Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
375: Hawa Berbeda


__ADS_3

Dorrr!


Di saat anak buah Vion tersebut diinjak, suara bom meletus dari sana. Tak hanya itu, anak buah Vion juga kejang-kejang lalu tumbang karena merasakan aliran saluran listrik. Vion dan Gratara sedikit menjauh dan melangkah ke belakang melihatnya. Bagaimana bisa ini terjadi?!


"Sudah dibilang jangan injek masih aja ngeyel! Kasian, anak buah dijadiin kelinci pencobaan sama bosnya sendiri." ledek Lesya dengan nada datarnya hingga mengundang emosi Vion.


"Lo mainin gw ya?! " geram Vion.


"Aaa, yeah! It's right, keren kan permainan gw ini? " tanya Lesya kembali ceria mendengar tebakan Vion. Sang lawan bicara dari balik layar mengepalkan tangannya kuat. Rupanya dia sedang dimainkan oleh Lesya.


Si*al!


Tangga pertama aman. Kini Gratara menyuruh salah satu anak buahnya beralih menaiki tangga kedua. Dan bom tersebut kembali meledak bahkan lebih bear dibandingkan tangga yang pertama kalinya. Aliran listrik tersebut juga sedikit tinggi membuat mereka diharuskan kembali melangkah mundur.


Tak hanya mereka berdua saja. Anggota lainnya juga ikutan mundur. Bahkan mereka juga sedikit takut di saat melihat tatapan kejam Queen yang ditakuti di dunia gangster. Walaupun hanya pada layar besar, tetap saja mereka takut. Apalagi saat tatap muka langsung nanti!


Ngeri.


"Jangan pikir semudah itu mengalahkan Lion Claws! Camkan ini, mereka akan tetap menang selama ada gw di pihak mereka! " ucap Lesya dengan nada rendah dinginnya. Bahkan tanpa ragu gadis itu menekankan kalimat terakhirnya dengan hawa dinginnya.


"Dan bahkan kalau gak ada gw, mereka akan tetap menang karena mereka punya kekuatan kelompok! Gak kayak markas lo yang asal nutup identitas ketua asli, asal ngambil orang seenak jidat, jual dagang manusia, dan anehnya gw heran lo melet istri lo pake apaan? Bisa-bisanya kak Feli mau sama modelan kayak lo, Relifon." lanjut Lesya dengan nada rendahnya.


"BRENG-SEK?!! " geram Vion.


Tawa Lesya pecah. Sangat pecah hingga di duga gangguan jiwa. Ya walau memang benar, tetap saja mereka ngeri dan merinding mendengarnya. Dan dengan mudahnya Lesya kembali bersikap datar seolah tak ada yang lucu. Ini mau apa sih?! Mereka semua kaget termasuk Angga, Elvan dan Galang dengan sikap tawa datar Lesya.


"Lo mau tau gak? Putri kesayangan Fillybert, ada di markas lagi main sama kucing gw! A-aaa bukan, dia lagi dicambak-cambuk sejak tadi pagi, mau liat tidak? " tanya Lesya kembali dengan memasang wajah polosnya.


Vion terdiam. Dia memiliki satu adik perempuan dari keluarga angkatnya. Revita Fillybert, namanya. Vion sangat sayang dengan adiknya. Dia bahkan tak memberitahu sang adik mengenai dunia gelapnya. Bahkan Felicia dan Vayleen juga ditutupi dari Vita. Jika Vita membutuhkan sesuatu, dengan senang hati Vion mengabulkannya.


Dan semua itu Vion lakukan agar adik perempuannya tak merasakan kesepian dalam hidupnya. Setelah peninggalan kedua orang tua angkatnya, mereka sangat terpuruk. Jujur saja, Vion sangat menyanyangi keluarga angkatnya itu.


"Gw anggap aja enggak, masih baik nawarin tapi tawarannya hangus deh! Wah, kak Feli apa kabar? " tanya Lesya basa-basi saat melihat kedatangan Felicia setelah keluar dari ruangan di dalam sana. Tampak wajahnya yang ragu dan akhirnya Felicia mengangguk saja.


"Deal." kata Lesya yang paham.


"FELICIA APAAN LO SIH KELUAR KAMAR?!! " amuk Vion marah. Felicia yang mendengar memejamkan matanya sejenak. Vay yang menyadari ketakutan dari sang mama hanya menggenggam tangan wanita yang melahirkannya itu.

__ADS_1


"Ckck, anak lo masih baik, istri lo juga lumayan lah otaknya gak gelap-gelap kayak lo, lah? EH ANJ*NG JANGAN PERANG DULU JINGAN?!! GW BELOM KELAR NGOMONGNYA YA BANGS*T?! "


Lesya mengumpat di kala Vion justru mengkode agar memulai perang kembali. Dan kode tersebut di saat Vion justru melukai bahu Luna, sahabatnya. Lesya marah. Bahkan sangat marah. Bahkan Felicia melangkahkan kakinya mundur di saat merasakan aura hitam pekat memenuhi ruangan khusus itu.


