia. Sementara Letha yang sedari tadi diam memicingkan matanya ke arah Luna. Apa maksud dari perkataan itu? Apa Luna juga tahu mengenai masalah ini hanya karena Luna adalah sahabat dari Lesya?
"Kenapa? Mau nanya-nanya? Mon maap nih, gw gak cocok jadi narasumber lo! Mending biar asli tanpa hoax tanya sama Lesya. " ucap Luna yang seolah tahu arti dari tatapan aneh Letha untuknya.
"Apa nyebut gw? "
Suara dengan nada datar itu membuat semua orang menoleh dan sedikit terkejut melihat kedatangan Lesya. Yah, gadis itu merasa kedinginan di kamar hingga memilih bangun dan beberapa menit membersihkan diri lalu pergi makan malam. Dia tak sengaja mendengar Luna menyebut namanya. Dia sudah tahu jika dirinya akan mendapatkan banyak pertanyaan dari mereka yang bingung.
"Sya?! "
"Lesya gak mau bahas yang tadi! " ucap Lesya menuruni tangga dan duduk di satu kursi yang tersisa yang tak lain duduk di antara Elvan dan Letha. Sementara Luna berada di sebrangnya dengan Elena dan Alam berurutan di sebelah kanannya.
Mereka hanya diam saja dan berusaha agar tak bertanya yang dilarang oleh Lesya. Suara Mayang yang mengajak mereka mulai makan bersama pun terdengar. Tentu saja Luna, Letha, Lesya dan Elvan mengambil makanan mereka sendiri. Yah, mungkin akhir ini jika dihadapan orang lain mereka menjaga sikap. Beda lagi dengan mereka yang berdua yang jauh dari kata ‘dingin’ pada sifat mereka yang rada kembar.
"Kenapa gak di kamar? " bisik Elvan.
Lesya menoleh dan ikutan berbisik membalas pertanyaan Elvan itu. "Di kamar dingin. " jujur Lesya. Elvan mengangguk paham saja. Memang selama ini dia menaikan suhu AC karena hanya dirinya saja yang berada di kamar. Akhir ini Lesya mungkin tidur bersama Letha sesuai permintaan Letha dan itu sebabnya Elvan menaikan suhu AC kamarnya. Mungkin dia kelupaan untuk menurunkan suhunya.
__ADS_1
Acara makan malam berjalan lancar hingga setelah selesai makan malam, mereka berpencar dan sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Luna yang sejenak berbicara serius dengan Lesya pun juga perlahan pergi dan kembali ke rumahnya. Dan setelah hal itu Lesya berjalan menuju kamarnya.
Hari ini dia memutuskan kembali bersama Elvan saja. Soal Letha? Biarkan saja dia tahu agar dia tak perlu menanggung rasa takut untuk jujur. Toh dia tahu tak selamanya dia terus bersembunyi dengan banyaknya rahasia yang tersimpan. Dia juga berencana akan memberitahu jujur kepada Leon mengenai keberadaan keluarga Leon yang sudah lama dia simpan baik-baik dengan Cakra dan Luna.
Ceklek!
Saat masuk dan menutup pintu Lesya dapat melihat jika Elvan masih sibuk dengan tugasnya. Memang anak OSIS sesibuk hal itu. Ditambah sekolah masih ragu tentang peristiwa hadirnya sebuah bom di sana membuat para anak OSIS memutuskan agar setiap minggu diadakan razia barang larangan sekolah.
Tak hanya itu saja namun perkara Tiger Wong dan masalahnya juga melibatkan Elvan di sana. Belum lagi cafe yang saat ini jarang terurus. Sebenarnya Lesya sudah mengundurkan diri dan tak ingin bekerja lagi sama seperti Luna. Mereka ingin fokus pada dunia realita mereka yang menyangkut pautkan nyawa seseorang. Itu sebabnya tak ada lagi episode mengenai pekerjaan mereka lagi.
Lesya mendudukan dirinya di sofa dan menatap elvan dari samping yang tampak sibuk hingga tak menyadari keberadaannya. Tampan apalagi dengan kacamata anti radiasi yang bertengger di hidung mancingnya. Dia juga sedetik tersadar ke arah Elvan yang ternyata menyadari keberadaannya. Elvan juga mengambil remote control dan menurunkan suhu AC kamarnya.
