
Yap! Di sekitar pagar terdapat kamera kecil berisi bom. Jika diledakkan, orang yang memanjat akan sedikit kesetrum.
Beruntung Lesya langsung turun karena menyadari keberadaan bom tersebut. Benar saja setelah kepergian Lesya, bom tersebut meledak kecil.
Lesya tersenyum jahat mendengarnya. Kamera tersebut habis berlebur ke bawah. Lesya bergumam kecil, "Licik! Tapi tak cerdas! "
Lesya berjalan menyusuri koridor hingga lantai paling atas. Rooftop! Sudah lama dia tak berkunjung ke sini.
Lesya duduk di salah satu tempat bersemen di sana dan menikmati semilar angin yang menerpa wajah cantiknya.
Dia terus duduk di sana dan menutup matanya hingga terdengar suara yang aneh di telinganya.
Dia membuka matanya dan melihat sosok misterius yang bersembunyi di di balik pintu. Dia tersenyum simpul menoleh kearahnya tanpa beranjak menghampiri.
Orang tersebut dengan cepat turun dan kabur dalam penglihatan Lesya. Orang itu tersenyum manis melihat Lesya yang tersenyum ke arahnya tadi.
Lesya kembali menikmati semilar angin yang halus menerpa wajah nya. Dia menghela nafas panjang di saat pintu rooftop terbuka dan menampilkan sosok wajah dingin. Elvan!
Elvan menatap tajam Lesya. Sebelumnya, saat dia ingin masuk dan berjalan ke arah rooftop, dia bingung dengan kehadiran orang pemakai topi, masker dan baju hitam berjalan ke bawah.
"Ngapain? " Lesya membuka matanya dan menatap malas pria di depannya ini, "Lo liat gw lagi apa? "
Elvan manatap tajam Lesya. Dia mulai mendekati Lesya perlahan, "Bukannya lo pergi? "
Lesya mengalihkan pandangannya. Dia tahu Elvan hanya mengancamnya dengan cara seperti ini. Dan dia tak mau merasa terancam dengan ancaman Elvan, "Enggak! " bohongnya.
Elvan mengangkat satu alisnya, "Gw liat loh! " bisiknya tepat di telinga Lesya. Seketika mata Lesya membulat dan bulu kuduk nya merinding, "Iya iya! Tadi gw keluar! Puas lo?! "
Elvan menatap Lesya heran. Mengapa bunda dan ayahnya menjodohkan dirinya dan Lesya? Tak ada yang lebih penurut dan baik dari pada Lesya? Pikirnya.
Seketika dia melihat baju Lesya yang keluar dari celananya. Lesya memukul lengan Elvan, "Mata lo jaga! "
Elvan tak bergeming. Bahkan dari tali sepatunya saja sudah lepas. Dia berjongkok dan membenarkan kedua tali sepatu Lesya. Mata Lesya membulat seketika dan menatap ke arah bawah.
Dia melihat di mana Elvan membenarkan tali sepatunya dengan rapi. Karena sedikit terganggu, Lesya tak sengaja menyentuh rambut hitam Elvan.
Halus! Satu kata buat rambut hitam Elvan. Lesya bahkan memainkan rambut Elvan dengan jari telunjuknya. Elvan yang merasakan nya menghela nafas panjang.
Dia menangkap jari Lesya dengan cepat dan menatap Lesya. Lesya langsung mengalihkan pandangannya dan melepaskan jarinya.
Dia was-was sewaktu waktu jarinya di gigit seperti waktu itu. Masih inget aja mba!
Elvan menunjuk baju Lesya yang terbuka, "Masukkin! " Entah dorongan dari mana Lesya membalikkan badan Elvan membelakangi dirinya, "Jangan ngintip! "
Elvan menghela nafas panjang. Dia menunggu seraya menghitung waktu dari 20 detik ke belakang, "Satu! "
Elvan berbalik dan menatap seragam Lesya yang sudah rapi. "Udah! Cepet banget lo ngitung! Untung udah kelar! " gerutu Lesya.
Elvan menunjuk ke arah botol sampah yang berserakan di sekitar sana. Remamber? Walaupun rooftop seperti tak dihuni, sampah tetap ada di sana.
Ditambah dengan sisa daun kering yang jatuh. Karena ada satu pohon yang bertumbuh di dalam pot tak lupa pohonnya lumayan besar.
"Beresin! " Lesya menghentakkan kakinya bak anak kecil dan mulai membersihkan sampah yang ada.
Setelah selesai, Lesya langsung tepar di permukaan lantai rooftop, "Hah! Cape" gumam nya.
Elvan yang baru saja kembali dengan dua botol kaleng dingin di tangannya. Dia sempat pergi ke kantin saat Lesya asik membereskan sampah-sampah yang ada.
Lesya langsung berdiri dan menatap Elvan berharap diberikan satu minuman strawberry kesukaannya itu. Kek pengemis gak sih? Enggak lah ya!
