Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
378: Ready to Die?


__ADS_3

"Heii, anggota gw dan lo berdua yang tersisa udah di luar perangnya. Karena kita sisa segini, gimana kalau kita diskusi aja? " tawar Gratara angkat suara lalu memadamkan rokoknya dan menurunkan topeng matanya perlahan.


Betapa terkejutnya mereka melihat wajah Gratara yang sangat mereka kenali. Melihat kebingungan semuanya, Vion yang terkapar lemas di lantai akhirnya kembali tersenyum licik karena ekspetasinya kini terpampang jelas di depannya. Lihat saja Lesya yang terkejut hingga mengepalkan tangannya erat.


"Papih, " lirih Lesya.


"Aduhh, anakku, dari mana engkau? Idih, geli gw meranin nya Fon, " ucap Gratara lalu tertawa meledek. Vion berjalan tertatih-tatih ke arah sepupunya itu. Lalu Ericko? Dia sudah tumbang. Faris juga sudah tumbang alias tiada.


Galang, Gilang, Arya, dan juga Angga sama terkejutnya dengan Lesya. Mereka sampai linglung karena wajah Gratara sama persis dengan Arga. Ya, sangat sama. Dan ucapan Gratara yang mengatakan dengan kata 'anakku' itu adalah sebuah ledekan untuk Lesya. Tahu bukan Lesya sangat dekat alias sayang dengan Arga? Dan inilah jebakan asli pemimpin Ice Blue itu.


"Arga? "


"Loh, kok gak disapa papinya sih? Kasian tau nungguin lo sadar, " ledek Vion lagi. Lesya memundurkan langkahnya perlahan. Felicia yang melihat wajah Lesya yang layaknya orang linglung, mengepalkan tangannya kuat.


"JANGAN PERCAYA SAMA MEREKA! DIA CUMAN OPLAS DOANG SAMA KAYAK VION!! " ucap Felicia dengan geramnya. Bahkan tanpa segan wanita itu menantang Vion sendiri. Tentu saja yang merasa tertantang akhirnya menatap tajam Felicia yang mulai berani itu.


"Oplas? "


"Shuttt, jangan bongkar dong! Kan sebagai sesama yang baik, gw dengan tulus mengorbankan wajah tampan gw dan berubah gini deh, " enteng Gratara lalu beranjak dari duduknya.


"Serang! " titah Luna.


Mereka pun perlahan mulai saling menyerang kembali. Namun tidak dengan Lesya yang masih diam. Perlahan satu demi satu kenang-kenangan antara dia dengan sang papi mulai terlintas. Kepalanya sudah pecah saling membedakan Gratara yang sedang bertarung dengan Luna dan Cakra. Wajahnya sangat mirip, dia linglung untuk sekedar membedakan wajah Gratara dengan sang papi—Arga saja.


"Arghh! "


Lesya memegang kepalanya yang berdenyut. Dia dapat melihat dengan jelas Cakra danuna yang sudah tak sanggup melawan Gratara. Dan juga dia dapat melihat Vion yang saling bertarung dengan Elvan perlahan kedua mulai lengah. Sementara untuk yang lainnya juga masih melawan anggota besar yang masih tersisa di sana.


Lalu Felicia sudah membawa Letha untuk diinterogasi di atas. Diikuti Vay yang sesekali menumbangkan beberapa lelaki yang hendak ingin menghalangi jalan sang mama. Situasi kali ini sangat kacau.


Banyak anggota Tiger Wong ataupun Lion Claws yang pingsan ataupun terluka. Bahkan anggota Ice Blue dan beberapa gangster lain juga tampak tak berdaya. Namun mereka semua masih tersadar dan berusaha bangkit kembali.


"Stopp! Jangan, " lirih Lesya.


Kepalanya benar-benar sakit untuk sekedar mengingat semua. Tak ada yang dapat mendengar ucapannya yang sangat lirih. Tawa, pelukan, senyum, kasih sayang, semuanya. Dia benar-benar sangat merindukan papinya saat ini.

__ADS_1


Dengan ragu Lesya mengambil kembali satu katananya dan berjalan ke arah Gratara. Cukup mengejutkan karena Lesya berhasil menggores lengan lelaki yang hendak menusuk perut Luna.


"Jangan macem-macem sama anggota gw! Lo gak ada hak buat ngelukain mereka, paham?! " tekan Lesya datar.


