Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
400: Kondisi Leon


__ADS_3

Langkah kaki seseorang beralih cepat saat ini. Setelah membuat janji pada daddy kandungnya, dia mendapat kabar jika sahabatnya down. Tentu saja dia kaget dan sontak berlari ke ruangan sahabatnya itu walau kepalanya yang diperban kembali berdenyut.


Bahkan lelaki yang mengikutinya sedari tadi tampak cemas dengan keadaan gadisnya itu. Tiang infus yang didorong sendiri, akhirnya mereka tiba di ruangan dimana sahabatnya dirawat dengan perlengkapan medisnya yang lengkap.


Di luar ruangan tampak sepi dan itu membuat kening mereka yang baru saja datang berkerut bingung. Karena takut terjadi apa-apa, dengan cepat gadis itu membuka knop pintu ruangan sahabatnya walau sedikit kasar.


Brakkk!


"LEON?! " pekik Lesya kaget di saat melihat wajah pucat sahabat lelakinya. Mata Leon terbuka walau sayu namun denyut nadinya lemah. Wajah lelaki itu tampak pucat keputihan dan tampak sedikit kurus karena tak mengkonsumsi apapun sejak beberapa hari yang lalu.


"Sya? S-sumpah, g-gw gak k-kuat la-gi," adu Leon dengan nada suara lirih.


Baru memasuki ruangan saja Lesya sudah diperhadapkan dengan suara tangis yang begitu memekikkan telinga. Dan baru saja dapat kembali membuka mata dan melihat semua warna dunia, Lesya diperhadapkan dengan cobaan kenyataan di depannya saat ini.


Perlahan berjalan ke arah brankar sahabatnya, rasanya Lesya ingin sekali mengulang waktu agar tak membiarkan sahabatnya terluka akibat perang dengan Ice Blue. Sungguh, dia tak tega melihat kesakitan dari wajah Leon.


"LEON JANGAN GILAA LO YA?! " bentak Lesya di saat sang pemilik nama hendak mencabut infusnya sendiri. Untung saja dengan sigap Felicia menahan tangan adiknya itu dengan gelengan kepalanya.


"K-kak, gw gak k-kuat! " keluh Leon.


"Ya setidaknya lo mau sembuh Yon, bukan cabut infus sendiri! Itu sama aja dalam artian lo bundir," kata Felicia yang pipi nya kini sudah dibanjiri tangis matanya sendiri. Bahkan Lisa saja yang melihat sudah dibawa ke pelukan Arya karena tak kuat melihat wajah pucat sang kekasih yang menahan sakit.


"Le, jangan gobl*k lo! Gw, Lisa, bang Cak, bang Alam, Lesya, Vay, kak Feli, juga anggota LC butuh lo Le, please jangan sekarang ya... Kita mau ujian masa lo tiba-tiba gak ada sih? Katanya lo janji kalau lulus bakal bawa gw ke bar punya lo bareng Lesya! " kata Luna yang justru mengingatkan Leon akan janjinya.


"Lo juga janji bakal nikah sama Lisa kan? Lo bahkan udah siapin gaun sama cincinnya Yon! Tinggal sewa gedung, MUA, sama pergi ke KUA doang masa nanggung gini sih, gak kece huwaa.... " lanjut Luna lagi menyerocos lalu kembali menangis begitu saja karena tak kuat.


"K-kamu udah siapin? K-kok gw baru tau sih?! Bertahan ya Yon, demi gw, please? " lirih Lisa yang kini beralih memohon pada sang kekasih agar tetap mau bertahan.


"I'm sorry, but I have to go Lis, (Maafin aku, tapi gw harus pergi Lis,) Mama sama papa gw nunggu di sana." lirih Leon. Mendengar hal itu sontak Lesya membulatkan matanya lebar. Kini dia sadar sebuah mimpi yang dia lihat saat tertidur akan benar-benar terjadi.


"Leon, jangan pergi bisa? Cukup mami sama papi yang pergi," lirih Lesya namun dibalas senyuman tipis dari sang pemilik nama. Jujur sebenarnya dia sudah mengirim sinyal pertanda untuk ketua gangster nya itu. Namun sepertinya gadis itu baru saja menyadari saat ini.


"Bisa kubur gw di samping makam bonyok gw Sya? " pinta Leon tanpa terbata-bata lagi. Lesya tak menjawab. Dia mengepalkan tangannya geram saat mendengar lanjutan kalimat Leon untuk terakhir kalinya. Ya setelah itu, layar monitor menampilkan garis lurus yang membuat mereka panic.


"Lo kuat, tapi gw gak sekuat lo Aleesya! " lanjut Leon pada Lesya walau tak dibalas oleh gadis itu. Lesya, dia lebih memilih diam dan keluar karena membiarkan tiga dokter yang menangani mulai bekerja. Bahkan mereka yang hanya menyaksikan hanya terdiam pasrah saat diusir keluar ruangan oleh Sarah.


