
Lesya sendiri tak tahu mengapa di saat dirinya hendak bicara dengan Letha selalu ketus. Dimana nada bicaranya yang tak se-ketus ini terhadap adiknya? Apa karena mereka sudah tak serumah lagi? Apa karena suasana hatinya? Pikir Lesya aneh.
"Dih? Pokoknya gw di sini! " kekeh Letha tak ingin dibantah. Lesya yang malas berdebat karena moodnya yang tiba-tiba down memanggil bu bunga saja. "BU EMANG BOLEH PINDAH TEMPAT? " tanya Lesya dengan suara sengaja dikeraskan.
Bu bunga yang mendengar masuk ke dalam bus dan melihat ke arah Lesya yang berdiri. "Yang pindah tempat kenapa gak sekalian pindah rumah jadi di hutan? " galak bu bunga. Sontak Lesya menatap Letha dengan tatapan remehnya. Lesya dilawan! Pikir Luna yang mendengar perdebatan itu disertai senyum kecilnya.
Nyali Letha yang mendengar teriakan dan jawaban galak bu bunga tiba-tiba menciut. Wajahnya kesal di saat melihat tatapan remeh sang kakak kepadanya. "Ck! Awas lo! " bisik Letha tajam.
Letha menatap tajam Lesya lalu dirinya berpindah tempat ke tempat asalnya yaitu duduk dengan kedua sahabatnya. "Awas apa dek? " polos Lesya berpura tak tahu apa-apa lalu duduk dengan santai di atas kursi dan membuka jendela bus.
Luna yang berada di depan Lesya mengulum senyumnya hingga Valen yang berada di sampingnya merasakan aura tak sedap. "Ngapa lo? " Luna menoleh dan menggeleng. "E-engakk! " jawabnya.
Luna mengambil cemilan yang ada di tas ransel Valen lalu membukanya. "Bagi ya! " Valen seketika melotot tak terima. "Orang tuh izin dulu baru buka! Lah ini? Buka dulu baru izin! " kesal Valen.
Luna tersenyum kecil. "Estektok kan? Lagian kalau gw izin dulu auto gak boleh! Jadi biasakan buka dulu baru izin! " enteng Luna. Valen mengambil beberapa keripik yang baru saja di buka oleh Luna. "Ya-in aja! Takut nangis! Ambil aja semua cemilan gw punya lo kok! " ledek Valen dan dibalas tatapan horor dari Luna.
Memang benar jika selama di bus, Luna selalu mengambil beberapa cemilan milik Valen. Penyebabnya adalah karena cemilan yang dia bawa sudah habis dimakannya.
Seolah tak melihat, Valen berpura mengalihkan pandangannya dari tatapan horor Luna. Luna mendengus sebal lalu beralih menyembulkan kepalanya dan menjadikan lututnya penopang di kursi tersebut. "Ciee! Lo mau deket sama Elvan ya? " ledek Luna berbisik.
Lesya mengencangkan tangannya ke arah Luna bersiap memukul namun tertahan melihat sahabatnya yang justru mengeluarkan bungkusan keripik. Tanpa basa-basi tangannya teralih mengambil keripik tersebut. "Bagi! " ucap Lesya.
__ADS_1
"Sahabatnya sama aja! Ngambil dulu baru izin! " gumam Valen yang menyaksikan interaksi Luna dan Lesya. Rupanya gumaman Valen terdengar jelas di kuping sepasang sahabat tersebut. "Iri? Bilang waketos! Ahayy! " kompak Luna dan Lesya dengan gaya tengil khas mereka.
Valen hanya dapat menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Mengelus dadanya sabar, akhirnya dia lega melihat Elvan yang sudah datang dan duduk di samping Lesya. "Ngomongin apaan sama pak Rio? Lama bener! " kepo Valen.
"Ngecek kemah doang! " jawab Elvan singkat dan merenggangkan otot-ototnya. Valen hanya menganggukan kepalanya paham. Berbeda dengan Luna yang kembali menggoda Lesya hingga Lesya memukul lengan Luna sedikit kencang. "Ciee.. Mau PDKT ya? " bisik Luna.
Pluk!
"Gigi lo suruh PDKT-an noh! Gw cuman mempertahankan tempat yang sudah ditempati awal mulanya! Emang salah apa? " Luna menggeleng seraya mengelus lengannya yang dipukul. "Ouch! Sakit Sya! Galak bener lo! " cebik Luna kesal.
