
Disaat jam pelajaran berlangsung, Lesya asik melamun di rooftop. Dia sendiri tak sadar jika dirinya sedang dicari oleh bu bunga dan anggota OSIS yang lainnya.
Tadi, saat bu bunga membuka knop pintu kelas Lesya dkk, matanya mencari keberadaan Lesya. Namun nihil, yang ada hanya Luna, Letha, Nayla dan Amel saja.
Nampaknya Lesya bolos lagi di pelajarannya. Geram tidak? Geram tidak? Geram lah, masa tidak?! Lesya sudah bolos 10× selama pelajarannya. Itu pun jika dia masuk sekolah, jika tidak?
Dengan langkah geram, bu bunga melangkahkan kakinya menuju ruang OSIS. Dia tahu jika pelajaran anak-anak kelas 12 sedang jamkos.
ceklek..
Tekejut tidak? Tentunya terkejut. Anggota OSIS tahu jika bu bunga datang ke ruang OSIS pasti bu bunga akan meminta mereka mencari keberadaan pembuat onar itu.
"Cari Lesya sampai ketemu SEKARANG!! " tegas bu bunga menyuruh semua mencari keberadaan Lesya.
Para anggota OSIS mencari keberadaan Lesya sementara bu bunga akan mengajar kembali di kelas Lesya dkk. Kelasnya masih secret ya gays.
Semua tempat sudah dicari kecuali satu. Zioner Elvano Gregorius Grey, selaku ketua OSIS yang selalu hidup teratur, disiplin dan mandiri. Otak Elvan berputar mengingat hanya rooftop tempat yang belum dikunjunginya.
Dengan kakinya yang panjang, membuat waktu singkat untuk tiba di tujuan. Dilihatnya bahwa Lesya sedang membalut ulang perban yang ada ditangan kanannya hingga selasai membalut ulang dan menurunkan lengan bajunya.
"Ikut gw! " datar Elvan menarik pergelangan Lesya yang tak terluka.
"Eh, lo mau bawa gw kemana pan? " Lesya berusaha memberontak namun nihil, tenaga Elvan jauh lebih besar dibandingkan dirinya yang lemah.
"Lo bolos, jadi menurut lo gw bawa kemana?" datar Elvan.
Memang di saat Lesya tertangkap olehnya dia harus berbicara sedikit banyak dibandingkan yang biasanya. Stok kesabaran Elvan wajib ditingkatkan.
"BK? What? Kagak, gw blom kelar tugas bu BK" Lesya terus memberontak hingga tatapan tajam Elvan membuat nyalinya menciut.
Setiba di ruang BK, Lesya diberikan hukuman hormat kepada tiang bendera selama 3 jam. Tentu saja dengan pengawasan Elvan tentunya.
"Ck, nyusahin! " gumam Elvan pelan yang duduk di tangga terakhir melihat Lesya yang nampak mulai oleng.
bruk..
Benar seperti dugaan Elvan, Lesya akan jatuh di sela-sela hukumannya. Eh ralat, bukan di sela-sela namun hampir selesai hukumannya. Sontak Elvan mendekatkan dirinya kepada Lesya yang dikala pingsan.
"Le, bangun! Lo pura-pura atau beneran sih? " Elvan setia dengan mode datarnya dan tangannya menepuk pipi Lesya.
Karena kesal tak mendapat jawaban, Elvan langsung mengangkat tubuh Lesya dan membawanya ke UKS. Setiba di UKS, Lesya diperiksa oleh dokter yang ada di sana. Di sekolah itu ada dokter ya gays.
__ADS_1
"Dia hanya perlu teratur makan dan minum obatnya saja, oh iya saya sudah membalut ulang perban dengan rapi" Elvan hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dokter Lao, dokter yang blasteran China.
Setelah pamit, Lesya membuka matanya dan melihat disekelilingnya. Dia tahu jika ruang tersebut ruang UKS, tempat kunjungan bolos nya setelah rooftop.
"Bangun lo? " tanya Elvan datar menghadap Lesya.
"Yang lo liat gw tidur ato bangun? " tanya Lesya balik. Elvan hanya mengangkat bahunya acuh.
"Gw balik dulu, jaga diri lo sendiri! " Elvan membalikkan badannya berniat keluar dan kembali ke kelasnya.
"Sono pergi jauh-jauh" Lesya kembali tertidur setelah mengumpat nama binatang khusus untuk Elvan darinya dalam hatinya.
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam kini sekolah GG mempersilahkan murid-muridnya untuk pulang dan beristirahat di rumah mereka masing-masing. Lesya yang baru saja bangun, langsung pergi ke kelasnya.
Lesya tak mendapati satu orang pun yang berada di sana. Hanya tas miliknya saja yang tertinggal. Setelah mengambil tas miliknya, Lesya bergegas pulang ke rumahnya karena memang ada urusan.
...~o0o~...
ckiiitt...