Elvan memberikan minuman tersebut dan diterima baik dengan Lesya. Lesya tersenyum manis dan meneguk minuman kaleng tersebut yang sudah dia buka.
__ADS_1
Sementara Elvan tersenyum tipis melihat Lesya tersenyum manis. Kemudian dia meneguk minuman dingin nya.
Jika kalian mau tahu, Elvan sudah menganggap Lesya sebagai orang di sekitarnya. Dan, sebagai orang sekitar Elvan, Lesya harus bahagia. Itu prinsipnya!
Elvan menatap langit siang yang ada di depannya. Perlahan dia menutup mata dan menikmati semilar angin.
Lesya yang melihat Elvan sedang menikmati semilar angin, berpikir sejenak. Jika Elvan mengganggu waktu sendirinya tadi, maka dia harus mendapatkan balasannya bukan?
Diam-diam Lesya tersenyum miring dan perlahan melambaikan tangannya di depan wajah Elvan, "DORR! "
Elvan tak terkejut. Dia hanya membuka matanya dan menatap malas Lesya. Dia sudah tahu jika Lesya akan mengagetkan nya.
Lesya menggaruk kepala nya yang tak gatal itu. Rupanya kelakuannya sudah terbaca oleh lelaki datar ini. Pikir Lesya.
"Eum... Anu.. Hah iya! Lo gak balik? Kan lo OSIS? " polos Lesya. Elvan meneguk kembali minumannya, "Emang ada yang salah? "
Lesya memundurkan wajahnya saat Elvan mendekatkan wajahnya. Hanya sedetik hidung mereka bersentuhan, Lesya mengalihkan pandangannya.
"Masuk kelas! " Setelah mengucapkan itu, Elvan langsung keluar melangkah menuju kelas nya. Begitu juga dengan Lesya yang berjalan di belakang Elvan.
...~o0o~...
Lesya merebahkan dirinya di kasur. Dia mengecek tanggal hari ini. Lesya melihat jam yang ada dan menoleh ke ponselnya.
Deringan notifikasi ponselnya terdengar nyaring. Rupanya bunda mayang yang menghubungi dirinya.
📩Bunda sayang🥰
Sya, bunda udah mau pulang
nih. Mau dibawa oleh-oleh apa?
^^^📩Lesya^^^
📩Bunda sayang🥰
Ada, nanti bunda bawa ya
^^^📩Lesya^^^
^^^Okeh bun, nanti mau Lesya jemput?^^^
📩Bunda sayang🥰
Boleh, kalo gak sibuk
^^^📩Lesya^^^
^^^Gak sibuk kok bun.^^^
^^^Nanti Lesya jemput di bandara apa?^^^
📩Bunda sayang🥰
Bandara pribadi keluarga Grey.
^^^📩Lesya^^^
^^^Oke bun.^^^
^^^(read)^^^
__ADS_1
Setelah merasa selesai, Lesya segera membersihkan dirinya. Elvan yang baru saja tiba mendengar suara gemercik air.
Seperti biasanya setelah Lesya keluar, giliran Elvan yang masuk membersihkan dirinya. Beberapa menit berlalu, mereka sudah lengkap dengan penampilan yang kece.
Lesya menggunakan baju lengan panjang garis-garisnya dan celana jeans biru muda. Terkesan tomboy namun terlihat cantik!
Sementara Elvan menggunakan baju hitam lengan pendek dan celana jeans saja. Gaya bad boy nya sudah keluar. Perfect!
Mereka beranjak dan menggunakan mobil yang sama menuju bandara pribadi keluarga Grey. Mata Lesya terus menatap jendela kaca.
Banyak kendaraan yang berlalu lalang ke sana kemari. Elvan yang menyetir sesekali menoleh ke arah Lesya.
Tiba-tiba Lesya teringat dengan dirinya yang belum sempat mengunjungi makam Vannya. Lesya mengambil ponselnya dan menghubungi Luna.
^^^📩Sasa kutub^^^
^^^P^^^
^^^Lun, gw blom sempet ke makam^^^
^^^Vannya tadi.^^^
📩Lucinta Luna
Ya, gpp sih sya soalnya makamnya
dipindahin sama orang tuanya.
^^^📩Sasa kutub^^^
^^^Ke mana?^^^
📩Lucinta Luna
Kayaknya ke pemakaman
khusus keluarga mereka kali sya.
^^^📩Sasa kutub^^^
^^^Oh ydh. Btw, lo gak jenguk tadi?^^^
📩Lucinta Luna
Gak diizinin orang tuanya sya.
Pak Rio sama bu bunga aja kagak boleh.
^^^📩Sasa kutub^^^
^^^Masa?^^^
📩Lucinta Luna
Tanya aja sama Elvan noh!
Dia tau soalnya.
(read)
Lesya melirik Elvan yang tampak sibuk mengendari stir mobil. Dia agak ragu menanyakan hal ini. Namun suara Elvan membuat dirinya tersadar, "Kenapa? "
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