Lesya menggedikkan bahunya acuh dan mengambil kembali keripik yang ada di tangan Luna sebagian banyak. "Banyak bener?! Ntar gw apa? " tanya Luna melotot tak terima.
"Ayolah babang Palen mau ya? " rengek Luna dengan wajah yang sengaja diimutkan. Lesya menahan tawanya saat melihat wajah kikuk Valen tak berkutik. "Mamp*s! Gw yakin gak akan kuat nahan nya! " gumam Lesya terkikik kecil.
Elvan hanya diam saja menyimak pembicaraan saja. Kepalanya dia senderkan di sandaran kursi bus tersebut. "Ya-yaudah! Ta-pi jangan banyak-banyak ngambilnya! " peringat Valen. Mata Luna berbinar mendengarnya. "Aaaa... Thanks u babang Palen! " girang Luna mengimutkan suaranya.
Tak tahan menahan tawanya, Lesya akhirnya tertawa garing saja. Memang Luna adalah malaikat maut bagi musuhnya. Luna dapat mengelabui hanya dengan wajah imutnya saja. "Masuk perangkap! Gak kuat kan? " tanya Lesya menghentikan tawanya.
Valen mengangguk jujur saja. "Imut weh! " ucapnya lesu tanpa sadar. Dengan percaya diri yang tinggi Luna mengibaskan rambutnya ke arah Valen. "Woiya jelas! Aluna gitu loh! Selalu tampil cantik, imut, menawan, dan menarik! "
"Njem! Gw tarik kata-kata gw! " malas Valen. Lesya perlahan menghentikan tawanya mengingat isi dari tulisan surat yang dia temukan di galian dalam botol kemarin. Apa maksud semua itu? Pikirnya.
__ADS_1
"Syaa!! " panggil Luna.
"Moyong kaget gw!! " latah Lesya. Luna memutar bola matanya malas. "Lamunin apaan lagi lo? Masih belom berangkat loh busnya eh.. Udah main melamun aja lo! " cebik Luna.
Lesya menggeleng kecil. "Enggak! Gw pengen tidur tapi gak mau tidur! Gw pengen makan tapi udah kenyang! " polos Lesya. Valen hampir saja tersedak mendengarnya. "Kenapa gak sekalian lo pengen m*ti tapi belom siap nanggung dosa?! " kesal Valen.
Lesya mengangguk. "Pengen ngomong itu juga tapi keduluan! " ucap Lesya. Mata Luna memicing ke arah Lesya. "Mikirin apaan sih? " tanya Luna dengan nada pelan namun terdengar di telinga Elvan.
"Gak ada! " elak Lesya. Elvan yang memperhatikan raut wajah Lesya yang seperti tak ingin diinterogasi. "Bus mau berangkat! Balik tempat! " Luna mencebik kesal dan berbalik duduk di tempatnya dengan raut wajah setengah kesal.
Luna memang ingin tahu apa isi pikiran Lesya. Alasannya? Dia tak ingin Lesya memendam semua masalah sendirian. Jika dirinya seorang sahabat, boleh kan dirinya ikut campur urusan sahabatnya? Pikir Luna. Namun di satu sisi, bus memang hendak berangkat dan dia harus segera duduk di tempatnya sebelumnya.
Lesya menghela nafasnya lega. Menatap jendela bus dan berbalik saat melihat tangan kekar menutup kaca jendela. "Kenapa di tutup? " tanya Lesya sedikit gugup karena jarak mereka cukup dekat.
Elvan menatap manik Lesya dengan santai. "Silau! Rambut lo nanti terbang semua! " Lesya mengangkat satu alisnya bingung. "Itu doang? " heran Lesya.
Elvan menggeleng. "Kalau lo tidur terus kepala lo keluar? Atau tangan lo yang keluar? Terus tiba-tiba kepotong? " Lesya mengerucutkan bibirnya sekilas. "Gak mungkin kali! Ya kali gw m*ti cuman gara-gara itu doang! " cebik Lesya.
"Cuman lo bilang? " heran Elvan. Lesya mengangguk enteng menanggapinya. "Yaiyalah! Dan kalaupun emang kepotong, tinggal satuin kan gampang! "
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1