Gratara, lelaki itu meringis sakit pada lengannya. Berbalik, dia tertawa sinis saat melihat wajah Lesya yang sama sekali tak berekspresi itu. Wajahnya membuat pertahanan Lesya yang hendak dibangun sedikit goyah. Berusaha untuk tak melakukan eyes contact dengan Gratara, justru sang lawan bicara menangkup pipinya agar dapat melihat kedua bola matanya dengan kasar.


"Kenapa? Gak berani liat muka papi lo ini? " ledek Gratara dengan wajah tampang sok sedihnya itu.


Lesya tersadar. Bola mata yang dimiliki Gratara berwarna cokelat. Sementara bola mata yang dimiliki sang papi sebelumnya bewarna hitam pekat. Dan kini dia menyadari perbedaan antara keduanya. Mengukir senyum smirk nya, Dengan segera Lesya melepaskan tangan Gratara dan mencakar wajah lelaki itu.


"Papi? Hahaha... Gw gak bod*h ya Gratara! Walaupun nama lo hampir mirip sama nama papi, walaupun muka lo hampir mirip sama muka papi, harusnya elo yang gobl*k! Mata kalian beda, sikap kalian beda, udah tentu orangnya beda, paham? " datar Lesya setelah tertawa lucu dengan ledekan Gratara.


Plak! Srekk! Bugghh!


Lesya mulai menampar, menggores, dan juga memberikan bogeman mentah untuk Gratara. Luna yang melihat tersenyum tipis dan terbatuk-batuk karena hampir dibunuh oleh lelaki gilaa yang menjadi lawannya tadi. Begitu juga dengan Cakra namun dia langsung beralih membantu Alam dari belakang yang hendak dipukul telak.


"****! " umpat Gratara.


"Whyy? Kita main dulu dong, kan lo cosplay jadi papi gw, sementara papi gw suka main perang gini sama gw, main lah yuuk! " polos Lesya tanpa dosanya


Srengg! Dorr! Bughh!


Dengan saksi gedung tua itu, lebih tepatnya pada markas Ice Blue, ketiga gangster saling berserangan. Bunyi gesekan pedang dan katana, bunyi pelatuk yang meluncur bebas, dan juga bunyi tangan yang saling membogem satu sama lain. Hingga berselang dua menit berlangsung tanpa henti, akhirnya ketiga belah pihak mulai merasa letih.


"Huftt, "


"Whyy? Cape ya? Jangan dulu deh, kita main lagi okee? " ucap Lesya polos.


Sedetik kemudian Lesya berpandang datar, kedua serangannya justru menghilangkan kedua tangan lelaki itu. Darah Gratara mengucur deras bahkan sekitarnya terciprat darah merah itu.


"LO WARAS GAK SIH?!! " geram Gratara tak terima jika kedua tangannya terpisah dengan tubuhnya. Lesya terkekeh pelan mendengarnya. Menendang dada Gratara dengan cukup keras, lelaki yang menjadi lawannya terjatuh duduk ke bawah.


"Lo tau ga? Awalnya gw gak niat jadi physio, tapi karena trauma gw dari kecil, gw jadi psikopat deh! Ehh, gak nyangka ya lo bakal jadi mangsa gw kali ini." ucap Lesya dengan santai. Gratara hanya diam dan menahan marahnya saat mendengar ucapan Lesya yang berkata jika dia adalah 'mangsa' perempuan itu.


"Well, mau dimana ya kita ukir nama gw? Eum, my doggy harap tenang ya." ledek Lesya lalu berjalan perlahan memutari Gratara yang terkapar di lantai.

__ADS_1


Lain dari Lesya, lelaki yang terduduk di lantak hanya menahan geram karena tak dapat menyerang. Sepertinya Lesya sengaja memisahkan kedua tangannya dengan tubuhnya agar dirinya tak dapat melawan. Saat hendak protes, Gratara meringis sakit saat merasakan perutnya ditusuk oleh Lesya dengan katana.


"ARGHHH?!! "


"Gimana rasanya? Enak? Tau gak KAYAK GINI JUGA PAPI GW DITUSUK SAMA SEPUPU BA-JINGAN LO ITU! " geram Lesya lalu beralih menusuk-nusuk perut lawan perangnya dengan kejam. Bahkan Lesya tak peduli lagi saat dirinya dijadikan tontonan sekilas.


