Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
433: Suspact


__ADS_3

Episode 433: Suspact


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Satu bulan telah berlalu begitu saja. Lesya kini diperharuskan untuk menimba ilmu di perguruan tinggi sesuai dengan cita-citanya dahulu. Karena sibuk kuliah, Lesya juga tak diperharuskan untuk setiap hari turun tangan dalam bisnis daddynya yang akan menurun padanya.


Pagi hari ini, lebih tepatnya di kampus Galaxy--salah satu kampus terbesar dan memiliki kinerja tertinggi di kota Jakarta, sudah ada seorang perempuan yang duduk menunggu teman-temannya.


Aleesya namanya, dia yang dipinta agar tetap menimba ilmu di perguruan tinggi akhirnya menurut saja. Setidaknya dia juga bersekolah seraya menghindar dari beberapa berkas-berkas yang mampu membuatnya pusing seribu keliling.


Lesya saat ini memasuki fakultas Teknik dengan jurusan Arsitektur. Jika Luna, Letha, juga Nayla memasuki fakultas jurusan Fashion Design atau dikenal juga sebagai jurusan Desain Mode. Lisa memasuki fakultas Hukum, berbeda dengan Amel yang memilih jurusan Kedokteran. Random bukan?


Jika para lelaki berbeda lagi urusannya. Elvan, Revan, juga Farel mengambil jurusan Manajemen. Sementara Frans mengambil jurusan Akuntasi. Berbeda dari temannya, Valen memilih mengambil jurusan Psikolog di fakultas Kedokteran.


Puk!


Lesya menoleh dan menemukan Lisa yang tiba-tiba menepuk punggungnya dari belakang. Lisa menyengir dan segera duduk di kursi yang kosong.


Beruntung saja Lesya sebelumnya sudah memesankan es jeruk di kantin kampus karena permintaannya di room chat mereka sebelum pergi ke kantin kampus.


"Btw lo aneh ya!" ucap Lesya tiba-tiba.


Lisa mengerutkan alisnya bingung dengan maksud ucapan Lesya. Lawan bicaranya tampak menggelengkan kepalanya karena baru saja tersadar akan satu hal selama ini, dan itu berkaitan dengan Lisa.


"Aneh gimana?" tanya Lisa bingung.


"Lo jurusan hukum, tapi ambil jurusan SMA malah IPA bukan IPS! Sayang banget gw baru sadarnya sekarang." geleng Lisa meneguk minumannya.


Lisa tertawa lucu mendengar jawaban Lesya. Iya, aneh juga jika dipikir-pikir.


"Awalnya gw mikir kalau gw gak bisa jadi pengacara, secara alami karena gw galak ya? Makanya gw ambil jurusan IPA biar sekalian bisa kerja apa aja, sesuai takdir." ujar Lisa mengeluarkan ponselnya. Lesya mangut-mangut paham saja mendengarnya.


"Gw kasian dah sama Repan!" kata Lesya lagi membuka pembicaraan baru.


Lisa hanya mendengar dan meletakkan ponselnya di atas meja. "Lo sebenarnya tau kan perasaan dia sama lo? Karena lo yang masih belum bisa move on dari Leon makanya begini." sambung Lesya menebak dengan intimidasi khasnya.


Lisa menghela nafasnya kasar dan mengangguk pelan. Sebagai perempuan yang selalu diutamakan oleh Revan di saat dia butuh, membuat perasaan lebih dari Lisa. Namun, karena mimpinya dan tak mau merusak hubungan mereka, Lisa hanya memilih untuk diam saja.


Setelah pindah sekolah di SMA Gregus, bagi Lisa bertemu dengan Leon adalah anugrah terindahnya. Hatinya menganggap Revan sebagai sahabat terbaik dan Leon adalah pujaan hatinya yang mampu membuatnya menerobos prinsipnya yang ingin menggapai mimpi dahulu lalu berpacaran.

__ADS_1


Sayangnya, setelah kepergian sosok mendiang Leon membuat Lisa kembali diperhatikan lagi oleh Revan.


Selalu dihibur, selalu diingatkan ini-itu, terkadang Lisa ingin merutuki kebodohannya. Bukan satu yang dia cintai, tetapi dua. Ada mendiang Leon, juga ada nama Revan di hatinya.


