Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
413: Debat


__ADS_3

Di sebuah ruang Bimbingan Konseling kini tiga mata beradu kuat. Empat pasang mata saling memandang satu sama yang lainnya. Di sebelah kiri sudah ada Chatrin dan orang tuanya. Sementara di satu sisi kanan, sudah ada Lesya sendiri ditemani Elvan.


Bu bunga selaku guru BK yang melihat mereka saling menatap tajam satu sama lain, merasa pusing memikirkan cara yang baik. Kecuali sang ayah tiri Chatrin yang menatap Lesya penuh kagum. Tanpa polesan sedikitpun, Lesya tetaplah terlihat cantik dengan wajah juteknya.


Sang wanita yang melahirkan dan membesarkan Chatrin sedari kecil, tanpa sengaja melihat raut wajah sang suami yang memandang Lesya tanpa berkedip. Mengepalkan tangannya kuat, wanita itu menggebrak meja dengan cukup kuat.


Braaaakkk!!


"DASAR PEREMPUAN PENGGODA!! ADA NIAT APA KAMU LIAT-LIAT SUAMI SAYA HAH?! " amuknya menunjuk tepat di depan wajah Lesya. Dengan segera Lesya menepis kasar hingga sang ibu dari Chatrin hingga wanita itu tersungkur beberapa langkah ke belakang.


"Jaga jari anda sebelum saya patahkan! "


Chatrin menahan tubuh sang ibunya yang hampir saja tersungkur. Tak terima, Chatrin hendak menampar Lesya namun tertahan karena pintu yag terbuka. Semua sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Terlihatlah Sella juga Mily yang berjalan cepat menghampirinya.


"Gak papa kan kamu Sya? "


Lesya menggeleng pelan dan tersenyum tipis melihat perlakuan Sella padanya. Mily yang kesal, menatap sinis Chatrin yang masih mengangkat tangannya di udara. Dia cukup kesal karena jika salah satu silsilah keluarganya direndahkan, otomatis dia ikut direndahkan juga.


"Tangannya tolong diturunin! "


Bu bunga berdehem pelan dan menyuruh semuanya agar duduk dengan tenang. Mau tak mau mereka duduk dengan pandangan yang melempar tatapan sinis satu sama lain. Suasana di ruang BK itu tampak mencekam karena tak ada suara yang keluar. Hanya tatapan tajam saja yang beradu pandang satu sama lain.


"Maaf sebelumnya saya mau menunjukkan sebuah video kepada para orang tua." ucap Bu bunga dan menggeser layar laptopnya sejenak agar dapat dilihat oleh mereka yang baru saja datang. Setelah video selesai disaksikan, Mily tersenyum sinis melihatnya.


"Jadi kita dipanggil ke sini cuman ngeliat ja*lang keliaran di sekolah ini, begitu kah? " sinis Mily setelah menyaksikan video yang disaksikannya barusan.


Chatrin mengepalkan tangannya kuat mendengar penuturan dari Mily. Wanita yang merupakan ibu dari Chatrin juga tampak tak terima anaknya direndahkan.


"Jaga bicara anda! " tajamnya.


"Bodo*amat! " acuh Mily.


"Aunty jangan nambah masalah di sini! "


Lesya angkat suara di saat Mily hendak kembali bicara lagi. Cukup jengah dia melihat perdebatan di depannya. Bertepatan, saat itu Cakra masuk ke dalam membuat semua menoleh ke sumber suara. Pemuda itu segera mendudukkan dirinya di samping Elvan yang sama sekali tak bersuara.


"Siapa ya? Ada keperluan apa ke sini? "


Bu bunga yang tak mengenali siapa Cakra spontan bertanya dengan sopan. Cakra dengan segera mengulurkan tangannya berniat menjabat tangan guru BK itu. Bu bunga dengan tanggap menjabat sejenak tangan Cakra.


"Saya Cakra, orang yang terlibat."


"Bang Cak, bawa kan yang gw maksud? "


Cakra menoleh ke arah Lesya yang bertanya padanya. Mengangguk pelan, Cakra mengeluarkan satu flashdisk dan memberikannya kepada Bu bunga.


"Bu, pasang bu jangan ngelamun! Kasian Pak Rio di ruangannya takut diduain." canda Lesya sengaja. Bu bunga yang mendengar melotot tajam ke arah Lesya. Sempat-sempatnya bercanda di saat begini? Tak masuk akal.


Bu bunga segera memasukkan flashdisk yang diberikan Cakra ke dalam laptopnya. Setelah melihat dan mendengar suara yang ‘tak seharusnya’ didengar, dengan segera guru tersebut menutup laptopnya. Tentu saja dia kaget.

__ADS_1


Sementara Chatrin menunduk takut karena tatapan tajam sang ayah tirinya mengundang bulu kuduknya menaik.