"Lesya?! " panggil Felicia pelan.


Author: Bingung pengen kek mana perangnya, jujur ini masih ngaduk, semoga suka dan maafkan author kalau beberapa rada ga jelas..


Luna meringis sakit dan hampir tumbang. Untung saja Elvan yang berada di sekitarnya dengan tanggap membantunya. Bagaimana pun juga Luna adalah sahabat dekat dari sang istri. Sangat tak enak baginya jika dia justru cuek dengan Luna yang hampir tumbang itu. Catatt, hanya tak enak!


"Pak ketos ambil ini terus pasang ke sepatu lo biar bisa nerobos tangga, buruan! " ucap Luna dengan nada pelan dan memanfaatkan situasi dengan mengambil sebuah kartu kecil di balik sakunya. Elvan mengernyit bingung dan menerimanya saja tanpa protes.


"Sembunyiin di kaki terus lari ke ruangan Lesya, bilang 'LC butuh Queen Ellion mereka, jangan depresi dulu' sama Lesya nanti. " kata Luna lalu menepuk-nepuk pundak Elvan dan memulai perang dengan yang lainnya. Tak lucu jika seorang Queen Allion justru memilih tenang tanpa perang. Nanti nama baiknya dapat tercemar karena itu.


Lalu Elvan? Ahh, lelaki itu sangat paham sekarang. Dengan segera dia berjongkok dan memasukkan kartu dengan ukuran kecil ke dalam sepatunya. Jika diperkirakan, agak sedikit besar dari kartu SIM handphone. Dengan mulai sedikit berperang agar tak curiga, Elvan kembali melangkah ke arah tangga.


Tanpa ragu sama sekali Elvan berjalan hingga membuat banyak orang yang melihat terkejut. Namun keterkejutan mereka beralih pada lawan musuh mereka masing-masing. Lihat saja Luna yang tanpa sengaja menembak ke arah layar pusat hingga layar tersebut padam.


Brakkk!


"Bang Vano? "


"KetBok? "


Lesya tersenyum manis melihat Elvan yang baru saja datang. Namun senyumannya pudar begitu saja. Karena aura gelap terlalu banyak menguasai dirinya, Lesya memberontak melepaskan borgol yang mengikat dirinya. Kekuatan dia memang tak sebanding namun keselamatan para anggotanya lebih berharga dibandingkan dirinya.


"K-kak? "


Vayleen sedikit mundur di saat aura gelap sangat mendominasi ruangan itu. Elvan saja yang merasakan tampak bingung. Dia tak takut sama sekali, namun dia cemas jika kesehatan gadis itu yang justru akan terganggu.


Tiba-tiba saja suara tawa dari Lesya membuat bulu kuduk mereka naik. Dengan memberanikan diri Elvan mendekati Lesya perlahan dan mengelus anak rambutnya. Sikap Lesya yang tak seperti biasanya membuat Elvan bingung. Justru gadis itu memberontak hingga tanpa sadar borgol yang dipakai untuk menahan Lesya terlepas.


"Le?! "


"Sya?! '


"Kak?! "

__ADS_1


Gilaaa?!!


Mereka bertiga dengan kompaknya memanggil  nama Lesya sesuai cara panggil mereka pada sang pemilik nama. Lesya sama sekali tak menjawab. Dia kembali menatap datar dan tertawa sumbang layaknya psikopat. Tangan Elvan dengan cepat ditepis olehnya lalu Lesya justru berlari pelan dan keluar.


Tentu saja mereka kaget!


Dan kini sekarang Elvan sadar. Dari tatapan mata Lesya tadi, dia yakin jika itu bukan lah Lesya. Mata Lesya memerah geram. Rambut acak-acakan, serta hawa yang dirasakan juga berbeda.


Apa ini?


Tak mungkin kan Lesya kesurupan?


Sangat aneh!


Dengan cepat Elvan berlari menyusul Lesya. Sementara Felicia yang terkejut dengan perubahan Lesya menghela nafasnya. Dia pernah sekali mendengar mengenai kabar ini. Namun dia ragu.


"Ma, ayo ke kamar! " ajak Vay.


Felicia menoleh dan mengangguk pelan. Dengan beriringan mereka berjalan ke kamar yang berada di samping ruangan itu. Sebelum keluar, mereka berdua samar-samar mendengar suara rintihan seseorang. Mereka tahu siapa dia dan bersikap layaknya rintihan itu adalah angin lalu saja.


...〰〰〰〰〰〰〰✍...


"Aww, "


"Hikss.. "


"Vion breng-sek!! Katanya janji mau kerja sama misahin Vano sama Lesya, t-tapi. . . "


"Mami... Hiksss, sakit mii! Papa, papi, k-kakak... "


"Hikkss, Gratara breng-sek!! Hiksss... "


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<


Segini dulu, maaf updatenya lama padahal harusnya tadi cuman sinyal rada ngeDJ kan jadi gak ke-review. Okee, pasti banyak clue nya yang dialog akhir kan? Pasti tau dong siapa dia, dah segini bye-byee all..

__ADS_1


__ADS_2