
Episode 438: Our Night
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
Setelah acara meriah sahabatnya, Lesya kini bergegas pulang dengan suaminya. Sebelum tiba di rumah, keduanya mampir ke dalam mall yang lumayan terkenal di kota. Aneh bukan?
Tapi inilah Lesya yang meminta ingin membeli baju baru dan mainan anak untuk kedua adiknya yang masih kecil. Kata Lesya, mumpung masih sore, alias langit yang belum terlalu gelap.
"Pan, ini bagus gak?"
Sang empu menoleh dan mengangguk. Dua paper bag sudah berada di tangannya. Kini hanya tersisa menunggu Lesya yang masih sibuk mencari baju yang cocok untuknya.
Lesya mengeruncutkan bibirnya manyun dan meletakkan style pakaian yang dia cari untuk ke kampusnya. Style lain terlalu gelap untuk kehidupan yang sudah bercahaya baginya.
"Pan," panggil Lesya.
Sang empu hanya berdehem dan menatap istrinya yang tiba-tiba menggandengnya. "Kenapa lagi hm?" tanya Elvan. Ayolah, hidup dengan keluarga besar yang rata-rata adalah perempuan membuatnya tahu bagaimana sikap perempuan. Pasti meminta sesuatu, pikir Elvan.
"Beliin coklat dong, di sana!"
Nah, benar 'kan!
Elvan hanya mengangguk mengiyakan saja. Sementara Lesya sudah melukis senyum dan mengambil alih dua paper bag yang ada di tangan Elvan. Sebelum pergi Elvan memperingati agar Lesya tetap di dalam toko dalam mall tersebut. Lesya hanya mengangguk menurut saja.
"Mwehehe... Lancarkan aksi bree!"
Lesya segera pergi ke satu ruang dan mengambil pesanannya. Sebelumnya dia memberikan tips pada para pekerja yang sudah bersedia membantunya.
Dengan cara biasanya Lesya juga membeli satu barang di sana agar tak dicurigai oleh satupun orang yang ada. Saat hendak membayar, bertepatan dengan Elvan yang sudah datang dengan box coklat permintaan Lesya.
"Udah?" tanya Elvan.
Lesya mengangguk dan berjalan menggandeng Elvan seusai membayar belanjaan nya. Mereka bergegas kembali ke rumah pribadi mereka karena cukup lelah dengan kegiatan selama acara sahabatnya. Di sepanjang jalan Lesya hanya memakan coklat seraya berbincang kecil dengan Elvan.
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
"Alien, capek lohh. Tega bener gw ditinggal huh!"
Valen menipiskan bibirnya karena ekspresi Luna yang lucu di matanya. Di tambah panggilan aku-kamu sudah berubah logat menjadi lo-gw yang menandakan jika Luna sedang marah. Segera dia berbalik dan merentangkan tangannya ke arah sang istri.
"Yeyyy, gini dong!" girang Luna lalu segera naik ke gendongan Valen. Henny yang melihat dari arah dapur hanya geleng-geleng kepala saja. Anak dan menantu baru nya tinggal dengannya karena masih perlu bimbingan darinya, kata Valen. Padahal Henny tahu maksud Valen hanya untuk menemani sekaligus menjaganya yang kurang sehat.
"Valen, Luna, jangan mulai yah! Mending kalian mandi habis itu cetak cucu, hari ini Mama numpang di rumah mertua Lesya ya biar gak ganggu kalian."
Perintah Henny itu membuat Luna menyengir dengan ucapan sang mama. Dia sama sekali tak malu karena memang sudah terbiasa selalu terbuka dengan wanita yang melahirkannya.
"Wokeey Maa… lagian Om Angga juga lembur 'kan? Kasian juga kalau Tante May sendirian di rumah," ucap Luna yang sempat mendengar cerita dari Lesya saat sedang di make up tadi. Henny mengangguk dan berpamitan setelah berganti pakaian menjadi lebih santai.
Begitu juga dengan kedua pasutri baru, mereka berjalan ke arah kamar Luna yang juga sudah merupakan kamar Valen. Dimulai dengan Valen yang membersihkan diri lebih dahulu, Luna sendiri membersihkan make up tebal di wajahnya. Sebelum membersihkan make up, Luna mempotret dirinya sebagai kenang-kenangan. Tak peduli jika dia lebai, dia senang sudah oke.
