Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
102: Aneh!


__ADS_3

Cakra beralih menatap Elvan datar, "Jaga adik gw Lesya! " Setelah itu, Cakra pergi begitu saja dari hadapan mereka. Elvan menatap datar kepergian Cakra yang sudah menjauh.


"Gw salah ngomong kah? " tanya Ken. Valen mengangkat bahunya. "Udah kita susul keburu jauh! Kita kan lagi kerja sama buat nyari pelaku dibalik ini semua"


Elvan menggunakan topeng matanya dan keluar begitu saja. Mereka mengikuti arah jalan Elvan yang menghampiri Lesya yang hendak pergi.


Lisa berpikir sejenak. Apa mungkin semua terjadi karena ikut campur tangan Amanda yang berniat membuat Lesya menderita? Pikir Lisa.


"Luna balik ke RS, Leon dan bang Cakra jaga markas, dan bang Alam pulang ke rumah! " Dengan cepat Leon menggeleng, "Ta--- "


"Gak ada tapi-tapi! Jangan ikutin gw! " Lesya pergi begitu saja dari markas TW. Kelima puluh anak buah Lion Claws diajak kembali ke markas oleh Cakra dan Leon.


Sementara Luna bergegas menuju rumah sakit untuk melihat kondisi mamanya. Berbeda dengan Alam yang langsung pergi menuju kediaman Bryson.


Elvan sudah berbicara dengan anak buahnya mengenai teror-an yang terjadi akhir ini. Dan semua anak buahnya beruntung menurut dan setuju dengan Elvan.


Elvan langsung pergi dari markasnya setelah dia merasa markas sudah aman. Berbalik kepada Lesya yang menyusuri ke dalam tempat yang lumayan sepi.


Dia sedang duduk di pinggir jalan dan meminum beberapa botol minuman keras. Dia tak membawa kendaraan apapun ke sana. Dia hanya berjalan kaki dan berjalan ke arah yang dirinya tak tahu.


"Sial*n! Awas kalo si brengs*k itu datang lagi! " gumamnya. Kesadarannya masih berada di rata-rata. Dia sudah meneguk tiga atau empat botol. "Argghh! Apa gw harus menghilang biar semua masalah gw selesai?! "


Kini Lesya sudah dibawah rata-rata. Lesya benar-benar mabuk berat karena masalah yang dihadapinya tak kunjung selesai. Bukannya selesai sedikit malah kini bertambah banyak.


Mulai dari Letha yang membenci dirinya, masalah masa lalu dan keluarganya. Dia harus menyelesaikan semua itu sendiri. Dia tak ingin dicap sebagai wanita pengecut yang lari dari masalah.


Puk! Sreeett!


Lesya menepis tangan orang yang menariknya. Bahkan orang tersebut membenturkan dirinya di dinding. "Lepas! Toloongg! "

__ADS_1


"Percuma lo teriak tapi gak ada orang! Gw miris sama nasib lo yang gini-gini doang! Gimana masalah lo? Udah kelar? Gw rasa belom yah! " tawanya meremehkan Lesya.


Plak! Dugh! Kreek!


"M*ti lo bangs*t! " Lesya terus memberikan bogeman kepada orang tersebut hingga orang tersebut terkapar tak berdaya.


Tak lama Elvan datang dengan mobil sport-nya. Dia berhenti di samping pohon dimana banyaknya botol alkohol masuk ke dalam indra penciuman nya. "Alkohol?"


Lesya terus memberi pelajaran kepada orang tersebut. Elvan yang melihat itu menghampiri Lesya dan menariknya ke dalam pelukkan nya.


Elvan masih menggunakan topeng mata hitam di wajahnya. Sementara Lesya sudah tak menggunakan masker hitamnya. "Lepassss! " berontak Lesya.


Merasa diberikan celah, orang tersebut berlari sekuat tenaganya dengan banyaknya luka yang terdapat di wajahnya dan tubuhnya. "LEPAS! "


Lesya bersandar di balik pohon yang rindang setelah lepas karena Elvan membiarkannya. Lesya mengatur nafasnya dan menutup kedua telinganya dengan tangannya. "La la la.. Hehe.. "


Elvan mengeluarkan ponselnya dibalik sakunya dan mulai merekam tingkah Lesya dalam keadaan mabuk itu. Dia meletakkan di samping dirinya dengan penyangga ponselnya.


