Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
137: Syarat!


__ADS_3

Lesya dengan malas menutup kembali ponselnya dan membersihkan wastafel dapur yang ada di depannya seraya menggerutu tak jelas. "Heleh! Mentang-mentang gw akhir ini jarang silahturahmi di sono! Makan tuh kontrak! Toh gw udah sultan! "


Saat ini Lesya memang berada di cafe milik Elvan untuk bekerja. Sudah beberapa hari ini dia tak masuk alias absen. Dan di saat Lesya menggerutu, tiba-tiba saja satu pelayan menghampirinya. "Sya, dipanggil tuh sama pak bos! " Lesya menunjuk dirinya sendiri. "Gw? "


Pelayan tersebut mengangguk saja. "Iya, udah sono temuin sebelum diancam pecat loh! " Lesya mengangguk saja. Beruntung dia sudah membersihkan wastafel dan piring dengan rapi dan bersih.


Lesya berjalan santai setelah melepas apron yang dia kenakan dan menyimpan ponselnya di saku celananya. "Du du du du! " Seraya bersiul santai, Lesya mengetuk pintu saat sudah tiba di ruangan lalu membukanya.


"Ada apaan? " Sontak Lesya menjadi pusat perhatian bagi beberapa karyawan yang bekerja di bagian keuangan cafe yang sudah dikumpulkan di sana.


Elvan menatap Lesya dengan pandangan seperti biasa dia tampilkan di sekolah. "D-dia! Dia yang suruh saya pak! "


Lesya tercekat dan mengangkat tangannya. "Lah? Apaan sih? Jangan pegang-pegang! Kuman! " bantah Lesya tak tahu kondisi. Elvan menunjuk orang yang menunjuk Lesya agar berdiri dengan tegap. "Berdiri! " tegasnya.


Lesya mengambil satu tisu basah yang ada di dekatnya dan membersihkan tangannya. Dia angkuh? Tidak! Kalian tak tahu saja jika kuku Lesya sudah siap berdiri dan akan menimbulkan keributan. Lesya tak mau itu!


Jadi, Lesya lebih memilih membersihkan punggung tangannya dengan tisu basah yang memang terlihat angkuh dibandingkan dirinya mencari masalah dan mencakar orang lain.


Elvan menunjuk Lesya agar duduk di bangku depannya segera. Elvan juga menunjuk orang tadi yang menyentuh punggung tangan Lesya dan menuduh Lesya. "Jelaskan! "


Orang tersebut mulai menjelaskan penjelasan yang tak masuk akal bagi Lesya. "Kemarin, dia(Lesya) menyuruh saya untuk mengambil beberapa uang modal cafe agar hasilnya dibagi dua pak! Dan saya terpaksa karena dia(Lesya) mengancam saya! "


Lesya yang sudah duduk hanya menyimak saja pembicaraan dan perkataan yang dilontarkan orang tersebut. Mata nya melotot dan menggebrak meja Elvan kasar. "Heh mana ada gw kayak gitu?! "


Beberapa karyawan yang bekerja di keuangan cafe mengelus dadanya yang hampir loncat. "Duduk! " tegas Elvan dingin. Lesya duduk saja dan menatap tajam orang yang menuduhnya.

__ADS_1


"Apa buktinya? " tanya Elvan dengan nada dingin. Elvan sebenarnya tahu jika orang tersebut hanya berbohong karena takut dirinya memecat dia. Jika bukti? Bukan kah Lesya selalu bersamanya kemarin?


Orang tersebut terdiam dan akhirnya berani mengangkat suaranya. "Dia(Lesya) menghapus semua bukti! " Lesya melotot dan menggeleng. "Enggak ya! Kemaren gw gak ke sini! Mana tau soal itu! " elaknya tak terima.


"Saya butuh bukti! " tegas Elvan. Sontak ruangan tersebut kembali sunyi. Lesya yang malas berada di ruangan sunyi mengigit kukunya hingga terdengar suara.


Treekk!


Pasang mata menatap Lesya yang dengan santai menyilangkan kakinya. Merasa risih, Lesya menatap tajam belakangnya. "Apa liat-liat?! "


"Huft! " Lesya terdiam mendengar hembusan nafas Elvan. Dia tahu jika Elvan menyimpan kesabarannya untuk menghadapi dirinya. "Yang lain keluar kecuali kamu! "


Lesya yang hendak beranjak, ditahan oleh Elvan. "Duduk! " Kesal, Lesya menurut dan mencebikkan bibirnya.