"Oke clear, sekarang ganti baju!"
Luna bergumam dan masuk ke dalam walk in closet di kamarnya. Setelah berganti pakaian menjadi lebih longar dan santai, Luna terkikik sendiri melihat penampilan tubuhnya di cermin.
__ADS_1
Segera Luna keluar dan betapa terkejutnya melihat sang suami yang sudah menunggu di tepi ranjang dengan bathrobe yang sudah melekat di tubuhnya. Seketika otaknya macet.
"Play, Baby?" ucap Valen.
Valen sudah tahu akal-akalan Luna. Dia sendiri juga merasa aneh karena memiliki istri yang pikirannya setengah-setengah. Di acara Lesya sudah memperingatinya jika Luna tipikal wanita agresif walau ditutupi dengan tingkah konyol dan dewasanya. Ini yang dimaksud oleh istri ketuanya!
"Let's start, Daddy." jawab Luna tersenyum manis bagaikan gula.
Langkah kaki Luna mendekat ke arah Valen dan hanya mengikuti cara bermain suaminya. Pertama kalinya, Luna merasakan sensasi yang luar biasa secara nyata tanpa mengikuti alur film yang dia tonton sebelumnya.
...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...
"Lele?" panggil Elvan.
Sang pemilik panggilan hanya tersenyum dan berbalik. Elvan menyipitkan matanya curiga ke arah Lesya yang tubuhnya kini hanya tertutup kain tipis. Menarik masuk ke dalam kamar, Elvan hanya dapat menghela nafas saat melihat senyum polos tanpa dosa dari istrinya.
"Main yuk!" ajak Lesya antusias.
"Main?" bingung Elvan heran.
Lesya mengangguk lucu. "Main kuda-kudaan lhoo… masa gak tau sih?" ucap Lesya mendengus sebal.
Elvan menuntun Lesya ke tepi ranjang dan menempelkan telapak tangannya di kening sang istri. Alisnya berkerut karena sama sekali tak mendapati hawa panas dari Lesya.
"Lo siapa? Istri gw gak sebleng nyampe ngajak main begitu." sinis Elvan datar.
Lesya melunturkan senyumnya dan menginjak kaki Elvan dengan keras karena merasa kesal. Sang empu mengaduh sakit dan ikut duduk dengan memegang jari-jari di satu kakinya.
"Sia-sia anjr gw tonton tutor caranya gara-gara bisikan sesat si Lisa! Lo aneh banget, harusnya cowok yang ngajak duluan, masa cewek sih? Ya walaupun gw trauma ya sama namanya begituan, gw kerasa kesentil denger Kak Elen hamidun, terus si Lita juga udah ikutan hamidun muda lagi." kesal Lesya dengan logat bicara sinisnya karena tak paham dengan reaksi yang ditunjukkan Elvan.
"Jangan bilang lo gak mau karena lo g-gay?" tuduh Lesya membelakkan matanya lebar. Wajar saja dia menuduh demikian karena selama ini tak pernah dia rasakan Elvan menyentuhnya. Elvan hanya sekedar memeluk, menggenggam juga mengencup wajahnya saja.
Pletak!
Elvan menyentil kening Lesya secara reflek dan mengelusnya. Sang empu yang disentil hanya meringis dan mendengus kesal saja. Sejenak Lesya terdiam mendengar dengan baik penjelasan dari lawan bicaranya.
"Eh maaf, bukan gitu maksudnya. Dari dulu gw emang gak ngelakuin 'itu' sama lo, tapi bukan artinya gw gay. Kalau dulu emang kita masih kecil, gw sendiri belom siap punya gendongan. Lo aja masih sering kelayapan sana-sini dan gw masih mau nikmatin masa muda bareng temen-temen gw." cakap Elvan.
"Bukan artinya gw gak mau punya keturunan, tapi gw cuman ngundur waktu setidaknya sampai bisa ngadepin masalah sendiri tanpa orang tua. Kita aja dulu masih numpang, setidaknya punya kerja sendiri selain cafe kalau mau punya keturunan. Kalaupun sekarang ada, emang lo siap bagi waktu muda bawa anak?" ucap Elvan lagi bertanya.