"Bluuuu.. bluuu.. Hihi bluuu" girang Lesya. Elvan menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal itu mendengarnya. Lesya justru membuat balon di mulutnya menggunakan air ludahnya sendiri. "Bluuuu! "


"Hihiks.. Bu bu bu.. La la la" Kesadaran Lesya jauh dari kata sadar. Bukan hanya pengaruh alkohol namun tercampur dengan pikirannya yang sudah pecah. "Bluuu! Plutt! Hehe"


Gemes? Tentu! Tingkah laku Lesya di saat berpengaruh dengan alkohol sangatlah jauh dari katanya. Dia yang bad girl berubah menjadi anak kecil yang terlantar.


"Pluu pluu! Fa fa fa.. Pi pi pi" Memijit pelipisnya, Elvan membenarkan rambut Lesya yang acak-acakkan itu.


Setelah selesai Lesya menggapai tangan Elvan dan menyatukan jarinya dengan jari lelaki itu. "Hehe.. Bu bu bu.. Pi pi pi.. Ja ja ja"


Lesya asik bermain dengan jari telunjuk Elvan yang lebih besar dibandingkan dirinya. Bagai anak kecil yang tak tahu itu apa, Lesya memasukkan jari Elvan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Marah? Tidak! Merasa jij*k? Tidak juga! Justru satu tangan Elvan mengusap lembut rambut Lesya. "Pulang yuk! " lembut Elvan.


Mengapa Elvan lembut? Dia bukannya luluh dengan sikap manis Lesya yang bagaikan anak kecil namun karena dia tahu jika Lesya pasti akan menyetujui ucapannya.


Lesya yang mengeluarkan jari Elvan lalu memasukkannya lagi lalu mengangguk imut. "Do do do"


Elvan mengambil ponselnya dengan satu tangannya yang dia gunakan untuk mengusap rambut Lesya tadi. Dia memasukkan ke dalam saku dan menatap Lesya yang masih bermain dengan telunjuknya.


"Wa wa wa.. Hihiks... Hiks.. " Bingung, Elvan sontak memeluk Lesya agar tak menangis, "Kenapa? " Lesya tertawa kecil.


Bukan tertawa lucu kali ini. Nada tertawanya bagaikan tertawa miris dengan takdirnya. "Heh! "


Elvan menatap lekat manik Lesya. Dia berpikir apakah Lesya menangis karena dia mengingat siapa dia sebernarnya? Apa dia menangisi yang lain? Pikirnya.


"Kenapa hm? " Lesya menatap Elvan. Pikirannya hanya tertuju dengan satu nama yaitu Arga. Dia tertawa lucu kali ini dan menggulung kan tangannya di leher Elvan. "Pi pi pi! "


"Papi? " Lesya mengangguk imut mendengar Elvan yang menebak jika dirinya melihat sosok papinya di diri Elvan.


Lesya menggosok jari telunjuk Elvan yang sudah dia masukkan ke dalam mulutnya tadi di bajunya. Elvan membiarkan saja jika Lesya membersihkan sisa ludahnya tadi. "Pulang? "


Lesya mengangguk lucu. Dia kembali menggulung kan tangannya di leher Elvan. "Do do do.. " Elvan mengangkat Lesya pergi dari pohon tersebut dan berjalan menuju mobil sport-nya.


Jika kalian bingung mengapa Elvan dapat berada di tempat itu, jawabannya itu adalah jalan lain menuju kediaman Grey. Dan keluarga besar Grey tahu jika Elvan penerus gengster Angga, Tiger Wong.


Dalam gendongan Elvan, Lesya terus meracau tak jelas seraya memainkan wajah Elvan. Entah itu bulu mata, hidung, pipi, rahang, rambut, bahkan bibir. "Diem!"


Lesya menggeleng kecil mendengar 4 huruf 1 kata yang keluar dari mulut Elvan. Dia asik menoel hidung dan pipi Elvan sesekali tertawa. "Hihi.. "


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2