
Setelah insiden permasalahan binatang kecil yang ditakutkan oleh Gilang, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Sedari tadi Lesya tertawa cekikikan melihat wajah pucat sekaligus masam yang terpacar di wajah Paman nya.
Setelah diperiksa oleh Mily, ternyata hewan yang ditakutkan suaminya adalah mainan anak SD, alias terbuat dari karet. Hal tersebut membuat Gilang cukup malu karena menakutkan hewan yang hanya terbuat dari karet. Karet saja takut, apa lagi yang asli. Hancur namanya!
"Lesya diam!" kesal Gilang.
"Haha ... iya Uncle, nih gw diam kok!"
Lesya menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Matanya menyipit karena masih menahan tawanya. Berbeda dari Gilang, Mily hanya mendengus malas melihat tawa keras dari keponakannya.
Pelaku? Ya pasti Lesya!
"Kamu 'kan yang buat mainan beginian?"
Lesya mendadak bingung di saat mendengar pertanyaan Mily yang terkesan seperti seseorang yang menginterogasi nya. Sedetik dia menggeleng dan menunjuk ke arah Elvan yang asik menyaksikan drama insiden akibat 'kecoak karet' di depannya.
"Elvan kali Aun, gw dari tadi di sini!" kilah Lesya. Sang empunya nama yang dituduh hanya menggeleng pelan.
"Tadi gw barengan sama Uncle,"
Pandangan mata Gilang bertambah kesal. Memang benar jika sedari tadi Elvan sedang bersamanya. Baik Gilang juga Elvan cukup gemas dengan pipi tembam Nicholas dan berujung bermain bersama dengan akur tanpa keributan.
"Mainan Nic kali! Atau mainan si Jas-jus mungkin kelempar nyampe kamar, mungkin?" ujar Lesya beralasan lain.
"Lempar-lempar, apaan lempar? Kamar gw jauh, ngelempar pun nyampe tangga gak mampu. Lagian Niko gak punya mainan busuk kayak dia," sinis Gilang.
"Alasan lo gak logis, udah ngaku aja! Lagian siapa lagi kalau bukan lo yang suka usil setiap datang ke sini?" final Mily menghela nafas. Jangan sampai insiden 'kecoak karet' membuat keduanya berdebat! Mily cukup letih jika mendengar dan menyaksikannya.
Lesya menyengir saja mendengarnya. "Hehe iya sihh, tapi heran kok gw begini sih sikapnya? Bapak gw kutub, Mami juga kalem, apa kebawa sama sikap Aunty kali ya?" gumam Lesya pelan.
Mereka semua sontak menoleh pada Sella yang sudah siap menata meja makan dengan berbagai makanan. Dibantu dengan beberapa ART yang sudah siap memasak makanan, akhirnya mereka berjalan dan duduk pada bangku kosong yang ada di ruang makan.
Mereka semua makan dengan tenang tanpa suara satupun. Namun, mereka cukup heran dengan gaya makan Lesya yang porsinya lebih banyak juga lebih lahap dibandingkan biasanya.
"Cewek kok jorok," sindir Gilang.
Lesya hanya diam tak menanggapi. Dirinya memang lapar hari ini karena belum makan sedari pagi. Hanya mangga bawaan Lisa dan cilok yang dia makan. Wajar saja jika dia lapar.
__ADS_1
Lesya menunjuk ke arah spagetti utuh yang berada jauh dari jangkauan tangannya. Paham maksud Lesya, Elvan segera menjangkau makanan yang dimaksud oleh Lesya tanpa merasa keberatan sedikitpun. Tak lupa Elvan juga sesekali mengusap sudut bibir Lesya yang kotor akibat tergesa-gesa makan.
"Pelan-pelan makannya, gak ada yang rebut kok!" tegur Elvan seraya menepuk pundak Lesya agar lebih tenang.
Lesya hanya mengangguk-angguk pelan dan melahap makanan yang disodorkan padanya. Dalam waktu sekejap, piring-piring yang diisi dengan banyaknya makanan mulai berpergian ke dalam perut Lesya. Tak ada sedikit sisa pun makanan yang ditinggalkan Lesya.
Bagi Lesya semua makan dengan porsi rata. Padahal nyatanya, hanya dialah yang makan dengan sangat lahap hingga yang lainnya mendapatkan bagian yang sedikit. Mereka membiarkan saja karena jika dilarang, pasti Lesya akan membalas ucapan mereka dengan tak mau kalah.
Hingga pada saat waktu makan sudah selesai, mereka semua mulai sibuk ke ruang keluarga. Sementara Mily masih sibuk membereskan sisa makan mereka, Lesya masih duduk melahap sisa makannya yang belum masuk.
"Puas makannya?" tanya Mily menyindir.
