
Luna melotot kan matanya. Berbeda dengan Lesya yang tetap anteng melahap mie ayamnya. "Eum.. Enak! "
"Kek nya lo laper bener Sya! " Lesya mengangguk cepat. "Tadi gw di rumah gak sarapan! Cuman makan somay doang di istirahat pertama! "
"Tapi tumben lo laper? Biasa kan dua hari baru makan! " cibir Luna. Lesya mengangkat bahunya tak tahu. "Gw juga gak tauk! "
Brakk! Bugh! Plakk!
Seisi kantin menoleh ke arah sumber suara. Suara berasal dari ujung kantin. Lesya yang melihat dengan cepat menggebrak meja geram.
"AMANDA-!! " Lesya dengan emosi berjalan menghampiri Amanda yang berada di ujung kantin. Tatapan tajamnya membuat siswa-siswi terdiam takut.
Tak hanya siswa-siswi yang terdiam ketakutan. Luna sebagai sahabat nya tak dapat mencegah Lesya. Amanda berbalik dan menatap Lesya seolah meremehkannya. "Kenapa? Bukannya lo lemah soal dia? "
Amanda menunjuk bahkan menarik rambut panjang Letha. Yap! Letha kali ini mengalami hal yang sama kembali! Namun, kali ini pembullyan berasal dari Amanda.
Lesya yang sudah berada di hadapan Letha dan Amanda. Dengan cepat dia menepis tangan Amanda yang menarik rambut adiknya.
Tanpa basa-basi, dia menarik kembali rambut Amanda dengan kasar. Amanda hanya menggerang kesakitan saja merasakannya. "Arrgh! "
Rambut Amanda sudah banyak yang rontok akibat tarik kan kasar Lesya. Merasa cukup puas, Lesya membenturkan kepala Amanda ke dinding tembok yang ada.
Dunggg!
Lesya menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangannya ke belakang. Dengan keras dia menarik dagu Amanda dan berbisik kecil. "Jangan usik ketenangan adik gw! "
"Heh! Rupanya lo takut yah kalo semua bersangkutan sama adik kesayangan lo? " remeh Amanda. Lesya justru tertawa keras hingga banyak yang menjerit ketakutan. Termasuk Letha dkk!
"Hahaha.. Lo juga sama kan? " Setelah tertawa keras, Lesya kembali berbisik datar tak bersahabat. Amanda yang mendengar itu mengepalkan tangannya erat. "Gw gak punya adik! "
__ADS_1
Dengan cepat Lesya menghempaskan dagu Amanda kasar. "Kenapa? " Dia beranjak dan berdiri di hadapan Amanda yang terduduk di lantai. "Masa adek lo sendiri gak lo akuin! Haha.. Lucu! Lo sama sekali gak pantes di sebut sebagai kakak dari adik lo itu! "
Deg!
Jantung Amanda terpompa cepat. Mendengar nama adiknya dibawa, dia terdiam. Bahkan tamparan kata-kata pedas sangatlah menusuk hati nya. Dia terdiam kaku mendengar semua itu.
Lesya melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Kenapa? " Geram, Amanda bangkit dan menatap tajam Lesya. "Apa maksud lo? "
Lesya menggedik-kan bahunya acuh. "Pikir sendiri lah! Lo pasti tau jawabannya bukan? " Amanda bertambah geram mendengarnya.
Amanda yang sudah mempersiapkan pisau lipat di sakunya, berjalan ke arah Letha yang di belakang Lesya dan mencekik lehernya. Bahkan pisau lipat yang dia bawa sudah tertempel di lehernya.
Anggota intim OSIS yang berada di samping meja Lesya dkk tadi, sudah berada di samping Lesya. Letha sudah menangis histeris seolah meminta bantuan dari Elvan. "V-van, to-long.. "
"Lethhaa! " kompak kedua teman Letha yang tak berani mendekat. Anggota intim OSIS saling mengkode satu sama lain agar melepaskan Letha dari Amanda.
Dengan cepat Lesya memegang kedua tangan Amanda dan membalikkan ke belakang hingga pisau yang dibawa tertusuk ke tangan Lesya. Darah sudah mengalir namun Lesya sama sekali tak menggerang kesakitan.
Sayatan yang didapati Amanda dari Lesya membuat banyak siswa-siswi yang tak tahan justru pingsan. Amanda tak dapat bergerak karena Lesya sama sekali tak memberikan celah satupun.
