
Di sebuah rumah yang mewah terdapat sepasang insan yang berada di dalam kamar. Satu lelaki di sana tertidur pulas sementara yang perempuannya berganti baju. Setelah keluar dari walk in closet, kaki jenjang seorang gadis berjalan ke arah ranjang. Menghampiri sang suami, gadis itu beralih mengusap-usap rambut pendek nan halus milik suaminya.
"Tumben tidur, biasanya insomnia. " lirih Lesya. Pandangan mata gadis itu beralih pada spidol hitam di nakas meja. Sebenarnya spidol itu digunakan untuk mengajar Lesya matematika jika memiliki tugas. Bahkan seperempat dari tugas yang menumpuk sudah selesai dikerjakan. Hanya saja masih belum dikumpul!
Ide cermelang muncul di dalam benaknya. Gadis berdarah campuran Prancis dan Indonesia itu mengulurkan tangannya mengambil spidol itu. Sebenarnya dia campuran dari banyaknya negara. Hanya saja dia lebih masuk ke darah Prancis karena golongan darahnya yang mengikuti sang ayah kandungnya.
"Izin ngerusuh ya Pan! " bisik Lesya.
Tangan gadis itu terulur seolah menjadikan wajah Elvan sebagai papan gambarnya. Terkikik kecil setelah selesai, Lesya meletakkan spidol di tempat semula dan mengambil karet rambut miliknya. Kembali mengulurkan tangan tuk mengikat sebagian rambut Elvan dalam keadaan tidur, gadis itu juga mengambil foto Elvan saat keadaan imut begitu.
Cekrek..
Cekrek..
Cekrek..
Sepertinya indra tersembunyi lelaki itu tak berguna saat ini. Dia terlalu lelah dan membutuhkan istirahat sejenak untuk mengembalikan energinya. Lesya geleng-geleng kepala dan membanggakan kejeniusannya walau dia tahu nanti ujungnya Elvan pasti kesal padanya.
"Hehe.. Pinter bener sih gw tapi kasian juga ya nih komuknya kayak orang kecapean gitu... Tau lah, maapin sebelumya ya Pan! " gumam Lesya pelan lalu berjalan turun dari ranjang dengan hati-hati karena takut ketahuan. Masih memainkan ponselnya dan berjalan santai keluar dari dalam kamar, Lesya juga memasang wallpaper ponselnya dengan foto Elvan yang baru saja dia ambil tadi.
Ting!
📩Luluna
Sya, jadi gak bahas karnaval
di rumah lo? Letha dkk katanya
udah otw!
^^^📩Echaa^^^
^^^Jadi, lo kan tinggal jalan ke sini aja^^^
^^^Satpamnya juga udah gw kasih tau tadi^^^
^^^Tinggal masuk, gw gak bukain pintu.^^^
__ADS_1
📩Luluna
Gak nanya!
Lo kebiasaan males buka pintu.
Gw juga udah di ruang tamu bege!
Ada semua temen laki lo juga nih.
Lagi ngapain lo sama ketos?
Jangan-jangan...
^^^📩Echaa^^^
^^^Dia tidur Luna, jangan mikir^^^
^^^yang aneh-aneh deh!^^^
📩Luluna
(read)
Lesya tergesa-gesa turun ke bawah. Bahkan dari bawah hentakan kakinya yang menuruni tangga juga terdengar. Berlari kecil ke arah ruang tamu, Lesya melotot melihat keberadaan ruang tamunya yang sudah penuh diisi banyaknya ricuhan dari teman-temannya.
"SHUT UP PLEASE?!! Ini ngapa rumah gw jadi sangkar buaya sih?! " kata Lesya sedikit berteriak agar terdengar oleh banyaknya klompotan manusia itu.
"Enak aja lo bilang gw buaya! Btw nih rumah bukan rumah lo dah, tapi rumahnya om Angga. " koreksi Lisa enteng. Lesya berdecak malas dan duduk di sofa single yang ada. Outfitnya adalah celana panjang santai bewarna putih dan atasan biru langit membuat kesannya yang simple namun tetap terlihat elegant.
"Sekarepmu Lis! Ini juga rumah bukan punya lo ya belagu, makanya mirror mbak! " enteng Lesya tak kalah mengoreksi perkataan Lisa. Gadis itu hanya mendengus malas. Adu mulut dengan Lesya hanya membuatnya bertambah pikiran saja. Kata-kata yang kita ucapkan juga menjadi sasaran timbal balik bagaikan boomerang pada diri sendiri. Menurutnya, Lesya adalah tipikal orang yang tak mau mengalah!
"Kalian ngapain dateng dah? Gak ada urusan kan? " tanya Luna beralih menunjuk ke arah Leon dan Lisa. Sementara kedua orang yang ditunjuk oleh Luna hanya menyengir kuda dan mengerjapkan mata mereka polos saja.
