
Dia masih mau menyakinkan dirinya bahwa sebagian data yang dia peroleh kemarin tak benar.
Lesya memang risih di tatap seperti itu. Bagaimana lagi? Dia kalah telak jika bersama Elvan.
"Ada yang lo sembunyiin dari gw? " tanya Elvan tiba-tiba.
Lesya melotot. Tak mungkin bukan Elvan tau masalahnya? Tapi jika iya, dari mana? Pikir Lesya menerawang.
"Maksud lo? " tanya Lesya yang masih tak connect.
Maksud Elvan menyembunyikan masalah keluarganya? Atau apa? Pikir Lesya tak paham. Elvan yang melihat keraguan di wajah Lesya terdiam.
Tak mungkin dia memberi tahu yang sebenarnya bukan? Pikir Elvan yang berpikir kejadian di saat Lesya mengetahui yang sebenarnya.
Dia juga tak tahu apa Lesya sudah tahu apa belum. Jadi dia ragu memberi tahu sebuah kebenaran yang pahit.
Jika Lesya sudah tahu, dia harus bisa menyikapi kebenaran itu. Namun, jika tidak? Apa masalahnya akan bertambah rumit? Itu permasalahannya saat ini.
"Lupakan! " Lesya aneh sendiri mendengarnya. Nada bicara Elvan kembali datar. Maksud dari perkataan Elvan sebenarnya apa?
Elvan melepaskan tangkupan-nya dan berdiri dari ranjang Lesya., "Ke bawah makan malam! "
Lesya yang masih berpikir masalah tadi, menahan tangan Elvan yang hendak pergi. Dia berdiri di samping Elvan tanpa melepaskan tahanan tangannya.
"Maksud lo tadi apa? " Elvan tak menjawab. Justru dia mengalihkan pembicaraan, "Makan dulu nanti sakit"
Di saat Elvan ingin pergi, Lesya merentangkan kedua tangannya tepat di depan Elvan. Dia cukup penasaran maksud dari perkataan Elvan barusan.
"Jawab gw Pan" lirih Lesya. Elvan berpikir sejenak. Jika Lesya tak meminta maksudnya seperti ini, itu berarti Lesya belum tahu kebenarannya bukan?
Elvan menghela nafasnya panjang, "Makan atau gw suap? " Lesya menurunkan tangannya yang terentang.
"Jangan ngalihin pembicaraan Pan! " datar Lesya. Elvan mengangkat satu alisnya, "Lo minta gw suap? "
Lesya menggeleng cepat. Dia hanya meminta jawaban dari maksud Elvan barusan, "Jawab gw, gw mohon" lirihnya memegang tangan Elvan memohon.
Elvan sendiri tak tega melihatnya. Sepertinya Papan kini mulai mencair! Elvan menetralkan wajahnya kembali datar.
"Gw bakal jawab pertanyaan lo selesai makan" Lesya mengangkat jari kelingking-nya ke atas, "promise?"
__ADS_1
Elvan mengangkat wajahnya ke atas sejenak. Kekanak-kanakan sekali bukan? Pikir Elvan kemudian menatap lekat Lesya.
Dia mengangguk dan menyatukan kelingking miliknya ke kelingking Lesya. Dia sudah tahu apa yang harus dia jawab nanti.
Lesya tersenyum simpul mendengarnya. Dia tak menyangka akan akur dengan Elvan hanya karena penasaran dengan maksud ucapan Elvan.
Mereka segera turun ke bawah dan melakukan acara makan malam berdua saja. Lesya masih kaku jika dirinya mengambilkan makanan untuk Elvan.
Tapi mau bagaimana lagi? Itu tugasnya bukan? Dia tetap mengambilkan makanan untuk Elvan. Dan yang pasti, bukan Lesya yang masak.
Berbeda dengan Elvan yang tampak biasa saja. Mereka menikmati hidangan seperti biasa. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang beradu.
Setelah acara makan malam selesai, Lesya dan Elvan pergi ke kamar untuk mengerjakan tugas mereka. Lesya terlalu fokus mengerjakan tugas B. Indo, MTK, B. Ingg, Fisika, Kimia, dll hingga dia terlupa akan janji Elvan padanya.
Elvan yang melihat mata Lesya sudah sayu, menggeleng-kan kepalanya. Benar dugaannya jika Lesya akan tertidur lagi dengan posisi tengkurap.
Jangan lupakan buku sebagai alat tidurnya ganti bantal. Rambutnya acak-acakkan tak menganggu tidurnya.
