
Luna yang baru tiba di kelas, masuk dan menerobos banyaknya kerumunan orang setelah mendengar jika Lesya mengamuk setelah melihat coretan di meja dan kursinya. Luna lupa jika dialah yang selalu membersihkan meja Lesya sebelum sahabatnya itu datang ke sekolah. Dia telat menutupi hal itu!
Lesya tak berbalik menatap Luna. Lesya mengatur nafasnya yang memburu menahan amarah. Dia melirik ke arah isi kelasnya tanpa membalikan badannya. Rupanya hanya ada Elvan dkk dan Luna di dalamnya. Tak hanya itu, bu bunga tiba-tiba datang dan menatap tajam Lesya. "Lesya, kamu ikut ke ruangan saya sekarang! " tegasnya.
Lesya hanya menurut dan mengikuti bu bunga tanpa ekspresi di wajahnya. Elvan yang melihat raut wajah Lesya berjalan mendekati meja Lesya yang sudah dibanting dan sedikit patah di bagian kakinya. Jelas saja dia dapat melihat banyaknya lontaran kata tak pantas yang tertulis di sana. Wajar saja Lesya marah!
Valen ikut mendekat ke arah Elvan dan membantunya mengangkat meja Lesya yang kakinya sedikit patah. Yah walau sedikit, itu sudah tak dapat digunakan lagi. Kecuali di daur ulang kembali!
Frans, Farel, dan Ken juga ikut membantu karena tak satu saja kerusakan yang ada. Bahkan beberapa meja siswa-siswi yang ada juga menjadi korban Lesya mengamuk. Contohnya meja Luna!
Tiga kaki meja Luna sudah patah. Sementara Elvan dapat melihat saat dirinya mengangkat meja milik Lesya keluar, dalam laci meja itu terdapat sampah plastik dan bau bangkai tikus yang tak pantas ada di sana. Sepertinya ada yang rencanain ini semua! Pikir Elvan.
"Mamp*ss gw! Kira-kira echa marah gak ya sama gw? " gumam Luna cemas hampir tak terdengar.
Luna tak ingin jika Lesya marah karena dirinya yang menyembunyikan jika Lesya selama sahabatnya itu kritis dan tak sekolah. Bukannya menyembunyikan namun Luna
Sementara di ruang BK, Lesya duduk dengan tenang walau wajahnya tak menampilkan suatu ekspresi. Bu bunga yang garang ditambah hormon hamilnya, menatap tajam Lesya. "Apa-apaan kamu hah?! Merusak fasilitas sekolah itu tidak diperbolehkan! Itu sama saja kamu--- "
Lesya menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. "Syuutt! Tinggal bilang berapa biayanya gw bayar buk! Saya tau saya salah! Kasih hukuman terus saya bayar nambah uang SPP gampang kan? " datarnya menaikkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Sudah, Lesya sudah tak tahan lagi! Dia ingin menjadi dirinya saat memiliki kedudukan Queen Ellion. Dia malas berbicara dengan siapapun saat ini. Moodnya sangat hancur sekarang!
Bu bunga menghela nafasnya. Sulit sekali jika dirinya menghadapi Lesya yang saat ini berkembaran dengan Elvan. "Tetap saja kamu salah! Sudah tau salah kenapa masih dilakuin?! " tegasnya garang.
Lesya tak menjawab. Dia hanya diam menatap kosong arah depannya walau yang dia lihat adalah tembok ruangan bukan wajah bu bunga. Menurutnya, untuk apa dia melihat wajah wali kelasnya itu? Toh, lebih bagus wajahnya dibandingkan galak bu bunga!
Bu bunga terus menyerocos sementara siswi di depannya tak mendengar bahkan menyimak satu kata pun. Apa pantas dirinya dihina walau sebatas kata tulisan? Pengecut! Itu sikap yang dimiliki oleh ayah kandungnya! Siapa dia? Lesya juga tak ingin tahu tentang ayah kandungnya lagi! Cukup semua masalahnya selama ini!
