
Di sebuah jalanan yang tampak sepi, sudah tampak satu mobil yang dikelilingi empat motor sport yang berada di sisi kanan kiri nya. Dengan kecepatan normal namun terkesan tergesa-gesa, mereka berkendara hingga berhenti tepat di parkiran belakang khusus mereka.
Satu gedung yang tampak tak terlalu tua dengan desain luar yang tak terlalu mencolok kini sudah mereka masuki. Tanpa menggunakan penutup di wajah, mereka berjalan santai melewati banyaknya tatapan segan juga terpana.
Hingga mereka menaiki tangga dan masuk ke sebuah ruangan milik ketua gangster itu setelah membuka pintu. Tampak seorang lelaki yang sibuk membaca berkas ini-itu menoleh dengan polosnya ke arah mereka.
"REVAN LEPASIN GW BRENG*SEK?!! "
Suara pekikan itu membuat mereka menoleh. Di saat seorang gadis di antara mereka hendak melangkah ke arah sumber suara, satu tangan kekar menahannya hingga langkahnya terhenti. Dengan terpaksa gadis itu menghela nafasnya dan menepis tangan kekar yang menahannya setengah kasar.
"Pakai ini dulu! "
Gadis itu mengambil alih jaket kebanggaannya dan menggunakannya dengan malas. Kini mereka semua yang ada di sana kini sudah menggunakan jaket kebanggaan mereka sesuai kedudukan mereka masing-masing.
Braakk!
Mereka yang ingin kembali melangkah ke arah pekikan yang cukup kuat dari arah pintu kembali terhenti. Suara dobrakan dan serangan dadakan dari satu gadis membuat mereka sedikit tersentak.
"LESYA, LO APAIN LAGI ADEK LO HAH?! " amuk Nayla dengan Amel yang berusaha menghentikan emosionalnya. Kerah jaket yang digunakan sang pemilik nama kini terangkat karena amukan Nayla itu.
"Nay, udah! " lerai Amel menarik dengan sekuat tenaganya agar tak menimbulkan masalah. Karena kekuatan Nayla yang tak terlalu kuat, Amel berhasil menarik balik Nayla menjauh dari Lesya.
"Kalian ngapain di sini?! " kaget Ken.
"Amel, kamu ngapain di sini? "
Amel menepis tangan Frans yang hendak menyentuhnya. Dia memang berencana membuntuti bahkan secara diam-diam Amel juga memasang GPS pada ponsel sang kekasih tanpa disadari Frans.
Amel tahu Frans adalah teman baik Elvan dan Frans akan mengikuti kemana pun ketuanya itu pergi. Dan Amel tahu jika Elvan yang kini berstatus suami dari Lesya, tentunya tahu dimana keberadaan Letha—teman baiknya yang menghilang hampir 2 minggu lamanya. Namun Amel di sini masih belum tahu apa hubungan Frans dengan markas Tiger Wong.
"Gak usah pegang-pegang! Gw denger ya sejak di sekolah kalau kalian mau nyamperin Letha! " ketus Amel tajam. Frans hanya diam saja mendengar reaksi Amel. "Lagian kalian ngapain ke markas gangster orang?! Gangster besar lagi? " lanjut Amel tanpa menyadari dengan jaket-jaket yang dikenakan mereka.
__ADS_1
"TOLONG?! ADA ORANG GAK? "
Suara pekikan yang cukup nyaring membuat mereka kembali menoleh dan sedikit tersentak. Di saat Nayla hendak melangkah, namun pisau yang hampir saja tertancap lehernya justru melewati gadis itu hingga langkahnya terhenti. Pisau yang dilemparkan oleh Lesya sebenarnya hanya sekedar menggertak Nayla agar tak macam-macam saja.
"SATU LANGKAH, LO MA*TI NAY! "
Aura dingin yang ditunjukkan Lesya membuat Nayla terdiam dan sontak patuh. Begitu juga dengan Amel, dua gadis yang menjadi penguntit itu pada awalnya bingung karena mainan di ruangan itu bukanlah main-main. Barang di ruangan itu semua berisi benda-benda tajam yang sangat dihindari mereka.
"Lo salah nguntit orang Nayla, Amel! " ucap Lesya dengan suara rendahnya. "Lo pikir gw gak tau kalau lo tadi ngintip di waktu teman sekelas diusir Ken? Ckck, kalian salah cari orang sepandan." lanjut Lesya lalu menggunakan topi yang menyatu dengan jaket kebanggaannya.
Amel yang menyadari di saat Luna berbalik mengambil salah satu benda tajam di sana, melangkah mundur secara perlahan. Tulisan kata 'Queen Allion' di jaket Luna membuatnya tersadar. Terlebih ruangan itu ditulisi kata 'King Tiger Wong' membuatnya semakin bingung.
"Kalian siapa?! " ucap Amel tajam.
