Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
428: Mencoba Membujuk


__ADS_3

Episode 428: Mencoba Membujuk


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Jalanan ibu kota perlahan mulai padat penduduk. Lesya, dia sedang duduk di mobil sportnya dengan lagu yang sengaja dia nyalakan. Saat pagi-pagi tadi, dia terpaksa pergi ke sekolah untuk menyerahkan sedikit tugasnya yang belum terkumpulkan.


Wali kelasnya itu mengancam jika tugasnya belum terkumpul, maka dia tak dapat lulus. Akhirnya mau tak mau Lesya hanya dapat mengumpulkan tugasnya dengan penuh rasa malas. Hibernasinya terusik dan dia tak suka itu.


Jalanan macet karena di depan sana sedang mengalami tragedi lampu merah. Disebabkan dia tak membawa motor, akhirnya dia menunggu sesekali ikut bernyanyi mengiringi lagu yang dia putar.


***


Unconditional, unconditionally


I will love you unconditionally


There is no fear now


Let go and just be free


I will love you unconditionally


(Unconditionally--Katy Perry)


***


"Akhirnya setelah sekian lama gw bisa terbebas dari kemacetan yang sangat menggosongkan diri." gerutu Lesya sedikit kesal seraya mematikan music yang dia putar. Kini jalanan sudah mulai lancar. Niat awal akan dia habiskan tuk kembali mengurus restoran saja.


Drrttt... drttt…


"Siapa sih telpon-telpon?!"


Di saat Lesya hendak meraih ponselnya, tanpa sengaja Lesya oleng hingga ponselnya justru terjatuh. Dengan malas dia menghentikan mobilnya ke pinggir jalan dan mengambil ponsel miliknya yang terjatuh. Tak peduli dengan satu mobil yang mengumpati dirinya karena tiba-tiba berhenti secara dadakan.


Lesya mengeryitkan alisnya bingung di saat nama kontak sang adik yang terpampang jelas di layar ponselnya.


Segera Lesya mengangkat sambungan telepon yang masih berbunyi. Dia hanya waspada saja jika itu panggilan minta tolong Letha padanya. Bahaya jika adik kembarnya tiba-tiba saja ditangkap dan dikurung oleh gangster Elvan.


BIG NO!!


Lesya tak mau hal itu terjadi. Bahkan membiarkan hal tersebut terjadi juga sangat ditentang keras olehnya. Dia bukan pengingkar janji terlebih janjinya pada mendiang papinya untuk menjaga adiknya dalam situasi apapun.


Letha is calling you…


📞Halo? Ada apa lagi Ar?


📞Adek kesayangan lo ini ada di gw, mau lo dateng ke sini atau gw yang samperin lo hm?


"Luna?!"


Lesya sangat terkejut mendengar suara di seberang telepon. Itu suara Luna, sahabatnya. Lesya menggenggam erat stir mobil dan meloud speaker panggilannya. Gadis itu menancapkan pedal gas agar menyusul ke tempat di mana adiknya ditahan, mungkin.


📞Di mana lo?


📞Gw? Di taman belakang markas Tiger Wong yang pernah lo lewatin waktu bawa Letha kabur.


Tuuuuuttt!

__ADS_1


Lesya mencengkram kuat stir mobilnya setelah mematikan secara sepihak panggilan telepon. Queen Ellion itu kini menambahkan kecepatan mobilnya tanpa mempedulikan jalanan yang cukup ramai. Dia tak mau adik kembarnya terjadi apa-apa. Pikirannya buntu seolah hanya mengejar keselamatan adiknya dibandingkan dirinya saat ini.


Setibanya di gerbang belakang tujuannya, Lesya dengan ragu keluar dari mobil sport berwarna hitamnya. Setelah memantapkan hati dan jiwa yang sempat ragu, Lesya menyemangatkan dirinya sendiri dan keluar dari mobil dengan pandangan datar khas dirinya.


Lesya segera berjalan memasuki gerbang belakang yang tampak terbuka lebar. Sepertinya hal itu disengaja oleh mereka. Lesya yang sudah berada di taman tampak sedikit tersentak melihat apa yang dia lihat. Adiknya, diborgol kembali?! Pikirnya kaget.