"Lesya? Lesya! Lesya?! ALEESYA!! " Lesya tersentak mendengar pekikan suara bu bunga. Dia hanya menoleh dan mengangkat dagunya sekilas seolah bertanya ‘ada apa? ’ kepada bu bunga.
"Kamu punya sopan santun tidak sama orang yang lebih tua dibandingkan kamu?! Jangankan sama saya! Sudah pasti kamu tak memiliki sopan santun terhadap yang lain! Kamu diajarkan cara bersopan santun tidak sebenarnya sama orang tua kamu hah?! " kesal bu bunga.
Bu bunga tersadar dari ucapannya. Dia lupa jika papi dan mami Lesya sudah tiada. Namun, saat ini dia masih memiliki Gilang sebagai ayah bukan? Apa perkataannya menyakiti perasaan Lesya? Pikir bu bunga merasa bersalah.
"Oke, saya minta maaf! Tapi yang terpenting saat ini, kamu jangan mengulangi perbuatan kamu! Besok, ujian akan dimulai! Dan jika kamu tidak masuk, jangan harap nilai kosong kamu dapat disumpali oleh nilai ujian kamu! Entah apa kata bunda kamu nanti, saya tak tahu reaksinya melihat nilai kamu yang jebol! "
Lesya teringat dengan Mayang. Wanita berhati baik bersih yang memberikannya kenyamanan seorang ibu. Seharusnya jika tak ada Mila, setidaknya dia membahagiakan Mayang bukan? Apa nilainya akan berguna untuk membuat senyuman Mayang terukir? Pikir Lesya.
Bu bunga menyodorkan surat panggilan orang tua kepada Lesya dan meletakkannya di mejanya. "Panggil orang tuamu kemari! Atau perlu bundamu yang ke sini jadi wali kamu! " tegas bu bunga.
__ADS_1
Lesya hanya menerima lalu beranjak pergi tanpa satu kata patah pun. Bu bunga hanya gelang kepala melihatnya dan memijit kepalanya yang terasa pening. "Haiss, tak berubah-berubah! " gumam bu bunga.
Lesya yang melihat surat panggilan orang tua itu, membukanya dan perlahan membacanya. Setelah selesai di baca, dia meremas kertas dan membuang ke dalam tempat sampah. Dia tak mau mempermalukan Mayang lagi dengan sikapnya. Dia tahu dia salah namun dia terbawa amarahnya tadi.
Mayang adalah orang baik dan Lesya adalah kebalikan dari orang baik. Dia sudah pernah mengundang Mayang agar menjadi walinya dan cukup hari itu saja. Saat ini biar dia yang menanggung semuanya sendiri. Dia tak ingin lagi menyusahkan Mayang dengan sikapnya.
Dia tahu seharusnya dia sadar diri di keluarga Grey namun, mempertahankan nama baiknya menurutnya harus tetap dipertahankan. Dia tak mau direndahkan bagai sampah masyarakat dan diinjak bagaikan manusia kotor. Dia harus tetap berdiri kokoh di badai yang kuat. Itulah dia, Zelyra Aleesya Michella Fyo!
"Huft! "
Lesya masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci tangannya di wastafel. Setelah selesai, dia hendak keluar namun bertepatan dengan Chatrin, musuh pengganti Amanda bagi Lesya. Nama yang cocok buat Chatrin kira-kira apa ya?
"Heh? Lo lagi? " sinis Chatrin.
Lesya hendak menghindari Chatrin dengan berjalan ke arah kanan Chatrin namun Chatrin menahannya. Dia tak ingin berinteraksi sosial dengan siapapun saat ini. Baik Luna, Chatrin, Letha, siapapun di sekitarnya! Dia butuh waktu sendiri walau dia tahu bersendirian itu tak baik untuknya. Chatrin mancing emosi!
Dengan cepat Lesya menepis kasar tangan Chatrin yang menahan dirinya. Lesya masih sama dengan yang dahulu. Lesya yang anti orang asing bahkan tak ingin berkontak fisik dengan orang asing. "Aww! Sakit! " ringis Chatrin merasa sakit di tangannya karena ditepis kasar oleh Lesya. Dasar Chatrin! Lebay!
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1