
Setelah tiba di desa yang memiliki banyak sawah, pepohonan hijau, tempat yang asri, mereka turun dari motor dan melepaskan full face helmnya. Membawa masing-masing bawaan mereka, semua yang datang duduk di dahan kayu besar yang tumbang sebagai alas duduk mereka.
"Gak nyangka gw ada desa yang masih utuh begini! Masih adem, asri, segar, gak kayak kota yang banyak asap motor! " ucap Elena.
Lesya mengangguk setuju mendengarnya. "Pesona pemandangan alam hijau milik desa! " ucap Lesya berdramatis. Sontak Alam yang membawa barangnya dan Elena menoleh. "Apaan lo manggil gw? "
Prutt!
Kebetulan saja Luna yang sedang minum karena haus menyemburkan ke bawah airnya. Leon hanya tertawa ngakak saja diikuti Lisa dan Elena. "Apa sih siapa juga yang manggil lo bang?! Gw tuh cuman bilang pesona alam desa! " ujar Lesya.
Alam mengancangkan tangannya. "Sama aja! Ada kata-kata ALAM gitu loh! " decak Alam menekankan namanya di kalimatnya. Luna tertawa paksa. "Ha.. ha.. Gak gitu konsepnya banggg?! " serempak Luna dan Lesya bersamaan.
Terdengar tawa pecah dari beberapa mulut di sana. Sementara Alam yang masih lemot menanggapi hanya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal saja. Elena geleng-geleng kepala mendengarnya. "Mending yang laki-laki bangun tenda terus cari kayu bakar! Yang perempuan cari air sama bahan makan kalau ada! " ucap Elena membagi tugas.
Luna mengangguk setuju dan beranjak berdiri. "Tok cuss, kita aja yang keliling nyari-nyari bahan makan terus yang lain ambil air aja noh di sumur! " semangat Luna lalu beralih menarik Lesya yang enggan berpindah tempat.
"Aaaa... Gw gak mau! Lo aja noh nyari sendiri! " malas Lesya. Luna tak menanggapi hal itu justru menarik Lesya dengan kedua tangannya namun nihil. Jika bertanya perkara tenaga, Luna kalah dengan Lesya yang memang lebih kuat.
__ADS_1
"Aelah, temenin gek! Ya kali lo ke sini cuman numpang tidur! " Lesya memutar bola matanya malas dan akhirnya berdiri saja dengan terpaksa. "Nah, gini gek dari tadi! " gerutu Luna lalu berjalan terlebih dahulu untuk mencari bahan makanan.
"Ikuttt! " ucap Elena. Elena memang tak dekat dengan yang lainnya kecuali Lesya dan Luna yang mudah akrab dengannya. Saat dia di kediaman Grey, tak jarang Luna yang datang menawari kue buatan Henny dan belajar mendalami desain dengan Elena membuat mereka dapat akrab. Jika dengan Letha dkk yang ada nanti dia diem-diem bagaikan patung tanpa bicara.
"Kuy kak! " jawab Luna.
Sebenarnya mereka membawanya namun, siapa tahu saja ada buah-buahan segar yang pantas di makan bukan di desa ini? Kalian tahu, desa ini sangat asri dan dikenal sebagai desa penghasil buah segar. Tahu dari mana mereka? Ini semua Revan yang cari tempat dan kebetulan mendapat tempat ini. Alhasil Revan yang tertarik memutuskan agar anniversary Tiger Wong dilaksanakan di desa itu.
Mengikuti arah jalan Luna, setelah pamit Lesya dengan cepat melihat buah jambu merah yang segar di sana. Kebetulan tak ada orang di sekitar sana. Melihat arah pohon yang tak jauh dari tempat mereka, Lesya bersiul kecil memanggil Luna.
Luna menoleh dan berbalik menghampiri Lesya diikuti Elena. "Ngapa dapat lo? " tanya Luna. Elena melihat ke arah atas sesuai tunjukan Lesya. "Wah, bagus tuh! Merah seger lagi, manjat dek! " ujar Elena yang setuju jika bukan dirinya yang memanjat. Luna mengangguk setuju. "Bagus noh, manjat Sya! "
"Nanti kek snow white! Pingsan dulu biar ketemu pangeran ganteng! " gurau Luna menimpali. Lesya bergidik ngeri membayangkannya. "Idih amit-amit kalau pangerannya justru pangeran kodok! Lagian juga ini bukan apel Lunaa..."