"Chatrin? Begini sikap kamu ya selama ini?! " geram lelaki itu membentak.


"Papa, tenang dulu! Ini-- ini tuh cu-cuman salah paham doang. Chat gak gitu orangnya, iya kan Chatrin? "


Sang ibu dari Chatrin itu berusaha meredakan emosi sang suami yang mulai mengamuk. Mendengar pertanyaan dari sang ibu, Chatrin mengangguk cepat dengan posisi tetap menunduk. Melihat tangan sang ayah Chatrin yang siap dilayangkan ke udara, dengan sigap Bu bunga menahan.


"Cukup! Bapak dan ibu harap tenang. Semua harap duduk tenang! "


Kedua orang tua Chatrin mendudukkan bo*kong mereka di kursi dengan tatapan berbeda kepada Chatrin. Sang ayah menatap tajam putri tirinya, berbeda dengan sang ibu yang menatap putrinya seolah meminta rencana lainnya.


"Lesya, ceritakan! " tegas Bu bunga.


"Pada zaman dahulu… Eh bentar Bu, ini mau diceritain apaan? Kancil sama buaya? " polos Lesya benar-benar bingung karena baru saja tersadar dari lamunannya yang entah apa itu. Bu bunga menghela nafasnya dan sedikit menggebrak meja karena kesal dengan murid lagend nya yang satu ini.


"Aleesya, jangan mancing emosi saya kamu! Ceritain aja apa yang sebenarnya terjadi di kantin dulu! " ucap Bu bunga sedikit melotot. Sang lawan bicara meringis pelan dan hendak berbicara. Namun, Chatrin dengan segera menyela dan angkat suara membuat Lesya melotot kesal ke arahnya.


"Dia sebar-sebar fitnah, Bu. Nama baik saya tercoreng karena dia. Dan dikantin itu dia jambak sama nampar saya. Saya gak terima dong dibegituin! " sela Chatrin dengan wajah sendunya seolah dialah yang merasa tersakiti di sini.


Lesya ingin sekali beranjak dan mencakar-cakar wajah Chatrin yang membolak-balikkan keadaan. Gadis itu mendadak kikuk di saat tatapan tajam mengarah padanya. Namun, sesegera mungkin dia mempertahankan nama baiknya sekaligus memberi pelajaran tendangan telak untuk orang yang hampir membuatnya pergi abadi.


"Bener Lesya apa kata temenmu? "


Lesya memutar bola matanya malas. Seketika dia melotot dan sontak menggebrak meja kuat karena tak terima dengan kata guru BK yang menyebut jika Chatrin adalah ‘temannya’. Whattt?! Ogah kali Lesya!


Lesya menyerocos panjang kali lebar seraya menunjuk dirinya juga Chatrin. Tangannya terus memperagakan setiap apa yang dia ucapkan hingga memasang wajah hendak muntah di akhir kalimat.


"Gak usah gebrak meja juga! "


"Gak papa dong Bu… Biar jantungnya senam. Kasian badan mulu yang senam, jantung kagak." balas Lesya.


"Kalau jantung saya senam, yang ada saya ketemu Pencipta." ujar Bu bunga tak terima. Lagi-lagi Lesya menggebrak meja membuat yang lainnya mengelus dada mereka yang sedikit terkejut.


"Nah! Ibu kan sayang dan taat sama Pencipta, kenapa gak mau ketemu sih? Heran, banyak orang yang sayang sama Tuhan masing-masing, giliran disamperin malah takut banyak dosa." cibir Lesya lalu duduk karena pergelangan tangannya ditarik oleh Cakra.


"Diem Sya, diemmm! Pantes SMP gonta-ganti sekolah, gini cara lo ngadepin guru." sindir Cakra.


Lesya menatap sinis Cakra dan memutar bola matanya malas. Kali ini Lesya diam karena mulutnya sudah didekap telapak tangan Elvan yang cukup besar. Memberontak? Sudah ada Bu bunga juga Mily yang memelototi dirinya.


"Ceritakan Van! Saya pusing kalau dia yang ceritain." ucap Bu bunga menunjuk sekilas ke arah Lesya. Lelaki itu mengangguk pelan dan mulai menceritakan kejadian awal hingga akhir tanpa niat kurang-tambah kata.


"Jadi gitu Bu… "


"Chatin, kamu niat bohongin saya hah?! Kamu pikir saya akan mihak kamu begitu? Big no! Dari dua minggu kamu perlakuin adik kelas sesuka kamu, rusuhin sekolah dan sebar sana-sini berita fitnah. Cukup muak saya dengan tingkah kamu." kesal Bu bunga.


Bu bunga menahan nafasnya agar tak meluapkan segala kekesalannya pada murid nya yang satu ini. Sang pemilik nama Chatrin hanya diam dan kembali menunduk. Tangannya terkepal kuat dengan mata yang mengarah secara sinis juga tajam ke arah Lesya.


