
Menyesal? Tidak! Justru Vannya diam-diam tersenyum smirk di dalam hatinya. Dia yakin setelah ini Lesya akan dipanggil menuju BK!
Eh lebih dari kata BK! Ruang kepala sekolah? Maybe...
Lisa tak tahu saja teman barunya ini punya niat terselubung yang dijamin dia akan terseret ke dalam masalah. Sksk, kasian Lisa!
Pak Rio, bu bunga dan anggota intim OSIS yang mendengar keributan antara Lesya dan Vannya memijit pelipis mereka bingung.
Bagaimana cara mempersatukan dua musuh ini? Apa harus dipaksa? Sudah 3 tahun mereka tak berdamai.
...~o0o~...
Setibanya di UKS, Lesya dengan telanten mengobati luka Letha. Luna dan Leon mengikuti pelajaran karena paksaan dan ancaman Lesya.
Leon dan Luna menurut saja. Mereka berdua tahu jika Lesya tak menginginkan sahabat yang kebanyakkan bolos sepertinya.
"Shht, sakit kak" Lesya menghela nafas panjang. Sudah kesekian kalinya Letha merengek kesakitan. "Hufft! Kelar juga, masih sakit? " Letha mengangguk.
"Kakak sih! Jangan cari masalah mulu biar gak deket sama Elvan. Vannya juga gak ganggu aku" omel Letha.
Lesya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal itu, "Ya mau gimana lagi? " Letha meniup luka di tangannya.
Ceklek!
Pintu UKS terbuka. Menampilkan sosok siswa culun yang menggunakan kaca mata. Dia menghampiri Lesya dengan gugup.
"Angkat badan lo! " Dia menurut saja, "Kak Le-sya di panggil ke ruang kepsek sekarang" ucapnya.
Lesya menghela nafas panjang, "Iya nanti gw ke sana" Siswa tersebut langsung pergi dan lari terbirit-birit.
Letha memegang tangan Lesya erat. Pertama kalinya dia masuk ruangan kepsek, "Kak, gw takut" Lesya memeluk Letha.
"Gak usah takut, ada gw! Lagipula yang dipanggil gw doang kok" Letha tenang mendengarnya.
Tiba-tiba pintu terbuka lagi. Nayla dan Amel lari menghampiri Letha dengan perasaan cemas. Saking cemas nya mereka menarik Lesya hingga jatuh ke bawah.
"Anjrroot! " Mereka menoleh ke asal suara. Rupanya asal suara berasal dari Lesya! Amel kikuk dan membantu Lesya berdiri.
"Hehe... Mangap Sya, kelepasan" Lesya mengangguk, "Gw duluan, kalian jagain Letha ya" Nayla dan Amel mengangguk.
Lesya segera pergi dari UKS dan berjalan menuju ruang kepala sekolah. Jika kalian bertanya dimana Vannya, jawabannya sudah dibawa ke rumah sakit.
Vannya menolak dibawa ke UKS. Dia ingin dibawa ke rumah sakit dan nanti akan kembali ke sekolah untuk bersaksi.
Letha menatap kepergian sang kakak. Dia masih memegang tangannya yang terasa sakit. Rambutnya sudah rapi disusun Lesya. Bahkan diikat gulung ke atas.
__ADS_1
"Lo baek-baek aja kan? " Letha mengangguk, "Iya, lukanya udah diobatin sama kak Lesya"
"Syukur deh! Sekarang lo mau pulang? Atau balik ke kelas? " tanya Nayla.
"Ke kelas aja" jawab Letha. Amel dan Nayla membantu Letha berdiri dan menuju kelas.
...~o0o~...
Lesya berjalan sesekali bersiul santai. Koridor tampak sepi karena murid lainnya sedang melakukan kegiatan belajar mengajar.
Ceklek!
Terlihatlah wajah Lesya yang memasuki ruang kepala sekolah. Sudah banyak orang yang menunggu Lesya.
Mulai dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru BK, anggota intim OSIS dan tentunya ada Vannya dan Lisa di sana.
Vannya duduk di bangku depan kiri pak Rio. Sementara Lesya duduk di bangku kanan pak Rio. Sisanya berdiri.
"Korbannya siapa? " tanya pak Rio memulai persidangan. Mereka menjawab dengan kompak namun berbeda jawaban, "Letha, saya"
Pak Rio memijit pelipisnya pusing. Lesya mengaku adiknya menjadi korban. Sementara Vannya mengaku dirinya menjadi korban.