Letha sudah terlepas dan bersembunyi bersama kedua temannya di belakang OSIS. "Darah dibayar darah, luka dibayar luka, dendam dibayar dendam! Tau bukan? "
Amanda tercekat. Tangannya sangatlah sakit karena terus ditusuk. Bahkan Lesya menahan dengan tangannya yang satu. Sementara yang satu dia gunakan untuk menyayat tubuh Amanda. "Lele! "
Seolah menulikan telinganya, Lesya justru menusuk lebih keras pusat tangan Amanda hingga banyak darah yang tercucur dari Amanda. "Arrgh! Kayaknya lo pikun! "
"Ow, satu lagi ya! Nyawa dibayar nyawa! Benar bukan? " Lesya tersenyum miring melihat Amanda yang meringis kesakitan.
Sebenarnya bisa saja dia menusuk di bagian leher agar Amanda tenang bersama adiknya, Vannya. Namun, dia hanya memberikan peringatan kecil untuk Amanda. "Dan lo pelakunya! "
__ADS_1
"Lo salah orang Amanda Norwn! Argh lepas ih! " Elvan dengan cepat menggendong Lesya agar tak membuat keributan yang lebih serius di sekolah milik ayahnya itu. "Gw tusuk mau?! "
Lesya menyodorkan pisau lipat yang sudah bersimbah darahnya dan darah Amanda. Elvan menatap datar Lesya dan membawanya pergi dari sana. Letha mengepalkan tangannya kuat menyaksikan itu.
Luna yang melihat tersenyum miring. Dia menatap Amanda yang terus memegangi tangan dan lehernya. "Lo salah cari lawan Amanda Norwn! Gw harap lo gak kayak adek lo itu yah! Gw juga setuju kalo lo sama sekali gak pantes disebut seorang kakak! Bye"
Amanda mengepalkan tangannya kuat mendengar cibiran Luna. Dia menatap kepergian Luna dan Leon. Lisa menepuk bahu Amanda sedikit jij*k. "Iw! Sampah! "
"Lisa.. Ayok! " Lisa mengangguk dan mengikuti Luna dan Leon pergi dari sana. Letha meringis kecil membayangkan lehernya yang hampir tertusuk. "Lo gak papa Tha? " tanya Amel.
"Gw gak papa, tapi hati gw sakit liat mereka tadi! " Farel, Valen, Frans, dan Ken segera meninggalkan tempat tersebut berniat memasukkan kasus kali ini di buku hitam mereka.
"Sabar Tha! " Letha mengangguk dan pergi dibawa dengan bantuan kedua temannya kembali ke kelas.
...~o0o~...
Lesya berhenti menggerutu di saat Elvan perlahan mendekatkan wajahnya. Dengan cepat dia mengalihkan pandangannya berharap tak melihat Elvan. "Bisa diem gak? "
"O-oke gw diem! " Elvan kembali membalut tangan Lesya dengan perban. Lesya yang merasakan nyeri di tangannya meringis kecil. "Arh! Sakit" cicit Lesya.
Elvan berhenti dan perlahan membalut luka Lesya kembali dengan telanten. Lesya hanya menatap lukanya saja. Perban yang dia gunakan masih tersimbah darah sedikit. "Udah? "
Elvan mengangguk kecil. Dengan cepat dia memasukkan kembali kotak P3K di atas meja PMR. Tak ada PMR yang menjaga karena dipulangkan.
Elvan berjalan menuju Lesya kembali dan mengambil ponselnya. "Kenapa? " tanya Lesya. Elvan memberikan ponselnya kepada Lesya.
Lesya membaca di dalam hatinya isi pesan dari grup sekolahnya. Karena banyak siswa-siswi yang ketakutan dengan kejadian tadi, guru dan pihak sekolah memutuskan meliburkan 3 hari para murid mereka.
"Libur? Yess! Asik libur! " girang Lesya. Elvan mengambil ponselnya kembali. "Lo mau gw hukum? " Lesya terhenti dan menatap Elvan malas. "Hoby bener lo ya ngehukum gw mulu! "
__ADS_1
Elvan menaik turunkan alisnya. "Kenapa? Gak suka? " Lesya mencebikkan bibirnya. "Yaudah jangan yang berat-berat hukumannya! Sakit tangan gw" drama Lesya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