Felicia kini hanya dapat menangis juga berdoa untuk nyawa sang adik agar selamat. Vay saja yang berusaha menenangkan harus dibantu oleh Mayang yang kasihan melihat keadaan wanita itu yang terus menangis.


Lisa? Jangan ditanya lagi seberapa pecahnya tangis dia melihat sang kekasih pucat dan kini sedang ditangani oleh dokter yang bertugas. Dia juga menyesali karena tak tahu jika kekasihnya bahkan sudah membuat planning untuknya saat merried nanti.

__ADS_1


Arya terus mengelus dan menenangkan putri bungsunya yang kini terlihat sangat rapuh. Bahkan Maurine saja yang sudah menyerahkan Justine pada Sella saat tadi juga ikut menenangkan sang putri agar tak berpikir hal-hal negatif yang membuat pikirannya kalut nantinya.


Cakra? Lelaki yang merupakan mantan preman itu hanya bisa berdiam diri dengan air yang membasahi pipinya walau tanpa suara. Kini, lelaki sangar itu merasakan kesepian tanpa adanya partner di markas mereka, Leon.


Dan di saat merasakan tepukan dari Alam, tak peduli se-humble apa dia, tak peduli se-garang apa dia, kini dia meraung-raung seolah meminta agar Leon yang dia anggap adik angkat dapat kembali seperti semula.


Luna? Gadis itu hanya memeluk Valen dengan pipi yang sudah basah sejak tadi. Bahkan sang mama yang juga berusaha menenangkan dia, pipinya sudah dibasahi oleh air mata sendiri. Sosok Leon sudah dianggap anak kandung Henny sama seperti Luna. Dan sifat humble yang mudah akrab, membuat hubungan di antara Henny juga Leon layaknya ibu anak.


Plaaaakkk!!


Lesya yang diam di depan pintu kini memegang pipinya yang memanas bahkan hingga memerah. Sungguh, ini kedua kalinya setelah kejadian Luna koma. Henny begitu marah karena dia tak becus menjaga anggotanya sendiri. Dan kali ini, kasus mengenai Leon.


Bahkan semua terdiam terkejut dan menoleh ke arah sumber suara. Menurut Lesya, suara tamparan Henny lebih nyaring dibandingkan tamparan Gilang. Matanya mengerjap agar dapat mengontrol dirinya saat ini.


"MANA JANJI KAMU YANG GAK AKAN BUAT ANGGOTA KAMU TERLUKA SYA?! " murka Henny yang kini sudah tak dapat menahan emosionalnya lagi. "DULU LUNA, SEKARANG LEON, BESOK SIAPA SYA?! CAKRA HAH? Kamu di sini ketua, harusnya lebih bertanggung jawab atas semua anggota-anggota kamu! " lanjut Henny dengan wajah yang memerah.


"Mama udah," lerai Luna menahan tangan sang mama yang hendak kembali menampar sahabatnya. Dulu dia memang pernah sempat koma dan membuat Henny murka hingga menampar Lesya pertama kalinya. Dan kasus Leon saat ini, Henny kembali menampar Lesya untuk kedua kalinya.


"Diam kamu Luna! Dulu sewaktu dia bawa kabur kamu ke markas, dia janji akan lindungin kamu juga Leon kan? Terus sekarang, kamu sebagai ketua SAMA SEKALI GAK BERBUAT APA-APA BEGITU HAH?! Ketua macam apa kamu ini?! " bentak Henny yang geram.


Saat Elvan hendak angkat suara, dengan segera Lesya menghadang agar Elvan tak berbuat sesuatu. Dengan satu helaan nafas, Lesya membungkuk 90° untuk kedua kalinya sebagai permintaan maafnya kepada Henny.


"Maaf, semua terjadi karena keteledoran saya." kata Lesya membuat Elvan terkejut dan segera mengangkat tubuh Lesya agar kembali seperti semula.


Braakkk!!


"Tante Henny benar! Lo di sini ketua tapi di sini lo yang seakan gak peduli masalah Leon. Kita tau kondisi lo Sya, tapi pernah gak lo mikir buat lakuin sesuatu demi Leon hah?! Emang bener, pantes adek lo sendiri khianati lo, ternyata lo SESI°AL ini Sya! " sentak Lisa geram yang kini ikut menyetujui ucapan Henny barusan.


ternyata lo SESI°AL ini Sya


SESI°AL ini Sya


SESI°AL ini


Deg!


Lesya terdiam. Benar ya? Ucapan Lisa ada benarnya juga. Tapi kebenaran itu menyelekit ke hati.


"LISA?! " bentak Elvan.

