
Malu? Tidak! Senang? Tidak juga! Menyesal? Tidak juga! Elvan biasa saja jika membeli barang keramat bagi kaum adam untuk pasangan atau wanita mereka. "Wah, buat pacarnya ya mas? "
Elvan menggeleng. "Buat istri! " Sontak yang memperhatikan Elvan dan kasir tersebut menutup mulutnya tak percaya. "Nikah muda ya mas? "
* "Udah ada pawang dia! "
"Niat maunya jodohin malah eh, udah keduluan! "
"Idaman banget sih! " *
Elvan mengangguk saja. "Wah, semoga langgeng ya mas, totalnya tiga ratus dua puluh! " Elvan dengan cepat mengeluarkan sejumlah uang sesuai yang diminta.
Dengan cepat Elvan keluar dengan dua kantung kresek lumayan besar karena banyak chiki di dalamnya.
Kembali kepada Lesya yang panik hingga tak tahu dan sama sekali tak mengingat dimana letak jaketnya. "Hiss dimana sih?! " gumam Lesya berlari ke sana sini mencari jaketnya.
Sudah beberapa selang waktu dia mencari sedari tadi namun tak kunjung menemukannya. Hingga dirinya mengabaikan suara motor dan langkah kaki sedari tadi. "Cari apa? "
Suara bariton yang tak terlalu berat membuat jantung Lesya berdesir. Matanya melotot dan tangannya berhenti mencari. Dengan cepat dia berbalik dan menatap Elvan yang masih menenteng kresek belanjaannya.
"E-elo ngapain? " Elvan mengangkat alisnya satu. "Harusnya gw yang tanya! " Lesya menatap gugup Elvan. Tangannya menutup bagian belakang karena dirinya saat ini menggunakan celana putih.
Yah Lesya sudah mengganti celananya. Dan bod*hnya karena terlalu panik, dia bahkan mengabaikan warna celana yang dia gunakan. "I-itu.. "
Elvan sudah tahu jawaban Lesya namun Lesya yang terlihat ingin jujur namun gengsi. Dengan cepat dia menyerahkan satu kantung kresek yang berisi barang wanita kepada Lesya. "Sono pake! "
Lesya mengernyitkan alisnya. "Apa-an? I-ini? " Lesya terdiam dan menatap Elvan tak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. "Sana pake! "
"L-lo yang beli? " Elvan mengangguk santai saja mendengarnya. Lesya meneguk susah salivanya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Wajah Lesya sudah semerah tomat saat ini. Elvan yang melihatnya justru mengambil ponselnya dan memotret tanpa izin sadar Lesya. Dengan cepat dia menyembunyikan ponselnya melihat Lesya lari terbirit-birit menuju kamar mandi.
__ADS_1
Elvan tersenyum tipis melihat hasil jepretannya dan menjadikan foto tersebut foto layar utamanya. "Lucu! " gumamnya kecil. Hoho, es sudah mulai cair!
Berbeda dengan Lesya yang meremas kantung kresek di dalam kamar mandi. Jantungnya berdetak tak karuan membuat nafas Lesya tersenggal-senggal padahal hanya lari di jarak yang sangatlah dekat.
"Hah hah! Gil*! Dia kok bisa tau ya? " Lesya melihat celananya yang bewarna putih. "Pantesan! Tapi gw belum minta beliin! Tremor gw! "
"Tapi dia kok tau masalah ini? Mana pas sama ukuran gw! Merknya juga sama malah! Ketauan suka ngintip cewek di belakang! Brengs*k emang! " gumam Lesya menyerocos.
Setelah mengganti celananya dengan warna yang sedikit gelap, Lesya keluar dengan ragu. Di saat Elvan melirik nya, dengan cepat Lesya mengalihkan pandangannya.
Elvan mengedikkan bahunya acuh saja melihatnya. Elvan kembali fokus dengan berkas perkembangan cafenya yang sudah lama tak dia periksa. "Huft! "
Lesya dengan bingung melirik Elvan menghela nafas panjang. Akhirnya Lesya yang mengambil satu bungkus chiki yang Elvan beli tadi. "Makanan siapa? Bagi ya! "
Tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya, Elvan menjawab dengan singkat membuat Lesya bingung kembali. "Makan aja! " Lesya berjalan menuju arah sofa dan melihat data yang ada di laptop Elvan.
