
Di saat pukul 4 pagi-pagi dini, Elvan terbangun dan keluar dari ruangan yang ditempati Lesya dan Luna . Dirinya berhenti di depan pintu ruangan itu dan hendak menghubungi Revan yang mengirimkannya pesan baru saja.
Lima anggota LC berbaris rapi menjaga pintu depan ruangan queen mereka. Mereka terkejut di saat Elvan keluar lalu bertelefon dengan orang yang tak mereka kenali sama sekali.
Walau Elvan agak terpisah dengan kelima anggota itu, tetap saja salah satu di antara mereka dapat mendengar dengan baik.
📞 Halo Van? Ngapain nelpon tengah malam?! Ngantuk gw nih mau tidur! Lo kira gak cape apa ngurusin si Faris?! Dari tadi gw kagak tidur ya gara-gara masalah lo doang!
📞 Mana dia?
📞 Hah? Maksud lo Faris? Dia kabur lah!
📞 Kabur? Lo diem aja gitu?!
📞 Iya-iya gw cari! Kalem dulu bos!
📞 Cari sampe ketemu! Gak ketemu gak usah tidur lo!
📞 Iy--- *kepotong
Tuuttttt!!
Sudah dipastikan Revan di sana menggerutu tak jelas. Sementara Elvan mengendalikan emosinya agar tetap tenang. Dia tak habis pikir dengan Revan, sahabatnya yang tak mempedulikan Faris yang sudah lepas dari kurungan.
__ADS_1
"Shitt! " umpat Elvan lalu hendak masuk ke dalam ruangan kembali. Untung semua masih tertidur dan kelima penjaga di depan tak menahan Elvan masuk.
Perlahan lelaki itu kembali duduk di kursinya dan mengecek bisnis kecilnya, tugas-tugasnya, dan lain sebagainya. Banyak urusan? Tentu! Menjadi Elvan tak lah mudah! Apalagi dia hanya memeriksa melalui ponsel bukan laptopnya.
Sudah sejam berlalu akhirnya jam menunjukkan pukul lima pagi. Elvan yang menyadarinya, segera menutup dan menyimpan ponselnya. Dirinya mendengar keributan kecil di luar. "Suara bunda? " gumam Elvan menebak.
Di saat Elvan keluar, benar saja jika Mayang ditahan di luar oleh kelima penjaga karena Mayang yang membawa tas besar yang dikira senjata ilegal.
"Bunda?! " panggil Elvan. Mayang dan kelima penjaga itu menoleh. "Van? Ini kenapa banyak penjaga di sini? Mereka juga nahan bunda masuk! " tanya Mayang.
"Biarin bunda masuk! Dia orangtua queen kalian! " Akhirnya karena ucapan Elvan baru saja, membuat kelima penjaga tersebut percaya. Dan akhirnya, Mayang masuk dan bertanya kepada Elvan. "Siapa queen yang kamu maksud? " tanyanya.
"Pemilik rumah sakit ini bun! " jawab Elvan. Mayang mengernyitkan alisnya bingung. "Tapikan, bunda gak kenal sama pemilik rumah sakit Vanooo! Kenapa bilang bunda orangtuanya? Padahal bunda gak kenal sama dia! " bingung Mayang yang tak paham apa maksud dari ucapan anaknya itu.
"Terserah kamu ngomong apa! Bunda malas dengarin nya! Mending kamu bawa ini nih! " kata Mayang menyodorkan tas besarnya kepada Elvan dan pergi menghampiri brankar Lesya.
Elvan hanya menghela nafas. Dengan mudah dirinya mengangkat dan meletakkan tas besar itu di samping lemari nakas kecil yang ada. "Bun, aku pulang ya! " ucap Elvan tiba-tiba.
"Loh? Kenapa? " tanya Mayang. Elvan melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 05.28 di sana. "Mau siapin alat sekolah! " jawab Elvan dibalas anggukan kepala Mayang. "Yaudah, Lesya biar bunda yang jaga! " balas Mayang.
Elvan hanya mengangguk dan perlahan pergi dari ruangan itu. Sementara tak lama setelah kepergian Elvan, Henny terbangun dari tidurnya. "Emphh! Loh? Anda? " tunjuk Henny ke arah Mayang.
