Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
420: Appliquer L'événement


__ADS_3

Episode 420: Appliquer L'événement (Acara Lamaran)


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Dengan kasar Elvan menarik kedua tangan mereka agar berpisah satu sama lain. Dan berhasil. Elvan menghela nafasnya dan menatap satu dan yang lain bergantian. Jika yang satu menatap tajam tanpa mempedulikan kondisi rambut, lain halnya yang satu menatap sengit lawannya dengan tangan yang berusaha merapikan rambutnya.


"Bisa jangan berantem? Jaga image kalau di luar, paham?" datar lelaki itu.


Lesya hanya menggeleng dengan tangannya yang mulai merapikan anak rambutnya. Wajah gadis itu kini benar-benar ditekuk manyun. Matanya mulai berkaca-kaca karena memang takut ditinggalkan. Terlebih ucapan Luna dan Lisa saat di kantin membuat pikirannya melayang kemana-mana.


"Papan jahat!" ucap Lesya lirih bahkan hampir tak terdengar. Jujur saja, ingin sekali Lesya melemparkan nuklir ke arah wajah perempuan yang berada di belakang Elvan. Emosinya memuncak di kala perempuan itu memeletkan lidah padanya seolah tanda ejekan.


Dengan segera Lesya berniat pergi dari sana. Namun, sebuah suara cempreng yang familiar di telinganya, membuat dirinya tertahan agar tak berjalan. Menoleh ke belakang, Lesya kini mendapati pemuda dengan setelan rapi bahkan menggunakan jas hitam.


"Bang Cakra?" gumam Lesya lirih dengan alis yang berkerut bingung.


Biasanya, abang angkatnya itu tak serapi dan sepeduli ini terhadap penampilan. Lalu sekarang pemuda itu menggunakan setelan rapi layaknya seorang pemimpin perusahaan yang baru pertama kali bekerja. Dapat Lesya tebak juga jika rambut abang angkatnya itu sudah disalon dan dirapikan. Ada apa ini sebenarnya? Pikir Lesya bingung.


"Kita duluan Bang," pamit Elvan lalu mengajak perempuan yang berada di belakangnya untuk segera masuk ke dalam ruangan yang sudah disediakan.


Cakra mengangguk dan melambaikan tangannya seolah menyapa perempuan yang diajak oleh Elvan untuk pergi. Tak suka akan itu, dengan segera Lesya memberikan tinjuan yang cukup kuat ke arah Cakra hingga sang empu meringis.


"Aduh, sakit Sa." ringis Cakra.


"Bodo! Ngapain juga lo di sini pake acara kedap-kedipin mata samagub cewek?! Ternyata gak elo, gak Elvan sama-sama kena pelet tuh cewek ya." sinis Lesya.


Cakra mendelik tak terima mendengar ucapan Lesya. Dia terdiam sejenak dan mencerna ucapan Lesya. Sedetik dia melirik Lesya lekat dan tertawa terbahak-bahak seolah menganggap ucapan Lesya yang kelewat sinis itu adalah sebuah candaan baginya.


"Haha... Sa-sa. Dia bukan cewek aneh-aneh Echa. Cewek tadi namanya Elita Zeviona Grizi. Dia itu kakak dari Lisa juga kakak sepupunya Elvan. Kalau dibandingin sama Elena, dia lebih muda beberapa bulan dibanding Elena."


Raut wajah Cakra berubah menjadi anak kucing yang sedang malu-malu saat kembali melanjutkan ucapannya.


"Selain itu, dia pacar gw hehe.. Niatnya karena tinggal nunggu kelulusan, gw mau lamar dia sekarang di restoran yang udah gw pesen satu ruangan khususnya. Tenang aja, masalah wali sudah diwakilin sama Mama Henny kok Sa." lanjut Cakra.


"WHAT THE HELL?!"


Cakra mengelus kupingnya yang sedikit berdengung akibat ucapan Lesya yang dia yakini adalah sebuah bentakan bercampur keterkejutan. Belum sempat angkat bicara, Cakra lebih dulu kembali mengelus daun telinganya karena lanjutan dari ucapan ketuanya itu.


"KENAPA LO GAK BIlANG DARI TADI SIH, BANG ANDREAN?!"


"Ya kan gw kira---"


Ucapan Cakra tersela karena merasakan hawa dingin di sekitarnya. Jika sudah begini situasinya, salah satu sikap Lesya yang lama kembali terpanggil. Dan mau tak mau Cakra memilih dia yang mengalah saja dibandingkan urusan mereka kali ini semakin panjang.


"Ya maap, gw kan gak tau." cicit Cakra.


"Bang---"


Cakra merasa bulu kuduknya menaik saat mendengar suara ketuanya yang bernada lirih itu. Pemuda yang memiliki nama ‘Cakrawala’ itu kini sedang merasa was-was jika ketuanya itu mengamuk.


