Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
424: Dikunjungi


__ADS_3

Episode 424: Dikunjungi


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Dua saudari kembar kini sudah tiba di rumah mereka. Dengan memasuki rumah besar nan mewah, kini wanita bernama Aleetha disambut oleh kedua sahabatnya yang duduk di sofa rumahnya. Berbeda dengan Lesya yang segera pergi ke kamarnya tanpa keluarnya satu kata patah pun.


Saat hendak pergi ke kamar, kebetulan sekali dia bertepatan dengan kamar milik sang papa tirinya yang terbuka lebar. Dia melotot dan segera masuk saat melihat tangan Gilang yang terangkat ke udara seolah hendak menampar aunty nya yang duduk anteng di tepi ranjang.


"UNCLE!" sentak Lesya memanggil.


Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Lesya mengeryitkan alisnya bingung ketika tangan Gilamg ternyata hendak mengelus pucuk kepala Mily. Dugaannya salah, kirain ada apa, huh. Pikir Lesya sedikit lega.


"Kamu ngapain di sini?! Ganggu orang aja." gerutu Gilang yang merasa terganggu dengan kehadiran anak tiri sekaligus keponakannya. Berbeda dari sang suami, justru Mily mempertanyakan mengenai luka-luka di wajah Lesya.


"Muka kamu bonyok kenapa? Berantem lagi? Sini, Aunty obatin sebelum infeksi nanti." ujar Mily bersiap mengambilkan kotak P3K di laci nakas. Namun, tangan Gilang lebih dahulu mecekalnya. Karena kesal dicekal oleh Gilang, Mily lebih dahulu menginjak kaki Gilang hingga sang empu melepaskan cekalannya.


"Nanti gw buat Gil! Lagian yang hamidun gw, yang ngidam kok jadi elo sih?" gerutu Mily lalu beralih menarik keponakannya agar duduk di tepi ranjang. Gilang yang melihat hanya mendengus kesal seraya menahan malu saat diledeki oleh Lesya.


"Wahhh, Uncle ngidam? Ckck, gak bilang-bilang sih biar gak diganggu? Ahaha.. anj*r, sakit Auntyyy…" Lesya meringis di saat merasakan perih di bagian pipinya. Sang empu hanya menatap datar keponakannya saja. Dia baru tahu peningkatan sikap menyebalkan Lesya selama ini.


"Diem lo! Lagian lo berantem sama siapa sih nyampe bonyok begini?" ucap Mily yang ikutan kesal melihat raut wajah Lesya yang meledek. Wanita awet muda itu kini tak lagi memanggil dengan logat nada biasa namun menggunakan bahasa gaulnya pada zamannya.


"Anak buahnya Elvan. Lagian siapa suruh si Elvan nyuruh temennya buat nangkep Lara kemaren. Pulang sekolah langsung gw bantai tuh markas buat bawa Letha balik lagi ke sini." gerutu Lesya kesal.


"Dih bantai-bantai, sok jagoan namanya begitu."


Dari arah sofa Gilang angkat suara dengan tangan yang masih mengelus jari-jari kakinya yang diinjak oleh sang istri sebelumnya. Mendengar hal itu, Lesya menyungkirkan senyum sinisnya kepada lelaki paruh baya yang merupakan uncle juga papa tirinya.


"Heh, emang ada seorang kakak yang membiarkan adiknya keluka sendiri? Big no Uncle, gw bukan tipikal kakak kayak begitu. Lagian Papi sebelumnya nyuruh gw jaga Lara kok, ngapa jadi lo yang repot?" sinis Lesya berdecak.


Gilang hanya mencibir kecil saja mendengarnya. Berbeda dengan Mily yang terdiam mendengarnya. Sosok mendiang sang kakak kembar Mily itu kini terlintas kembali di benaknya.


Sosok ibu, ayah, sekaligus kakak baginya membuat dia kini paham maksud dari ucapan keponakannya. Menjadi seorang kakak sekaligus orang tua bagi adiknya, tak semudah yang dikira.


Setelah memasangkan plaster terakhir, Mily sedikit menekan luka ponakannya dengan sengaja. Sontak Lesya reflek mengaduh pelan dan menatap datar adik kembar dari mendiang sang maminya.


