
๐ Luna: Sya lo kok dipanggil-panggil gak denger sih?
๐ Emang lo manggil gw?
๐ Luna: Enggak, YA IYALAH! Dari tadi gw, Lisa sama pak Ketos manggil lo tapi lo gak nyaut!
๐ Oh.
Dia tak merasa kesal atau bagaimana pada Luna yang sedang mengumpati dirinya. Rasa sakitnya jauh lebih membuatnya meringis. Bahkan pandangannya sedikit berburam. Dia takut jika tiba-tiba saja dia oleng dan tak sengaja menabrak sesuatu yang berakibat fatal olehnya dan janin yang dia kandung secara diam-diam.
๐ Elvan: Lo berdua? Sama siapa? Dan kata-kata nak, maksudnya apa?
DAMN IT?!!
Lesya terdiam dan membanting stir mobilnya. Oh no, bagaimana dia dapat melupakan keberadaan ponselnya tadi. Dan sekarang percakapannya sebelumnya di dengarkan oleh yang lainnya. Sial!
"Arghh?! "
Kembali meringis sakit disebabkan oleh perutnya sendiri yang menambah kram, Lesya kembali memegang perutnya. Bahkan Elvan dan yang lainnya di mobil sebelahnya terkejut dengan ringisan Lesya. Lesya memukul-mukul stir mobilnya agar merasa lebih tenang.
๐ Sya?! Le?!
Karena tak ingin semakin mempersulit suasana, Lesya akhirnya mengatur nafasnya kembali normal. Dan dia juga tanpa sengaja menutup sambungan telepon secara sepihak. Masih terdiam, Lesya merasa tertusuk dengan pertanyaan terakhir Elvan. Apakah ayah dari anak yang dia kandung adalah Elvan? Kalau bukan, lalu siapa ayahnya?
Selama ini Lesya sangat menjaga jarak dengan namanya hubungan ***. Rasanya dia sedang dipermainkan oleh takdir saat ini. Hidupnya sudah sangat kejam dan sekarang ujian hidupnya bertambah. Dia sudah tak tahu lagi ingin bicara apa lagi mengenai hidupnya yang rumit ini.
"Oh God, please come with me! " lirih Lesya lalu tanpa sengaja tersenggol hingga akhirnya membelokkan kemudi nya dan bertentangan dengan jalur yang dilalui oleh Elvan dan yang lainnya.
"Sstt?! Gak bisa gini terus, gw bisa death kalau gini! " gumam Lesya lalu kembali mengambil ponselnya yang jatuh di depannya. Dengan hati-hati agar tak kembali oleng lagi Lesya mengambil ponselnya yang terjatuh. Tujuannya hanya satu, yaitu kembali menghubungi Elvan. Sangat aneh memang dia. Asal buka tutup telepon. Namun kali ini memang dia tak sengaja menutup sambungan telepon padahal dia hendak menjawab pertanyaan Elvan tadi.
___
Sementara di sisi lainnya, kelima remaja sedikit tersentak mendengar ringisan dari sambungan telepon. Dengan reflek Lisa membuka kaca dan memperhatikan kaca mobil Lesya. Yah, walau memang sama sekali tak terlihat, tetap saja Lisa ingin mencoba menerobos pandangannya.
๐ Sya?! Le?!
__ADS_1
Dengan kompaknya Luna dan Elvan memanggil nama Lesya. Mereka terkejut dan dibuat resah oleh Lesya. Terlebih di saat mereka mengarahkan pandangannya ke arah gerak-gerik mobil Lesya. Benar saja mobil itu justru berbelok. Dan dengan cepat Elvan memutar balik dan menambah laju mobilnya agar dapat menyusul keberadaan Lesya.
Lele kesayangan๐ค calling you...
"Lis tolong angkatin! " ucap Elvan meminta tolong dengan pandangannya yang tak berubah. Lisa menurut saja. Gadis itu dengan cepat mengambil ponsel milik sang sepupu dan mengangkat telepon dari Lesya itu. Tak lupa dia meloud speaker agar terdengar jelas.
๐ Lisa: Halo? Lo gimana kok bisa salah jalur sih?!
๐ Sorry-sorry, tadi gw oleng!
๐ Luna: Sya, mending lo pake cara yang kayak dulu aja sekarang dari pada terus-terusan begini? Senam jantung mulu kita lo buat!
๐ Wait, maksud lo ngarah jurang trus loncat dan gw biarin mobil gw jatoh ke bawah?
๐ Luna: Iya! Kan lo udah pro masalah gini, aman kan?
๐ ARE YOU CRAZY?! Gw gak sendiri Luna, berdua! Kalau gw sekarang sendiri pun gw loncat sekarang dari mobil it's oke! Lah, masalahnya ini gw berdua Lun!