"Gw mau ketemu sama tante Mayang sekalian ngasih rancangan gambar nih dari nyokap gw! " kata Lisa beralasan lalu meletakkan paperbag yang dia pegang di meja tamu. Kini tatapan Luna dan Lesya beralih pada Leon. Lelaki itu dengan santainya merangkul mesra sang pujaan hatinya yang berada di sampingnya.
"Nganterin dia doang sih kan bokapnya keras coy sama gw! " kata Leon. Luna dan Lesya memutar bola matanya malas. Tiba-tiba saja satu dokumen terlempar ke arah Lesya. Untung saja gadis itu dapat menangkap dengan mudahnya.
__ADS_1
"Apaan nih? " tanya Lesya.
"Tambahan anggota baru IB, siapa tau penting! " kata Leon sedikit berbisik. Lesya hanya mengangguk paham saja. Dia memang menyuruh Leon dan Cakra agar tetap mengawasi dan mendata setiap orang yang masuk atau keluar dari gengster itu. Saat dia buka isi dokumen itu, tak dia sangka ternyata Leon juga membawakan nama yang sama dengan perkataan Vayleen kemarin itu. Gratara!
Lesya hanya mengangguk paham saja dan kembali menutup dokumen tersebut. Dia beranjak pergi untuk membuatkan minuman para tamunya. "Tunggu di sini, jangan rusuh atau gw tendang ke luar! " ancam Lesya lalu pergi begitu saja.
"Ancamannya keras ya bun! " lirih Ken geleng-geleng kepala. Revan mengangguk setuju dengan pemikiran Ken. Memang bu boss mereka selalu paling galak.
Tap..
Tap..
Tap..
Semua pasang mata menoleh ke arah sumber suara. Mereka cengo dengan penampilan lelaki itu yang sedikit aneh. Em, lebih tepatnya sedikit berbeda dari biasanya. Mereka menahan tawa melihat wajah lelaki itu. Elvan, lelaki yang baru turun tangga itu adalah Elvan.
Tangan lelaki itu berusaha menghapus noda spidol di wajahnya walau hasilnya masih setengah bersih. Hanya di pipi sebelah kanannya yang bersih sementara yang kiri masih kotor. Kepalanya juga diikat menyembul ke atas bagaikan bentuk air mancur. Padahal, wajahnya yang datar sama sekali tak cocok dibuat tingkah imut. Walaupun memang imut, sikapnya masih belum imut kan?
"Pfftt! "
"Ketawa gw tusuk mulut kalian! " ancam Elvan. Memang lelaki itu sudah tau jika di wajahnya dipenuhi coretan spidol. Saat hendak berganti baju, betapa terkejutnya dia melihat wajahnya yang putih berubah menjadi papan gambar. Tebakannya sudah pasti tak meleset. Pintu kamarnya hanya dibuka oleh satu orang saja. Siapa lagi kalau bukan Lesya. Ahh, berbicara tentang Lesya, kemana gadis itu pergi?
"Lesya mana? " tanya Elvan.
Mereka yang menutup mulut agar menahan tawa secara kompak menunjuk ke arah dapur. Tentu saja dengan kesal tanpa basa-basi lelaki itu pergi ke arah tunjukan mereka semua. Mereka semua hanya terdiam dan perlahan membuka tangan mereka yang menutupi mulut.
"Anj*r, gw tebak tuh anak bikin ulah lagi nih! Gak tau nih nanti bakal terjadi apaan! " lirih Luna. Sedetik ide cermelang muncul di benak Valen. Menjentikkan jarinya, lelaki itu justru membuat semua yang di sana mengelus dada mereka masing-masing karena terkejut.
"Ngintip yuk? " usul Valen.
Mereka semua saling berpandangan dan mengangguk. Tentu saja mereka penasaran hal-hal apa saja yang dilakukan suami-istri tersebut jika begini. Terlebih pada Letha, gadis itu berharap jika idolanya—Elvan akan memarahi sang kakak, ah bukan. Maksud dia adalah Lesya akan dimarahi habis-habisan oleh Elvan.
"Gak dosa kan? " polos Amel.
Mereka terdiam sesaat dan kembali menoleh ke arah Luna. Sepertinya gadis itu juga salah satu pejuang keras saat ini. Jujur saja Luna ingin tahu bagaimana sikap Elvan pada sahabatnya, Lesya. Dia tak ingin jika sahabatnya itu mengalami kekerasan dari rumah tangga. Walaupun dia tahu sejauh ini Lesya baik-baik saja. Tetap saja dia harus siaga bukan sebagai seorang sahabat? Namun di sisi lain Luna juga ingin melihat interaksi keduanya yang masih betah bersama tanpa gangguan apapun. Anggap saja Luna sedang belajar dari Lesya, wkwk abaikan.
"Yang takut dosa yaudah tinggal aja di sini! Yang penasaran mending ikutan dah, gw juga pengen liat gimana hubungan mereka selama ini! " kata Luna. Fix, semuanya juga semakin penasaran. Tentu saja mereka berjalan mengendap-endap layaknya pencuri. Berjalan pelan-pelan ke arah dapur, mereka menyuruh para ART yang lewat untuk tetap diam.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