"Iya saya ke sini buat jagain Lesya! Soalnya Elvan harus sekolah ngurusin OSIS! " jawab Mayang yang paham pertanyaan Henny.
__ADS_1
Henny hanya mengangguk paham saja. "Beruntung jika Lesya dapat suami sebaik dia! " ujar Henny. Mayang tersenyum manis menanggapinya. "Dan, siapa namanya? El-van iya! Dia juga beruntung punya Lesya! " lanjut Henny.
Kedua wanita paruh baya itu berdua duduk di sofa panjang yang ada. Dan gorden pembatas sudah mereka naikkan kembali. Mayang hanya mendengarkan dengan baik ucapan yang terlontar dari Henny saja.
"Lesya tuh anaknya baik banget! Udah gitu dia pinter! Dia mudah jadi pemimpin karena keberanian yang dia punya! Saya kasihan dengan kedua orang tua dan adiknya karena gak pernah tau kalau Lesya tuh anaknya multitalent! Sempat bisnis butik saya hampir kritis tapi, karena berkat campur tangan Lesya, semua berjalan lancar lagi! " ucapnya.
"Saya juga iri dengan kedua orang tua Lesya karena punya anak yang hampir sempurna! Cantik? Iya! Pinter? Iya! Baik? Iya! Kaya? Iya dan enggak! Lesya orangnya pekerja keras! Dia punya usaha bisnis hotel mendiang Ayahnya! Saat hampir kritis, dia langsung belajar membangkitkan hotel itu dan akhirnya bisa bangkit lagi! " ujar Henny lagi.
Mayang mengernyitkan alisnya bingung. "Lesya punya bisnis hotel? " tanyanya. Henny mengangguk. "Saya gak sengaja denger dari percakapan Lesya sama Luna waktu itu! Memang dia gak bilang? " Mayang menggeleng dengan pertanyaan Henny baru saja. "Enggak tuh! "
Henny tertawa kecil. "Haha, emang gitu Lesya orangnya! Agak ketutup! Dia paling gak suka umbar masalahnya, dia juga jarang nangis di mana-mana! Saya juga gak sengaja dengar kalau Lesya tuh punya banyak piala di apart pribadinya! Jarang dia tunjukin ke orang lain! " jawab Henny.
Mayang mangut-mangut paham. Dia kini mulai paham jika bagaimana pribadi Lesya itu. Dia lanjut mendengarkan lontaran yang dikeluarkan Henny dengan baik.
"Saya juga kesal sama keluarga Lesya itu! Masa sih Lesya juara 1 waktu SMP, gak ada yang mau ngancapin selamat! Giliran juara 2, dia malah dihukum! Sementara adiknya itu, juara 1 gak pernah dapet tapi diucapin selamat! Masalah nilai raport aja, gak pernah tuh baca berapa aja nilai Lesya! Pernah waktu SD dia ikut lomba Olimpiade Global! Dua pelajaran yang dia ikutin! Ada sains and math! Tapi dia malah juara 2! " curhat Henny.
"Agak murung waktu dia nerima penghargaan! Dia juga orangnya mandiri banget! Sikapnya begini karena dia kurang diperhatikan! Dan di saat panggilan orang tua buat dia keluar, gak ada yang mau nemanin dia! "
"Bahkan di saat ulang tahunnya, dia gak pernah ngerayain! Jangankan ngerayain, inget tanggal lahirnya aja enggak tau! Padahal, di saat adik kembarnya ulang tahun, buat pesta dan dia gak diundang! Makanya setiap ulang tahun, apalagi di saat peringatan ketujuh belas tahunnya, dia malah koma! Gak ada satupun pihak keluarga yang jenguk dia! Makanya Luna, Cakra, Alam, Leon jagain Lesya saat koma itu. Kondisinya parah! Dia hampir tak terselamatkan! Untung aja Candra sama Sarah berhasil melaksanakan operasi besar Lesya! " lanjut Henny bercerita.
Mayang terkejut. "Separah itukah kondisinya? " tanyanya dibalas anggukan kepala Henny. Mereka cukup akrab hanya karena membahas pribadi Lesya saja. Bahkan mereka memanggil antar nama tanpa rasa canggung.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1