"I-iya, kenapa Queen?"


"ARKHHH… DEMI APA? MALU-MALUIN ANJ*R! Ku kira lawan nyatanya kawan, ku kira calon musuh nyatanya sepupu."

__ADS_1


Lesya mengacak-acak rambutnya karena frustasi sudah salah paham dengan apa yang dia lihat. Cakra yang mengira ketuanya akan mengamuk terdiam sejenak dan tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Wajah ketuanya yang memerah membuat Cakra tak tahan untuk meledek. Lagi pula, jarang-jarang loh situasi seperti ini terjadi.


"Salah sendiri gak denger penjelasan orang lain, gini kan jadinya." ledek Cakra.


"Abang gak usah ketawain! Kenapa sih gak ngomong dari tadi Bang?! Kan malu duluan gw nya!" galak Lesya dengan ketus. Tawa Cakra perlahan mulai meredup dan diganti dengan tipisan bibir yang sedang berusaha menahan tawa.


"Tempramen lo jelwek amat sih, Sa! Udah, yok masuk bantuin gw meyakinkan CaMer gw yang sedang meragukan pribadi seorang Cakrawala Andrean." sombong Cakra penuh percaya diri.


Lesya dibuat terkejut saat Cakra merangkul pundaknya dan membawanya masuk ke dalam ruangan yang terletak di depan mereka. Matanya membola kaget saat melihat banyaknya tatapan menoleh pada kedatangannya dan Cakra.


"Maaf saya telat, jalanan ibu kota lagi macet."


Cakra dengan segera melepaskan rangkulannya saat melihat tatapan sinis dari sang kekasih yang duduk di salah satu kursi yang ada. Lesya yang melihat hanya memutar bola matanya malas. Perempuan dengan pakaian yang didominasi jas kerja, kini berjalan ke arah dua sahabatnya yang kebetulan hadir.


"Tumben lo pake jas beginian, Sya?" heran Luna saat melihat penampilan Lesya yang bersifat formalitas.


"Nyari cuan, Luna." jawab Lesya.


"Owalah, udah ganti pemilik ya nih resto?" bisik Luna menebak dan dibalas deheman singkat sebagai jawaban dari kepala sang lawan bicara.


"Ikut juga lo?" bisik Lisa.


Lesya tampak menggedikkan bahunya acuh. "Awalnya enggak, tapi diseret jadinya ikutan dah." balas lesya yang ikut berbisik. “Lo sendiri kenapa ikut dah?” lanjut Lesya bertanya dengan bisikan.


"Ini acara kakak gw lah. Sekalian numpang makan mumpung gratis." jawab Lisa. "BTW, waktu lo teriak-teriak tadi di luar, kedengeran loh sampe sini." sambung Lisa menaik turunkan alisnya seolah menggoda sahabat dari mendiang sang kekasih hatinya.


"Shut up please, gak usah dibahas." tekan Lesya menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya. Lisa tak mempedulikannya. Namun sentakkan dari sang mama membuatnya memilih diam saja.


"Baik, bisa dimulai acaranya?"


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


"LEPASIN!"


"Lo harus balik lagi, sorry ini perintah!"


"GAK! Gw gak mau ya. Lo jahat, lo udah berubah bukan kayak yang gw kenal lagi. Hidup lo terlalu penting semua nurutin permintaan Boss lo doang."


"Sorry, tapi sejauh ini lo duluan yang berubah."


"LEPASIN GW GAK MAU!"


"Nurut kali ini Tha, gw mohon. Gw gak mau nyakitin lo sekarang. Percaya sama gw, gw bakal selalu ada nanti di sana kalau lo butuh apa-apa."


"Promise?"


"Yes, I’m promise."


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Sebuah ruangan yang penuh keseriusan kini sudah berganti dengan iringan obrolan yang cukup serius. Berbeda dengan para lelaki dan orangtua yang membicarakan hal-hal tentang pernikahan. Maka para perempuan yang sangat jengah dengan pembicaraan memilih topik bicara mereka sendiri.


Luna, Lisa, dan Lesya sama sekali tak langsung berbicara. Mereka berbisik-bisik dengan suara kecil karena takut terdengar dan mengganggu pembicaraan orang tua. Sesekali mereka kelepasan berbicara layaknya volume gaya bicara mereka sehari-hari. Tapi sama sekali itu tak dipermasalahkan.

__ADS_1


"Bosen gw denger bahasannya. Dari tadi bahasannya nikah mulu." gerutu Lisa sebal seraya memakan cupcake yang ada di sana. Luna yang samar-samar mendengar tampak mengangguk setuju dengan gerutuan Lisa.