"Ya jangan dulu sih, tunggu gw dapet gelar sarjana atau gak makan pil KB kan bisa." balas Lesya yang terus menggencar Elvan dengan banyaknya alasan agar pertahanan Elvan goyah.
"Maunya langsung jadi."
"Yaudah buat sekarang, mumpung masih anget tawarannya." ucap Lesya dengan kedipan mata yang dia buat-buat layaknya wanita penggoda yang sering dia saksikan. Elvan geleng-geleng kepala melihat kedipan mata istrinya yang berbeda dari sikapnya.
"Tidur, udah malam!"
"Main dulu!"
"Tidur dulu, Sayang! Kalau main capek nanti, besok aja main kudanya ya?"
"Yaudah tidurin!"
__ADS_1
Elvan menipiskan bibirnya karena tawanya hampir lepas melihat raut wajah merengek Lesya. Segera Elvan mengambil minuman yang ada di nakas dan meneguknya hingga tandas.
Terlalu lucu, Elvan jadi gak kuat melihatnya terlebih ini pertama kalinya ekspresi Lesya selucu ini!
"Pan,"
"Hm?"
"Tau gak minuman itu apa?"
"Apa?"
"Itu bukannya ramuan yang dikasih Lisa ya? Kok tau sih? Gw baru aja ingat buat kasih sama lo padahal."
"Dari Lisa?"
"Iya, gak tau minuman apaan, dia cuman bilang kalau itu ramuan mujarab."
Elvan meletakkan gelas ke nakas dan menghubungi Lisa yang kebetulan sedang aktif. Sayangnya, saat dia hendak chat sepupunya, Lisa justru sudah mengirimkannya pesan lalu keluar dari room chat. Ngeselin memang!
..._...
📩Lisa
Jangan lupa cetak keponakan ucul sepupu ganteng kuu😛
Masih baik-baik gw bantu ygy?
(read)
..._...
"Maksud si kutulisa apaan?" beo Lesya yang tak sengaja melihat isi pesan dari sepupu sang suami. Elvan menghela nafasnya saat melihat Lesya yang tiba-tiba melotot dan menatapnya malu.
"Mau gak disembuhin? Masih anget loh tawarannya." tawar Lesya menahan tawanya. Elvan meletakkan ponsel nya di nakas dan membaringkan Lesya ke arah ranjang. Dewi Fortuna sedang tak berpihak padanya saat ini.
"Jangan minta supaya gw berhenti kalau udah mulai! Jangan tiba-tiba menghindar kalau udah ngerasa risih, paham?"
"Siap Daddy, eh?"
Setelah percakapan random yang cukup aneh bagi Lesya, akhirnya pasangan itu memulai aktivitas di mana saling menyalurkan rasa cinta juga nafsu sekaligus. Jika kalian berpikir Elvan bersikap lembut? Jawabannya salah, karena Lesya diharuskan menyamai tenaga Elvan yang semakin kuat setelah meneguk ramuan mujarab yang diberikan Lisa secara tak langsung.
Benturan alat kelamin dari dua lawan jenis itu terus menggema. Suara ******* dan ringisan keluar secara alami karena terlalu menghayati permainan yang dibuat oleh keduanya.
"Udah ya, please?"
"Sesuai peraturan, no baby!"
Lesya menggigit bibir bawahnya karena Elvan terus melakukan aksinya. Ternyata maksud dari Elvan yang tak mau menyentuhnya bukan karena menginginkan masa muda, melainkan takut dia yang tak bisa menyeimbangkan permainan. Menyesal? Ya enggak, lagian enak kok tinggal rebahan aja!
Untuk kesekian kalinya, Lesya tak menyangka sepenuhnya trauma akan menjalani hubungan asmara dapat hilang. Dia kira perjodohan yang dibilang oleh mendiang maminya akan dia jalani dan putus di tengah jalan tanpa adanya komitmen apapun. Namun, semua dugaannya salah, ternyata jauh lebih dari apa yang dia bayangkan selama ini.
>>><<<
__ADS_1
Stooppp!! Gak kuat nulisnya! Done ya, buat readers yang selalu minta🤧
Beneran gak kuat nulis aku huhuTT_**