"Lain kali jangan berantem!" peringat Mily menekankan.


"Ya." jawab Lesya lalu beranjak dari sana. "Tapi kalau enggak kelepasan." lanjut remaja itu sebelum pergi menutup pintu kamar pasutri itu. Mily berdecak kesal mendengarnya. Sudah dia duga jika keponakannya tak akan menjadi sosok penurut walau hanya sekali saja.


"Jangan buat adek sepupu lagi sebelum yang satu lahir!"


Ucapan Lesya yang cukup melengking itu membuat telinga Mily merah padam. Bukan malu namun kesal dengan ucapan sefrontal itu. Pasti orang-orang dibawah dapat mendengar jelas ucapan frontal keponakannya itu. Sungguh terlalu!


"KEPONAKAN FREAK LO!"


"BODOAMAT, GAK PEDULI GW WLEEK!"


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Taman belakang rumah kini cukup menyita pemikiran seorang Aleesya. Istri sah dari Elvano itu kini memilih berjalan-jalan di taman belakang setelah membersihkan diri dan mengganti bajunya menjadi baju tidur.

__ADS_1


Hari sudah sore dan matahari masih belum terbenam. Udara yang cukup menyejukkan membuat dirinya kini diselimuti rasa rindu pada sang papinya. Taman ini adalah tempat yang paling banyak menyita banyak kenangan bersama mendiang papinya.


***


"Huwaaaa… Papi layangannya putus, Pi!" rengek Lesya kecil yang dijuluki si manja saat bersama sosok Arga dahulu. Lelaki dengan setelan jas hitam menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dia Argantara yang memiliki nama asli sebagai Gatara. Lelaki yang masih muda itu baru saja kembali dari kantor. Sambutan sang putri sulungnya membuat dia diperharuskan untuk menemani putri kecilnya untuk bermain layangan di taman belakang rumah.


"Udah, pake punya Papi aja nih. Mainnya begini bukan kayak tadi Lyly…"


"PAPI IHH!"


"Haha… Iya-iya, Sayang. Lyra deh bukan Lyly."


"Ndak tau, Ra ambek!"


"Ambek kok bilang-bilang hm?"


"PAPIII!"


***


"Papi, miss you!" ucap Lesya sedikit berteriak.


Tes!


Lesya duduk di rerumputan taman tersebut dan menatap banyaknya pohon juga bunga yang hidup di sekitar taman itu. Dengan satu kolam ikan sebagai hiasan, di sana juga terdapat kursi gantung. Melihat kursi tersebut, Lesya beranjak dan segera mendudukinya.


Tes!


"Cengeng lo anj*ng!" umpat Lesya.


Segera Lesya menghapus jejak cairan beningnya yang meluncur membasahi pipinya. Terlebih di saat sang adik kembarnya memanggilnya, Lesya berusaha agar sama sekali tak terlihat lemah di depan Letha.


"KAKAK!"


"Apa?" tanya Lesya tanpa basa-basi saat melihat Letha sudah duduk di kursi gantung sebelahnya. Sang empu terdiam sejenak dan menunduk.


"Maaf, waktu itu L---


"Jangan pikirin lagi! Bagi gw, gw udahmaafin semua kesalahan semua orang kok. Gw butuh perubahan sikap, bukan sekedar permintaan maaf. Kayak aunty juga daddy, mereka berubah kok walau mereka gak minta maaf sama gw. Dan hal itu yang buat gw yakin sama perubahan mereka sekarang."


"Maaf,"


"Gw bilang jangan minta maaf! Buktiin bukan minta maaf!"


"Iya, maaf. Maksudnya, di depan ada suami Kakak."


Letha meringis takut saat melihat tatapan tajam Lesya yang menatapnya. Segera dia menggerakkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan seolah hendak memberi penjelasan sebelum sang kakak salah paham.


"Tadi waktu aku mau ke bawah, aku gak sengaja liat tante Mily sama suami Kakak ngobrol. Aku takut diliat terus ditangkap lagi, makanya aku ke sini nemuin Kakak." cicit Lesya takut. "Aku berani sumpah kok, Kak." lanjut Letha mengangkat dua jarinya serius.