Pak Kevin menepuk bahu ketuanya sabar. Mereka berdua sangat sulit disatukan terlebih Lesya yang keras kepala.
"Bawa handphone kalian ke sini! " Lesya dan Vannya menyerahkan ponsel mereka di atas meja.
Vannya membuka sandi ponselnya dan menyerahkan ponselnya kepada pak Rio. Lesya bingung apa yang akan diperbuat oleh kepala sekolahnya kali ini.
Anehnya, pak Rio menelepon orangtua Vannya untuk segera ke sekolah. Vannya panik? Jelas! Mana lagi papanya kasar padanya.
Setelah menghubungi orangtua Vannya, pak Rio menyerahkan ponsel kepada pemiliknya. Lesya hampir tertawa melihat wajah masam-nya Vannya.
"Panik gak? Panik gak? Panik lah masa enggak! " Vannya menggerang marah dengan ejek kan Lesya.
Kini giliran orang tua Lesya yang ditelepon. Namun tak ada satupun panggilan yang terhubung.
Pak Rio sempat frustasi, "Kenapa gak diangkat semua? " Lesya dengan santainya memainkan kukunya, "Kan udah dibilang pak, gak bakal dijawab! "
Pak Rio tak menyerah hingga dia melihat kontak bernama 'Bunda Sayang🥰' . Dia mengernyit alisnya bertaut.
Lesya yang melihat pak Rio mengernyit, merasa waspada, "Bapak mau nelpon siapa? "
"Bunda kamu" Lesya menggebrak meja hingga membuat yang lain terkejut.
Braakk!
__ADS_1
Panggilan sudah terhubung. Lesya segera mengambil ponselnya dari pak Rio. Dia terkejut jika panggilan sudah terhubung.
📞 Halo Sya,
📞 braakk!
📞 Halo, Sya kamu gak papa kan? Halo? Holo, Sya? Kamu masih disana kan?
📞 Halo Bun, gpp tadi salah sambung. Bye
Tuutttt...
Lesya menghela nafas lega. Setidaknya Mayang tak datang bukan? Pak Rio hampir menggerang marah namun dia sadar jika dia tak boleh main fisik terhadap muridnya.
"Hei! Kenapa diambil? " Lesya memasukkan ponselnya ke dalam sakunya, "Karena ini punya saya pak"
"Tapi kan, orangtua kamu belum ditelfon! " Lesya duduk kembali di tempatnya, "Gak bakal diangkat pak"
"Kenapa? Trus kalo bukan orangtua kamu, yang tadi siapa? " tanya pak Rio.
Lesya menggigit bibir bawahnya. Jujur gak ya? Janganlah masa iya! Pikirnya.
"Oh itu bunda saya pak! Bapak gak liat nama kontaknya ada tulisan bunda? " pak Rio percaya saya.
"Lalu, kenapa gak bunda kamu yang kamu bawa ke sini? " tanya bu bunga. Lesya berpikir alasan apa yang tepat supaya permasalahan berakhir.
"I-itu bu, bunda ada perjalanan bisnis. Jadi, gak ada di sini" Benar bukan? Mereka percaya saja dengan pernyataan Lesya.
"Halah bo'ong lo! Ketauan lo bo'ongnya" Lesya menatap tajam Valen. Rasanya dia ingin meninju kepalanya agar dapat diajak kompromi.
"Bener kok! Kalo gak percaya, tanya aja pak Aji" Valen memilih dirinya bungkam setelah diperingati oleh Frans, "Shht! Diem! Lo OSIS"
"Hah? Ngapa diam? Gak tau kan pak Aji siapa? " Dengan polosnya pak Kevin bertanya, "Pak Aji siapa? "
Lesya tersenyum sumigrah. Ada juga ya orang yang bisa dia kibulin? Ada, noh pak Kevin.
"Pak Aji itu, manusia! Ya kali tumbuhan" Dengan santainya Lesya menjawab.
"Sudah! Jadi gimana? Orangtua kamu kenapa sibuk terus setiap kamu dipanggil kesini? " Lesya mengangkat bahu acuh tak acuh, "Orang kaya ujungnya sibuk bu"
"Iya sibuk! Saking sibuknya, sombongnya selangit! " Lesya memainkan kukunya, "Saya gak sombong tuh bu"
"Halah! Gaya lo! Gak cuman lo ya! Gw juga orkay" sahut Lisa yang angkat suara, "Gak ada yang nanya" santai Lesya.
Mereka hanya tertawa kecil saja. Sedikit hiburan dari Lesya menggelitik di perut mereka. Tentunya kecuali Lisa, Vannya dan Elvan.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