
Lesya tak menjawab. Dirinya hanya terdiam karena dapat merasakan hembusan nafas Elvan saat ini. "Dan lo menghiasi dunia gw! " lanjutnya.
Melotot, Lesya tak tahu harus berbicara apa, bersikap bagaimana dan berbuat apa kali ini. Jantungnya benar-benar dibuat naik turun oleh Elvan seperti saat ini. "P-pan.. G-gw.. G-gw serius! "
"Gw juga serius Le! " Terdiam, Lesya masih tak percaya ada seseorang yang menerima dirinya di dunia ini selain Luna, Leon, Cakra, Alam, Mayang, Angga, dan Lion. Apa lagi orang tersebut adalah Elvan! Suaminya sendiri.
* Gw harus apa sekarang? Papiiii tolong Lyra di sini! Dan buat jantung, tolong jangan ganti posisi sama ginjal! Pliss gw beneran nanya gw kenapa?! Perasaan apaan yang gw rasain sekarang? Apa arti semua ini? Mana damage nya beh ngak ngotak njem! * batin Lesya tanpa sadar mengakui jika Elvan sangatlah tampan.
Elvan menjauh melihat reaksi dari Lesya, tersenyum kecil. "Bercanda! " Lesya tampak sedikit kecewa mendengarnya. Tak urung dia justru memukul dada bidang Elvan. "Ngeselin banget sih lo!! " kesal Lesya.
Elvan menghentikan lengan Lesya yang terus meninju-tinju dirinya. Sudut bibirnya terangkat samar-samar melihat sorot mata Lesya yang sedikit kecewa. "Bercanda cantik! Udah siapin barang buat besok? "
Lesya terhenti meninju Elvan. Entah mengapa senyumnya terbit saat dirinya secara tak langsung dipuji oleh rivalnya sendiri. "Gw? Cantik? Baru sadar lo kalo gw cantik hem? " bangga Lesya mengibaskan rambutnya.
Malas, Elvan memutar bola matanya malas melihat rasa kepercayaan diri yang dimiliki oleh Lesya. "Hem, udah siapin belom? " Lesya menggeleng. "Belom! Mana gw tau harus nyiapin apaan! "
Elvan menepuk jidatnya dan beranjak berdiri diikuti Lesya. Setelah mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa untuk besok, kedua insan tersebut terlelap dengan tirai pembatas yang sengaja Lesya turunkan.
...~o0o~...
Matahari masih belum bersinar namun Lesya dibuat pusing olehnya. Jarum jam masih menunjukkan pukul 4.43 saat ini. Luna, Lisa dan Leon yang diperbolehkan masuk ke dalam rumah mewah tersebut atas izin dari Mayang hanya menunggu di ruang tamu. Sementara Mayang, Elvan, dan Angga duduk manis di ruang tamu.
__ADS_1
"OY SYA LAMA LO! " pekik Lisa.
Luna menyumpal mulut Lisa dengan roti yang disiapkan oleh Mayang di meja ruang tamu tersebut. "Diem! Brisik! Kek gak tau aja pasti tuh anak lama bangun makanya kayak gitu! " Leon geleng-geleng kepala saja. "Masih subuh udah debat bae! Apalagi Lesya dateng ancur dah! " gumamnya kecil.
"Nah? Tuh orangnya! Lama lo! " kesal Luna setengah menguap. Lesya berjalan gontai seraya menenteng tas ransel yang cukup besar di pundaknya. "Ngantuk gw bege! " lesunya terduduk di sofa dan menutup mulutnya yang hendak menguap. "Udah-udah kalian mau berangkat apa sarapan dulu? "
Luna yang mendengar tawaran dari Mayang berbinar dan melupakan rasa kantuk nya. "Makan? Gratis kan? Skuy gass nguengg! " Lesya melemparkan bantal sofa ke arah Luna yang asal berbicara mengenai makanan. "Makan mulu lo! " Luna tak menanggapi.
"Biasa! Mata gratisan! " cibir Lisa yang sudah menghabiskan roti yang disumpal Luna. Baik Angga, Leon maupun Mayang geleng-geleng kepala melihat interaksi ketiga gadis SMA tersebut. "Yang penting gw makan, tanpa bayar terus kenyang, tinggal tidur dah! Kelar kan? "
Lesya menggeleng. "Gak! Kita langsung berangkat aja! Skuy! " Mayang menahan mereka yang hendak pergi. "Sebentar! Ini makanannya dibawa! Jangan lupa dihabisin! " ucap Mayang.
