Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
END


__ADS_3

Waktu terus berlalu hingga tak terasa setelah kepulangan Lesya ke rumah sudah selama satu tahun tiga bulan. Mereka yang sama-sama sibuk kini beralih lebih sibuk, terlebih pada saat malam hari. Walau sudah mulai merenggang, keaktifan kedua twin sudah tak tahu harus bagaimana lagi.


Di tengah malam, terkadang Lesya harus bangun dan menyusui kedua anaknya. Mengajak bermain, lalu saat paginya dia dapat beristirahat walau hanya satu jam saja. Jam kuliahnya dia gunakan di rumah dan dia mengambil jalur cepat lulus agar dapat fokus pada tumbuh kembang kedua anaknya dan rumah.


Tak jauh beda, Elvan pun demikian. Tengah malam dia ikut mengajak bermain seraya mengerjakan skirpsi agar cepat lulus. Terkadang saat pagi dia rela di rumah agar Lesya dapat beristirahat dan dia yang menjaga.


Mengenai perusahaan ayahnya, Valen yang masuk dalam jurusan psikolog juga ikut membantu karena paham mengenai hal-hal menyangkut bisnis dan usaha.


Terkadang juga Luna mampir ke rumah dengan anaknya, begitu juga sebaliknya. Hubungan sahabat sekaligus tetangga dekat satu sama lain terus berlangsung.


Pagi yang cerah dimanfaatkan untuk berjemur dan seusai itu Lesya bersiap untuk menyiapkan sarapan. Walau masih agak kurang gesit, Lesya masih bisa menyiapkan makanan untuk keluarganya karena saat kecil dia terkadang membuat makanan simple sendiri.


"Wah baby Papi udah wangi ya, Nak? Umumu ... imut banget sih kalian ini, anak siapa hum? Anak Papi ya hm?"


Lesya mengerucutkan bibirnya manyun mendengar interaksi suami dan kedua anaknya. Di dapur sudah ada ketiganya dengan Lesya yang masih sibuk menyusun makanan ke dalam piring.


"Oh? Anak lo doang? Bukan anak gw juga gitu hah?" galak Lesya tak terima. Elvan terkekeh dan memeluk anak bungsunya yang merentangkan tangan padanya.


"Nak, jangan tiru ya Mami kamu! Dia galak," bisik Elvan. Lesya melayangkan tatapan tajam ke arah belakang. Elvan yang melihatnya hanya tertawa terbahak-bahak diikuti kedua anaknya.


"Fiks, gak ada jatah malam nanti!"


"Yaudah, gak ada jatah jajan!"


"Yaudah gak masalah tuh. Gw 'kan bisa minta gaji sama Daddy huuu..."


Elvan merengut kesal. Beberapa ART yang bekerja cukup terhibur dengan interaksi pagi hari ini. Kedua majikannya selalu hangat seperti kedua mendiang majikan mereka saat masih hidup.


"Parah banget! Nak, jangan ikutin ya sikap Mami kamu! Nakal, suka ngancem begitu sama Papi," ucap Elvan melengkungkan bibirnya ke bawah. Si bungsu hanya menunjuk dan menepuk-nepuk pipi Papi nya.


Elvan yang gemas segera menggendong dan mengecup pipi anaknya berkali-kali. "Humm, Aroon anak siapa hm? Gumush banget sih kamu cantik,"


"Udah gak usah muji-muji sana-sini. Mending duduk terus makan! Harus ke kantor 'kan sekarang? Dasi aja belum kepasang," sinis Lesya yang sudah selesai menata piring ke atas meja makan. Elvan hanya menurut dan menurunkan si bungsu ke kursi bayi.


"Anak-anak udah makan 'kan?" tanya Elvan menatap Lesya yang sibuk memasangkan dasinya. Sengaja dia tak memasangkan dasi karena ingin dipasangkan. Selain itu, dia rindu dengan gumam-gumaman anak bungsunya—Sharoon. Si cantik gemuk nan imut!


"Udah kok. Sekarang biarin mereka lihat kita makan, sekalian jaga-jaga," ucap Lesya mengangguk. Setelah merapikan dasi, Elvan mengecup cepat bibir sang istri dan tersenyum.