Lesya menghela nafas dan mengepalkan tangannya kuat. Sebelumnya dia sudah menyediakan benda tajam jika dia butuh nanti. Di setiap kondisi, dia harus tetap waspada bukan? Musuh bisa berdatangan dari mana saja.


"Jangan macem-macem lo ya Luna!"


Lesya akhirnya menampakkan dirinya dari belakang dan membuat mereka yang berada di sana menoleh. Luna tersenyum manis di kala kerah bajunya terangkat karena ulah Lesya.


"Calm down baby! Gw cuman mau ajak lo ngomong baik-baik aja kok, tapi lo nya yang selalu ngehindarin gw. Terpaksa kan gw pake cara ini buat nekan lo."


Lesya berdecak pelan mendengarnya. Dengan kasar Lesya melepaskan tangannya yang sempat memegang kasar kerah baju Luna. Dan kini pandangannya beralih dan hendak berjalan menghampiri adik kembarnya yang terlihat memberontak dengan mulut yang sudah disumpal dengan tali.


"Eitts, mau kemana lo? Buru-buru amat sih Mbak,"


Lesya segera menepis tangan Lita yang menahannya. Dia tak peduli akan pandangan yang mengarah padanya. Dia masih kesal dengan peristiwa kemarin yang sempat merendahkan harga diri sang abang angkat hanya dengan kekuasaan turun temurun keluarga Grizi.


"Lo jangan buat kesabaran gw habis ya! Kemarin lo dateng cuman bawa masalah, kenapa sih lo gak balik aja sono nemenin Bang Cakra gitu? Diambil perempuan lain gw orang yang pertama kali ketawain lo!" ketus Lesya sinis.


Lita hanya menggeram dalam diam saja. Di saat Lesya hendak melangkah, dengan cepat Ken menghalangi jalan Lesya dari depan dengan merentangkan kedua tangannya. Lesya mengepalkan tangannya kuat. Dia tak semudah itu mengontrol emosionalnya.


Bugh!


Melayangkan sebuah tinjuan tepat di hidung Ken, sang empu memekik kesakitan sekaligus terkejut di saat darah keluar dari hidungnya. Melihat hal tersebut, Lesya hendak melangkahkan kakinya tuk menemui sang adik. Namun, tampaknya kini Luna yang menghalangi jalannya. Sungguh, ini sangat mengganggu emosional Lesya!


Karena kejadian dahulu, emosional Lesya lebih banyak pemarah. Jika dia di ujung kegeraman seperti ini, bisa jadi Luna yang jadi korban. Tak hanya itu, sekitarnya juga bisa jadi korbannya. Lesya mencoba menahan, tetapi yang lain terus menghalanginya.


"Minggir Aluna!" bentak Lesya.


Lesya mengepalkan tangannya kuat. Dia cukup geram. Setelah dia lihat sekelilingnya, ternyata sama sekali tak ada Elvan. Aih, ke mana perginya ketua gangster itu? Lesya ingin berdebat dengannya saat ini juga.


"Kenapa hm? Nyari Elvan? Oh dia gak ada karena kita ngerencanain tanpa ada dia." sahut Lisa dari belakang seraya menahan tubuh sang kakaknya yang hendak melangkah maju. Lesya melirik sekilas dan menoleh pada sumber suara yang sangat familiar di telinganya.


"Ada apa ini?"


"Elvan?!" kompak mereka kaget.


Suara bariton Elvan terdengar seraya memapah temannya yang baru saja pulang dari jadwal controlnya di rumah sakit. Ya, dia dan Frans pergi menemani Farel yang memiliki jadwal control luka-lukanya di rumah sakit.


Mereka kembali ke markas karena Farel yang meminta sendiri karena ingin bercengkrama dengan teman-temannya. Alasan yang cukup logis itu membuat Elvan menyetujui saja dan kembali ke markas mereka. Toh, mulai jarang-jarang bukan menghabiskan waktu sekedar bercengkrama dengan teman-teman mereka, kecuali berada di sekolah.