Lisa memutar bola matanya malas dan mengambil bekalnya. "Ngomong doang repot tapi tangannya kagak repot! " Menatap tajam, Luna mencibir balik Lisa. "Hilih lo sendiri aja masih ngambil kan? "
Lisa melotot tajam. Saling memberikan tatapan tajam, tanpa mereka sadari Lesya memasukkan bekal yang mereka pegang ke dalam tas ranselnya yang masih muat. "Lumayan! " ucap Lesya terkikik.
Angga, Leon dan Mayang menahan tawa mendengar ucapan Lesya. Mereka tak dapat membayangkan bagaimana reaksi kedua gadis yang masih menatap tajam nanti. "Woyyy! Ayok jadi gak?! " kesal Lesya seolah tak ada apa-apa.
Melupakan permasalahan bekal, akhirnya Lesya dapat membawa Luna, Lisa dan Leon segera pergi. Mereka berempat satu mobil dengan menggunakan mobil milik Leon. Sementara Elvan, dirinya pergi sendirian dengan mobil sport nya.
Setibanya di area sekolah, mereka terkejut bersamaan dengan banyaknya orangtua yang mengantarkan anak mereka di sana. "Buju gile! Udah gede masih manja bener! Pake acara anter-anteran pula! " gumam Leon masih terdengar.
__ADS_1
"Gw sempet mau diantar sama mama sih, tapi mama masih dalam proses pemulihan! Jadi gw larang dah! " Lesya mengangguk setuju. "Salam buat mama! " Luna mengancungkan jempolnya.
Berbeda dengan Lisa yang terdiam menyimak pembicaraan. "Kalo lo Lis? Nyokap bokap lo mana? " tanya Lesya mengangkat satu alisnya. Lisa menggedikkan bahunya tak tahu. "Luar kota! Ngurusin kakak gw! Dia lagi sakit! " ucapnya dengan nada sedikit tak suka.
Lesya, Luna dan Leon saling berpandangan sejenak. "Lo broken home? Atau lo kurang kasih sayang? " tanya Luna perlahan. Lisa menggeleng menjawabnya. "Bokap gw keras! Gw keturunan dia! Kakak gw juga keras! Kalo nyokap gw.. Dia orang yang lembut! " lirihnya.
"Gw heran kenapa nyokap gw mau sama bokap gw yang kasar! " Luna menggeleng dan mengelus pundak Lisa. "Karena cinta! Tanpa cinta juga gak akan kek gitu! Dan kalo butuh temen curhat, bilang aja keles! Kita dengerin kok! " jawabnya.
Lisa menepis tangan Luna yang mengelus pundaknya. "Gw masih normal ya! " Luna melotot. "Heh! Baik-baik gw kasih lo penghiburan! Kalo gak? Gw lempar lo ya! " Lesya menggeleng dan bertanya kepada Lisa. "Trus bunda kenapa lembut? Kakaknya aja kasar(Ayah Lisa) "
Lisa berdecak mendengarnya. "Tante Mayang emang lembut orangnya! Dan kalo ada yang nyakitin kami, bokap gw turun tangan! " Lesya justru menepuk tangannya. "Berarti bokap lo sikapnya penyayang! Walaupun dia orang yang kasar, hatinya penyayang! " jelas Lesya.
"Penyayang dari jonggol! " malas Lisa. Leon yang berada di sebelah Lisa merangkulnya. "Maksudnya Lesya itu, bokap lo itu kasar! Hatinya penyayang sama orang yang dia sayangin! "
Lisa menggeleng. Dia tetap kekeh menekankan jika papanya itu sangatlah kasar. "Enggak! Emang ada seorang ayah tega nyakitin anaknya? Kemaren gw pulang malem langsung ditarik ke kamar noh! "
"Siapa suruh lo pulang malem?! Mana besoknya mau camping lagi? Wajarlah marah! Harusnya lo sadar kalo lo salah! " omel Luna tak habis pikir.
Lisa justru mendengus. "Ngapain gw ngerasa salah?! Toh ya yang harusnya minta maaf itu bokap gw! Lo harus nya paham dong gimana jadi gw! Untung aja bokap lo gak ada! " ucap Lisa asal menyeplos hingga membuat Luna tersinggung.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1