๐ Elvan: Sama siapa? Dan pertanyaan gw tadi juga belom lo jawab.
Berbeda dengan Lesya yang di seberang bukan bimbang namun hanya takut saja jika Elvan tak akan menerima kenyataan alias tak percaya dengannya. Menjadi dirinya sangatlah berat. Pribadi dan hidup yang keras membuat dirinya sangat takut jika salah satu orang yang sangat dekat dengannya tiba-tiba pergi begitu saja. Anggap saja dia egois namun dia tak mau keluar dari zona nyamannya sekarang.
๐ Gw. . .
Saat ini mereka sangat menanti-nantikan jawaban Lesya. Jujur saja mereka sangat kena saran sekarang. Mendengar nada bicara ragu Lesya, membuat mereka gregetan dibuatnya. Hanya tinggal menjawab jujur saja apa susahnya sih?! Pikir mereka bingung secara bersamaan.
๐ Elvan: Iya, lo kenapa sekarang? Sama siapa?
๐ G-gw sekarang beda sama yang d-dulu!
๐ Luna: Beda gimana sih Sya? Jelas-jelas lo masih sama Sya! Udah deh jangan buang-buang waktu, lo tinggal loncat tapi jangan celakain diri lo kayak dulu! Mau koma atau titik nanti lo?
๐ Brisik Lunaaa.. Gw gak niat ninggalin dunia ya! Lagian kondisi gw sama yang dulu beda! Kalau dulu gw masih sendiri, sekarang gw berbadan dua puas?!
Hening!
__ADS_1
What?!
Bagaimana maksudnya?
Elvan, lelaki itu terdiam sejenak. Akal sehatnya masih berusaha untuk mencerna setiap perkataan Lesya. Maksud dari 'berbadan dua' adalah? Dia tak bod*h untuk mengetahui apa maksud itu. Letha saja terdiam terkejut. Bahkan Luna, Lisa, dan Valen juga tak jauh beda.
๐ Elvan: Jangan ngaco Le!
๐ Iya! Fine, gw tau lo sama sekali belom nyentuh gw kan? Tapi analisis dokter yang bilang Pan! Ya kali anak orang lain, gw gak serendah itu buat nyerahin hal berharga yang gw jaga selama ini ya!
Elvan terdiam. Dia masih mencerna maksud dari perkataan Lesya. Bahkan yang lainnya saja tetap terdiam menyimak pembicaraan kedua pasutri itu melalui sambungan telepon. Untung saja mereka mengendarai di jalanan yang sepi. Jika teriak pun tak masalah sebenarnya.
๐ Luna: Waitt deh! Maksudnya lo hamil Sya? Tapi Elvan belom nyentuh lo, begitu?
๐ Hm.
๐ Letha: Ya mungkin aja lo main sama orang lain dan justru sekarang lo hamil anak orang lain!
Mereka menoleh ke arah Letha. Luna menyenggol sikut Letha dengan keras. Berbeda dengan Lisa yang hanya menatap tajam Letha. Sementara Valen hanya diam menjadi penonton setia. Dan Elvan, terlihat jika lelaki itu mengepalkan tangannya kuat mendengar ucapan Letha. Memang dia tipikal orang yang dingin namun jika disungguhi oleh kata-kata demikian, dia sangat panas.
"Eh lo jangan mancing emosi ya! Dari dulu kalau Lesya gak di apartemennya, dia di rumah gw. Kalau gak juga paling dia di markas atau gak sekedar mampir ke rumahnya di Prancis. Jangan sembarangan nuduh yang enggak-enggak lo ya! Gw sebagai sahabatnya tau selama ini Lesya suka apa dan gak suka apa, gak kayak lo yang adeknya tapi gak tau dia ngapain dan apa kabar! Dia selalu sama gw atau gak Leon jadi jangan pernah sembarangan fitnah sebelum gw lempar lo dari sini! " tajam Luna ketus karena tak terima.
"Ouhh, iya kah? Omaigad, sorry nih ya tapi menurut gw tuh kan bisa aja ya Leon sama Lesya berhubungan secara gw tau dulu Leon suka sama Lesya! " ucap Letha dengan tingkah nya yang sok terkejut.
Lisa menatap geram Letha yang sok polos di hadapannya. "Eh lintah gatel, sembarangan lo kalau ngomong anj*ng! Gak mungkin ya Leon sebejat itu ngelakuin hal aneh-aneh sama sahabatnya ssendiri! " elak Lisa membantah dan menolak perkataan Letha dengan sangat keras.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif๐ค
>>><<<
Nah loh, ada provokator di sini.
Mon maap nih sebelumnya, kira-kira yang salah di sini siapa? Letha? Atau Lesya?
Btw ini partnya udah banyak ya, cuman author satuin aja makanya kelihatan dikit. Jangan lupa jejaknya ya karena author selalu gak pernah pelit buat update. So please dong vote atau gif sebagai bentuk dukungan selain like sama komen, makasih semuanya yang dukung ๐๐ป
__ADS_1