Motor Lesya sudah terparkir mulus di parkiran khusus motor. Lesya melangkah ke arah pintu rumahnya berniat berganti bajunya. Namun dia heran mengapa rumahnya mendadak sepi?
Contohnya mang mamat, biasanya dia nongki di tempat satpam sekalian asik mengobrol dengan pak udin. Namun, sekarang mang mamat dan pak udin pergi entah kemana. Bi Ana pun menghilang entah kemana.
Btw, Lesya klo di rumah panggilannya Lyra/ Rara. Sementara Letha panggilannya Lara/ Ara.
"Kok perasaan gw gak enak ya? Apa gw cuman halu kali ya? " gumam Lesya lagi pada dirinya sendiri.
"BIBI, MAMI MANA? " Lesya berteriak hingga terdengar oleh tukang kebun yang berada di belakang, mang Adit namanya.
Dengan langkah tergesa-gesa, mang Adit menghampiri Lesya yang berdiri bersingkap dada. Sebelum menjawab pertanyaan Lesya, mang Adit mengatur nafasnya terlebih dahulu.
"Loh mang, yang lain kemana? " tanya Lesya manatap mang Adit penuh selidik.
"Itu non, tadi nyonya hah huh, penyakit nyonya kambuh lagi non" Lesya terkejut dan sedetik kemudian dia mengambil kunci mobilnya dan berlari menghampiri mang Adit.
"JAGAIN RUMAH YA MANG! " Lesya langsung keluar dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh.
Dia melaju dengan cepat, sirine polisi hanya dianggap angin lalu oleh Lesya. Menurutnya yang terpenting adalah keadaan maminya.
Setiba di rumah sakit, Lesya menghampiri resepsionis menanyakan ruang perawatan maminya. Setelah tahu bahwa sang mami masih di ruang UGD, Lesya berlari tergesa-gesa.
__ADS_1
Pintu UGD masih tertutup, Lesya mondar- mandir di depan pintu UGD. Setelah menunggu sang dokter keluar, akhirnya pintu UGD terbuka dan memperlihatkan seorang dokter yang baru saja keluar dari sana.
"Gimana dok keadaan mami saya? " Lesya langsung menghampiri dokter tersebut dengan penuh harap.
"Beliau harus melakukan tindakan operasi secepat mungkin jika tidak akan berpengaruh pada kesehatannya. Namun sebelum operasi dilakukan, keluarga pasien harus mengurus administrasi terlebih dahulu" jelas dokter tersebut.
"Baik dok, terimakasih infonya. Sesegera mungkin saya akan mengurus administrasinya" jawab Lesya tersenyum paksa.
"Baik, saya tinggal dulu, permisi" Dokter tersebut meninggalkan Lesya yang terdiam di sana menatap sang mami dari kaca jendela.
"Mami kuat ya, mami pasti bisa ngelewatin ini semua" Lesya tersenyum kecut dan kemudian mengotak-atik ponselnya.
Dia mencari kontak bernama 'Papa brengs*k' yang khusus dibuatnya untuk Gilang.
"Mami istrinya, tanggung jawab dia dong buat nge biayain operasi mami" gumam Lesya melihat kontak tersebut.
Tanpa sengaja Lesya menekan tombol call dan terhubung kepada pemilik kontak. Saat Lesya ingin memutuskan sambungan, telepon tersebut diangkat oleh sang pemilik kontak, Gilang.
📲 Halo Ra ada apa? Mau disiksa lagi hm?
📲 Ha-halo pa, mami sakit butuh biaya operasi, Lyra pinjam duit dong pah.
📲 Duit? Haha, asal kamu menyerahkan mahkota Ara, saya akan berikan kamu berapapun yang kamu mau *smirk
📲 [terdiam]
📲 Tapi jika tidak, saya tak akan memberikan sepeserpun untuk kamu.
📲 Mengapa anda terobsesi dengan adik saya?
📲 Haha, tentu saja karena adikmu sangat polos dan mudah dibohongi. Jadi gimana tawaran saya?
📲 Lebih baik saya bekerja sendiri dibandingkan mendapatkan uang dari bajing*n seperti anda tuan.
📲 Seterah kamu mau bilang saya apa, yang pasti saya hanya butuh harta mami kamu yang bod*h itu.
Lesya memutuskan sambungan telepon sepihak dengan kasar sebelum Gilang memancing emosinya. Dia sadar dirinya sedang di rumah sakit dan dia tak mau sesuatu yang tak diharapkan terjadi.
"Mami harus sembuh, apapun caranya!! " tekad Lesya.
"Tapi bukan dengan menyerahkan Letha kepada bajing*n brengs*k itu! Gw bakal coba cara lain! Tapi apa?! " gumam Lesya bingung hingga mondar-mandir di depan kaca jendela sang mami.
__ADS_1
Perasaannya berasa diaduk-aduk. Khawatir, bingung, takut dan cemas bercampur menjadi satu. Untung saat ini Lesya tak memberi tahu Letha akan hal ini. Jadi Letha tak akan tahu jika dia sedang diincar oleh papanya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