
Letha tiba-tiba mencekik leher Lesya dan mendorong ke arah batang pohon besar lalu melepaskannya. "Itu buat lo yang udah berani nolak permintaan gw tadi! Gw udah bilang jangan berani sentuh ataupun jabat tangan sama Elvan sekalipun!! " bentak Letha.
Lesya memegang lehernya dan memejamkan matanya agar tak terbawa emosi. "Ohokkk! Uhuk!! " batuk Lesya. Lesya masih menahan amarahnya yang sudah terpancar jelas di mata tajamnya.
Berdiri sinis, Letha merasa jika Lesya saat ini sudah tak berdaya melawannya. Dengan cepat dia menarik tangan Lesya dan berjalan menuju arah depan mereka. "Ark! " pekik Lesya.
Tanpa mereka sadari, arah depan mereka sudahlah jurang. Dan tanpa Letha sengaja, dia mendorong Lesya ke arah jurang itu. Untung saja Lesya masih dapat berpegangan dengan batu besar jurang tersebut hingga masih bertahan walau badannya akan segera terjatuh. "K-kak! " lirih Letha.
Lesya berusaha memanjat namun tak ada pegangan untuk kakinya di bawah. Letha sendiri bukannya membantu namun justru dia melangkah mundur tak percaya menutup mulutnya. "Bukan gw! Bukan gw yang lakuin!! " pekik Letha tak mau ada orang di sekitarnya yang melihat kejadian ini.
"T-tha! " panggil Lesya terus berusaha agar naik dari jurang tersebut. Tak menjawab, Letha hanya menutup mulutnya dengan tangannya dengan pipi yang mulai basah. Terus menerus Letha berkomat-kamit jika dirinya bukan pelaku. "B-bukan gw!! Bukan gww!! Dia jatuh sendiri!! "
Ting! Ting! Ting!
Suara dari gelang terdengar samar-samar. Rupanya Elvan yang terus mencari keberadaan Lesya di hutan tersebut dengan bantuan dari gelangnya. "Le!! " ucap Elvan melewati Letha begitu saja.
Lesya dapat mendengar jika Elvan sudah datang di saat dirinya sudah pasrah dengan keadaan. Satu tangannya sudah terlepas sementara yang satu masih memegang batu jurang. "Arkk! "
Di saat Lesya melepaskan tangannya dari batu, Elvan dengan sigap mengulurkan tangannya memegang tangan Lesya yang terlepas. "Pegang tangan gw! " Lesya berusaha mengangkat satu tangannya menggapai tangan Elvan yang satu.
Hap!
Mereka sekarang sudah saling memegang kedua tangan mereka satu sama lain. "Naik!! " Elvan terus menarik tangan Lesya agar dapat naik. Begitu juga dengan Lesya yang berusaha naik agar tak jatuh ke jurang yang berada di bawahnya.
__ADS_1
Merasa jika Lesya tak dapat naik, Elvan justru memegang ket*ak Lesya agar dapat memudahkannya menarik Lesya. "Naik! " ucap Elvan.
Suara darurat dari gelang yang Elvan gunakan masih terdengar. Sedari tadi memang terus berbunyi mengikuti bagaimana kedua remaja tersebut berusaha menyelamatkan dan memanjat.
Menarik Lesya kembali, akhirnya Lesya dapat naik setelah dirinya menemukan pegangan untuk kakinya dengan bantuan tarikan Elvan. "Hahhh! S-akitt! " cicit Lesya setelah berhasil naik dari jurang tersebut.
Pandangan Elvan mengarah kepada kaki Lesya yang sedikit berdarah karena luka goresan saat berusaha memanjat naik. Dengan cepat dia mengambil kain slayer dari sakunya dan menghampiri Lesya.
Memegang kaki, Lesya merasakan perih pada kakinya yang baru dia sadari sedikit berdarah. "Hah! " desisnya kecil dan menatap Letha lalu bergantian dengan Elvan.
Elvan meludah sedikit di kain slayer nya yang membuat Lesya melotot. Bagaimana tidak? Ludah tersebut yang sudah menempel di kain slayer dipasang di kakinya yang berdarah. "E-ehhh! Mau ngapain?! " cegah Lesya.
Tak bergeming, Elvan memasangkan kain tersebut di kaki Lesya dan membalut luka tersebut. "Ssh! " ringis Lesya kecil merasa adanya sesuatu yang cair di lukanya.
