Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
49: Nagih janji!


__ADS_3

Lesya menyetir sementara Luna yang dibonceng. Di saat Lesya menancap gas, sontak Luna memeluk baju Lesya yang di pinggangnya.


Lesya menghela nafas malas melihatnya. Kebiasaan yang tak pernah hilang dari Luna adalah, memeluknya di saat seperti ini.


Selama perjalanan, Lesya risih disaat Luna terus memegangi pinggangnya. Remember? Lesya anti di sentuh orang lain. Entahlah jika bersama Elvan, Mayang, Angga, Letha dll.


"Sya! " Luna melepaskan pelukkan-nya dan memukul helm Lesya. Sontak Lesya beteriak, "APAAN? "


"Berhenti woy! " Luna lupa mereka dalam perjalanan. Apalagi ada angin pula. Suaranya tak akan terdengar oleh Lesya!


"HAA? " Luna tersadar dan berteriak, "BERHENTI WOY-!! " Lesya memberhentikan motor sportnya di tepi.


Dia berbalik menatap Luna. Tidaklah Luna sadar? Teriakkannya membuat pengang kuping pengendara yang lain.


"Paan sih nyuruh berhenti? Mana suaranya cempreng banget sih? " kesel Lesya. Luna menyengir, "Kalo gw kagak cempreng kagak bakal kedengeran sama lo"


"Serah lo dah! Eeh, ngapa lo turun beg*? " tanya Lesya sontak melepas helmnya melihat Luna yang turun dan melepas helmnya.


Luna meletakkan helm tersebut dipinggang-nya. Dia menunjuk ke arah salah satu gedung, "Gw pulang bareng mama aja, bye and thank"


Lesya menatap kepergian Luna. Dia baru sadar ternyata ini arah jalan ke tempat kerjanya mama Luna.


Lesya memasang helmnya kembali dan menancap gas menuju kediaman Grey. Tanpa dia sadari, ada pasang mata mengintai-nya sedari tadi.


...~o0o~...


Lesya berjalan ke arah kamarnya. Dia menoleh di saat dirinya berada di kamar. Apa Elvan belum pulang kah? Pikir Lesya.


Lesya tersadar saat mendengar gemercik air terdengar dari dalam kamar mandi. Rupanya lagi mandi toh!


Dia merebahkan dirinya di kasur dan mengingat kejadian semalam. Dia lupa menagih janjinya bertanya maksud Elvan.


"Apa ya maksudnya? " molog Lesya menatap langit-langit kamar. Dia menoleh di saat suara bariton mengagetkan dirinya.


"Gw kira lo belom balik! " datar Elvan mengeringkan rambutnya. Dirinya berjalan ke arah lemarinya.


Lesya terperanjat kaget melihat kedatangan Elvan yang hanya menggunakan handuk yang melilit dipinggang-nya. Ada juga satu handuk yang digunakan untuk mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


"Arrhh!" Lesya sontak berbalik dan tengkurap di kasur king size milik Elvan. Kini, tak ada pembatas yang membatasi kasur Lesya dan Elvan.


Lesya menutup wajahnya dibantal. Dia tak sengaja melihat bentuk roti di tubuh Elvan. Ditambah rambutnya yang basah acak-acakkan akibat keramas tadi. Tampan! Satu kata untuk Elvan.


Dia memang sudah banyak melihat bentuk perut lelaki kebanyakkan. Mulai dari buncit hingga sixpack! You know?


Lesya dan Luna sudah lama bekerja di bar. Karena kesibukan mereka, mereka dijadikan bartender saat butuh karyawan saja.


Mereka juga sudah melihat aksi live secara langsung dengan kepala mata mereka sendiri. Sejak berumur 15 tahun malah!


Dan di saat mereka didekati oleh om-om buncit, mereka melakukan perlawanan karena mereka sanggup.


Itu juga salah satu faktor mereka dijadikan bartender saat kekurangan karyawan oleh atasan mereka. Dengan senang hati mereka menerima tawaran itu.


Elvan yang melirik aksi Lesya yang terkejut dirinya keluar tadi, tersenyum simpul. Setelah beberapa dia selesai menggunakan baju tidur santainya.


Elvan mengambil laptopnya dan merebahkan diri di sebelah Lesya. Lesya yang waspada, memberanikan diri melihat sampingnya.


Dia melotot saat melihat Elvan yang berada di sampingnya. Dia memukul lengan Elvan keras, "Biasa-in bawa baju ke kamar mandi! " sewot nya melanjutkan pukulannya.


Elvan menatap tajam Lesya. Takut? Tidak! Justru Lesya berusaha melepaskan genggaman Elvan. Nihil! Tenaga Elvan lebih kuat dibandingkan dirinya.