"Maaf, kamu saya keluarkan dari sekolah ini! Saya akan urus surat pengeluaran kamu di ruang kepala sekolah." tegas Bu bunga membuat sang ibu dari Chatrin mendelikkan matanya tak setuju.

__ADS_1


Aw!


"BAGOOSSS!! IH, IBUK THE BEST… "


Lesya yang tanpa dosanya menggigit pelan jari Elvan akhirnya dapat lepas dari bekapan lelaki itu. Bahkan Lesya saking girangnya kembali menggebrak meja kuat. Tentu saja yang lainnya mengelus dada mereka seolah memberi kesabaran.


"SAYA GAK SETUJU! "


"Ya tinggal setuju dong! Lagian apa salahnya coba kalau anak freak lo keluar? Kan masih banyak yang mau nerima dia, terlebih om-om pedo." enteng Lesya dengan santainya membalas.


"Saya akan bayar berapa pun uang yang perempuan jadi-jadian ini kasih ke anda. Saya tau, dia bayar anda buat anak saya keluar kan? Saya akan bayar lebih kalau anda mau." pungkas ibu Chatrin itu mengeluarkan uang di dompetnya.


"Maaf, saya tidak butuh! " tegas Bu bunga menolak. "Tugas saya mendidik dan mengajar apa yang benar bagi saya untuk murid-murid saya. Saya tidak mau dibayar, bahkan sampai detik ini saya tak pernah dibayar sepeser pun dari siapa pun." lanjut Bu bunga dengan tegas.


"Kiww, pens Bu bunga saya! " girang Lesya.


"Diem kamu! " galak Bu bunga membuat Lesya mengeruncutkan bibirnya manyun. "Lagian tugas kamu belum kelar tapi sampai sekarang masih bisa naik kelas. Kalau tugas kamu semester ini aja gak beres, jangan harap minggu depan kamu bisa ujian! " lanjut Bu bunga mengancam.


"Yaahh.. Ibukkkk kok gitu sih?! Semester sekarang saya udah kelar tugasnya tinggal kumpul. Tapi pelajaran ibu tinggal dikit lagi sih." cicit Lesya menyelesaikan ucapan terakhirnya dengan pelan.


"Lagian Bu, emang ada orang bayar guru terang-terangan gini? Saya anak donator loh Bu." kata Lesya mencibir wanita yang masih marah dengan kenyataan jika sang anak dikeluarkan dari sekolah.


"Donatur? " beo Chatrin.


"Iya! Lo lupa gw punya marga apa ya? Ckck… Salah cari lawan lo." sinis Lesya menggelengkan kepalanya seolah mengejek. Chatrin terkekeh pelan dan menatap sinis Lesya.


"Harta orang tua kok bangga? "


"HAHAHA… AN*JAY adu harta dia. Mon maap, lo kerja tapi ngerendahin harga diri. Lagian lo minta duit masih nemplok om-om kalau gak dikasih."


"Masih mending, dari pada lo cuman jadi pengangguran doang! " balas Chatrin tak mau kalah.


"WAHAHA… Pengangguran gw katanya Bang! " tawa Lesya sumbang menepuk pelan bahu Cakra yang merinding karenanya. "Mon maap nih ya, gw kaya gw bebas. Lagian kehidupan gw, ulet gak boleh tau." datar Lesya mengeluarkan smirk khas nya lalu berjalan pergi dari ruang BK itu agar mencari ketenangan.


"Sya tunggu! "


Cakra juga ikut menyusul Lesya yang sudah berjalan keluar. Sementara Mily dan Sella membaca sebuah buku yang disodorkan oleh Bu bunga seolah menunjukkan nama Lesya yang memenuhi buku hitam sekolah.


"Aduh, maaf ya Bu sebelumnya. Keponakan saya emang nyusahin dari dulu, kalau dibilang kadang bandel." ucap Mily tak enak. Sella mengangguk menyetujui ucapan Mily.


"Iya Bu. Maklum, anak SMA banyak pengen coba ini-itu. Nanti saya coba ngomong sama orangnya." timpal Sella.


"Iya Bu, saya udah angkat tangan ngurusnya. Untung ada Elvan yang dulu ketua OSIS. Jadi kalau dia bolos atau berulah bisa ditanganin." pelan Bu bunga yang merasa tak enak dengan permintaan maaf kedua wanita itu.


"Bu, saya izin keluar. Oh iya, suara laki-laki di video itu, saudara jauh Luna yang dianggap abang sama Lesya." sopan Elvan hendak keluar. Bu bunga mengangguk paham saja. Toh dari awal dia lebih percaya murid lagend dibandingkan murid dengan banyak muka. Sudah sering dia lihat!


"ELVAN TUNGGU! " panggil Chatrin.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2