"Makasih jadi Mami dan istri terbaik,"


Lesya hanya diam dengan bibir yang menahan senyum. Sedetik dia sadar dan memukul lengan Elvan karena mengetahui anaknya—Sharoon sudah menumpahkan sup yang dia masak.


Jika Sharoon lebih aktif, berbeda dengan si sulung—Shannon yang terkesan lebih pendiam dan pecinta tidur. Menangis pun hanya ikut-ikutan sang kembaran. Namun, Lesya bersyukur karena saat Sharoon lebih rewel, Shannon terkadang lebih kalem alias kutub seperti Papi nya.

__ADS_1


"Aduh si cantik kok nangis sih? Panas ya sop nya?" Elvan yang tak tega mendengar suara tangis Sharoon yang melengking akhirnya menggendong dan meniup pelan tangan si bungsu.


Lesya sendiri hanya diam tanpa satu kata patah pun. Membersihkan meja yang penuh dengan tumpahan sop, Lesya barulah menggendong Shannon—si sulung yang hanya planga-plongo walaupun bajunya ikut basah.


"Ganti baju yuk?" ajak Lesya berjalan meninggalkan Elvan dan Sharoon di belakang mereka. Elvan yang menggembungkan pipinya cemberut membuat Sharoon tertawa melihat kedua pipi Papi nya yang terisi angin.


Setibanya di kamar, keduanya saling asik memandikan ulang si kembar karena tumpahan sop tersebut setengahnya mengenai mereka. Akhirnya setelah selesai membersihkan diri, barulah baju mereka diganti dengan hiasan imut yang dipilih Lesya saat berbelanja.


Kamar yang tadinya hanya berisi buku-buku, berubah seratus persen. Akibat kehadiran si kembar mungil, banyak mainan yang menumpuk di kamar dan ruang bermain. Walau begitu, kamar Lesya dan Elvan masih berisi mainan karena mereka sama-sama tak ingin melepaskan si kembar sedetikpun.


"Aku mau ke kantor loh?"


"Ya terus?"


"Ke bawah lah, anterin. Katanya kemarin mau mampir ke rumah Kai?" cemberut Elvan manyun. Lesya mengulum senyum dan mengambilkan jas di dalam lemari agar sesuai dengan warna dasi suaminya. Kebetulan Elvan saat ini masih belum menggunakan jas.


Sikap manja Elvan sudah 'sangat' terlihat dan bertambah. Kehadiran si kembar membuat Lesya terkadang ikut ingin menangis frustasi. Sudah ada dua bayi yang harus dia urus, tetapi karena interaksi antar anak dan ayah membuat Elvan bersikap layaknya anak kecil.


"Udah ya, aku ke bawah dulu. Kamu jaga anak-anak soalnya bekas yang tadi belum aku beresin. Sekalian buat bekal buat kamu ke kantor nanti gimana? Tadi 'kan belum sempat sarapan,"


"Oke Mami cantik,"


"Sa ae buaya!"


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Lesya menoleh ke arah sumber suara. Setelah usai menyiapkan bekal dan membereskan piring-piring yang tersisa, Lesya segera menghampiri Luna yang datang dengan Valen. Jangan lupakan ada Vay dan Kaileen yang ikut datang!


"Kok ke sini sih? 'Kan gw bilang gw yang mampir loh?" heran Lesya. Luna berdecak pelan. "Lo lama. Makanya gw ajak mereka ikutan ke sini," jawab Luna.


Lesya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya paham saja. "Biasa tuh si Aroon resek!" kesal Lesya cemberut.


Luna tertawa kecil. "Lo aneh! Bikin nama kok rasanya kebalik ya? Si Sharoon dipanggil Aroon, si Shannon dipanggol Annon. Kok kebalik sih? Harusnya si Sharoon yang Annon," heran Luna menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Enggak! Annon tuh nama laki, tapi sengaja gw imutin karena dia 'kan tukang molor terus lebih gendut," ujar Lesya berbisik pelan seolah mengatakan sebuah rahasia.