"Mel, pulang ya, jangan di sini! " ujar Frans.
"Lo ketua divisi gangster ini Frans? " ragu Amel saat melihat tulisan lambang di jaket sang kekasih. Frans terdiam lalu mengangguk pelan membuat Amel terkejut dibuatnya. Dia tak menyangka sang kekasih rupanya salah satu pembesar di gangster terkenal.
"Queen El, tangkep! "
"Queen El? " beo Nayla.
"Kenapa? Kaget? Lo gak perlu tau siapa gw Nay, Mel. Kalian bukan siapa-siapa gw tapi kalian mau tau siapa gw. Hubungan lo sama gw sama sekali gak ada masalah, jangan bikin tambah hancur! " datar Lesya.
Gadis itu dengan segera menarik tangan Elvan agar meninggalkan yang lainnya di sana. Dia tak memiliki urusan dengan mereka yang baru saja datang. Elvan hanya mengkode Valen agar menyuruh yang lainnya tak membuat keributan dan dibalas anggukan kepala Valen.
"Tungguin Queen! "
Luna dengan segera menarik Valen agar tak mengikut campurkan urusan mereka yang sama sekali tak berurusan dengannya. Karena penasaran, mereka mengikuti langkah kaki Elvan setelah masuk ke dalam salah satu pintu di ruangan ketua gangster itu.
Bahkan Amel dan Nayla juga kini sudah tak peduli. Mereka memilih ikut karena tahu jika para anggota besar gangster itu akan pergi menemui temannya—Letha.
__ADS_1
Dua ketua gangster itu kini berjalan dan mengikuti arah tangga yang berbelok-belok. Bahkan Lesya sendiri bingung mengapa Elvan merancang desain seribet ini. Sedari tadi mereka hanya turun tangga lalu berbelok saja.
"Kapan nyampe sih Pan?! "
"Dah, ta-daa.. "
Lesya terdiam. Dia dan juga yang lainnya sudah tiba di ruang bawah tanah milik salah satu gangster terkenal di pusat kota ini. Banyak sekali penjara yang diisi beberapa orang. Lesya berpikir keras, jika di sana banyak penjahat mengapa hanya suara Letha yang dia dengar? Aneh!
"Ikut sini! "
Lesya mengikuti Elvan yang lebih dahulu berjalan berbelok dan terhenti di sebuah pintu di pojok ruangan. Diikuti yang lainnya, Amel juga Nayla yang melihat ruang bawah tanah itu minim cahaya tampak merinding dan juga takut.
Setelah masuk ke dalam sana, barulah mereka bertemu dengan satu gadis yang duduk dengan memeluk lututnya. Tampak kurus, pucat, juga tak terurus. Padahal mereka dapat lihat jika banyak makanan di sana justru dibiarkan secara cuma-cuma tanpa dimakan olehnya.
"Gw sama yang lain udah nyoba beli makanan yang mahal Sya, dari resto malah. Tapi dia gak mau makan." kata Revan membuka suara dengan pelan.
Lesya terdiam mendengarnya. Dia melihat bayangan dimana dia juga mengalami hal yang sama. Bedanya, dia dikurung tanpa celah sedikit pun. Tanpa makan, tanpa minum, juga tanpa udara oleh Rio. Remamber kan?
"Kita udah lepas dia juga biar bisa bebas. Kita bawa ke taman belakang dari belakang tapi tetap aja dia gak mau." lanjut Revan lagi dibalas anggukan kepala Lesya yang paham dengan setiap kata yang dijelaskan Revan barusan.
Amel juga Nayla yang mendengar penjelasan Revan kini tak tahan menahan bendungan di pelupuk mata mereka. Keduanya masih tak menyangka jika Letha—teman dekat mereka yang sedang mereka cari karena menghilang ternyata berada di tempat yang minim penerangan. Tak peduli dengan mata tajam yang menatap, mereka berdua dengan kompak memeluk tubuh Letha yang tampak terlihat lebih kurus.
"LETHA?! "
Sang pemilik nama mendongkak dan memeluk kedua temannya itu. Karena tempat itu memiliki cahaya yang sedikit terang, kini dia dapat melihat siapa saja yang datang menemui dirinya di tempat itu. Melepaskan pelukan kedua temannya, dengan segera dia berlari cepat dan menjambak rambut panjang sang kakak kembarnya.
"LETHA?! " kaget mereka.
"BRENG*SEK PEMBAWA SI*AL LO LYRA?!! DASAR BI*TCH SI*ALAN, " amuk Letha tanpa mempedulikan banyaknya tatapan tajam yang mengarah padanya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1
>>><<<
Seneng gak nih liat kedua kembaran akhirnya ketemuan lagi? Wah, diharapkan senang ya gays.. Jumpa besokk and luvv you gaysss.. 🌻😄