"Lepas Pan! " berontak Lesya. Elvan tak menanggapi ucapan Lesya. Lesya yang tiba-tiba mules, memberontak hingga tak sengaja mengigit tangan Elvan.


Elvan meringis? Jelas! Dia tak tahu jika Lesya memberontak hingga mengigit tangannya. Merasa ada celah, Lesya lari terbirit-birit ke kamar mandi.


Dia lupa membawa pakaiannya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Elvan yang melihat kecerobohan Lesya hanya mengeleng kepala saja.


Setelah melihat Lesya masuk ke dalam kamar mandi, Elvan melihat bekas gigitan Lesya. Dia mengusapnya dengan tangannya yang lain dan mulai mengerjakan tugasnya.


Sudah satu jam Lesya berada di kamar mandi. Dia kini hanya menggunakan handuk kimono tebal bewarna navy sepanjang bawah lutut.


Lesya gelisah jika keluar dalam keadaan seperti itu. "Gak ngapa-ngapa kan ya? Orang ketutup semua" molog Lesya.


Yap! Kimono milik Lesya menutupi hampir semua bagian tubuhnya. Mulai dari leher hingga bawah lutut.


"Bod*lah! " final Lesya dan membuka pintu kamar mandi. Lesya terkejut melihat Elvan yang berada di depan kamar mandi seraya bersingkap dada.

__ADS_1


"Ngapain? " tanya Elvan datar. Lesya menetralkan wajahnya seolah tak ada apa-apa, "Lo kira kamar mandi tempat orang apa? Mandi-kan? Jadi gw mandi lah! " oceh Lesya.


Elvan mengangkat satu alisnya ke atas, "Selama itu? " Lesya mengangguk sedikit gugup, "Ngapa? Iri bilang Papan! " sewot Lesya.


"Dih! " Lesya yang ingin pergi mengambil bajunya terhalang dengan tubuh kekar Elvan.


"Pan misi, dingin tau gak! " Elvan menyerahkan pakaian yang dia siapkan tadi untuk Lesya.


Lesya menerima itu walau dirinya gugup. Dia segera masuk dan menyenderkan dirinya di pintu. Elvan yang menyaksikan itu terkekeh geli seraya kembali mengerjakan tugasnya.


"Seru juga ya bikin badgirl malu? " gumam Elvan kecil. Berbeda dengan Lesya yang menetralkan nafasnya. "Anjirr! Kek maling gw"


Lesya mulai menggantikan bajunya. Tanpa sengaja, pipi Lesya memerah bagai kepiting rebus.


"Kalo yang ngambil baju gw papan, berarti yang ngambil dal*man gw juga. . . " Lesya menutup kupingnya dengan telunjuknya.


Dia segera keluar dengan santai bagai tak ada masalah apapun. Tanpa dia sadari, Elvan yang melihat wajah Lesya yang sedikit memerah tertawa ngakak dalam hati.


Lesya segera merebahkan dirinya di kasur empuk yang kini miliknya juga. Jangan lupakan dirinya yang juga membelakangi Elvan.


Dia yang mengingat janji Elvan kemarin memasang wajah serius dan mendekati Elvan dengan cara merangkak, "Pan maksud omongan lo yang kemaren apaan? "


Elvan menatap sekilas Lesya. Sejujurnya dia ingat tentang percakapan kemarin. Namun, dia pura-pura melupakan saja percakapan kemarin.


"Yang? " tanya Elvan datar dan melanjutkan tugasnya. Tugasnya mulai dari OSIS, bisnis cafe dan tugas sekolah.


Lesya memutar bola matanya malas, "Pikun lo ya? OSIS kok pikun! Yang kemaren loh! Yang lo bilang 'ada yang lo sembunyiin dari gw? ' Maksudnya apaan? " tanya Lesya sedikit kesal.


Elvan memijit pelipisnya. Dia menyimpan tugasnya dan menatap Lesya malas. Jujur saja tugasnya masih banyak tapi semua diganggu oleh ocehan Lesya.


Lesya yang melihat Elvan menyimpan tugasnya merasa bersalah. Dia tahu jika tugas sebagai OSIS, bisnis cafe tak mudah. Ditambah tugas sekolah yang dipastikan pelajaran aljabar.


"Maksud gw kemaren? " tanya Elvan datar dan menatap manik Lesya dalam. Dirinya masih belum percaya Lesya belum tahu itu semua.


Suasana hening seketika. Hanya terdengar suara angin berhembus saja. Lesya dan Elvan sama-sama tak mengucapkan satu suara pun.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2