Luna tertawa mendengarnya. Memang benar jika Shannon—si sulung lebih suka tertidur dibandingkan bermain. Lebih suka diam dibandingkan mengoceh. Postur tubuh juga Shannon lebih berat. Itu sebabnya Elvan memanggil Sharoon si gembul, sementara Shannon di gendut.


"Gw gak nyangka," ujar Luna tiba-tiba. "Udah jadi emak-emak kita ceritanya Sya," lanjut Luna membuat sepasang sahabat itu tersenyum kecil. Mengingat seberapa dekat dan liarnya mereka dahulu, membuat mereka saling merindukan masa-masa tersebut.


"Bu Bunga apa kabar ya? Punya murid legand lagi gak sih?" menolog Lesya. Valen menoleh mendengarnya. Sedari tadi dia hanya menyimak seraya bermain dengan Vay juga anaknya—Kaileen.


"Gw denger dia udah angkat anak loh. Nama anak angkatnya Yusuf, umur 6 tahun. Itu yang gw dapet infonya dari grup alumni," kata Valen memberitahu.

__ADS_1


"Udah lama gak ngunjungin sekolah. Pergi yuk, Sya?" ajak Luna. Lesya hanya menggeleng dan tersenyum penuh arti.


"Yang gw mau, kejutan." ucap Lesya.


"Kejutan?" beo Luna dan Valen.


Lesya mengangguk. "Gw mau salah satu anak gw, nurunin sikap gw dan buat suprise ... paham 'kan?" jelas Lesya penuh misterius. Luna dan Valen dengan kompak menggeleng karena tak paham.


"Lola. Lihat aja nanti," ucap Lesya.


"Sok teka-tekian lo, Sya. Eh Pak boss, jadi duda nih ceritanya?" ledek Valen yang sama sekali tak ditanggapi Elvan.


Mengambil alih Shannon di pangkuannya, Lesya mengarahkan tangan Shannon pada Kaileen yang asik memakan biskuitnya. Jarak usia antar Kaileen—anak sahabatnya dengan anaknya sekitar 3 bulan saja.


"Ica nikah yuk!" ajak Lesya terkekeh dengan suara khas anak-anak yang dibuat-buat. Luna melotot dan mengambil alih Kaileen ke atas gendongannya.


"Sembarangan!"


"Hehe..."


Sementara Vay yang melihat Sharoon yang asik mengoceh tak jelas, menampilkan senyumnya. "Cantik," gumamnya pelan.


"Jelas dong, anaknya Papi Elvan ya, Dek?" Sharoon hanya mengangguk lucu seraya mengoceh-oceh tak jelas.


Di tengah pagi yang cerah akhirnya sebuah kebahagiaan terasa begitu nyata. Masalah sudah berkurang dan suasana damai akan menyambut keseharian mereka. Saling asik cenda gurau satu sama lain hingga melupakan jika dua lelaki seharusnya pergi ke kantor.


...---...


...T A M A T...


...___...


Sekian dari kisah Aleesya ini, terimakasih untuk para pembaca karena sudah bertahan hingga sampai ini. Maaf jika kurang puas dengan akhir ini. Makasih banyak-banyak karena sudah menyita waktu kalian untuk sekedar menunggu dan membaca novel ini dengan sabar.


Maaf jika ada salah kata atau tindakan yang menyatakan kekerasan. Mohon ambil sisi positifnya saja ya mantemanッ


Thanks buat dukungan kalian yang sangatttttt berharga buat author yang baru belajar kepenulisan ini. Beneran tamat? Tenang gays karena author udah siapin S2 sesuai yang kalian tunggu-tunggu dan minta selama ini.


Jujur mau nanya, di novel ini dapet feel nya gak sih? Ini pertama kalinya author tamatin karya karena yang lain bingung namatin bagaimana. Ini pun menunggu berjuta-juta episode, hehe canda :v


Tunggu pengumuman S2 dan makasih juga maaf!


Makasih udah bertahan dan mendukung hingga tamat sejauh ini dan maaf jika akhirnya kurang sesuai ekspetasi kalian.

__ADS_1


Kisah Sharoon akan menggantikan kisah Lesya—sang Mami. Humm, apa lagi ya? Bingung wkwk...


Intinya: Lope-lope seplanet gays😍😘🌹


__ADS_2