__ADS_1


"Elvan doang?"


"Enggak, ada Valen sama temen Kakak. Oh, ada satu lagi tapi aku gak kenal itu siapa." jujur Letha.


Sang lawan bicara menormalkan detak jantungnya yang berpacu cepat. Bisakah dia bertemu tanpa bertengkar? Luka di wajahnya saat ini belum sembuh.


"Tha, lo di belakang gw ya? Nanti langsung ke kamar waktu gw suruh, oke?" bisik Lesya pelan dibalas anggukan paham oleh sang adik. Mereka beranjak dan berjalan perlahan ke arah dapur. Beruntung tangga tak ditempatkan di ruang tamu melainkan sekitaran dapur.


"Naik, kunci pintu, teken tombol darurat rumah kita kalau ada bahaya, oke?" pesan Lesya dan diangguki cepat oleh adiknya. Segera Letha berjalan sedikit cepat menuju kamarnya dan melakukan sesuai yang diperintahkan sang kakak.


"Obat? Gw harus temuin itu! Gw harus pura-pura tidur biar gak buat kekacauan di rumah Papi." gumam Lesya lalu segera mencari tablet obat yang dia maksud. Naas sayang, obat yang dicari oleh Lesya sama sekali tak ada di sekitaran dapur.


"BI? Bi Ana?" panggil Lesya cukup keras.


"Iya, Non? Loh, kok Non Lyra jongkok sih?"


Sang pemilik nama menoleh dan menatap asisten rumah tangga nya yang sering kali menjadi walinya di saat membutuhkan orang yang mengurus keperluan sekolahnya jika bersangkutan dengan orang tua.


"Bi, liat obat aku gak?" tanya Lesya.


"Obat? Obat yang pernah Nona titipin itu kan?"


Lesya mengangguk cepat mendengarnya. Sang lawan bicara berusaha mengingat-ingat dan menggaruk tenguk lehernya gatal menyadari perpindahan letak obat yang dimaksud oleh anak mendiang majikannya.


“Bibi pindahin Non di ruang tamu, tempatnya ada di kotak obat kok. Mau Bibi ambilkah, Non?” tanya bi Ana menawarkan. Dengan cepat Lesya menganggukkan kepalanya. Wanita paruh baya itu berpamitan dan segera mengambil obat yang dimaksud anak kedua majikannya itu.


Pukk!


"Cepet bang-- loh Aunty?"


Lesya mendadak gagap saat Mily datang dengan menatapnya dengan pandangan datar. Terlebih bi Ana kembali datang dan menyerahkan obat yang dimaksud padanya.


"Obat apa itu, Lesya?" selidik Mily memicing.


"Bukan urusan Aunty. Lagian aku ngantuk, mau BoCan dulu, oke bay!" pamit Lesya segera meninggalkan sang aunty yang menatapnya curiga. Dia tersentak saat tangannya dicekal oleh Mily. Dia segera mengangkat satu alisnya seolah bertanya ‘ada apa?’ pada adik kembar dari mendiang maminya.


"Ada Elvan di ruang tamu. Temuin, jangan jadi pengecut! Kamu bukan kayak Galang yang pintar bersembunyi dari Kak Mila. Elvan bisa tau kamu di mana. Gw juga udah bilang dan kalau mereka kasar, jangan lemah! Kasarin balik gak papa, paham?" pesan Mily dibalas deheman secara singkat saja oleh Lesya.


"Aunty, boleh peluk? Gw kangen Mami."


Grebbb!


"Gw juga kangen Kakak."


Kedua perempuan dengan tinggi yang hampir sama namun dengan umur yang berbeda berpelukan dengan eratnya. Bi Ana yang kebetulan lewat kembali melangkah pergi karena tak ingin menganggu moment haru mereka.


"Udah ih, jorok bumil ingusan!" ledek Lesya yang melepaskan dahulu pelukannya. Dia tak mau tiba-tiba air matanya menetes dan diledeki habis-habisan oleh aunty nya. Sang lawan bicara hanya mendengus sebal dengan menghirup ingusnya kembali.


"Jahat lo sama bumil!"


"Ndak peduli huuu…"

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2