Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
153: Kemungkinan!


__ADS_3

Lesya dan Elvan segera masuk mencari keberadaan Mayang di rumah mewah itu. "BUNDAA! " panggil Lesya berteriak. Elvan menoleh ke arah lantai 4 yang digunakan untuk penyimpanan senjata. "Lantai empat?! "


Lesya yang mendengar gumaman Elvan berlari menyusul Elvan menuju ruang penyimpanan senjata itu. Angga masih belum kembali karena memang harus kembali pergi ke kantornya seusai dari sekolah.


Dorr! Dorr! Dorr! Pyarrr! Aargh!


Lesya dan Elvan melotot melihat Mayang yang diikat di kursi dan menangis histeris mendengar suara tembakkan di sekitarnya. "Bundaa! "


Lesya menghampiri Mayang dan membuka ikatan kaki dan tangan yang terikat. Sementara Elvan menajamkan pendengarannya menatap sekeliling. Beberapa kaca sudah hancur, sedikit noda darah terdapat di beberapa lantai, bekas tembakkan di tembok, kaca, dan lemari senjata.


"Bunda gak papa kan? Siapa yang lakuin? Biar Lesya hajar orangnya! " Mayang menggeleng tak tahu. Dirinya menunjuk ke arah satu sudut yang berisi beberapa empat box kecil bersimbah darah sedikit di bagian luar.


Lesya menatap Elvan seolah bertanya apa isi box tersebut. "Pan, " Elvan tak bergeming. Dia membuka dan langsung merobek gambar yang sama dan belakang foto berlogo Sakh kembali.


Lesya mengambil alih satu box dan membukanya. CCTV! Dengan cepat Lesya melemparkannya hingga pecah tak terbentuk. Mayang masih tak bergeming karena mengingat dirinya dibius tadi.


Angga yang mendengar keributan tergesa-gesa berlari ke arah sumber dan menemukan keluarganya yang berada di ruang penyimpanan senjata. Dirinya memang harusnya sedang meeting saat ini.


Dikarenakan perasaan nya yang tak enak akhirnya memutuskan pulang. Benar saja! Angga tergesa-gesa menghampiri Mayang dan memeluknya. "Ini kenapa? "


Hening!


Tak ada yang membuka suara menjawab pertanyaan Angga. Geram, akhirnya Angga turun dengan langkah cepat dan sorot mata yang menahan marah.


"SEMUANYA HARAP KUMPUL SEKARANG!! "


Suara bagaimana seorang Angga yang akan menggerang marah terdengar di penjuru rumah. Sontak semua segera berkumpul dan berjajar rapi di depan tangga utama rumah mewah itu.

__ADS_1


Baik dari asisten rumah tangga, bodyguard, satpam, tukang kebun semua berkumpul dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Angga berdiri di satu tangga dan menatap dingin para pekerjanya.


Berbalik sejenak kepada Mayang yang hendak berdiri namun tertahan karena kakinya yang gemetar. "Bunda mau diri? Sini Lesya bantu! " ucap Lesya.


Memapah Mayang, Lesya menatap Elvan agar menyusul sang Ayah yang amarahnya sudah berada di ubun-ubun. "Pan, sono! " bisik Lesya.


Mengerti, akhirnya Elvan berjalan cepat menuju keberadaan Angga saat ini karena tahu jika emosi Angga sulit dikontrol pemilik. Sorot mata Elvan sangatlah dingin. Dia tak suka ada yang berani menyakiti bundanya.


"Kenapa kalian gak ada seorangpun mendengar teriakkan istri saya? Belum merasakan kepergian pekerjaan ya? Baiklah.. Seperti yang kalian mau--- " dingin Angga terhenti.


"Yah, " panggil Elvan dengan nada tenang. Angga tak menjawab panggilan sang anak. Dia hanya menoleh sekilas saja. Elvan cukup heran dengan banyaknya pelayan yang memegang kepala mereka seperti menahan sakit. "Ayah! " panggil Lesya dari belakang seraya memapah Mayang.


"Nga, " lirih Mayang. Angga menahan tubuh Mayang dan membawa Mayang ke dalam peluk kan nya. "Cerita! " Mayang mengangguk pelan seraya menunduk.