"Yaudah misi gw dah nih yang manjat! " ucap Lesya pasrah lalu berjalan mendekat ke arah pohon jambu merah itu. Namun langkah Lesya terhenti melihat Elvan, Valen, dan Farel berjalan mendekat ke arah mereka diikuti Letha dkk. Niat mereka sebenarnya hanya hendak mencari kayu bakar dan mengambil air yang berada di arah jalan pohon jambu itu.
"Au! " ringis Lesya karena tak ada pegangan yang dapat dia panjat. Menendang sedikit kayu batang pohon itu dengan tenaga dalam, akhirnya walau merasa sakit Lesya melihat bekas tendangannya yang mampu membuat dirinya memanjat naik ke atas.
__ADS_1
"Widih, pake tenaga apaan tuh? Lagian gak ada kerjaan apa selain nendangin pohon! " sahut Valen geleng kepala. Luna berdecak malas mendengarnya. "Gak liat noh jambu seger gitu?! " malas Luna menunjuk ke arah atas pohon dimana yang paling atas terlihatlah banyaknya jambu merah segar yang mengundang kumpulan air saliva mereka. Sangat segar!
Kini Lesya kembali memanjat dan mereka hanya menyaksikannya saja. Beruntung Lesya bukan seseorang yang mudah memakai rok ataupun gaun mini hingga dirinya memudahkan untuk memanjat pohon. Sementara Elvan, Valen dan Farel mengambil kan beberapa batang kayu di sekitaran sana yang cocok di buat di kayu bakar nanti. Kebetulan ada banyak!
"Nah itu Sya! " ucap Luna sedikit berteriak agar terdengar oleh Lesya yang di atas sana. Yah, seperti dugaan kalian jika Lesya dengan mudahnya telah mencapai titik puncak pohon jambu itu. "Tangkep ya eyy! Jangan nyampe kotor wee! " ucap Lesya dengan suara yang sedikit dikeraskan.
Puk! Puk! Puk!
Beberapa buah yang menurutnya segar dan pantas di makan sudah Lesya lempar ke bawah. Dengan cepat Luna dan Elena menangkap satu per satu buah itu. Dari dekatnya, buah itu memang asli segar dan sepertinya manis. Namun satu perkara yang terjadi di atas sana. Saat Lesya hendak mengambil satu jambu lagi, betapa terkejutnya dia melihat dan merasakan semut merah yang berjalan menggigiti dirinya. "Aaanj*rrr! "
"Loh? Syaa! " pekik Luna meletakkan semua jambu yang dia pegang kepada Elena. Tak mendengarkan, dengan anehnya Lesya meloncat-loncat kecil di atas pohon dan akhirnya oleng ke bawah.
Mereka terkejut? Tentu saja! Melihat Lesya yang sudah terjatuh dari pohon jambu itu membuat mereka tak mampu berkata-kata selain hanya cengo sekaligus panik harus bagaimana. Luna yang hendak mengejar bernafas lega dan mengelus dadanya melihat pemandangan yang menyelamatkan sahabatnya itu.
Slinggg! Grebbb!
Bak slow motion Lesya terjatuh dan dengan cepat Elvan yang berada di bawah mengumpulkan kayu bakar menangkap Lesya dan menggendongnya ala bridal style. Mata Lesya masih tertutup lalu terbuka lebar karena merasakan tubuhnya yang digendong seseorang. Hah?! Elvan lagi orangnya?! Ini kesekian kalinya bree?!
__ADS_1
Sementara Elena yang tadinya terkejut menghela nafasnya lega. Dia melirik ke arah Letha yang sudah tak dapat berkata-kata dengan tangannya yang sudah terkepal kuat meremas gaun mini kuning cerahnya itu. Tentu saja dalam hati Elena dia lega sekaligus ingin sekali berkata-kata pedas kepada Letha yang menyaksikan hal itu. Puas dan lega!
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