"Enggak, masih kurang cemilan buat makan," jujur Lesya mengerucutkan bibirnya manyun 3 cm. Mendengar hal itu, Mily menepuk keningnya pelan dan geleng-geleng kepala menanggapinya.
"Terserah dah, terserah!"
Lesya menampilkan senyum aneh pada saat Mily pergi dari dapur. Makanannya sudah selesai dan dia sudah meletakkan di wastafel sisa piringnya. Saat dia belum selesai makan Elvan sempat ingin menemaninya, tetapi karena panggilan dari Galang membuatnya ikut saja.
"Hehe ... maaf Aunty," gumam Lesya.
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
"LESYAAAA! ASTAGA, ITU BISKUIT ANAK GW, NGAPAIN LO MAKAN SIH?"
"KALAU MAU BILANG GAK USAH NYURI, MAHAL DIBELI CUMAN BUAT GANJEL PERUT! LO KAYA RAYA NGAPAIN NYOLONG BISKUIT ANAK BAYI HAH?"
"Aduh, heran gw kenapa lo se-goblοk ini! Astaga, mana stoknya belum dibeli pula, ck! Di warung mana ada biskuit beginian,"
Lesya melengkungkan bibirnya ke bawah mendengar keluhan Mily yang mengomelinya. Memang benar dia mengambil biskuit adiknya—Nic tanpa izin orang tua sepupunya. Entah ada dorongan apa, dia ingin memakan dan menghabiskan dua box biskuit dengan cepat di dapur. Alhasil beginilah dia saat sudah ketahuan. Terlebih ada satu kemasan biskuit di tangannya.
"Yaudah 'kan gw lapar,"
Mily menepuk jidatnya pelan. Cukup dibuat geleng-geleng kepala dia dengan alasan Lesya yang tak masuk akal baginya. Lapar? Lalu tadi di ruang makan itu apa? Belum cukup? Pikir Mily heran.
"Lapar? Ya Tuhan, Lesya, begini ... tadi lo makan berapa porsi? Tujuh Sya, tujuh! Terus sekarang lo bilang lapar? Ya Tuhan, kuatkan lah hambamu ini," frustasi Mily mengacak-acak pelan rambutnya.
Sella yang mendengar hanya tampak geleng kepala saja. Ketiga lelaki sedang berbicara serius di ruang sofa. Namun, suara teriakan Mily cukup terdengar hingga mereka cukup terkejut.
__ADS_1
"Mily, jangan teriak! Ambil aja punya Justine kebetulan masih banyak!" lerai Sella membuat Mily yang dongkol mau tak mau memilih mengalah saja.
Bukan hal biasa jika Mily atau Gilang bertengkar dengan Lesya. Anak tirinya yang satu ini lebih suka mencari masalah dibandingkan melerai masalah. Mungkin efek masa lalu yang kelam hingga tak pernah mendapat perhatian, Sella memaklumi sikap anak tirinya satu ini.
"Mom, bagi dongg!" antusias Lesya.
"Ambil aja di tas Mommy, tapi jangan sampai habis!" balas Sella memperingati. Lesya mengangguk dan mengambil satu biskuit milik adiknya—Justine sesuai dengan arah tunjuk Mommy tirinya.
"Lebih enak ya punya Jas-jus! Padahal merk nya sama tau," gumam Lesya jujur dengan berkedip dengan polosnya.
"Sya, lo sakit ya? Merk sama loh, rasa juga sama, lo bilang lebih enak? Ya Tuhan, lo panas, pantes kayak orang gilα!" ucap Mily cukup terkejut setelah memeriksa kening keponakannya dengan pelan. Lesya mendengus sebal.
"Mana ada! Sembarangan amat kalau ngomong," kesal Lesya. Sella menghela nafas menyaksikan perdebatan adu mulut keduanya. Walaupun Mily dengan telanten memberikan biskuit yang sudah dapat dimakan oleh anak seumuran Nicholas juga Justine, mulut wanita itu tetap menyahuti ucapan Lesya.
"Ketus amat sih Mbak, PMS ya?" cibir Mily membuat Lesya menatap sinis. Sejenak Lesya termenung dan baru tersadar setelah beberapa detik.
"Aunty,"
"Apa lagi?"
"Bulanan gw lewat,"
"Hah?"
Kedua wanita yang mendengar ucapan Lesya tampak terkejut mendengarnya. Lesya mengetuk jarinya di kening dan kembali melanjutkan ucapannya.
"Tapi biasa juga kadang datang telat, tapi tetap datang. Kayak-- paham 'kan ya?"
"Cek dulu aja coba," saran Sella.
"Takut kecewa!" cicit Lesya.
"Yaudah lo tunggu minggu depan, kalau belum dateng juga fiks lo harus dibawa ke dokter biar periksa!" final Mily.
"Y-ya tapi jangan kasih tau ya!"
"Sip, beres tenang lo!"
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