Letha bukannya menjawab pertanyaan Elvan, justru dia kembali tak ingin dirinya yang dituduh pelaku. "Bukan gw!! Dia jatuh sendiri!! Gw gak dorong diaa!! " ucapnya berkomat-kamit.
Kening Elvan berkerut mendengar tersebut dan melirik Lesya seolah meminta jawaban. Lesya menggeleng atas pertanyaan Elvan. "G-gw jatuh sendiri! " jawab Lesya kecil.
Letha yang membentur dahan pohon, justru berlari meninggalkan mereka berdua di sana. Pandangannya kosong seolah tak memiliki kehidupan. Di saat ingin membantu Lesya, nuraninya menolak takut di salahkan.
"THA! " panggil Lesya hendak berdiri. Elvan menahan pergelangan tangan Lesya. "Udah! " tahan Elvan. Lesya menggeleng kecil. "Ta-tapi... " cekat Lesya.
Terhenti, mereka menoleh dengan adanya helikopter yang terlintas sebelah jurang. Satu lelaki tampan turun menggunakan tangga yang ada di helikopter tersebut. "Bang Cakra! " gumam Lesya terdengar.
__ADS_1
"Yang waktu itu? " Lesya mengangguk. "Logo helikopternya 'Ckr' yang artinya Cakrawala sesuai nama dia! " jawab Lesya.
Memang benar jika lelaki tampan yang turun dari helikopter dan menghampiri mereka adalah Cakra. "Sya! Lo gak papa kan? " tanya Cakra saat sudah berada di hadapan kedua remaja tersebut.
Lesya mengangguk. "Ngapain ke sini? " tanya Lesya aneh. Cakra hanya mengalihkan pandangannya mendengar pertanyaan Lesya yang terdengar menginterogasi dirinya. "Wah alamnya bagus ya! Mau foto gak nih? " tanya Cakra mengalihkan pembicaraan.
Datar, Cakra akhirnya menjawab pertanyaan Lesya. "Gak usah ngeles! " datar Lesya. Cakra menautkan kedua alisnya dan akhirnya jujur saja. "Gw dapet info dari eye-eye kita kalo anggota baru geng Sakh itu ngirim mata-mata di ruang rawat inap nyokap lo! "
"Udah tau! Dan gw yakin bukan itu alasan lo! " jawab Lesya.
Cakra mengangguk pelan karena memang benar adanya. "Pinter juga lo! Btw kenalan dulu, gw lupa nih orang siapa pake acara gandeng-gandengan! "
Tersadar dan menatap bagaimana dirinya menggandeng Elvan, Lesya melepaskan gandengannya dari Elvan dan mengalihkan pandangannya. "Elvano! " Cakra mangut-mangut paham saja. "Cakra, lo ketua TW waktu itu kan? Sekaligus suami Lesya? " Elvan mengangguk.
"Irit bener kalau ngomong, gak seru lo! " Lesya menatap tajam Cakra yang justru mengalihkan pembicaraan kembali. "Gak ada urusan boleh pergi! "
"Oke! Jadi sebenarnya gw ke sini ikutan mata-mata si Amanda itu karena gw gak mau nyampe ada yang jadi pengkhianat lagi kek waktu itu! So.. Tadi gw denger dia teriak gak jelas karena lo selamat dari sungai! Eh iya! Lo tenggelem?! " jelas Cakra.
Lesya mengangguk. "But, i fine now! " Cakra mengelus dadanya lega. "Udah itu doang! Buat masalah nyokap lo, dia dikurung lagi! " Lesya menghembuskan nafasnya berat mendengar kabar dari Cakra jika Mila kembali dikurung.
"Oh iya! Akhir ini juga tante lo sering main ke rumah uncle lo Sya! Soal kegiatan gw gak tau mereka ngapain! Gw udah nyuruh beberapa mata-mata kita jadi pembantu di sana dan mengawasi pergerakan mereka! " jelas Cakra kembali menerangkan.
Lesya mengangguk paham saja. "Yaudah! Kalau ada info lain kasih tau ke gw aja bang! " Menepuk pundak Lesya, Alam mengangguk. "Pasti! Udah gw pergi dulu! Kalian balik kemah kalau kelepasan mungkin ponakan gw jadi! " canda Cakra.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