"Ada yang korupsi ya? " Elvan mengangguk saja. "Gw mau ke cafe!" Lesya yang melahap chiki miliknya menahan Elvan terlebih dahulu. "Lo udah tau siapa yang korupsi? "
Elvan mengangguk lalu menggeleng. "Gw gak percaya sama dia! " Lesya mengerutkan keningnya heran. "Bukannya lo yang rekut dia ya? " Elvan menggeleng.
"Semua gw serahin sama Revan! " Lesya berpikir sejenak mendengar itu. "Mungkin dia memang butuh uang nyampe nekat ngelakuin itu! "
Elvan mencomot beberapa chiki Lesya yang dia beli tadi seraya mengangguk saja. Lesya menepuk punggung tangan Elvan yang asal mengambil makanannya. "Heh gw belom izinin ya! "
"Gw yang beli! " Lesya terdiam sedetik lalu protes sendirinya. "Sama aja! Belinya buat gw kan? Berarti punya gw! " Elvan memutar bola matanya jengah. "Gw yang beli! "
Lesya mendengus sebal saja. "Emang kapan? " Dengan bod*hnya Lesya bertanya hingga membuat Elvan menjawab jujur. "Waktu lo mandi! Sekalian beli pe--- "
Lesya membekap mulut Elvan dengan beberapa chikinya spontan. Dirinya tak ingin hal yang tersebut kembali diungkit. Elvan tersenyum miring saja melihatnya dan melahap chiki yang ada di mulutnya.
"Kenapa? " tanya Elvan enteng tanpa beban. Lesya menggeleng cepat mendengar pertanyaan bod*h Elvan terlontar tanpa beban. "Eng-enggak! "
__ADS_1
Sudut bibir Elvan terukir melengkung walau tipis membentuk senyuman. "Masih sakit? " Lesya yang melamun tersadar dari lamunan singkatnya. "Ha? Apanya yang sakit? "
Elvan menyodorkan teh hangat yang dia buat tadi saat Lesya berganti celananya. "Masih sakit perut lo? " Empat kata yang terlontar membuat Lesya yang meneguk teh hangat sodorkan Elvan meringis. "Sstt! Panas! "
"Tiup dulu! " Lesya meniup kecil teh tersebut dan meneguk perlahan. "Anget! " gumam Lesya kecil. Elvan menempelkan telapak tangannya di atas permukaan perut Lesya hingga Lesya geli sendiri. "Iiih! Geli! "
Pegerakkan Elvan terhenti. "Bunda justru ngeluh sakit! " Lesya mengangguk kecil seraya meletakkan gelasnya. "Emang sakit! Tapi udah biasa buat kebanyakkan cewek! " santai Lesya menjelaskan.
Elvan mangut-mangut mengerti. "Trus kenapa sering marah? " tanya Elvan. Lesya melahap satu chikinya lalu menjawab. "Karena ngerasa keganggu apalagi waktu perut mereka nyeri! "
Elvan mangut-mangut paham saja seraya mengangguk-anggukkan kepalanya paham. "Ngapa lo tanya kayak gitu? Ambigu tauk! "
"Emang gak boleh? " Lesya menggeleng lalu mengangguk saja. "Eum.. Gak tau! " Elvan mengangkat kedua alisnya sekilas saja dan membereskan berkasnya.
...~o0o~...
Matahari tarik sudah tiba. Lesya yang sudah melakukan shift nya mendapatkan klink notifikasi ponselnya. Dengan cepat Lesya membersihkan tangannya lalu mengambil ponselnya.
Ting!
📩 Pusat bar ***
Kontrak selesai! Anda sudah tak
diperbolehkan bekerja di bar ***
Lesya dengan malas menutup kembali ponselnya dan membersihkan wastafel dapur yang ada di depannya seraya menggerutu tak jelas. "Heleh! Mentang-mentang gw akhir ini jarang silahturahmi di sono! Makan tuh kontrak! Toh gw udah sultan! "
Saat ini Lesya memang berada di cafe milik Elvan untuk bekerja. Sudah beberapa hari ini dia tak masuk alias absen. Dan di saat Lesya menggerutu, tiba-tiba saja satu pelayan menghampirinya. "Sya, dipanggil tuh sama pak bos! " Lesya menunjuk dirinya sendiri. "Gw? "
Pelayan tersebut mengangguk saja. "Iya, udah sono temuin sebelum diancam pecat loh! " Lesya mengangguk saja. Beruntung dia sudah membersihkan wastafel dan piring dengan rapi dan bersih.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