Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
11: Operasi


__ADS_3

Lesya termenung saat di kelas membuat Luna yang di sampingnya heran. Sudah beberapa panggilan Luna tapi satupun tak dijawab oleh Lesya.


Saat ini mereka sedang berada di kantin. Hanya berdua saja, karena Letha dkk sedang membeli makanan mereka. Dan mereka pisah meja dengan Letha dkk.


Cuman satu cara buat menyadarkan Lesya. Luna menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya kasar.


"ZELYRA ALEESYA MICHELLA FYO MASIH PAGI GAK USAH NGELAMUN, LO KESAMBET BUKAN SALAH GW AJA" pekik Luna membuat seisi kantin menoleh ke arah Lesya dan Luna.


Luna menatap siswa-siswi yang ada di kantin dan meminta maaf kepada mereka akibat keributan nya tadi.


"Mangap, kelepasan" Seisi kantin pun melanjutkan aktivitas mereka seperti semula.


"Gw gak budeg Lun" Lesya menatap kosong ke arah es jeruknya.


Lesya teringat akan perkataan suster tadi tentang kondisi Mila sebenarnya.


"Ya elo sih, gw panggilin gak nyaut-nyaut. Kenapa sih? Ada masalah? " sahut Luna ngegas.


"Hm, soal kondisi mami" lirih Lesya.


"Ha? Emang kenapa tante Mila? " tanya Luna mengecilkan suaranya.


"Mami sakit dan organ dalamnya membusuk" Lesya menundukkan kepalanya menutupi wajahnya yang hampir menangis.


Luna menutup mulutnya tak percaya. Sedangkan Lesya mengangkat wajahnya yang sudah menahan tangis.


"K-kok bisa? Dari kapan? " tanya Luna.


"Sejak dua hari yang lalu. Gw sendiri gak tau kenapa, yang jelas kata dokter mami keracunan" jawab Lesya mengusap wajahnya.


"Sabar sya, semoga tante Mila cepet sehat. Oh iya, hari ini ada tanding balap ikut kagak? " Lesya menoleh dan mengangguk setuju.


"Oleh jam 12 malam, alamatnya ntar gw sharelock" Lesya mengangguk dan meminum es jeruknya.


...~o0o~...


Kini tengah malam pun tiba. Lesya sudah sampai di lokasi yang sudah di sharelock oleh Luna. Lesya dan Luna ikut dalam organisasi gangster dan diketuai oleh Lesya dengan wakilnya Luna.


Nama samaran Luna di gengster tersebut adalah Princess Al. Sementara Lesya adalah Queen El. Nama kembar dengan arti nama dari nama masing-masing.


"QUEEN! " teriak Alam, pengurus gengster Lesya ketika Lesya dan Luna tak ada.


Lesya menoleh ke arah Alam dan melambaikan tangannya. Luna segera menghampiri Lesya yang memakai masker hitamnya. Selama berada di gengster, Lesya dan Luna sama sekali tak melepaskan masker mereka.


Alasan Lesya membangun gengster supaya berjaga ketika Gilang bertindak. Sementara Luna mengikuti sahabatnya saja.


"Lawan gw siapa? " tanya Lesya. Luna menunjuk seorang pria yang berbadan kekar yang akan tanding dengan Lesya.


"Hadiahnya mobil yang harganya 152 jt dan satu villa di pantai" Lesya mengangguk paham akan penjelasan Luna.


"Dan kalo seri, lo cuman dapat 152 jt, sementara dia bakal dapet villa dari kita-kita" lanjut Luna.


"Okeh, do'ain semoga gw menang" Luna memberi semangat kepada Lesya sebelum pertandingan di mulai.

__ADS_1


...—...


Sorakkan dari para penonton bergema di telinga Lesya. Dia naik ke dalam motornya dan menyalakan mesin motor. Begitu pula dengan lawannya. Lawannya adalah ketua gengster terbesar setelah gengster Lesya.


Perempuan minim yang mengunakan baju yang kurang bahan berjalan ke tengah-tengah sambil memegang bendera.


Satu...


Dua...


Tiga...


Brruuummm...


Terjadi adu balap antara lawan dengan Lesya. Saling membalap satu sama lain demi mendapatkan hadiah. Termasuk Lesya yang butuh uang untuk membayar administrasi maminya.


Hingga hampir sampai digaris finish, semua penonton bertepuk tangan menyaksikan kemenangan Lesya dan lawannya. Mereka berdua seri.


Sesuai perjanjian, Lesya memberikan surat kepemilikan villa kepada lawannya. Sementara Lesya mendapatkan cek dari lawannya. Isi cek tersebut adalah uang sebesar 152 jt.


"Gw balik dulu ya, Al lo pulang sono" ucap Lesya.


"Iya, bang gw balik ya. Jangan kangen sama kita-kita" narsis Luna.


"Dih, ogah gw mah" balas Alam. Lesya dan Luna terkikik.


"Gw balik ya Bang, jaga gengster! Klo ada apa-apa telfon gw" Alam mengangguk.


"Ti-ati kalian" Lesya dan Luna mengangguk dan menancapkan gas kendaraan mereka masing-masing.


...~o0o~...


Kini Lesya sudah membersihkan dirinya dan melangkahkan kakinya menuju ruang administrasi.


"Sus, saya mau bayar administrasi atas nama Emila Fyo" ucap Lesya.


"Tunggu sebentar ya mba, biaya operasi pertama akan dilakukan dengan harga 157 jt" balas suster tersebut.