"Lagian gw heran kenapa sih gw diajak sama Mama gw buat ke sini?! Mending gw nge-date sama Valen tadi ya gak?" timpal Luna yang tak sengaja memancing pembicaraan agar tak terus berbisik-bisik. Rupanya gadis itu kini merasa capek berbisik-bisik dari tadi.


"Mulai bulol lo, Lun." sahut Lesya.


"Eh? Iya juga ya? Bucin-bucin gini, gw makin tolοl ya ngerjain ujiannya tadi." aku Luna yang baru tersadar dengan penuh kejujuran tanpa rasa malu sedikitpun.


"Terkadang sebuah kejujuran membuat seseorang lupa harga diri untuk tak mengatai diri sendiri." sahut Lisa memutar bola matanya jengah.


"Gak peduli wleek! BTW, ini acara kapan selesai sih? Pegel gw jaga image buat sekedar duduk sama makan doang."


Luna terus mengoceh seraya melahap dengan rakus makanannya yang belum habis. Wajar sekali jika makanan Luna itu tak habis. Alasannya karena Luna sendiri tambah porsi jika bosan. Tak peduli bagaimana berat badannya, Luna adalah salah satu orang yang banyak makan, tapi pelakunya tak kunjung gemuk.


"Masih lama kayaknya," tebak Lesya.


"Iyain deh sama yang udah berpengalaman." cibir Lisa. Lesya menaikkan satu alisnya bingung. "Pengalaman ngapain? Lamaran? Sorry, gw belom pernah rasain dilamar orang." ucap Lesya membuat Lisa sedikit tersentak mendengar ucapannya.


"Busett, berarti langsung altar dong? Wah parah, Tante May bilang udah lamaran kok. Bo’ong lo ya?" selidik Lisa memicingkan matanya curiga.


Lesya terdiam mengetuk-ketuk meja pelan. Pikirannya terlintas tentang di mana Mayang saat itu datang ke ruangan mendiang maminya yang sakit untuk menjodohkannya dengan seseorang yang berada di seberang nya.


"OH?! Gw inget, tapi gw ngerasa kayak bukan dilamar cumen kenalan doang. Eh? Gak tau deh, gw gak paham begituan." acuh Lesya pada akhirnya. Luna yang sedang melahap makanannya, tak sengaja tersedak karena ucapan kata 'oh' dari Lesya yang cukup kuat. Bahkan para orang tua kini terhenti dalam obrolan mereka.


"Emang definisi lamaran yang lo anggap gimana?" kepo Lisa yang kini cukup penasaran. Lesya terdiam dan berlagak seolah sedang berpikir sejenak.


"Yang bawa bunga gak sih?"


Plaakk!


"Anj-- ayani. Apaan sih?"


Lesya yang mendapatkan pukulan tiba-tiba dari Lisa hendak mengumpat. Namun, menyadari tatapan yang mengarah padanya akhirnya memilih untuk meralat umpatannya. Anyway, di ruangan itu hanya ada orang tua Lisa, kakak Lisa—Elita(kekasih Cakra), Cakra, Henny, Elvan, Luna, Lesya juga Lisa.


"Itu mau nembak doi gobl*k! Lamaran beda lagi, bawanya langsung mahar."


"Goblak-gobl*k, sembarangan lo! Ya mana gw tau gimana konsepnya. Nembak doi tuh pake pistol bukan pake bunga. Dan yang gw tau mahar tuh biasa dipake nya buat mau nikahan. Kalau buat lamaran itu penentuan mahar."


Ocehan Lesya itu yang terdengar cukup ngegas membuat Lisa terdiam dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebagian ucapan Lesya memang cukup benar, tapi menurut Lisa sangat memusingkan untuk mencernanya.


"Lo bener tapi gak bener! Akibat gak pernah pacaran ya gini. Konsep lo nembak doi ngajak nutup mata."


"Pacaran? Fuc*king to dating! Cuman nambah beban dosa, dosa udah numpuk harusnya tobat bukan pacaran. Sekali ditinggal kan kayak lo ujungnya." sinis Lesya membuat Lisa mendengus kesal.


"Ngomong sama lo bikin gw sebel ya anj--"


"Lisa?" peringat Maurine.


"--ayanto."


"Ribet lo berdua! Iri amat gara-gara gw punya pacar, situ kagak haha…" ledek Luna tertawa hingga kembali tersedak sisa makanan yang ada di mulutnya. Lesya yang melihat hanya menyodorkan minumannya yang masih tersisa setengah. Jangan tanya jika minuman Luna itu sudah habis. Tentunya pemiliknya sendiri yang menghabiskan.


"Karma is a real!" ledek Lisa tertawa puas.

__ADS_1


"Lisa, udah Nak. Gak boleh gitu sama temennya." peringat Maurine lagi dan hanya diiyakan oleh sang pemilik nama.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2