Elvan mematikan laptopnya dan berjalan menghampiri di mana Lesya tertidur. Dengan hati-hati dia membenarkan posisi tidur Lesya.
"Kebiasaan! " gumam Elvan kecil. Buku-buku Lesya sudah tersusun rapi di nakas ulah tangan Elvan.
"Shit! Gw lupa kasih Lesya obat! " gumam Elvan.
Dia menyentuh jidat Lesya dengan punggung tangannya. Beruntung demamnya sudah menurun, dia bernafas lega.
Tanpa sadar, Lesya yang terlalu nyenyak tidur menarik lengan Elvan. Lesya mengira, lengan Elvan itu adalah bantal gulingnya.
Sontak Elvan mendekat ke arah Lesya. Dia melambaikan tangannya di depan wajah Lesya. Dia berusaha melepaskan tarikkan Lesya dengan pelan takut Lesya terbangun.
Bukannya terlepas malah makin erat saja pelukkan-nya. Bahkan Lesya sempat mengingau mengira Elvan, Arga papinya.
"Papi, Rara kangen! " ngigo-nya.
Elvan yang peka akan situasi, membaringkan tubuhnya ke samping Lesya. Kasurnya cukup besar jadi muat menampung mereka tidur.
...~o0o~...
Lesya mengerjapkan matanya perlahan. Dia terkejut di depan wajahnya terlihat wajah tampan Elvan yang menatapnya tajam.
__ADS_1
Yap! Sedari kemarin, Elvan risih dipeluk oleh Lesya. Pertama kalinya dia dipeluk selama ini setelah dia berumur 7 tahun.
Lesya terkejut dengan keberadaan Elvan di depannya. Dia hampir saja melayangkan tinjuan tepat pada aset berharga Elvan.
"Lo yang meluk dari semalam! " Lima kata datar dari Elvan terdengar di telinga Lesya. Dengan cepat dia melepaskan pelukkan-nya.
Elvan berdiri dan memasuki kamar mandi, tak lama dia keluar dengan seragam dan almamater OSISnya.
Lesya yang menunggu Elvan malah tertidur pulas di kasur. Elvan tak mempedulikan keadaan Lesya saat ini. Menurutnya, Lesya lengkap tanpa lecet sudah cukup baginya.
Elvan berjalan ke meja belajarnya. Dia mengambil tas dan bergegas ke bawah. Semua alat-alat sudah lengkap.
"Bi, nanti bangunin Lesya ya" pesannya lalu pamit pergi. Bi Lilis hanya menganggukkan kepala mendengar pesan anak majikannya yang bergegas keluar.
Kini jam sudah berganti menjadi pukul 7. Elvan sudah tiba di kelasnya pukul 6 pagi. Sementara Lesya masih terlelap di rumah. Pasangan yang bertolak belakang bukan?
Bi Lilis yang kelupaan membangunkan Lesya berlari kecil menuju kamar Elvan. Dia cemas jika salah perbuat. Pekerjaannya bisa dicabut jika salah sedikit oleh majikannya.
Bi Lilis menghilangkan rasa takutnya. Dengan berani, dia mengetuk pintu kamar Elvan.
tok.. tok.. tok..
Nihil tanpa jawaban! Lesya memang tertidur pulas sehingga tak mempedulikan sekitar. Sementara bi Lilis yang diluar tampak cemas dengan keadaan Lesya di dalam.
Sekali lagi dia memberanikan diri mengetuk pintu kamar Elvan. Bahkan kali ini lebih keras dibanding yang sebelumnya. Bukan mengetuk tapi menggedor.
Tok.. Tok.. Tok..
Lesya terperanjat kaget mendengarnya. Dengan cepat dia membuka pintu dan melihat bi Lilis yang tampak lega saat dirinya keluar.
"Nak Lesya maaf, kamu gak sekolah? " Lesya melotot. Dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 7 lewat 10 menit.
Jika kalian bertanya mengapa bi Lilis tak menggunakan kata 'Non', jawabannya permintaan Lesya. Dia menyuruh jika berdua dengannya tidak menggunakan kata 'Non'.
"Eh iya bi, aku siap-siap dulu ya" Dengan gesit Lesya mandi dan menggunakan seragamnya.
Kali ini, dia asal mengambil. Baju perempuan dan celana lelaki. Dasi? Dia asal memasukkan ke dalam sakunya. Beruntung lukanya sudah menghilang di bagian lengan. Jadi aman!
Lesya pamit kepada bi Lilis dan mengendarai motor sportnya menuju sekolah. Dia merutuki keinginannya yang meminta tertidur sejenak.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