Lesya yang mendengar ucapan Lisa hanya menghela nafasnya saja. Lisa seolah tak menyangka jika hatinya terbawa perasaan entah itu diperhatikan, dimanja, dihibur, dibentak. Emosionalnya berarti masih normal, bagi Lesya.


"Selama ini gw selalu dimanja Papa gw dan itu buat gw gak bisa nerima bentakan orang lain. Bagi gw, kalau orang lain bentak, gw bakal balas balik bentak. Kalau orang itu bakal sayang sama gw, gw bisa sayang begitu."


"Jadi kalau ada om-om pedo yang sayang sama lo, lo bakal sayang?" tanya Lesya mengangkat satu alisnya.


Lisa berdecak malas. Bukan begitu maksudnya. Lisa hanya menerima seseorang yang tulus dan semua itu dapat dibuktikan dengan keterimaannya dia mengenai sikap, kekurangan, juga kasih sayang yang dia dapat.


"Emang Valen, Farel, sama Frans gak sayang sama lo Lis?" tanya Lesya penasaran. Lisa mengangguk lalu menggeleng cepat. Lisa sendiri tak yakin dengan jawabannya.


"Em, gimana ya jelasinnya? Sayang sih sayang, sekedar teman doang. Beda banget sama sayang yang dikasih Revan yang lebih mengarah melindungi, menjaga kayak kewajiban seorang suami sama istrinya." kata Lisa menjelaskan.


Lesya menggangguk paham dan menjentikkan jarinya. Analisis mengenai hati dan jiwa Lisa kini sudah dapat Lesya pahami. Rasa sayang sebagai sahabat kini berubah menjadi rasa cinta layaknya kekasih. Dia tahu dari Elvan jika Revan menyimpan kontak perempuan hanya ingin membuat Lisa cemburu saja.


Sayangnya Lisa masih tetap kokoh dalam pendiriannya, yaitu bekerja terlebih dahulu lalu pacaran. Lisa juga ingin menjaga hubungan mereka agar tak renggang saat putus nanti. Di saat mengetahui Lisa juga Leon memiliki hubungan special, Revan mulai menjauh karena paham dengan hubungan mereka yang sebatas sahabat, tak lebih.


Demi menjaga suatu hubungan mereka mulai merenggang dan kembali terikat saat Revan berusaha menghibur Lisa setelah kepergian Leon. Hingga saat ini, mereka masih tetap demikian, demi hubungan persahabatan mereka.


"Menurut gw ya, lebih baik lo terima aja! Masalah Leon gak usah lo pikirin lagi. Lo butuh pendamping juga, ya kali lo jadi perawan tua. Lagipula nih ya, Leon titip lo sama Revan sebelum dia meninggal." ucap Lesya memberi saran.


"Lah? Waktu kapannya? Kok gw gak tau sih? Padahal gw lebih banyak sama dia dibanding sama lo yang waktu itu lagi buta." heran Lisa seraya menyatukan kedua alisnya. Lesya tersenyum simpul. Dia hanya mendapat dari mimpi bukan secara langsung karena saat itu dalam kondisi tak memungkinkan.


"Gw pikir juga begitu!"


Keduanya menoleh secara bersamaan. Rupanya ada Luna yang baru saja datang dengan Nayla juga Letha. Ketiganya duduk di kursi yang kosong dan ikut bergabung dalam obrolan keduanya.


"Kasian tuh anak lo gantung mulu perasaannya Lis! Diembat orang nanti lo nangis-nangis lagi." lanjut Luna serius.


Lisa memutar bola matanya jengah seraya menyeruput minumannya. Sementara Nayla berpamitan memesan minuman untuk mereka di sudut kantin.


"Sombong amat, mentang-mentang udah dilamar sama WakKetu!"


*WakKetu: (Wakil Ketua)


Luna menyombongkan dirinya bangga dengan cibiran Lisa. Iya, seminggu yang lalu dia sudah dilamar oleh Valen dan rencananya akan menikah lusa.