"YANG SALAH ARGHH-- VION BUKAN GW YA ARGGH--- SHTTT?!! BANGS*T LO-!! " umpat Gratara meringis kesal saat Lesya tak mau menghentikan acara tusukannya. Darahnya sudah mengucur deras ke mana-mana. Umpatan nama binatang juga tak cukup membuat Lesya berhenti dari aksi kejamnya ini.


"Iyapp! Gw lebih dari kata gilaa, bahkan pake banget! Yang salah emang Vion tapi lo kan sepupunya, tanggung berdua lah! Siapa suruh serang markas gw? Nikmatin sisa hidup terakhir lo sebelum gw lempar granat! " oceh Lesya menyerocos tanpa menghentikan tusukannya itu.


Setelah bosan acara tusuk-menusuk, Lesya tersenyum kecil dan berjongkok. Mengukir sebuah kata 'jerk' di punggung belakang lawannya. Dan setelah terukir, dengan segera lesya menancapkan ujung katananya pada bagian dada sisi kiri Gratara. Itu bertepatan dimana tempat jantung manusia berada. Tentu saja Gratara tak selamat dari kata mangsa Lesya saat ini. Buktinya lelaki itu sudah pingsan untuk selamanya di markasnya.


"Jam 17.08 lo ma-ti, Gratara! " lirih Lesya lalu beranjak berdiri. Namun tanpa sengaja saat berdiri, dia terdorong ke depan akibat ulah Vion. Bahkan secara reflek Lesya melangkahkan tubuh Gratara yang sudah tiada itu.


"APAAN SIH LO ASAL BUNUH GRATARA?! LO GAK WARAS YA BUAT DIA MA*TI KONYOL?! " geram Vion lalu melemparkan pisau lipatnya hingga menggores sebelah pipi Lesya.


"****! Gw tanya sama lo, apa bedanya? Lo aja bunuh bokap gw tanpa penjelasan dan tiba-tiba balik lagi dengan muka baru lo, TERUS APA BEDANYA LO SAMA GW HAH?! Sebelum lo ngomong, ngaca dulu sama pribadi lo, paham? " balas Lesya tak kalah menantang.


Vion mengepalkan tangannya erat. "SALAH BOKAP LO YA ANJ*NGG ASAL TABRAK PAPA GW-!! ' ucap Vion yang tak terima dirinya disalahkan. Lesya mengusap darah yang mengalir dari satu pipinya dengan ibu jarinya.


"SALAH LO YA BASTARD-!! UDAH TAU PAPA LO ITU PENYAKITAN DAN SEBELUM KETABRAK JUGA DIA UDAH KENA SERANGAN JANTUNG GOBL*K!! MAKANYA SEBELUM BERTINDAK PAKE OTAK BUSUK LOGIKA LO DULU! " bentak Lesya melemparkan balik pisau lipat Vion yang sempat menggores pipinya.


"LO GAK SADAR LO PENYAKITAN YA ***! SALAH PAPI LO JUGA YANG ASAL NARIK SAHAM DI PERUSAHAAN SCHEINEN!! " ujar Vion menangkap kembali pisau lemparan Lesya tanpa melukai dirinya.


"Gobl*k, SALAH BOKAP LO JUGA YANG JADI KORUPTOR BESAR PADA MASANYA! Pantesan anak aslinya dibuang buat nutup aib keluarga! Kan lo cuman nyusahin orangtua lo doang yang lagi nyari duit! " ledek Lesya menutup mulutnya seolah sangat terkejut.


"Bangs*t! BOKAP GW GAK GITU YA ANJ*NG!! " umpat Vion tak terima dirinya direndahkan. Lesya tertawa pelan. Menurutnya, umpatan Vion sangatlah lucu dimatanya.


Seolah mendapat sebuah lelucon receh, Lesya merogoh sebelah sakunya dan mengambil sebuah benda kecil yang bentuknya bulat bagaikan bola. Dia memang sengaja merancang desain benda tersebut bagai bola agar mudah dia selipkan nantinya. Melempar ke arah belakang dari tempat dia berdiri, ternyata benda yang diambil Lesya itu adalah bom dengan level menegah.


DUUARRR-!!


Lesya sama sekali tak merasa panas, sakit ataupun perih di saat bom tersebut meledak dan beberapa kali batu-batu kecil yang hancur menghantam dirinya. Lesya bagaikan seseorang yang sudah mati rasa. Baik dalam fisik maupun hati.


"Are you ready to die Relifon Scheinen? (Apa lo siap mati Relifon Scheinen?) " datar Lesya dengan nada dinginnya.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2