"Jadi.. Tadi itu aku lagi jalan-jalan di halaman belakang, trus satu ART dateng minta izin ke luar. Aku izinin aja dianya! Trus... Waktu aku mau berbalik.. Jubah hitam bertopi merah nutup mulut aku pa-pake obat bius! " jelas Mayang.


* Siapa? ART, izin, jubah merah, obat bius? Mustahil menerobos penjagaan rumah! Dan mengapa semua orang memegang kepalanya? Heh! Gw tau! * batin Elvan.


"Terus? " Angga masih menuntut penjelasan yang lebih membuatnya paham dengan satu permasalahan yang ada di rumahnya baru saja. Mayang memegang kepalanya yang terasa nyeri. "Aku tiba-tiba sadar dan keiket di ruang penyimpanan senjata! Entahlah aku gak tau lagi! "


Angga mendesah panjang. "Kenapa gak ada tolong istri saya? Apa semua ingin mat* hah?! " Mayang tersentak kaget mendengar bentak kan Angga terhadap para pekerja rumah yang berjejer rapi di sana. "Nga, udah! " ucap Mayang menahan.


"Yah, aku mau ngomong! Tapi gak di sini! " Angga dan Mayang menoleh ke arah Lesya yang dengan tenang dan terang-terangan berucap tanpa beban. "Bubar! " kata Elvan.


Angga menghela nafas dan mengajak baik Lesya, Mayang dan Elvan ke dalam ruangan yang sama sekali tak diketahui orang lain kecuali dirinya dan Mayang. Eum.. Sebenarnya Elvan tahu cuman dia tak membongkar saja!


Hening!

__ADS_1


Satu kata untuk suasana yang tercipta di ruangan itu. Sangat luas! Hingga Lesya hampir lupa ingin membicarakan soal apa. "Jadi, kamu mau bilang apa? " tanya Angga.


Lesya terdiam. Wajahnya kali ini sangat serius. "Kita kecolongan! " Angga mengerutkan keningnya heran. "Enggak ada benda yang hilang tuh! " Sontak Lesya menepuk jidatnya. "Bukan gitu ayaah! "


"Terus gimana? " Mayang sudah membaik karena penenangan yang Elvan ucapkan. "Semua akan baik-baik aja bun! " bisik Elvan. Mayang mengangguk sebagai jawaban.


Lesya menggaruk tenguk lehernya karena tak tahu harus dimulai dari mana menjelaskannya. "Gimana ya ngomongnya? " Angga bertambah bingung mendengar gumaman Lesya. "Kan kamu yang mau ngomong! "


"Ada yang nyamar jadi ART! " Bukan Lesya namun Elvan yang bersuara dengan nada datarnya. Angga membulatkan matanya tak percaya. "Mana mungkin! "


Lesya menatap cengo Elvan. Tahu saja dirinya berpikir seperti itu. "Kok sama sih sama pemikiran gw? " Elvan menggedik-kan bahunya tak tahu. "Gimana ceritanya? " molog Angga tak paham.


"Katanya king Tiger! " cibir Elvan. Angga menghela nafasnya panjang mendengar penjelasan Elvan. "Jadi tadi kata bunda kan art minta izin ke luar, gak mungkin perginya secepat itu yang tiba-tiba ada berjubah hitam! Ayah tau kan? Halaman belakang itu luas! " jelas Lesya.


Angga mengangguk paham saat ini. "Kamu liat artnya pake baju apa? " tanya Angga menatap sang istri. Mayang menggeleng. "Enggak, soalnya aku sibuk nyiram tanaman! " jujurnya.


Huffttt!


Terdengar suara helaan nafas di ruangan tersebut. Angga merutuki kebodohannya yang sangat sibuk sedari kemarin dan seperti mengabaikan Mayang.


Mayang tak tersinggung, dia tahu bagaimana posisi Angga saat ini. Bayangkan saja jika ke rumah hanya untuk tidur lalu bangun pukul 5 pagi kembali pergi entah kemana.


"Bunda liat bodyguard yang jaga? " Mayang mengangguk pelan menjawab pertanyaan Elvan. "Mereka... Pegang kepala lalu pingsan begitu saja! Memangnya kenapa? "


Elvan menggeleng. "Kemungkinan mereka juga dibius! " Sontak Angga, Mayang dan Lesya tersentak bingung dengan penuturan Elvan.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2