Saat sudah kembali, mereka mendengar dari Revan jika di taman belakang sedang terjadi kerusuhan antara temannya dengan Lesya karena perebutan Letha lagi. Sebagai seorang ketua, Elvan juga bingung karena dia sama sekali tak membawa bahkan menyuruh orang lain untuk membawa nama Aleetha itu kembali ke markasnya.


Dan saat mereka datang ke taman belakang markas, betapa terkejutnya mereka melihat kerusuhan bahkan Letha yang kembali diborgol dengan mulut yang tersumpal. Dengan pandangan mata, Revan sudah tahu maksud ketuanya seolah menyuruhnya membebaskan Letha yang terus memberontak dari ikatannya.


Plaakk!


Lesya berjalan cepat dan dengan keras menampar Elvan yang baru saja datang ke taman itu. Semua melototkan mata mereka tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tatapan bak elang milik Lesya membuat kesan kejamnya kini terlihat.


"Aleesya!" sentak Elvan kaget.


"APA HAH? Lo jadi ketua harusnya ngerti gimana kondisi orang dong. Gw tau lo juga dendam, tapi bisa gak usah pake kekerasan? Gw tau gw salah karena buat temen lo begini, tapi bisa gak usah bawa Letha ke masalah gw hah?" bentak Lesya menahan tangisnya yang ingin keluar.


Demi apapun, Lesya secara reflek saja membentak dan menampar Elvan begitu saja. Sekalipun dia tak memiliki niat tersebut. Dia hanya ingin menahan dan merunding dengan baik. Sepertinya, niat otaknya yang ingin melakukan hal demikian walau terkesan kasar.

__ADS_1


"L-lo?"


Elvan mendadak tergagap di saat melihat sang istrinya justru terlihat hampir menangis. Sangat dapat dilihat dari pelupuk mata yang memerah juga basah. Elvan segera mendekap sang lawan bicara tanpa mempedulikan pemberontakkan dari lawannya.


"Lepasin! Gw belom kelar ngomong!"


"Yaudah tinggal ngomong aja"


Lesya langsung terdiam merasakan telapak tangan yang mengelus pucuk kepalanya. Sudah hampir seminggu lebih sejak pertengkaran hari itu Lesya tak merasakan kehangatan telapak tangan milik Elvan. Sayangnya saat ini bukan hal terbaik untuk membicarakan rindu atau tidaknya dengan perlakuan lembut Elvan.


"Jangan nangis ya, gw gak suka!" bisik Elvan yang hanya dapat didengar oleh Lesya saja. Farel dan Frans juga sudah menjauh dari keduanya karena keduanya cukup paham jika hal tersebut berisi privasi hubungan mereka.


Plakkk!


Lesya melepaskan pelukan Elvan dengan kasar. Dia tak bisa berbicara jika didekap begitu. Elvan hanya menatap lekat perempuan di depannya. Beruntung mereka kini memiliki jarak dari mereka yang hanya menyimak.


"Lo lupa sama omongan gw seminggu lalu hah? Kalau lo mau ngomong, gak usah bawa Letha karena dia gak paham! Ngomong aja gak perlu buat sandera begini!" kata Lesya menyentak.


"Enggak tuh! Gw sama sekali gak sandera adek lo itu. Gw baru dateng dan liat kalian begini. Harusnya gw yang tanya kenapa lo berani balik lagi ke tempat ini!" balas Elvan menggelengkan kepalanya tanpa berbohong sedikitpun.


"Ta---


"Oh? Kalau tentang sandera adek lo itu gw juga setuju. Gak ada satu mangsa pun yang bisa lolos dari gw. Kebetulan karena orangnya udah di sini, masukin lagi aja dong ke dalam!" sela Elvan kembali menjentikkan jarinya.


"Enggakk!" bantah Lesya membentak. "Yang jadi korban gw, bukan lo! Jadi, di sini harusnya gw yang nentuin. Kalau gw mau bebas, ya bebas. Lagian lo kenapa sih dendam begini sampai ngurung Letha hah? Dia gak punya salah sama lo, adanya sama gw. Jadi, semua keputusan harusnya gw yang tentuin." lanjut Lesya melakukan protes dengan keras.