Orang tersebut masih tetap berdiri dengan jantung yang tak beraturan. "Kapan gw suruh lo korupsi?! " Lesya menatap tajam orang tersebut hingga orang itu menunduk.


"JAWAB?! " Hilang kontrol, Lesya membentak orang yang lebih tua dibandingkan dirinya hingga orang tersebut menunduk. "Anda lupa? Bukankah kemarin malam Anda menyuruh saya? " kekehnya memojokkan Lesya.


Mata Lesya melotot. Elvan yang sudah tahu, akhirnya angkat suara. "Kemarin malam? " Lesya menatap Elvan dengan gelengan kepalanya seolah mengatakan itu tak benar.


"Iya bos! Dia menyuruh saya kemarin malam tepat tengah malam jam dua belas! " Elvan menarik senyum miringnya. "Sayangnya dia bersama saya saat itu! "


Enam kata yang keluar dari mulut Elvan dengan nada yang terdengar tak bersahabat, mampu membuat panik berserta gugup orang tersebut. "Tapi bos, dia memang benar-benar menyuruh saya kemarin! "


Lesya diam saja melihat Elvan yang membelanya. Dia ingin angkat suara namun suaranya tertinggal entah kemana. Alhasil dia terdiam saja dan menyimak pembicaraan.

__ADS_1


"Dia bersama saya kemarin! " Keringat dingin sudah membanjiri wajah orang tersebut. Pikirannya mampet mencari alasan yang lebih baik naas, Elvan terlebih dahulu memecatnya.


"Jangan menginjakkan diri di cafe saya lagi! " dingin Elvan. Sontak orang tersebut mendongkak dan tak terima. "Saya jujur mengapa anda justru memecat saya?! "


Elvan mengangkat alisnya satu ke atas. "Pintu keluar berada di sebelah sana!" datar Elvan menunjuk ke arah pintu keluar seolah mengusir dengan cara yang halus.


Marah, orang itu keluar dan menghela nafas. Dia memang membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya. Dia tahu jika dia salah dan pantas mendapatkan itu.


Lesya yang melihat itu hanya terdiam saja menatap kepergian orang tersebut. Dia menatap Elvan seolah meminta sesuatu. "Pan, "


Sibuk berkutat dengan pekerjaannya, Elvan hanya membalas dengan singkat tanpa menatap Lesya sama sekali. "Hm? " Lesya memoyongkan bibirnya. "Pannn.... "


"Apa? " Lesya menatap serius Elvan yang akhirnya menatap dirinya. "Kasih aja gih gaji akhirnya" Tangan Elvan terhenti mengetik di laptopnya.


Akhirnya Elvan menatap serius Lesya dan menaikkan alisnya bingung. "Kenapa?" Lesya mendengus malas jika harus mengulangi perkataannya. "Kasih gaji terakhir dia aja noh! Kasian! "


"Ogah! " Lesya beranjak berdiri dan menghampiri Elvan. Dengan langkah yang sengaja dihentakkan Lesya menutup laptop Elvan yang masih menyala hingga Elvan berdecak malas. "Apa sih? "


"Ya? " Elvan dengan kekeh menggeleng dan membuka laptopnya kembali namun ditahan oleh Lesya yang justru menceramahinya. "Kasih aja apa susahnya sih?! Lagipula lo gak akan bangkrutkan? Dia juga butuh uang kali buat nyokapnya! Kalo misalnya lo rasain apa yang dia rasain mau gak?! "


Elvan menghela nafas dan akhirnya mengiyakan ucapan Lesya. "Oke! Dengan satu syarat! " Wajah Lesya masam bak lemon. "Gak seru lo mainnya syarat-syaratan! "


"Gak ada yang gratis di dunia! " Lesya menyenye malas dan bertanya apa syarat Elvan. "Nye nye nye! Yaudah apa? " tanya Lesya sukses membuat Elvan tersenyum miring.


Lesya yang menyadari senyum miring Elvan bergidik ngeri sendirinya. "Jangan macam-macam lo! " ancam nya. Elvan menggeleng dan mengeluarkan satu pakaian dari lacinya. "Pake! "

__ADS_1


Mata Lesya membulat sempurna melihat barang yang diambil oleh Elvan. "Nih! " Lesya mengangga tak percaya. "What the fck?! Lo nyuruh gw make itu? " Elvan mengangguk tanpa dosanya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2