__ADS_1


Lesya geleng-geleng kepala saja dan tersenyum karena tak menyangka jika dia akan besar dan tetap menjalani hubungan persahabatan dengan Luna saat ini. Tentunya setelah kejadian yang membuat keduanya renggang.


"Nah diminum, Calon ibu dari anak-anaknya Pak Valen!" ledek Nayla menyodorkan satu gelas pada Luna juga satu lagi pada Letha.


Luna menatap sinis ke arah Nayla yang meledeknya seraya menyeruput minumannya. Cuaca sedang pada masa cerah-cerahnya saat ini. Jadi, mereka butuh penyegar tenggorokan.


"Amel mana?" tanya Lesya.


"Biasalah! Calon bu dokter, sibuk bae urusannya." jawab Nayla mewakili.


Lesya mengangguk paham saja. Agak aneh memang mereka selama ini. Di awali pertengkaran lalu kembali menjalankan hubungan pertemanan. Wow, so very impressive bukan?


"Kenapa cemberut ini satu?" tanya Lisa yang melihat wajah cemberut Letha yang berada di sebelah Nayla. Sang empu menggeleng dengan muka ditekuknya.


Kalau urusan sudah begini, Luna tak mau tau lagi lah. Semua hampir terbongkar tadi di kelas mereka. Bahkan mereka saja diusir karena melawan dosen.


Nayla menghela nafasnya dan mulai menjelaskan kronologinya pada Lesya juga Lisa. "Jadi gini, kan kita lagi ukur baju buat coba-coba buat gaun sesuai imajinasi kita, tapi ada dosen yang nanya kenapa Letha tambah gemuk bahkan dia bilang Letha kayak orang hamidun! Letha pengen nangis, tapi si Luna duluan ngajak dosen adu bacot nyampe kita di sini bertiga." jelas Nayla menceritakan.


Lesya menggebrak mejanya kuat. Dia tak terima sekaligus marah pada dosen tersebut. Tak peduli siapa dosen yang mengajar, sudah pasti dia tahu dosen apa yang dimaksud oleh Nayla. Segera Lisa dan Luna menahan dengan segera sebelum mereka kembali menjadi pusat perhatian orang sekitar mereka.


"Tahan woy, Sya! Ini bukan SMA lagi yang bebas ngelakuin apa aja yang lo suka, lagian tuh dosen juga nebaknya bener kok!" ucap Lisa menahan pergerakkan Lesya yang sangat gegabah.


Letha menajamkan pendengarannya. Sudah beberapa bulan berlalu, dia juga turut menyadari perubahan postur tubuhnya. Dia juga sudah mencoba untuk diet, sayangnya indra penciumannya selalu menginginkan makanan dan makanan terus-menerus.


Bahkan di saat Letha ingin periksa ke dokter untuk bertanya, Lesya, Mily, dan kedua temannya menahan dan mengalihkan topik bahasannya.


"Sebenarnya gw kenapa?" tanya Letha.


"L-lo gak papa kok Tha! Dosen tadi emang butuh dikasih pelajaran sekolah biar mulutnya bisa dijaga." ucap Nayla memberi alasan aneh dengan canggung.


Letha memicingkan matanya curiga karena tak percaya dengan ucapan Nayla. Lesya juga sudah kembali tenang setelah ditahan oleh Lisa juga Luna.


"Please dong, kasih tau ya? Kepikiran mulu gw sama kondisi gw sendiri!" pinta Letha dengan raut wajah memelas.


Lesya dan yang lainnya hanya acuh dan beralih topik pada yang lain seolah mengacangi keberadaan Letha di sana.


*Kalau mereka gak mau kasih tau, terpaksa nanti gw harus pergi sendiri ke rumah sakit! Lagian gw juga curiga sama tanda-tanda yang gw alamin selama ini.* batin Letha bertekad kuat seraya mengelus perutnya dengan sedikit ragu.


Letha juga mencurigai mengenai hal-hal yang berubah pada fisiknya. Sebagai pemilik tubuh, sudah pasti Letha merasakan apa yang terjadi di tubuhnya. Selain itu dia juara kelas, tak mungkin lupa dengan pelajaran saat masa abu-abunya. Letha tak sebodoh itu!

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2