
Lesya tersenyum tipis. "Vayleen, mama kamu mana? Kok sendiri? Papa kamu juga mana? " tanya Lesya. Anak kecil yang kerap di panggil Vay menggeleng kecil. "Papa aku sakit! Dia di rawat di Amerika kalau mama, dia izin ke toilet dulu tadi! "
Lesya tersenyum simpul merasa sedikit akrab dengan Vayleen. "Semoga papa kamu cepet sehat ya Vay! Oh iya, kayaknya kakak pernah liat kamu tapi di mana ya? Wajah kamu mirip sama seseorang, tapi kakak lupa sama namanya, ehehe.. " receh Lesya menyengir polos.
"Kakak cantik! " jujur Vayleen.
"Kamu ganteng kok Vay! Oh iya, umur kamu sekarang berapa? " balas Lesya.
Vayleen yang sikapnya datar dan dingin itu perlahan tersenyum bahagia merasa kehangatan pada Lesya. "Empat tahun kak! " jujurnya. Lesya tercengang tak percaya. "Empat tahun kok udah bebas ke sini sih Vay? Mama kamu emang gak larang? " tanya Lesya.
Vayleen menggeleng kecil. "Enggak kak! Mama dilecehin sama papa dan papa gak bertanggung jawab! Aku dicap sebagai anak har*m sama papa karena tanpa sengaja papa nanam benih di rahim mama! Mama selama ini kesiksa karena sikap papa! Vay sempat benci sama kedua orang tua Vay tapi Vay gak bisa karena gimana pun juga mereka orang tua Vayleen! " jujur Vayleen dengan mata berkaca-kaca.
Lesya terdiam membeku mendengarnya. Sama dengan cerita Lesya! Ternyata ada yang mengalami selain dia! Lesya menahan matanya yang berkaca-kaca mendengar cerita Vayleen.
Elvan yang sudah tiba dengan 2 tangkai permen kapas di tangannya menyodorkan Vayleen satu dan Lesya satu. "Gak semuanya di dunia ini hidupnya mulus Vay! Karena kita manusia harus diuji sesuai kemampuan kita! " pesan Lesya lembut menerima sodoroan Elvan.
Vayleen yang menerima sodoran Elvan kembali bertanya. "Kenapa takdir gak buat Vay bahagia? " polosnya. Elvan yang duduk di samping Vayleen menatap lurus arah satu wahana yang ada. "Nanti, hingga takdir yang bolehin kamu bahagia! Semua akan lega nantinya! " ucap Elvan.
Vayleen dan Lesya sama-sama menoleh ke arah Elvan dengan pandangan bertanya. Karena tanpa sadar mereka mengalami hal yang sama, mereka bingung apa maksud dari kata-kata Elvan. "Kalau kalian ditakdirkan begini, itu artinya takdir mau kalian jadi orang yang kuat melewati semua ujian hidup kalian! " tambah Elvan.
__ADS_1
"Jadi, Tuhan itu mau Vay nanti besar jadi orang kuat melewati ujian hidup Vay? " tanya Vayleen polos yang diangguki Elvan. "Good luck Vay! " kata Elvan mengacak rambut Vayleen.
"Tapi papa gak terima kalau Vay punya marga dari dia! Makanya Vay gak punya nama lengkap! Mama cuman buat nama Vayleen doang buat Vay! Papa lebih suka melecehkan perempuan yang ada " jujur Vayleen menunduk polos.
Lesya tersenyum tipis. "Mungkin papa kamu masih belum sadar gimana perbuatannya selama ini sama kamu Vay! Nanti besar kamu jangan mau jadi papa kamu yang suka lecehin perempuan! " ucap Lesya mengacak rambut Vayleen.
Tiba-tiba saja suara teriakan yang berteriak memanggil nama Vayleen terdengar. Vayleen yang sudah tahu jika itu adalah mamanya, segera pamit kepada Lesya dan Elvan. "Kakak cantik, abang ganteng Vay pergi dulu ya! Mama udah nyariin Vay! Makasih buat pesannya, makasih mau dengerin curhatan Vay dan makasih permen kapasnya! " pamit Vayleen melambaikan tangannya.