"Iyah, ini saya baru ada 156 jt, sisanya nanti boleh kan Sus? " tanya Lesya hati-hati.


"Boleh mba" jawabnya. Lesya menyodorkan cek tadi dan uang cash sebesar 4 jt kepada suster tersebut.


...—...


Jantung Lesya berpacu cepat. Sekarang Mila sedang melakukan operasi pertamanya. Sebenarnya Mila menolak untuk dioperasi.


Lesya meminta dokter untuk menyuntikkan obat bius kepada Mila. Dan kini Mila berada dioperasi pertamanya dengan keadaan tak sadar.


Tinnngg...


Lampu merah ruangan berubah menjadi lampu hijau. Dokter keluar dari ruangan dan menghampiri Lesya yang duduk dengan pandangan kosong.


"Dek" panggil dokter tersebut menepuk bahu Lesya.

__ADS_1


Lesya tersadar dan melihat ke arah dokter tersebut, "Iya dok? Gimana operasinya? "


"Operasi pertama bu Mila berjalan dengan lancar. Dan sekarang tinggal menunggu bu Mila sadar. Keadaannya sedikit memilih setelah operasi" katanya.


"Setelah bu Mila sadar, kita akan melakukan operasi kedua. Namun pembayaran operasi kedua ini sangat memakan biaya. Hal ini disebabkan karena nyawa pasien dapat terancam" Lesya terkejut.


"Hanya keajaiban yang dapat menyembuhkan beliau. Dan hidupnya benar-benar diambang kematian. Antara hidup dan mati setelah operasi kedua dilakukan" lanjutnya.


Lesya mematung seketika. Dia tak bisa menepati janjinya terhadap papinya untuk menjaga Mila dan Letha.


"Jadi operasi kedua harus dipikirkan secara matang-matang. Kalau begitu saya permisi dulu ya dek" Dokter tersebut meninggalkan Lesya di sana sendirian.


...—...


Lesya memasuki ruang perawatan Mila. Mila sudah dipindahkan sejak beberapa menit yang lalu. Bi Ana menemani Lesya menjaga Mila.


Mila masih belum sadarkan diri akibat suntikkan bius yang diberikan oleh dokter. Dokter berkata mungkin butuh waktu 12 jam untuk sadar dari pingsannya.


"Sabar ya non, pasti semua ada jalan keluarnya. Kita cuman bisa berdo'a yang terbaik untuk kesembuhan nyonya" bi Ana mengelus punggung Lesya pelan.


Bi Ana dan Lesya sangat dekat seperti ibu dan anak. Setiap pengambilan raport, bi Ana mengambil raport Lesya sementara Mila mengambil raport Letha.


Bi Ana sangat sayang kepada Lesya tulus dari hatinya. Bi Ana mempunyai anak perempuan yang bekerja di kediaman Fyo. Lesya cukup dekat dengan anak bi Ana bagai adik kakak.


"Makasih bi, oh iya bibi gak mau pulang? Kasian Lusi sendirian di sana" tanya Lesya.


"Gak usah non, nanti anak bibi dateng ke sini kok" tolak bi Ana halus.


Lesya mengangguk, "Bi, menurut bibi klo mami nyusulin papi ke sana, Kira-kira papi marah gak ya bi sama aku? "


Bi Ana terkejut akan pertanyaan yang dilontarkan Lesya. Dengan sabar bi Ana mengelus punggung Lesya dan memberikan kehangatan.


"Non, semua itu takdir dari Yang Kuasa. Kalo memang waktu nyonya di sini habis, kita bisa apa? Marah-marah? Kita cuman bisa mendo'akan supaya nyonya dan tuan bahagia di sana"


Lesya mangut-mangut mengerti akan penjelasan bi Ana. Tak lama kemudian pintu ruangan terketuk.


Lesya mempersilahkan orang yang berada di luar memasuki ruangan. Terlihatlah gadis cantik yang menenteng tasnya di pundak dan tangannya membawa tempat makanan [lupa namanya].


"Luci udah nyampe? Sini duduk" Luci duduk di sebelah mamanya, bi Ana.


"Gimana keadaan nyonya Ra? " Lesya menoleh ke arah Luci yang mulai membuka kotak makanan.


"Entah, aku sendiri kurang paham sama kondisi mami kak. Kata dokter nyawanya di ambang kematian" Luci terkejut mendengar berita tersebut.


Sedikit informasi, Lesya memanggil Luci dengan sebutan kakak dan Luci memanggil Lesya dengan sebutan Rara. Luci kuliah di satu universitas milik Lesya. Dia bekerja di kediaman Fyo untuk membiayai kebutuhannya sendiri.


"Sabar ya Ra, kita do'akan semoga nyonya cepet sehat kembali" Luci mengusap bahu Lesya lembut.


"AMINNN... Semoga saja" Mereka pun makan bertiga di ruangan Mila.


Lesya makan tak begitu lahap karena melihat kondisi kesehatan Mila yang buruk. Setelah makan Luci ketiduran di karpet yang sudah disediakan. Bi Ana membereskan bekas makan mereka dibantu oleh Lesya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 WIB. Waktu tidur Lesya hanya tersisa sekitar 3,5 jam saja. Bi Ana sudah tidur dengan anaknya di atas karpet.

__ADS_1


Lesya masih berjaga-jaga barang kali Mila bangun. Tapi nihil, karena waktu sudah menunjukkan pukul 03 subuh, Lesya tertidur dengan posisi seperti biasa.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2