"Tekad gw udah bulat sekarang! Mau gak mau, sakit gak sakit, kecewa gak kecewa, gw harus jujur sama Letha tentang segalanya! Mulai dari sekarang, gw mau kita kayak biasanya walau di depan Letha sekalipun! Sepintar-pintarnya gw nutupin sesuatu, pasti akan kebongkar akhirnya! Dan gw putusin bakal jujur tanpa nunggu waktu yang lebih dari kecewa itu! "
Elvan yang menopang wajahnya dengan tangannya mendengarkan dengan baik ucapan Lesya yang terlontar. Bahkan dia menerbitkan senyum simpulnya mendengar kalimat bijak Lesya. Dia bangga dengan pemikiran Lesya yang berprinsip.
Orang pintar adalah orang yang memiliki pendirian teguh! Dan apapun resikonya, orang pintar tak menjadi pengecut yang kabur begitu saja namun berubah menjadi orang yang bertanggung jawab dengan apapun resiko yang akan dia hadapi. Bukan perkara nilai namun sikap hidupnya lah yang menjadi pokok penilaian orang lain. Jika nilai plus dan sikap juga plus, maka itu sangat baik. Dia bangga akan kata-kata lontaran Lesya!
__ADS_1
"Kenapa? Lo gak setuju ya? " was-was Lesya yang melihat Elvan justru tersenyum ke arahnya dan menatap dirinya lekat. Elvan menggeleng kecil dan beralih mencium pucuk kepala Lesya berkali-kali hingga Lesya dibuat merona olehnya. "Enggak, gw setuju banget malah! Ucapan lo tadi tuh bikin gw tambah sayang sama lo! " kata Elvan.
"Apaan sih lebay tau gak?! Yaudah, sono ishh! Bwlahh-bwlaahh.. Basah tauk Pann.. " kesal Lesya yang merasakan jika Elvan beralih menciumi semua wajahnya sekilas. Elvan melepaskan Lesya dan menangkup pipi gadis itu. "Jadi bener ya kita mulai kasih tau sama adik lo? " tanya Elvan memastikan dan dibalas anggukan kepala Lesya.
"Smart girl! Yaudah sono tidur, tunggu gw bentar lagi! " ucap Elvan. Lesya hanya mengangguk patuh saja. Dia juga tak ingin mengganggu waktu Elvan yang sibuk dengan banyaknya tugas.
~o0o~
Keesokan paginya setelah sarapan bersama Lesya dan Letha berangkat bersama dengan Elvan. Dengan mobil navy kesayangan Elvan, Lesya dengan cepat masuk ke dalam samping kursi pengemudi membuat Letha terpaksa duduk di belakang. Sementara Elvan geleng-geleng kepala melihat aksi Lesya yang diluar dari dugaannya.
Di dalam mobil hanya terdapat keheningan saja. Lesya yang sibuk bermain ponsel akhirnya menyimpan dan bersandaran di kursinya. "Hari ini ada razia kan? " tanyanya basa-basi.
"Hem, biar kejadian yang kemaren gak keulang lagi! Sekaligus buat siswa yang diam-diam konsumsi rokok di area sekolah dan buat yang suka bolos! "
Elvan sengaja mengatakan itu dan menekankan kata ‘suka bolos’ di kalimatnya. Lesya menatap tajam ke arah Elvan dan menggerutu kesal. Setelah percakapan itu tak ada ucapan lagi yang terlontar hingga tiba di parkiran sekolah.
Letha dengan cepat keluar hingga tanpa sengaja dilihat banyaknya banyak murid yang kebetulan baru saja tiba. Murid-murid banyak mengira jika Letha memiliki hubungan khusus dengan ketua OSIS kebanggaan mereka. Letha tersenyum manis dan merapikan rambutnya sedikit. Namun melihat Elvan yang keluar dan membukakan pintu samping kemudi membuat siswa-siswi yang di sana kembali beralih kepada Elvan tanpa mempedulikan Letha.
__ADS_1
Lesya yang di mobil memang sengaja tetap di dalamnya karena ingin mengikat tali sepatunya terlebih dahulu. Namun saat sudah selesai dia terkejut melihat perlakuan Elvan yang sudah membuka pintu mobil. Dengan cepat Lesya keluar dengan memasang wajah biasanya. Dan hal itu sukses membuat mereka terkejut bukan main dengan kehadiran Lesya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