"Dadahh, awas kesasar Vay! " kata Lesya diangguki Vayleen yang sedikit menjauh untuk menemui mamanya. Lesya membuka permen kapasnya dan melahapnya perlahan-lahan. "Mau gak Pan? " tawar Lesya menyodorkan permen kapasnya dibalas gelengan kepala Elvan.
"Lo aja! " kata Elvan mengambil boneka yang lumayan besar dan dia letakkan di atas pahanya. Lesya menunjuk ke arah bianglala, wahana favoritnya. "Ke sana yuk Pan! " ajak Lesya menarik tangan Elvan. "Iya-iya, tapi habisin dulu permen kapasnya! " kata Elvan.
Lesya yang melepaskan tarikannya segera menghabiskan permen kapasnya dan mengajak kembali Elvan ke arah wahana bianglala. Elvan yang membawa boneka beruang yang cukup besar menyerahkannya kepada Lesya karena dia ingin memberikan kartu tiket mereka agar dapat masuk. "Pegang bentar dulu! "
Elvan mengacak rambut Lesya. "Udah jangan pikirin dulu! Sekarang lo harus nurutin satu permintaan gw! " kata Elvan. Lesya menoleh dan mengangkat satu alisnya. "Atas dasar apa? " ogah Lesya.
"Karena lo tadi telat 2 detik! " enteng Elvan. Lesya melotot tajam. "2 detik doang jadi bahasan topik! Lagian gw juga cuman telat 2 detik dipermasalahin! Gak asik lo! " cebik Lesya mencebik kesal.
Elvan tersenyum tipis. "Suka-suka gw dong! Jadi mau gak? " santainya. Lesya berdecak dan mengangguk setuju saja. Dari pada dirinya dipojokan? Lebih ngeri ujungnya! Pikir Lesya bergidik.
__ADS_1
"Jadi pacar gw! " serius Elvan.
Hening!
"H-hah? " gumam Lesya serak tak percaya hampir tak terdengar oleh sang empu. Elvan mengangkat satu alisnya. "Gak jawab, artinya lo setuju banget! Lo nolak, gw anggap lo nerima gw! " lanjut Elvan.
Lesya mencubit perut Elvan spontan. "Itu sama aja lo maksa gw ketbok! " kesal Lesya. Elvan meringis kecil. "Auu! Hobi lo ya cubit gw! " ringisnya.
Lesya tak menjawab dan justru menatap kaca jendela bianglala yang bewarna hitam agak sedikit redup. Tiba-tiba saja telapak tangan Elvan berada di tenguk leher Lesya dan menariknya hingga wajah mereka berdua berada di posisi yang sangatlah dekat. "Jadi jawaban lo? "
Lesya tak menjawab namun kepalanya dia angguki hingga membuat kedua insan itu tersenyum simpul. Bahkan Elvan melupakan sikap dinginnya terhadap semua orang kecuali Lesya saja. "Seriously? " tanya Elvan memastikan dan dibalas anggukan singkat Lesya.
Cup!
Mata Lesya membulat seketika dan menatap lekat netra cokelat kehitaman milik Elvan. Mulutnya hanya diam saat menerima sentuhan bibir dari Elvan. Sementara Elvan masih terus memainkan bibirnya hingga lidahnya masuk ke dalam mulut Lesya. Sama-sama dalam posisi mata yang terbuka, mereka tak sadar jika ego permusuhan antara mereka menurun.
Hingga Lesya yang merasa nafasnya sudah habis, mengkode Elvan untuk melepaskan tautan mereka dengan tepukan-tepukan di dada lelaki itu. Beruntung kaca yang mereka tempati itu tak tembus pandang dari luar. "Hah-hah! Lo mau bunuh gw ya?! " kesal Lesya menatap tajam Elvan.
Elvan hanya menatap tanpa dosa Lesya. "Kenapa? " Lesya memukul-mukul dada bidang Elvan berkali-kali. "Huwaaa... My first kiss! " kata Lesya memegang bibirnya yang dia lengkungkan ke bawah.
__ADS_1
Elvan melotot saat melihat mata Lesya yang justru berkaca-kaca seperti orang yang hendak menangis. "Lah? " gumam Elvan memeluk Lesya agar tak menangis. Apa salahnya? Apa dia keterlaluan kah tadi pada Lesya? Bukannya Lesya juga menikmatinya bukan? Bingung Elvan.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