"Oh? Pertama, sewaktu di sekolah dia ngeganggu gw banget dan gw gak suka. Niat gw mau buat hidup dia gak tenang, tapi gw masih ingat kedudukan gw di sekolah. Gak cuman itu, bahkan dia ngintilin gw kemana pun gw pergi, sayangnya dia ketinggalan." ucap Elvan dengan mengangkat satu jarinya.


Letha terdiam. Dia memang melakukan hal itu demi mendapatkan informasi idolanya. Namun, itu saat kelas sepuluh hingga sebelas saja. Di saat kelas dua belas, dia disibukkan dengan tugas-tugasnya dan materi yang harus dia pelajari. Pengejarannya tapi sama sekali tak berhenti di sana.


"Kedua, di waktu gw yang pengen ke toilet juga diintilin. Untungnya gw sadar dan pergi ke arah lain. Oh satu lagi, dia manfaatin Farel hanya karena mau tau siapa gw! Gw gak terima temen gw dibegituin, akhirnya gw dan yang lain sepakat buat kasih pelajaran yang setimpal setelah jabatan OSIS kita lepas." lanjut Elvan kembali menjeda ucapannya.


Letha yang sudah tak lagi diborgol kini menunduk. Kejadiannya memang benar adanya, tetapi jika dihitung, hal tersebut terjadi sebelum pernikahan Lesya juga idolanya. Ya, Letha kini sudah tahu tanggal dan bulan berapa mereka menikah. Bahkan harinya juga tahu kok!


"Kalau dilihat-lihat, sayang banget ya kalian ngira karena kejadian perang itu? Sebelumnya gw gak bisa terima permintaan lo buat lepas dia(Letha) lagi! Prinsip kami: ‘satu sakit, semua sakit!’ Gak cuman dia(Letha), tapi lo juga bahkan nyakitin satu dari kami Aleesya!" datar Elvan dengan tatapan yang kini semakin sulit diartikan.


Lawan bicara Elvan itu kini hanya mengepalkan tangannya. "Tapi gw gak akan biarin Letha kalian kurung!" sentak Lesya. "Kalau gitu gw yang ambil kekuasaan karena dia udah nyerang gw." lanjut Lesya mencari ide agar sang adik tak kembali terkurung di bawah tanah.


Jujur saja jika Lesya adalah orang lain, Elvan sudah pasti membawa Lesya ikut terkurung dalam tahanannya. Sayangnya mereka masih belum berpisah alias masih memiliki ikatan hingga mau tak mau, Elvan harus tetap menjalankan kewajibannya untuk melindungi Lesya.


Beruntung teman-temannya juga menyetujui hal itu. Rencana mereka tetap berjalan dan dibuktikan dengan hal ini. Lagipula mereka tau, jika satu dalam kembaran sakit, yang lain ikut merasa sakit. Mungkin, dari hal ini mereka dapat membuat hikmah di dalamnya.


"Dan hukumannya lo bebasin kan? Oh, kalau gak kita rebutan mangsa gimana? Setuju gak?" tanya Elvan menawarkan.


Lesya memundurkan langkahnya sekali dan mengacak rambutnya frustasi. Dari sorot mata Elvan, Lesya dapat tebak jika lelaki itu kali ini tak akan mengalah.


"Le?!"


Elvan sontak ikut berjongkok di saat melihat lawan bicaranya justru menunduk dan berjongkok seolah sedang berlutut. Tak hanya itu, mereka yang di sana juga tak menyangka dengan tindakan Lesya. Bukannya gadis itu sangat menjunjung tinggi harga dirinya? Lantas, sekarang apa?


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Pengen nanya, kalau kalian punya adik seperti Letha, kalau ada di situasi begini udah kalian apain? Lalu gimana sikap Lesya sekarang? Kalian pilih siapa di sini? Atau gak pilih siapa-siapa?


Btw, 2000 words loh! Maaf yaa kalau belum bisa kabulin permintaan update lebih kalian karena dalam fase ini, author masih sibuk dalam urusan real life.


Walau gitu, author sempetin update buat kalian dalam kata-kata lebih banyak dari update biasanya. Maaf juga kalau kemarin gak update gays☋

__ADS_1


Jangan lupa jaga kesehatan ya! Sakit itu gak enak, terus waspada karena dunia lagi gak aman hehe :)


__ADS_2