__ADS_1


"APA?! LO MAU BELA DIA? IYA KAN? BELA AJA TRUS VAN! DI SINI CUMAN DIA YANG SAMA SEKALI GAK SEDIH, KENAPA? KARENA DIA SAMA SEKALI GAK PUNYA HATI UNTUK SEKEDAR NANGIS KARENA KEADAAN LEON VAN!! GW DI SINI SAUDARA LO, HARUSNYA LO DUKUNG GW BUKAN DIA!! " teriak Lisa murka membalas bentakan Elvan.


"Lisa, jangan gitu nak, gak boleh! " ucap Maurine sedikit menyentak dan menarik kembali Lisa agar kembali tenang.


Lisa hanya kembali menurut dan duduk di samping sang mama. Melihat kepergian Lesya yang tiba-tiba membuat Lisa menyeringai tipis. Walaupun Lisa kesal karena Elvan justru mengejar Lesya, namun tetap dia akui dia puas melihat wajah Lesya yang menahan geram seperti tadi.


PLAAAKK?!


"Heh anak dajjjaal?! Lo bisa jangan sok tau tentang kehidupan Lesya hah?! LO PIKIR GAMPANG JADI LESYA HAH?! Lo tau gak? DIA NYEMBUNYIIN KESEDIHANNYA SUPAYA KITA TEGAR BUKAN NYALAHIN DIA BNGS*T!! " murka Luna yang telanjur emosi lalu berjalan dan menampar pipi Lisa keras.


"Luna?! " kaget Henny menarik kembali tangan sang anak namun ditepis dengan cepat oleh sang empu sendiri.


"Mama juga?! Harusnya mama tau gimana perasaan Lesya! INI UDAH DUA KALI MA! Dua kali mama tampar Lesya, padahal jelas-jelas dia gak salah! Dulu aku koma karena aku lengah sendiri, dan sekarang Leon koma karena tombak Vion bukan karena Lesya! " kata Luna.


"Ingat Ma, Lesya pernah bantu kita! Dia juga pernah bantu Leon bangun usaha, dia juga yang nambahin dana diam-diam buat beli gaun juga cincin Lisa. Dia nanggung beban berat ma, tapi kita justru asal seenaknya nyalahin dia terus-terusan! " sambung Luna menahan isak tangisnya agar tak bersikap kasar secara fisik pada sang Mama.


"JUSTRU DIA YANG BELI SEMUA ALAT-ALAT MEDIS DI SINI, harusnya Mama gak salahin Lesya yang baru aja sembuh! Mama gak pernah liat gimana Lesya terpuruk dan nyawa Leon, bukan karena ketua yang gak becus jaga anggotanya Ma, TAPI KARENA KEHENDAK TUHAN! " lanjut Luna.


"Iya Mama tau, tapi kan--- "


"Luna kecewa sama mama! Sebelum Mama minta maaf sama Lesya, Luna gak mau ngomongan sama Mama! " ujar Luna dengan tangan yang terkepal kuat.


Deg!


Mendengar ancaman sang anak semata wayangnya yang tak main-main, membuat Henny merasakan sesak dalam dadanya. Jujur dia reflek menyalahkan Lesya karena gadis itu pernah membuat janji padanya agar bertanggung jawab atas setiap medis saat terluka juga bertanggung jawab menjadi pelindung Luna juga Leon.


"Alun," peringat Valen.


"Biarin, biar kapok! Udah tau Lesya sensitif, udah tau gw susah ngejar Lesya, udah tau gw sama Lesya juga Leon paham satu sama lain, tapi Mama sendiri yang suka salahin Lesya kalau kita kenapa-napa. Memang Lesya Tuhan apa?! " kesal Luna menghapus jejak basah di pipinya. Tak dipungkiri, Luna kecewa juga tak tega dengan sang Mama yang saat ini masih terdiam.


"Ya tapi kan gak nyampe gini juga Alun, Mama juga cuman mau kalian baik-baik aja." kata Valen mengeleng kepalanya seolah memberi kode agar Luna tak membuat Henny semakin tertohok.


"Ya gw tau! Tapi Lesya nya gimana? Gak ada apa yang mikir ke perasaan dia hah? Dipikir Lesya gak punya perasaan apa selama ini?! " balas Luna dengan kesalnya namun segera ditarik Valen agar tak kembali berbicara lagi.


"Udah mendingan kita do'ain yang terbaik daripada nangis-nangis tapi gak ada hasil! " lerai Cakra yang kini angkat suara juga mengusap wajahnya kasar.


Suasana tampak hening. Kini tak ada yang menangis namun saling mendo'akan agar ketiga dokter di sana melakukan yang terbaik untuk Leon. Tak disangka para orangtua di sana merasa tak tega dengan mereka yang terpuruk.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


>>><<<


Sad time nih!


__ADS_2